
" Laura.. pertemukan aku dengan Gilang secepatnya.."
Kimy memang sudah mulai jatuh hati pada laki-laki gila bernama Tristan. Tapi dia tidak cukup gila untuk membiarkan laki-laki itu melukai orang-orang terdekatnya. Laki-laki itu cukup sulit di takhlukkan, maka dari itu Kimy harus mencari jalan pintas. Kimy harus menemui Gilang dan orang tuanya.
Mengingat orang tuanya, bagaimana kalau Tristan mengambil alih perusahaan yang sekarang di kelola oleh papi nya Daniel.
" Tidak.. tidak.." Kimy menggelengkan kepalanya beberapa kali.
" Apa yang kau pikirkan?.." Tanya Laura "Jadi kau sudah tahu rahasia Tristan?.."
Kimy menatap Laura sambil berfikir. Aku yakin wanita ini bisa membantuku. Aku tak mau membiarkan orang-orang yang ku sayangi hancur satu persatu karena Tristan. Aku harus bertindak hati-hati.
"Hey!!.." teriak Laura membuyarkan lamunan Kimy.
"ehmm.. Laura bisakah kau mempertemukan aku dengan Gilang? Aku akan melakukan apapun yang kau mau, asal aku bisa bertemu dengan nya. Aku akan sangat berterima kasih padamu Laura.." Kimy berkata dengan hati-hati.
"hahaha.. Apa kau sudah gila? Tristan bisa membunuhku. Kau tahu kan dia lelaki gila, papanya saja hampir mati karenanya.."
Kimy terlihat cemas mendengar perkataan Laura. Dia berfikir apa yang di katakan Laura ada benarnya. Tristan bisa membunuh wanita itu dan Kimy tidak mau membahayakan nyawa orang lain.
"Apa yang harus aku lakukan?.." Kimy frustrasi dia menyisir rambutnya dengan kedua tangannya.
Laura yang melihat tingkah Kimy merasa kasihan juga "Apa kau begitu ingin lari dari sini?.." Tanya Laura asal sambil mendaratkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar itu "Apa aku salah perkiraan, ku kira kau jatuh cinta pada Tristan?.."
Jatuh cinta? Tadinya ku pikir begitu, tapi mendengar orang-orang yang ku cintai di luar sana dalam bahaya, aku jadi sadar kalau itu bukan cinta. Mungkin aku cuma kasihan pada Tristan karena mendengar kisahnya yang menyedihkan di masa lalu. Tapi sekarang hatiku justru tak tenang memikirkan Gilang, mami, papi. Aku takut Tristan menyakiti mereka seperti dia menyakiti papanya sendiri.
Kimy menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menjawab pertanyaan Laura.
__ADS_1
"Baiklah, akan aku usahakan kau bertemu dengan kekasihmu tapi beri aku waktu.."
Kimy terperanjat kaget mendengar perkataan Laura. Matanya berbinar memandang Laura. Kimy mendekat dan memegang kedua tangan Laura.
"Benarkan? Ya tuhan terima kasih Laura, akan berhutang budi padamu. Aku yakin kalau kau memang di kirim tuhan untuk menyelamatkan ku.." kata Kimy dengan riang.
Laura menepis genggaman tangan Kimy "iihh.. Lepas apaan sih jangan berlebihan, aku bahkan belum melakukan apapun.." jawabnya santai lalu berdiri dari tempat duduknya.
Kimy hanya tersenyum menanggapi pernyataan Laura.
**
Di tempat lain, Gilang sedang duduk di depan ruang ICU tempat di mana papanya di rawat. Lelaki tampan itu tampak bersandar pada kursi dengan memejamkan matanya, sesekali tangannya memijit kecil pelipisnya. Banyak sekali yang ia pikirkan saat ini. Kimy gadis yang ia cintai belum di temukan, kasusnya yang juga masih berjalan, karirnya juga di ambang kehancuran sedangkan sekarang ia harus melihat papanya terbujur lemah tak berdaya di balik alat-alat medis itu.
"Lang.." sentuhan lembut di pundaknya membuatnya membuka mata dan menoleh ke asal suara.
Sinta mengangguk sambil tersenyum pada anak lelaki kesayanganya itu.
Sinta duduk di sebelah Gilang "Pulanglah.. Kau pasti capek dari semalam mengurus semua. Mama akan di sini jaga papa.."
Gilang menggeleng lemah "Gilang temeni mama.."
Gilang sebenarnya bisa saja mengikuti perintah mamanya untuk pulang, tapi hatinya tidak tenang. Ia merasa kecelakaan papanya ini tidak wajar. Gilang takut kalau ia meninggalkan mamanya sendiri di rumah sakit dan terjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Maka dari itu ia lebih tenang kalau menjaga papanya juga di rumah sakit.
"Lang kau tahu kan papa orang yang keras.." Gilang seketika menoleh pada Sinta ketika mendengar apa yang mamanya itu ungkapkan. Lelaki itu sedikit terkejut, pasalnya selama ini mamanya tidak pernah menceritakan apapun perihal papanya. Gilang ingat dulu saat ia tanya kemana papa kok tidak datang saat hari-hari spesialnya, mamanya selalu tak menjawab. Sinta hanya bilang papa sibuk. Namun kali ini ia melihat ada gurat kesedihan yang mendalam pada mata mamanya itu.
"Mama selalu mengikuti kemauan papa, walaupun kadang mama juga sakit.." air mata mulai membasahi pipi Sinta. Gilang yang melihat mamanya menangis tak tahan. Ia lalu menggenggam tangan Sinta, tapi wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tak bergeming, ia masih menatap lurus kedepan dengan air mata yang terus berderai.
__ADS_1
"Kadang mama mengharapkan ini. Mama mengharapkan papamu mati.." Gilang terkejut dengan perkataan Sinta.
"Mama bicara apa?.."
"Mama sungguh tak kuat lagi Lang. Bertahan-tahun mama ikuti semua kemauannya. Semua mama lakukan untukmu, agar kau bisa di lihat olehnya, agar dia menyayangimu juga. Tapi pertengkaran tempo hari membuat mama sadar, kalau kita tak berarti apapun untuknya.."
Perlahan Gilang melepas genggaman tangannya. Dia menegakkan posisinya memandang lurus ke depan. Gilang seakan tahu kemana arah pembicaraan mamanya. Seakan ia menyiapkan hati untuk menerima segala informasi yang belum pernah ia dengar.
"Melihatnya terbaring tak berdaya justru tak membuat mama senang. Mama takut papa pergi Lang.." tubuh Sinta semakin bergetar menahan tangis sedangkan Gilang ia hanya diam mendengarkan mamanya bicara.
"Kalau papa pergi kita harus gimana Lang?.. Apa kau siap tak memiliki papa. Apa mama siap tak mempunyai suami? Walaupun dia sering menyakiti mama, tapi mama belum ikhlas. Kenapa dia harus menyusul wanita itu. Mereka akan bersama lagi di neraka Lang. Mama harus bagaimana??.." Sinta mencengkram lengan Gilang, sedangkan Gilang ia mengeraskan rahangnya tanpa menjawab. Ia ingin tahu sejauh mana mamanya mampu mengungkapkan semuanya.
"Wanita itu akan merebut papa lagi Lang. Dia dan anaknya akan membawa papa. Sudah sejauh ini Lang, sudah sejauh ini mama melangkah. Menyingkirkan wanita itu dan anaknya dan sekarang dia datang lagi, dia akan membawa papa ke neraka.."
Gilang sedikit terkejut, ia menoleh pada Sinta. Ia melihat mamanya histeris, dengan cepat Gilang mendekap tubuh Sinta yang bergetar itu.
"Ma.. Mama.. Ma tenang ma.."
"Mereka akan ke neraka bersama Lang. Mereka bertiga akan bahagia. Lalu kita bagaimana hah.. Bagaimana ini.. Bagaimana ini?.." Sinta terlihat cemas, ia melepas pelukan Gilang, berdiri dan berjalan kesana kemari.
"Ma.. Tenang ma.." Gilang merengkuh tubuh mamanya. Seketika Sinta lemas terjatuh, Gilang berusaha menopang tubuh sinta.
"Ma.. Mama.." teriak Gilang. Lelaki itu terlihat panik, kemudian ia mengangkat tubuh Sinta sambil berlari ke UGD.
****************************************************
Hai teman-teman.. Maafkan author baru lanjut nulis lagi. Beberapa bulan terakhir author lagi sakit kena covid jadi gak sempet buat nulis-nulis. Bismillah kita lanjutkan lagi cerita yang sempet tertunda ya.. Salam sehat selalu buat semuanya.
__ADS_1