BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Cerita pada Gilang


__ADS_3

Gilang masih memegangi perutnya yang semakin sakit. Niat hati ingin pergi ke kantor, tapi sepertinya kondisi tubuhnya tidak bisa di ajak kompromi. Perutnya terasa sangat nyeri dan begah. Lalu apa ini, kenapa perutnya tiba-tiba mual. Gilang pun berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua cairan yang ada di perutnya. Pahit sekali mulutnya saat ini, bahkan hanya cairan bening yang keluar dari perutnya. Ia lupa kalau semalam perutnya tidak terisi apapun.


Ceklek


"Lang"


Mendengar suara Kimy Gilang pun langsung bergegas mencuci mulutnya dan segera menghampiri istrinya.


Kimy melihat Gilang keluar dari kamar mandi, di lihatnya wajah Gilang yang terlihat pucat itu.


"Kamu sakit Lang?" tanya Kimy sambil bersedekap dada.


"Enggak kok" Jawabnya sambilnya mengusap bibir yang masih basah oleh air kran.


"Kok pucat, kamu enggak kerja?"


"Enggak.. Sepertinya aku masuk angin, perutku mual" jawab Gilang santai sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Ada yang mau aku omongin" Kata Kimy ikut duduk di sebelah Gilang.


"Ada apa..kemarin kemana aja? Aku mencarimu kemana-mana"


Gilang Tiba-tiba saja menyingkirkan anak rambut Kimy yang sedikit menutupi wajahnya.


Kimy melirik tangan Gilang, ia sedikit kaget dengan perlakuan lelaki itu. Ia menelan salivanya yang sedikit tercekat di tenggorokan.


"Lang.. Aku minta maaf. Karena sepertinya--"


Tok tok


"Pak Gilang, Nyonya.. ini bibi" suara bi Ana terdengar di balik pintu.


Gilang menatap Kimy sekilas "Sebentar" katanya pada Kimy, lalu beranjak dari duduknya untuk menghampiri bi Ana.


Ceklek


"Ada apa bi?" tanyanya pada bi Ana setelah pintu terbuka.


"Ada bu Sarah di bawah--"


"Mami" Kimy menyela dari dalam. Ia ikut menghampiri bi Ana.


"Kalau nyari aku, bilang enggak ada" katanya lalu keluar dari kamar Gilang, ia masuk ke kamarnya sendiri dan menutup pintu.


Gilang dan bi Ana saling menatap, heran dengan sikap Kimy itu. "Ya udah suruh tunggu bi" setelahnya bi Ana pun turun menemui Sarah.


Gilang turun juga setelah berganti pakaian "Mami tumben pagi-pagi ke sini?" tanyanya setelah berada di hadapan Sarah.


Sarah yang tadinya fokus dengan ponselnya pun mendongak dan segara menghampiri Gilang.


"Maaf mami ganggu pagi-pagi. Mami khawatir.. Kimy sudah pulang kan?"


Gilang menghembuskan nafasnya pelan, ia tidak mungkin bohong pada Sarah "Kimy ada mi.. Tapi sepertinya dia tidak mau bertemu mami. Ada apa mi, mami sama Kimy bertengkar?"


Sarah serba bingung harus menjawab apa, apa ia harus jujur pada Gilang. Sarah jujur saja takut, bagaimanapun kalau ia jujur berarti ia siap dengan segala konsekuensinya. Kesalahannya di masa lalu bisa saja di laporkan ke polisi dan dia bisa di penjara, walaupun kecil kemungkinannya karena keluarga korban dan korban sendiri sudah meninggal. Tapi tetap saja Sarah masih merasa sangat takut.


"Cuma salah paham Lang, mami titip Kimy ya. Jangan biarin dia sendirian, pikiranya lagi kacau, dia butuh kamu di sampingnya" Kata Sarah dan itu justru membuat Gilang semakin penasaran, masalah apa yang membuat Kimy sebegitu marah sampai tidak mau menemui maminya sendiri.


Gilang mengaguk "Iya mi.."


"Ya sudah mami pulang ya"

__ADS_1


"Mami langsung pulang, apa nggak sarapan dulu di sini?" Kata gilang sambil berjalan mengikuti Sarah yang sudah berjalan ke luar.


"Nggak Lang, mami masih ada urusan. Udah ya mami balik" keduanya saling berpelukan singkat dan Sarah pun meninggalkan rumah itu.


**


"Kamu apa-apaan Sint, kenapa Kimy bisa tahu segalanya" labrak Sarah pada Sinta, saat ini keduanya sedang berada di sebuah restoran.


Sinta memijat pelipisnya, wanita itu terlihat lelah dan tak bersemangat. Bagaimana tidak, Sinta sudah cukup tertekan dengan ancaman Kimy kemarin dan juga Ronald yang sejak kemarin lelaki itu tidak bisa di hubungi.


"Keponakanmu menghilang, nomornya tidak bisa di hubungi" Kata Sinta pelan.


"Kalian bener-bener ya, aku nggak mau tahu. Kalian yang merencanakan semua ini, bukan aku. Kau harus jelasin pada Kimy"


Sinta menatap tajam Sarah "Apa kau gila, buat apa aku menjelaskan pada Kimy. Putrimu itu sudah keterlaluan, dia terlalu ikut campur"


"Apa!! kau menyalahkan Kimy--"


"Sarah kau harus tahu, kalau Kimy sudah tahu tentang donor mata itu--" Sinta menghentikan ucapannya karena Sarah tak bereaksi apapun.


"Kau sudah tahu?" tanyanya pada Sarah.


Sarah mengangguk sebagai jawaban.


"S*alan.. Jadi Ronald memanfaatku buat balas dendam" Kata Sinta dengan amarah.


"Balas dendam apa?" Tanya Sarah tak mengerti.


"Kau pikir kalau Kimy tahu segalanya terus Tristan nggak tahu. Kau bodoh, Tristan pasti sudah tahu kalau kita mengambil mata mamanya dan adikmu--" Sinta menjeda ucapannya yang takut akan menyakiti Sarah.


Sarah mencoba mencerna ucapan Sinta itu dan seperti potongan puzzle yang tersusun, Sarah melebarkan matanya. Ia sedikit menggeleng tak percaya "Jadi maksudmu, Tristan yang membunuhku Siska adikku" Tanya Sarah dengan raut muka yang tak percaya.


Sinta mengangguk..


Sarah menggeleng tak percaya.


"Nggak mungkin, mereka saling mencintai Sint" air mata Sarah sudah tergenang di pelupuk mata. Apa yang terjadi dengan putrinya, apa yang selama ini Kimy alami. Kenapa ia tak tahu apa-apa. Sarah mengusap kasar wajahnya, kenyataan demi kenyataan yang ia ketahui justru membuatnya semakin tak percaya. Yang ia pikirkan hanyalah Kimy. Mungkinkah anak semata wayangnya itu telah mengalami hal yang menyakitkan karena ulahnya. Sekarang Sarah tidak tahu harus berbuat apa, akankah ia bercerita pada suaminya Daniel. Tapi kalau tahu apa yang ia lakukan, sarah pun yakin Daniel akan membencinya juga dan sarah tak siap menghadapi semua itu.


"Nggak mungkin, Tristan nggak mungkin bunuh Siska" Sarah menggeleng beberapa kali, ia tidak percaya kalau Tristan mampu melakukan itu.


"Kenapa kau tidak percaya. Bukankah Mario menculikmu juga. Mario adalah orang kepercayaan Tristan--"


"Dia nggak menculikku, dia nggak menyakitiku. Dia malah membantuku supaya nyawaku tertolong"


"Tertolong dari siapa?" teriak Sinta.


"Kau selalu mengatakan itu dari dulu, kau terlalu percaya pada Mario"


Sarah semakin bingung. Memang benar selama ia dibawa pergi Mario, tidak pernah sedikitpun Sarah di sakiti. Saat ia tanya pada Mario, kenapa membawanya, Mario bilang ada orang yang mau membunuhnya dan Sarah sengaja di ungsikan bersama bibi Mario. Hanya itu penjelasan lelaki itu dan Sarah sangat percaya.


"Diam!!" teriak sarah. Matanya terpejam, dia tidak bisa berfikir untuk saat ini. Bertemu dengan Sinta adalah sebuah kesalahan, dan akhirnya Sarah memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Sedangkan Sinta yang melihat kepergian Sarah mengumpati kasar wanita itu "Dasar bodoh"


**


"Ada apa? kenapa nggak mau ketemu mami?" Tanya Gilang pada Kimy. Gilang membawakan Kimy jus alpukat kesukaannya, jus itu ia letakkan di nakas sedangkan Kimy masih selonjoroan santai di atas kasurnya.


Gilang duduk di tepi kasur tepat di depan Kimy. Ia menatap kaki jenjang Kimy di depannya, lelaki itu terlihat menelan saliva melihat kaki jenjang mulus itu.


Beda halnya dengan Kimy, ia menatap Gilang intens, apakah ia harus mengatakannya pada Gilang sekarang. Itu yang ada di pikiran wanita itu.

__ADS_1


Kimy tidak melihat kalau Gilang sedang mati-matian menahan diri agar tak menerkamnya.


"Lang"


"Hmm.." jawab Gilang dengan menatap dalam mata wanita itu. Jujur Gilang rindu dengan tatapan penuh cinta Kimy.


"Kamu percaya kalau aku bilang kecelakaan Tristan itu di sengaja oleh seseorang--"


Gilang mengerutkan alisnya.


"Hah.." Kimy membuang kasar nafasnya "Kamu enggak akan percaya" lanjut Kimy karena melihat reaksi lelaki itu hanya diam saja.


"Kenapa kamu cepat sekali menyimpulkan--" jawab Gilang.


"Kamu percaya?"


"Aku nggak terlalu mengenal dia, tapi aku dengar dia musuhnya banyak. Itu bisa saja terjadi"


Kimy menegakkan tubuhnya, kali ini ia sudah menggantung kali jenjangnya ke lantai.


"Lang.. Aku akan jujur padamu, tapi aku harap kali ini kamu tidak emosi menanggapinya, sebenarnya aku tidak mau membuatmu--"


"Ada apa, katakan. Kamu menyembunyikan sesuatu dariku Kim?"


"Tapi kamu janji dulu---"


"Iya aku janji, aku selalu mengikuti apapun yang kamu inginkan bukan, kamu masih meragukanku?"


Kimy diam, hatinya cukup tersentil saat ini. Memang Kimy sedikit ragu, apalagi iki menyangkut Sinta mamanya Gilang.


Kimy takut reaksi Gilang akan berlebihan nanti. Tapi ia harus jujur pada Gilang. Sebenarnya semalam awalnya ia ingin marah pada Gilang, tapi setelah di pikirkan lagi, apa kesalahan lelaki itu? Apa dia pantas di marahi, Kimy tidak mau gegabah, Gilang sudah banyak membantunya. Kimy juga berfikir kalau hubungan Gilang dan keluarganya juga tidak dalam kondisi baik.


"Mereka ngelakuin itu" jawab Kimy lirih dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.


"Mereka siapa?"


"Ronald dan mama Sinta"


Mata Gilang melotot seperti mau lepas saling terkejutnya. Mamanya lagi..


"Dan mami juga tahu. Mereka tega melakukan ini sama aku"


"Kim tunggu.. Maksud kamu gimana?" Tanya Gilang masih berharap Kimy bohong.


"Mama Sinta dan kak Ronald merencanakan semua ini Lang. Mereka mengambil Tristan dariku, mami juga tahu tapi diam saja" air mata Kimy sudah mengalir deras sedangkan Gilang masih mencerna kata-kata Kimy.


"Buat apa Ronald melakukan itu?"


Kimy menatap mata lelaki di depannya ini. Memang Gilang tidak tahu apapun. Apakah ini saatnya Gilang tahu..


"Ceritanya panjang"


"Aku siap mendengarnya Kim, katakan semua padaku, jangan ada satupun masalah yang yang terlewatkan"


Kimy menatap mata Gilang, apakah Gilang orangnya. Apakah lelaki ini yang akan membantunya. Tapi bukankah dia tadi akan meminta cerai, kemana semua pikiran itu. Pikiran-pikiran itu membuatnya semakin bingung. Kimy tidak tahu ia akan memulainya dari mana.


**


Maaf baru update beb ku, karena kehidupan real ku sangat padat sekali, jadi harus pinter-pinter nyuri waktu luang buat up cerita ini.


Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.

__ADS_1


Selamat membaca


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2