BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Kau hidupku


__ADS_3

Pagi itu mata Tristan menggelap seketika. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal siap meninju siapapun yang berada di dekatnya saat ini. Matanya terus menatap sebuah bingkai foto yang tidak sengaja ia temukan di laci nakas samping tempat tidur.


Sialan Kimy, kau masih belum melupakannya.


Kimy keluar dari kamar mandi dengan masih memakai bathdrope nya. Dia sedikit terkejut karena Tristan masih berada di kamar. Padahal sebelum mandi tadi Tristan sudah keluar kamar dan bilang akan berangkat ke kantor.


"Kau kembali, bukannya tadi sudah berangkat?.." Kimy mencoba bersikap santai, dia berjalan ke meja rias dan duduk disana. Wanita itu melirik Tristan dari balik kaca, karena tak biasanya lelaki itu tak menjawab pertanyaannya.


Tristan berbalik, berjalan mendekat pada Kimy. Wanita itu bisa melihat dari balik kaca yang ada di depannya.


Kenapa dengan muka Bajingan ini, kenapa menyeramkan begitu.


"Apa ini?.." tanya Tristan datar.


Kimy menoleh melihat tangan Tristan yang sedang memegang sebuah bingkai foto. Ya.. Itu adalah fotonya dan Gilang dulu. Sebuah foto yang menggambarkan kebahagiaan dan cinta. Kedua insan itu terlihat sangat bahagia. Gilang terlihat memeluk Kimy dari belakang. Jantung Kimy bagai berhenti seketika. Bagaimana dia bisa lupa dengan foto yang ia taruh di laci nakas sebelah ranjangnya. Harusnya Kimy menyimpannya di tempat yang aman atau kalau perlu membuangnya.


"i.. Itu..."


Brakk


"Sialan kau masih memikirkannya?.."


Mata Kimy melotot seketika karena Tristan membanting bingkai foto itu hingga hancur berkeping.


"Tristan itu aku lupa.."


Mata Tristan terlihat memerah karena amarah. Dia mendekati Kimy pelan. Kimy ketakutan, mata itu seperti mata seorang Tristan yang menghajarnya dulu. Tidak ada lagi mata teduh yang ia dapatkan akhir-akhir ini dari lelaki itu.


Kimy terus memundurkan badannya, sampai akhirnya ia menabrak meja rias yang ada di belakangnya.


"Aku bisa jelaskan tristan.." katanya dengan suara bergetar.


"Jelaskan!! cepet jelaskan!! .." Suara Tristan menggelegar di seluruh ruangan. Kimy menutup matanya seketika. Pikirannya melayang, bagaimana kalau papinya dengar?


"ii.. Itu foto sudah lama dan aku lupa membuangnya.."


"Brengsek!!! kau mau aku membunuhnya?.."


"Tristan.." Kimy tersentak, lalu ia pun menggeleng dengan air mata bercucuran.


"Sialan, kau menangisinya?.."


"Tidak. Tidak Tristan, aku tidak menangisinya, aku hanya takut.." jawab Kimy terbata.


"Takut. Kau takut padaku. Aku tidak butuh kau takuti Kimy, aku ingin kau mencintaiku sialan.." Suara Tristan semakin keras. Kimy melihat rahang lelaki itu mengeras, tangannya mengepal kuat. Kimy benar-benar takut.


"Tolong, jangan sakiti aku.." entah kenapa kata itu yang muncul dimulut Kimy.


"Sialan.."


Braakk

__ADS_1


Kimy menunduk dengan melindungi kepalanya sambil menutup mata. Wanita itu benar-benar ketakutan. Tapi apa ini, kenapa badannya baik-baik saja, jelas-jelas dia melihat Tristan mengangkat tangannya siap dengan bogemannya. Kimy perlahan membuka matanya. Ia masih bisa melihat badan Tristan masih berada di depannya. Ia pun mendongak, melihat wajah lelaki itu dan apa yang terjadi. Tristan memandangnya dengan penuh kemarahan. Tangannya menjalar kebelakang tubuhnya. Kimy mengikuti tangan Tristan yang berada ditubuhnya. Dan seketika ia menutup mulutnya. Tristan memukul kaca rias yang ada di belakangnya. Kaca itu retak dan tangan Tristan masih menancap di sana dengan darah yang mengalir deras.


"Tristan apa yang kau lakukan?.." Kimy meraih tangan lelaki itu. Dia begidik ngeri melihat punggung tangan yang masih dilumuri darah dan ada serpihan kaca kecil-kecil yang menempel. "Kau gila, kau melukai tanganmu sendiri?.." Ucap Kimy sambil memandang lelaki itu. Tristan tak bergeming, dia masih terlihat marah dengan mengetatkan rahangnya. Kimy menunggu jawaban lelaki itu namun tak kunjung terdengar. Lalu dia membawa Tristan duduk ditepi ranjang.


"Aku ambil kotak obat sebentar.." Kata Kimy yang tak juga mendapat jawaban dari lelaki itu.


Perlahan Kimy menyapu luka itu dengan air, membersihkan agar tak infeksi sebelum memberinya obat. "Kenapa kau lakukan ini, kau tahu ini menyakiti dirimu sendiri?.." Tanya Kimy pelan. "Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Semua itu tidak seperti yang kau pikirkan.."


"knapa kau takut padaku?.." jawab Tristan datar.


Kimy melihat wajah Tristan sebentar, namun dia enggan menjawabnya.


"Kenapa kau bilang, jangan sakiti aku. Kau kira aku akan menyakitimu lagi seperti dulu? Kau masih belum percaya padaku Kimy?.." Tanya Tristan beruntun.


"Aku.. Aku.."


"Aku akan menyakiti diriku sendiri kalau kau masih memikirkan lelaki itu.."


Deg


Kimy menatap Tristan tak percaya "Apa maksudmu?.."


"Kalau kau masih memikirkannya, bukan kau yang akan terluka tapi aku. Kau akan lihat bagaimana aku bisa menyakiti diriku sendiri. Bahkan kau bisa melihat mayatku kalau kau masih mencintainya.."


"Tristan apa yang kau katakan?.."


"Aku tidak bercanda Kimy. Kau masih tidak percaya padaku kan? Kau masih mengira kalau aku akan menyakitimu lagi? Aku akan buktikan bagaimana gilanya aku mencintaimu.." Kimy diam tak menjawab, dia benar-benar bingung harus bagaimana menghadapi lelaki itu. Apa sekarang dia sedang di ancam oleh lelaki itu.


"Katakan sesuatu.."


"Aku benar-benar akan membunuhnya kalau kau masih memikirkannya. Kau milikku. Mata ini, hidung ini, bibir ini semuanya milikku. Jangan coba-coba lari dariku lagi. Kecuali kalau kau ingin melihatku mati, tentunya akan kubunuh dulu Bajingan itu.." Tristan menangkup wajah Kimy, memandangnya tajam.


Inikah caramu mencintaiku, apa benar ini cinta atau hanya obsesi belaka?


"Tristan bolehkah aku tanya sesuatu.."


"Katakan.."


"Di mana Laura, apa kau juga menghabisinya?.."


"heh.. Untuk apa kau tanyakan wanita sialan itu.." Tristan beranjak dari duduknya. Rahangnya kembali mengeras mengingat nama Laura di otaknya. Gara-gara wanita sialan itu dia hampir saja membunuh Kimy dan juga kehilangan bayinya.


Kimy berdiri mengikuti tristan, dia berdiri tepat di depan Tristan."Tristan tolong katakan apa dia masih hidup? Sudah lama aku bertanya-tanya tentang keberadaannya. Aku hanya merasa bersalah. Gara-gara aku dia mengalami semua ini.."


Tristan menatap heran Kimy "Pikirkan saja dirimu sendiri sayang, apa kau lupa gara-gara wanita sialan itu kau hampir saja mati di tanganku. Aku membencinya.."


"Bukankah dia kekasihku?.." Tanya Kimy polos.


"Heh.. Kekasih sialan. Jangan kau ucapkan kata-kata menjijikan itu Kimy.."


"Kau sendiri yang mengakuinya saat itu. Kau yang membawanya kerumahmu.."

__ADS_1


"****!!! Kenapa kau ingatkan lagi peristiwa itu Kimy. Itu adalah tindakan terbodoh dalam hidupku.."


"Jadi kau sengaja melakukan itu?.."


"Kau sudah tahu jawabannya.."


Walaupun aku tahu, aku benar-benar ingin dengar dari mulut mu sendiri brengsek.


"Kau mencintainya?.."


"Sial Kimy, lelucon apa itu. Sudah ku bilang aku tidak tertarik dengan wanita manapun kecuali kamu.." Tristan membelai salah satu pipi Kimy.


"Lalu kenapa dulu kau selalu berusaha mendorongku supaya aku menjauh darimu?.."


"Maafkan aku, itu karena kebodohanku. Aku belum menyadari perasaanku. Aku belum menyadari kalau aku akan mati tanpamu di sisiku sayang.."


Kimy tergugu seketika, pipinya sedikit memerah. "Jadi kau benar-benar mencintaiku?.."


"Kau mau bukti apa?.."


"Benarkah kau akan memenuhi segala mauku.."


"Tentu saja, asal kau percaya padaku.."


"Aku ingin tahu keberadaan Laura dan mamiku.."


Deg


Tristan mematung seketika. "Kenapa diam? Aku ingin bukti itu. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan mami. Aku akan melupakan kesalahanmu selama ini kepadaku asal kau memberitahuku dimana mami. Aku masih tidak percaya kalau mami meninggal. Setidaknya kalau mami meninggal mayatnya pasti sudah ketemu. Dan untuk Laura, aku hanya merasa bersalah. Dia hanya bermaksud membantuku.."


"Kenapa kau yakin sekali aku tahu dimana mamamu berada?.."


"Karena kalau kau mencintaiku, kau tidak mungkin menyakiti mami dan saat itu kau sudah mencintaiku kan?.."


****. Sialan. Kau belum mengenalku dengan baik Kimy. Bahkan aku sudah membunuh tantemu. Bagaimana bisa kau percaya kalau saat itu, aku lelaki yang bisa tunduk karena cinta.


"Aku benar-benar tidak tahu dimana mamamu. Jadi jangan tanyakan itu lagi. Mengenai Laura, kau tidak usah khawatir, wanita itu tidak akan muncul lagi dihadapanmu. Jadi kau tidak usah merasa bersalah.."


"tidak Tristan, aku yakin kau tahu keberadaan mami. Tolong. Mami dan papi kebahagiaanku. Kau bilang menginginkan aku mencintaimu kan, hanya jadi milikmu. Aku akan benar-benar menyerahkan hidup dan hatiku hanya saat kau memberitahuku dimana mami. Entah itu hidup atau mati.." Kimy terisak.


Sialan, kemana aku harus mencari bangkai wanita itu. Sudah lama, pasti sudah hancur dimakan binatang buas.


"Kau tahu, setiap aku melihat papi hatiku rasanya teriris. Papi terlihat kuat, tapi sesungguhnya dia pun sangat lemah. Mami adalah kekuatannya. Setidaknya papi harus tahu mami masih hidup atau sudah mati.."


Tristan memeluk tubuh Kimy yang bergetar. Entah kenapa hatinya juga merasa sakit melihat wanita itu menangis, mencurahkan isi hati padanya.


"Jangan menangis. Sudah ku bilang, jangan lagi menangis di hadapanku. Aku akan menyuruh anak buahku melacak keberadaan mamamu.."


Kimy tersentak "Benarkah, kau janji.."


Tristan mengangguk, Kimy memeluk tubuh Tristan dengan erat. Ada sedikit harapan di hidupnya. Senyumnya terukir tulus kali ini.

__ADS_1


Kau tidak tahu kesalahan apa yang dibuat mamamu Kimy. Kalau kau tahu, aku yakin kau akan membenci wanita itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2