
"Katakan sejujurnya Tristan, aku tahu segalanya. Kamu membenci mami karena itu.."
Tristan tak bergeming, dia hanya menatap Kimy nanar. Lelaki itu meraih tangan Kimy, meremas jemari wanita itu. "Maafkan aku.." Jawabnya pelan.
Air mata Kimy mengalir lagi, sudah cukup. Jawaban itu sudah menjawab semua pertanyaannya selama ini. Keduanya saling terdiam. "Aku tidak bisa menikah denganmu.." Kimy menarik tangannya, dia berbalik menjauh namun Tristan memeluk tubuh Kimy dari belakang.
"Tidak, jangan lakukan itu. Aku akan mati tanpamu. Semua sudah berakhir sayang, maafkan aku.."
"Kamu tidak bisa memaafkan orang-orang yang membuat mamamu bunuh diri dan karena mata itu.." Kimy tercekat, suaranya hilang digantikan oleh suara tangisan. "Bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang membunuh mama dan aunty.." perlahan Kimy melepaskan tangan Tristan yang memeluk pinggangnya. Kimy berjalan menjauh, dia menatap Tristan, lelaki terlihat rapuh dan pasrah. Sama halnya dengan Kimy, dia juga terlihat rapuh.
"Kamu tidak mencintaiku?.."
Kimy tak menjawab, ia terus menangis. Hatinya begitu terluka, untuk kedua kalinya ia akan kehilangan orang yang di cintainya.
Tristan berjalan mendekat dan memeluk Kimy erat "Aku mencintaimu, akan aku lakukan apapun. Maafkan aku. Kita akan tetap menikah sayang.."
Kimy menggelengkan kepala di dalam dekapan Tristan. Dia mencintai lelaki itu juga, tapi lelaki itu sudah membunuh mami dan tantenya, dia akan hidup dengan rasa bersalah seumur hidup. Tristan menangkup wajah Kimy, memandang kedua bola mata indah itu "Percayalah padaku.." Tristan mencium bibir Kimy lembut. Kimy tak menolak, namun dia juga tak membalas. Ciuman yang tadinya lembut itu berubah menjadi panas ketika Kimy membuka sedikit bibirnya. Tristan semakin melesatkan lidahnya ke dalam rongga mulut Kimy. Sedikit demi sedikit kimy membalas ciuman panas Tristan. Air mata Kimy keluar lagi di sela-sela kegiatan itu. Dia ingin menolak, namun hatinya tak mampu menolak. Dia juga menginginkan lelaki itu.
Tristan terus menggiring tubuh Kimy ke ranjang, membaringkan wanita itu perlahan. Dengan begitu hati-hati Tristan melakukannya. Bagaimana pun Kimy masih dalam masa pengobatan traumanya. Dia tak bisa melakukan sesuai kehendaknya. Kimy pasrah, dia menutup mata menikmati setiap sentuhan yang Tristan berikan. "Aku mencintaimu sayang, jangan pernah tinggalkan aku atau kamu akan melihatku mati.." Kata Tristan disela cumbuannya.
Kimy membuka matanya yang sudah basah oleh air mata. Keduanya berhenti sejenak dan saling memandang intens "Katakan kamu mencintaiku.." perintah tristan.
"Aku mencintaimu.." jawab Kimy lirih. Mendengar itu andrenalin Tristan terpacu untuk mencumbu kimy. Tristan mencium kimy lagi. Kali ini sudah tidak lembut lagi. Keduanya sama-sama meluapkan hasratnya dengan meluap-luap. Entah kali ini Tristan tak memikirkan trauma Kimy lagi. Dan begitu juga Kimy, dia begitu menikmati pergulatan itu hingga kenangan-kenangan buruk itu tak muncul lagi di otaknya.
__ADS_1
Tristan mengerjapkan mata beberapa kali. Matahari rupanya tengah mengintipnya di balik jendela. Lelaki itu sedikit tersenyum mengingat kegiatan panasnya dengan Kimy semalam. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa memiliki wanita itu sepenuhnya lagi, tanpa paksaan dan atas dasar cinta. Entah berapa kali mereka mengulang kegiatan itu hingga hampir pagi. Tristan masih mengingat berapa kali mereka berdua saling mengucapkan kata cinta. Hatinya saat ini sangat bahagia dan berbunga-bunga. Lelaki itu menoleh ke samping namun tak ada Kimy di situ. Dia menoleh ke kamar mandi, mungkin wanitanya ada di sana sedang membersihkan diri, Batinnya.
Tristan sedikit beranjak dari tidurnya, sekarang posisinya bersandar diranjang sambil membuka ponselnya. Dia melirik jam diponsel dan ternyata bukan pagi lagi, melainkan siang hari pukul 13.00. Banyak sekali panggilan dari Dony yang tak ia Jawab. Pasti lelaki itu mencarinya, Batinnya. Tristan tak menghiraukannya, ia ingin melupakan masalah pekerjaan sesaat dan menghabiskan waktu bersama kekasihnya. Ia pun beranjak dari ranjang berniat menyusul Kimy ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
"Sayang.." panggilnya dengan membuka kamar mandi itu namun tak menemukan Kimy di sana. Kemana pikirnya.
Tristan kembali, dia berjalan sambil memungut kemeja yang berantakan di lantai, di pakainya kemeja yang lusuh itu dan boxer yang ada di sebelahnya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Kimy. Dimana dia, tidak biasanya saat dia bangun Kimy tidak ada di sampingnya.
Tristan meraih celana dan memakainya cepat. Dia ingin melihat gadisnya. Apa dia sedang di bawah, Batinnya. Tristan berjalan cepat bermaksud keluar dari kamar, namun gerakan tangannya berhenti di handle pintu. Dia menoleh ke samping, kesebuah meja disamping pintu. ada sebuah kertas di lipat segitiga. Tristan mengernyit, perasaannya tak enak. Dengan cepat lelaki itu meraih kertas itu dan membukanya.
Dear Tristan..
Maafkan aku tidak membangunkanmu. Aku melihat kamu kelelahan. Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Terima kasih untuk cinta yang kamu beri untukku. Aku tidak meragukannya sama sekali. Aku percaya padamu. Perkenalan kita yang di awali dengan kesalahan dan berakhir dengan saling mencintai. Aku tidak menyesal mencintai dan memilihmu karena ini sudah takdirku.
Tidak semua hal yang kita mau bisa kita wujudkan. Aku mencintai kamu, ingin bersamamu, tapi hati kecilku berkata tidak. Mungkin saat ini hatiku belum bisa menerima apa yang sudah terjadi dengan mami dan aunty. Aku merasa bersalah dan durhaka Seandainya mengabaikan hati kecilku ini.
Maafkan aku Tristan..
Mungkin aku terlalu pengecut untuk bisa menerima kesalahan-kesalahan itu. Percayalah padaku, hidupmu akan lebih baik tanpa aku. Jika kamu mencintaiku, biarkan aku sendiri menata hati. Jangan mencariku. Biarkan takdir yang akan menuntun kita.
Tristan..
Aku percaya kamu tidak akan menyakiti papi. Hanya dia yang aku punya saat ini. Jagalah papi, aku tidak mau papi tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia sangat mengagumi kamu, aku tak ingin membuatnya terluka. Dia akan mengerti dengan sendirinya. Tak perlu menjelaskan apapun padanya.
__ADS_1
Tristan,
Jaga dirimu, jadilah lelaki yang baik sesuai janjimu. Semoga kebahagiaan selalu berada di sisimu.
Salam manis.
Kimy.
"Ooh shiit..." Tristan meremas kertas itu. Dengan terburu dia mengambil ponselnya, menghubungi Dony tentunya. Dia berjalan cepat sambil menunggu panggilan di jawab oleh Dony. Dari tangga dia melihat bi asih sedang membersihkan dapur, Tristan pun berjalan menghampiri wanita tua itu.
"Dimana Kimy?.."
Bi asih sedikit tersentak "Tuan, saya tidak tahu nona pergi kemana tapi pagi tadi bu lexa menjemputnya.."
"Sial.." Tristan meninggalkan bi asih yang terkejut mendengar umpatan lelaki itu.
"Hallo.. Kau dimana? Lacak keberadaan Kimy dan lexa. Cari tahu di bandara, stasiun, terminal atau dimanapun. Cek seluruh cctv di setiap sudut kota ini.." perintah tristan pada Dony di balik telepon. Sedangkan dia pergi dengan mobilnya entah kemana, meninggalkan rumah mewah itu.
****
Sudah beberapa hari sejak kepergian Kimy, namun tak ada jejak yang menunjukan di mana wanita itu berada. Tristan sudah seperti orang gila yang mencari keberadaan wanita itu.
Sedangkan Daniel lebih tenang dari Tristan, karena sebelum pergi Kimy sempat meneleponnya. Kimy bilang ingin menenangkan diri dan melarang mencarinya. Daniel yang memang sangat percaya pada Kimy itu begitu tenang menghadapi kepergian Kimy untuk yang ke sekian kali. Namun dia sedikit kasihan melihat Tristan yang begitu frustrasi. Bahkan penampilan lelaki itu sudah tak karuan. Tristan tidak pernah lagi datang ke kantor. Segala urusan kantor Dony yang menangani. Lelaki itu hanya sesekali datang itupun dia minum-minum di ruangan nya tanpa bekerja sedikitpun.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=