BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Duka


__ADS_3

Berita jatuhnya pesawat di laut mediterania itupun sudah menyebar diberbagai media. Tim SAR negara itu pun sudah menyisir dilokasi kejadian untuk mencari puing-puing ataupun bangkai pesawat. Hancur tak tersisa, serpihan pesawat itupun memenuhi permukaan laut itu. Beberapa barang ditemukan, termasuk beberapa ponsel dan juga beberapa dompet, tim SAR mengumpulkan temuan itu untuk mengidentifikasi korban. Beberapa stasiun tv bahkan menyiarkan secara langsung kejadian itu.


Dony berada di kantor ketika seseorang menghubungi ponselnya. Sore itu setelah dia memimpin rapat dia kembali ke ruanganya dan tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo"


".........."


"Iya saya, dari mana?" tanyanya pada orang dibalik ponsel itu. Dony menjawab sambil duduk di kursi kebesaranya dengan sedikit melonggarkan dasi yang dari tadi terasa mencekik lehernya.


"............"


"Maksudnya bagaimana, iya benar tuan Tristan dan Mario berada di pesawat itu"


"............"


"Apa!!!" Dony seketika berdiri dari duduknya, dia tertegun sejenak, seperti mimpi. Duta besar Indonesia yang berada di itali menghubunginya barusan dan memberi kabar duka itu. Dony tak bisa berkata-kata, dia berjalan dengan gontai menutup mulutnya dengan tangan kirinya. "Tidak mungkin Tristan. Tidak mungkin sperti ini akhirnya" katanya lemah, Dony terduduk lagi di sofa, pandangannya menerawang entah apa yang di pikirkanya.


Tut Tut Tut tut


Kring Kring kring


Ponsel dan telepon di kantornya bunyi secara bersamaan membuyarkan lamunan Dony. Segera dia beranjak keluar dari ruanganya.


"Don, ini bagaimana banyak media yang telepon. Katanya---" angel menghentikan ucapanya ketika melihat Dony memberi aba-aba supaya diam. Angel menutup mulutnya ketika menyadari Dony berjalan dengan gontai dan mata memerah menahan tangis, lelaki itu sperti tidak bisa berpijak dengan benar."Jadi berita itu benar don?" Dony tak menjawab, dia terus berjalan keluar meninggalkan angel di tempatnya yang saat ini sudah histeris.


Dony berjalan terus keluar melewati semua karyawan yang sekarang sudah ramai berdiri dengan kekhawatiran mereka. Mereka semua menatap Dony seakan bertanya, apakah berita itu benar. Tepat di loby, Dony di sambut beberap media yang sudah siap dengan pertanyaan mereka.


"Pak Dony, komentarnya donk, apa benar tuan Tristan berada di pesawat itu pak?" Dony tak menjawab, dia terus berjalan tanpa menatap camera sedikitpun, pandangannya lurus kedepan menuju mobilnya yang sudah terparkir tepat di depan loby gedung itu.

__ADS_1


"Pak, pak Dony" berhasil, Dony berhasil meninggalkan kerumunan wartawan itu dan sudah melesat masuk ke mobilnya bersiap meninggalkan tempat itu. Mobil berjalan dan tujuannya kali ini cuma satu, Kimy. Dony tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi wanita saat ini. Pikirannya saat ini sangat kacau. Dia terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh membelah kemacetan kota Jakarta.


Di tempatnya Kimy masih belum sadar kalau sesuatu telah terjadi, karena memang wanita itu jarang sekali menonton tv. Tetapi sarah dan lexa sudah mendengarnya walaupun masih dari media online.


Brakk


Lexa masuk ke kamar Kimy langsung memeluk wanita itu, kimy yang tadinya duduk di ranjang pun sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan asistennya itu.


"Apaan sih kak" Kimy mencoba melonggarkan pelukan wanita itu. Terlihat lexa menangis membuat Kimy semakin penasaran "Ada apa?" lexa tak menjawab, dia hanya menggeleng dan terus memeluk Kimy dengan erat.


"Sayang" Sarah pun datang ke kamarnya membuat lexa melepaskan pelukannya "Sayang are you okay?" tanyanya lembut dengan menyentuh kedua lengan Kimy.


"Kenapa sih kalian? Aku baik-baik aja mi, ada apa?" Sarah menatap wajah putrinya itu sendu, air mata menetes tanpa bisa dihentikan "Maafkan mami" Sarah kemudian memeluk Kimy dengan erat.


"Mami ada apa?"


"Semua akan baik-baik aja sayang, kamu harus janji sama mami kalau kamu kuat nak"


"Kim, Kimy sesuatu telah terjadi nak" jawab Sarah terbata-bata. "Tristan, Tristan" Sarah menangis semakin menjadi.


"Ada apa dengan Tristan, ADA APAA!?" Kimy semakin berteriak dengan air mata sudah meluncur ke pipi mulusnya.


"Pesawatnya jatuh kim" jawab Sarah dengan tangisnya, tubuhnya jatuh. Wanita paruh baya itu terkulai lemas. Sedangkan Kimy seperti di bom. Kimy hanya diam mematung, tanpa air mata dan tanpa bicara. Dia masih menatap ke depan entah menatap apa.


"Kim" panggil lexa karena Kimy tak bereaksi apapun setelah mendengar apa yang dikatakan sarah tadi. "Kimy, beritanya sudah ada di media, kemungkinan itu pesawat yang Tristan tumpangi." Kimy masih diam mencoba mencerna tiap kata yang di dengarnya.


"Kimy" suara berat seseorang membuat ketiganya menoleh keasal suara.


"Don" Kimy berjalan menghampiri Dony yang berdiri di ambang pintu kamarnya "Berita itu bohong kan?" tanyanya pada lelaki itu.

__ADS_1


Dony menatap wajah pucat tanpa expresi Kimy yang berdiri di depannya "Itu pesawat Tristan, mereka berada di situ. Tristan dan Mario berada di pesawat itu" jawab Dony dengan menekan rahangnya.


"Heh" Kimy tertawa kecil "Ini enggak lucu" Dia berjalan mundur dengan sedikit menggelengkan kepalanya.


"Sayang, kamu harus ku---"


"Enggak!!! Ini bohong, Tristan enggak di pesawat itu" teriak Kimy menghentikan ucapan sarah. Kimy terus berjalan mundur hingga tubuhnya terduduk di sofa.


"Sudah saya konfirmasi ke kedutaan Indonesia yang ada di sana. Ke bandara dan juga semuanya. Nama Tristan dan Mario ada di pesawat itu" Kata Dony lirih.


"BOHONG!!!" teriak Kimy lagi, dia sekarang berdiri dengan air mata yang sudah memenuhi pipi mulusnya "Dia janji cuma dua hari pergi, dia akan datang. Tristan tidak pernah ingkar janji" jawab Kimy dengan air mata menggenang. Badannya terasa kaku saat ini, hatinya hancur berkeping melebihi apapun, tapi tidak, dia menolak untuk percaya kalau Tristan ada di dalam pesawat itu. Tristanya akan kembali, pasti. Dia akan menunggu walaupun sampe tua dan rambutnya memutih, dia akan tetap menunggu. Satu hal yang dia yakini, kalau lelakinya itu belum mati. Tristan masih hidup entah dimana keberadaannya, Kimy percaya itu.


Media terus memberitakan kejadian naas yang menimpa Tristan dan Mario. Kehidupan pribadi lelaki itupun mulai di gali, mulai dari keluarga, perusahaan dan kehidupan asmara. Teddy dan calon istrinya Kimy menjadi sasaran empuk media saat ini.


Daniel masuk ke dalam kamar Kimy yang gelap. Hari sudah petang dan putrinya itu sengaja tak menyalakan lampu kamarnya. Terlihat Kimy meringkuk di atas kasur. Lelaki itu mencari sakelar dan menyalakan lampu kamar itu. Kimy meringkuk dengan mata terbuka lebar, entah apa yang di lihatnya. Pandangannya terasa kosong, terdapat sisa-sisa air mata di pipi mulusnya. Sudah dari sore semenjak kabar duka itu di terima Kimy bersikap begitu. Bolak balik sarah dan lexa menghampiri Kimy, namun wanita itu masih tak berubah dari posisinya. Dan sekarang giliran Daniel yang baru datang, segera mencari putri kesayangannya itu.


Daniel duduk ditepi ranjang, dibelakang tubuh Kimy. Dia menyentuh tangan Kimy pelan "Semua akan baik-baik saja sayang" katanya. "Papi tahu rasanya sayang, kehilangan orang yang papi cintai. Papi hidup dan bernafas, tapi papi sudah tak punya kehidupan lagi. Hati papi hancur Kimy, saat itu mamimu yang hilang dan dikabarkan meninggal" Kimy bereaksi, dia menoleh pada Daniel, dengan mata yang begitu sembab Kimy bangun menegakkan badannya menghadap lelaki paruh baya itu "Tapi papi percaya mami belum pergi dan lihat, sekarang mami ada di sini bersama kita sayang" seketika Kimy menangis sejadi-jadinya memeluk tubuh bidang Daniel, menumpahkan segala kesedihan di sana "Kamu percaya semua ini belum berakhir kan?" Kimy mengangguk dengan antusias dan merenggangkan pelukannya untuk menatap lelaki itu "Tristan akan pulang pi, Kimy yakin dia belum mati" Daniel mengangguk lalu memeluk putrinya lagi. Kimy melepas lagi pelukan Daniel dan beranjak dari kasur, berjalan menuju kamar mandi dengan gerakan cepat dia melakukan itu, Daniel hanya memperhatikan kegiatan putrinya itu. Terlihat Kimy keluar kamar mandi dengan antusias mendekati Daniel.


"Lihat pi" Kimy menunjukan secarik kertas yang sudah lusuh pada Daniel. "Lihat, Tristan bilang pergi cuma dua hari dan akan pulang secepatnya." Daniel mengaguk setelah membaca tulisan tangan Tristan itu dan memeluk lagi putri kesayangannya itu. Hati Daniel bagai di sayat sebuah pisau, perih. Melihat Kimy bertingkah sperti itu, membuat Daniel merasakan nyeri teramat sangat di Ulu hatinya. Tuhan jangan buat putriku menderita, aku tidak sanggup melihatnya tuhan. Air mata berlinang melewati pipi lelaki itu. Dia merasakan apa yang Kimy rasakan. Daniel sangat kehilangan Tristan. Dia sudah menganggap Tristan sperti putranya sendiri. Daniel merasa berhutang budi terhadap calon menantunya itu.


"Sekarang berjanjilah pada papi" Daniel menangkup pipi Kimy dengan kedua tangannya, melihat ke dalam manik mata putrinya itu "Kamu harus kuat, harus bangkit. Kita cari sama-sama Tristan, hm"


"Mencari Tristan?"Tanya Kimy memastikan ucapan Daniel.


" Ya kita cari Tristan, kita akan pergi ke itali sama-sama besok" mata Kimy melebar mendengarnya, kenapa tidak kepikiran kesana. Sebuah senyuman terukir di bibir indah Kimy.


"Papi akan bawa Kimy ke sana, kita mencari Tristan kesana?" tanyanya sekali lagi dengan mata berbinar, menyiratkan sebuah harapan.


"Ya sayang"

__ADS_1


"Terima kasih pi, ya kita akan cari Tristan dan membawanya kembali" Kata Kimy sambil memeluk lelaki itu.


Malam itu adalah malam yang panjang untuk semua orang. Di tempatnya masing-masing, Kimy meringkuk dikasur di temani Daniel dengan mata sembabnya. Sarah yang berjalan kesana kemari di kamarnya. Teddy yang menangis diatas kursi rodanya. Sinta yang mengintip suaminya yang sedang sangat berduka itu. Dony yang berada diapartemenya, lelaki itu terlihat berantakan ditemani Nadine yang tak bisa berbuat apa-apa dan juga Gilang yang berdiri di balkon kamarnya menatap langit, dengan tangan mencengkeram kuat pagar besi di hadapanya.


__ADS_2