BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Akan menikahimu


__ADS_3

"Kimy"


Gilang melihat Kimy sedang duduk di atas ranjang, menekuk kedua kakinya dan membenamkan kedua wajahnya di sana.


Perlahan Kimy mendongak untuk melihat siapa yang datang. Kedua matanya terkunci melihat lelaki yang saat ini berdiri di ambang pintu. Gilang lelaki yang tak kalah tampan dari calon suaminya. Mantan kekasihnya itu berada di depannya sekarang.


"Gilang"


"Boleh aku masuk?" Tanya Gilang sambil tersenyum. Senyuman yang sudah lama sekali tidak Kimy lihat. Kimy mengangguk, ia pun membenarkan posisi duduknya yang saat ini sudah menggantung kakinya di bawah ranjang.


Gilang berjalan menghampiri Kimy, berdiri tidak jauh dari Kimy duduk. Menatap wajah wanita yang sangat di rindukanya itu, sedangkan Kimy masih menatap bingung dengan kedatangan lelaki itu yang begitu tiba-tiba.


"Kamu baik-baik aja?" Tanya Gilang, lelaki itu terlihat sedikit menelisik isi kamar Kimy. Rasa nyeri di hati kembali muncul ketika melihat dengan nyata foto Tristan terpampang di sana.


"Kamu kesini--"


"Mama menelpon menyuruhku datang" Gilang melihat Kimy yang masih terlihat bingung "Mereka semua ada di bawah" lanjut Gilang. Kimy hanya mengangguk mengerti.


"Kamu baik-baik aja?"


Kimy mengangguk menjawab pertanyaan Gilang itu. Namun pandangan Gilang terganggu pada tangan Kimy yang terlilit perban. "Tangan kamu kenapa?" Gilang mendekat pada Kimy dan mengambil tangan Kimy untuk dilihatnya.


"Lang.." Kimy menarik tangannya, ia merasa Gilang terlalu lancang melakukan itu mengingat ini interaksi pertama mereka setelah sekian lama.


"Maaf.." Kata Gilang mendapati tangannya yang sudah kosong.


Kimy berdiri berjalan dan sekarang dia duduk di sofa yang ada di kamarnya, membiarkan Gilang berdiri disana. Kimy masih sangat canggung untuk berdekatan dengan lelaki itu.


"Mami bilang kamu setuju" Kata Gilang to the point membuat Kimy menutup matanya sebentar. Kimy jelas tahu apa maksud lelaki itu.


"Maaf Lang, harusnya mereka tidak melibatkanmu--"


"Kalau tidak aku lalu siapa, jangan pernah berfikir akan menikahi lelaki lain" sela Gilang dengan sedikit nada tinggi.


Kimy sedikit terkejut dengan kata-kata Gilang itu. Jangan pernah berfikir menikahi lelaki lain. Maksudnya bagaimana, bukankah sebelumnya Kimy memang akan menikah dengan Tristan. Kimy memandang Gilang dengan tatapan bertanya dan sepertinya Gilang menyadari itu.


"Maksud aku, jangan melibatkan lelaki lain dalam masalah ini" Kata Gilang dengan salah tingkah.

__ADS_1


"Lang, aku sudah banyak menyakitimu. Aku tidak bisa terlalu dalam melibatkanmu dalam masalah ini. Aku tidak bis--"


"Dia kakakku, aku keluarganya. Aku yang akan bertanggung jawab"


"Aku hamil Lang.." Kata Kimy sambil menangis.


"Aku Tahu.."


"Aku bukan Kimy yang dulu, aku sudah berbeda"


"Aku tahu.." Jawabnya lagi.


"Aku sudah tidak mencintaimu lagi" Gilang mematung mendengarnya, bibirnya kebas, tidak bisa menjawab perkataan itu. Jujur hatinya sakit, sangat sakit ternyata ketika ia mendengar langsung dari bibir wanita yang sangat mempengaruhi hidupnya itu.


"Apa kamu mau menikah dengan wanita yang tidak mencintai kamu" Kata Kimy lagi dengan lirih. Pandangan keduanya terkunci. Gilang melihat kedalam manik mata Kimy. Memang benar, dari cara Kimy memandangnya saja Gilang sudah tahu rasa itu sudah berbeda. Tatapan penuh cinta dan memuja yang dulu sudah hilang. Gilang hanya mengangguk pasrah.


"Aku mau.." katanya mantab.


Mendengar itu semakin membuat Kimy sedih dan menangis. Mau sampai kapan dia akan menyakiti gilang lagi dan lagi. Satu-satunya orang yang tak bersalah di situ adalah Gilang. Tapi dia yang paling menerima dampaknya. Dia sangat menderita. Apa Kimy masih tega memeperalat lelaki itu lagi.


"Tidak masalah, aku tetap akan menikahimu Kimy" jawab Gilang seakan menantang ucapan Kimy.


Kimy tersenyum simpul mendengarnya "Aku tidak percaya ini" Kimy membuang nafasnya kasar "Kenapa sih kamu Lang. Masa depanmu masih panjang. Kamu bisa menikahi gadis perawan yang cantik-cantik. Di luar sana, banyak orang mengagumimu" Kimy berkata dengan menggebu-gebu.


"Kamu pikir aku masih berniat menikah dengan wanita lain setelah semua yang terjadi" jawab Gilang menatap lurus ke manik Kimy, dengan cepat Kimy memutus kontak mata itu. Dia takut, Kimy takut pada sosok lelaki di depanya itu. Bagaimana pun ini Gilang, lelaki yang pernah sangat di cintainya. Lelaki yang mampu memporak-porandakan hatinya dulu. Kimy benar-benar takut, mulutnya mungkin bisa menolak tapi bagaimana kalau berjalannya waktu hatinya tidak bisa menolak lelaki itu lagi. Tidak, Kimy Tidak mau itu. Kimy mau Tristan, Kimy hanya mau lelaki itu kembali untuknya. Sampai kapanpun dia akan menunggu Tristan kembali.


"Baiklah, kita akan menikah tapi dengan syarat--" Kimy menggantung ucapannya. Dasar, Kimy tahu betul kalau saat iki dirinya terlalu egois, harusnya dia sadar diri ada yang mau menikahinya dalam kondisinya saat ini, malah minta syarat. Tapi bagi Kimy ini perlu untuk membentengi hatinya.


"Aku tidak mau ada kontak fisik dan kita tidak boleh jatuh cinta satu sama lain. Kita bentengi diri kita sendiri"


"Haha.." Gilang tertawa ringan mendengar ucapan Kimy itu "Kamu bilang kita di larang jatuh cinta?" Kimy mengangguk beberapa kali.


Gilang berjalan mendekati Kimy dan duduk bersimpuh di depan wanita itu. Jelas Kimy sangat kaget dan merasa tak nyaman dengan sikap Gilang itu "Ajari aku melupakanmu, karena sampai sekarang kamu masih ada di sini" Gilang menunjuk hatinya. Beberapa saat pandangan keduanya terkunci hingga Kimy yang memutuskan untuk beranjak dari tempatnya. "Aku berjanji tidak akan melakukanya tanpa izinmu" lanjut Gilang, kemudian dia pun ikut berdiri menatap punggung Kimy.


**


Ke esokan hari, Dony benar-benar melakukan rapat darurat. Ia mengumumkan kalau Kimy yang akan menggantikan Tristan untuk semua kegiatan penting terkait perusahaan dan semua yang menyangkut Tristan, dalam rapat itu ia juga mengumumkan kalau pernikahan akan tetap dilakukan dengan mempelai pria pengganti Gilang, adik kandung beda ibu dari Tristan. Kabar itu cepat sekali berhembus ke media cetak maupun elektronik, membuat Kimy menjadi bulan-bulanan netijen, banyak yang mencibir karena keputusan Kimy yang tetap menikah di saat dirinya masih berduka. Apalagi menikah dengan Gilang, mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Tante tolong jelaskan padaku" teriak Nadine.


"Kau tidak punya sopan santun" Sinta berdiri dari duduknya, mendekat pada tubuh gadis cantik di depannya itu. "Kau masuk ke rumahku tanpa permisi--"


"I Dont care" jawab Nadine dengan nada menekan kata perkatanya. "Jelaskan padaku kalau semua berita di luar itu hoaks Tan"


Sinta menjauh dari hadapan nadine, berjalan sambil tersenyum puas "Sayangnya tidak, berita itu benar" Jawabnya lalu duduk kembali ke tempatnya.


"Tante, tante tidak lupa sama janji tante. Aku sudah melakukan semua kemauan tante, bukan ini akhir yang aku harapkan. Tante tahu kan?"


"Nadine sayang, tenanglah sedikit. Maafkan tante karena sepertinya jalan ceritanya agak berbelok sedikit sayang"


"Tante tidak bisa melakukan ini--" Nadine mengusap kasar wajahnya "Aku sudah melakukan semuanya tante"


"Tidak sia-sia sayang, lelaki itu. Dony sepertinya benar-benar jatuh cinta padamu"


"Tante!!!!" teriak Nadine. Nadine sedikit berfikir, ia seperti menyadari sesuatu "Apa tante yang melakukan ini? Tante yang merencanakan kecelakaan itu?" Tanya Nadine dengan wajah menduga-duga.


Sinta berdiri lagi, berjalan menghampiri Nadine yang masih berdiri di tempatnya "Jangan berisik tikus kecil, jangan buang-buang tenaga dan waktumu di sini. Karena aku tidak akan merubah apapun. Pergilah"


Nadine menyipitkan matanya "Karena wasiat itu, karena harta Tristan semua untuk kimy. Maka dari itu tante merubah rencana. Iya kan?" Sinta tersenyum mendengar perkataan Nadine itu.


"Pergilah, kau hanya buang-buang waktu di sini" usir Sinta.


"Tidak. Aku akan kasih tahu om Teddy kalau tante yang merencanakan ini. Aku akan kasih tahu Gilang dan juga Kimy."


" Silahkan, Kau pikir mereka percaya padamu. Ingat Nadine, sudah sejak dulu kau itu ancaman dihubungkan Gilang dan Kimy. Kalaupun sekarang kau buka semuanya, mereka hanya akan menganggapmu sampah yang berniat merusak rencana pernikahan mereka. Ingat, Kimy masih menganggapmu musuhnya " Sinta tersenyum penuh kemenangan.


Nadine mengepalkan kedua tanyanya kuat mendengar perkataan Sinta itu.


" Tante akan menyesal" selanjutnya Nadine meninggalkan tempat itu dengan penuh kemarahan. Dia keluar membanting pintu utama rumah Sinta itu.


Mobil civic sport putih itu melaju dengan sangat kencang. Nadine menginjak penuh gas pada mobil itu, pikirannya saat ini benar-benar kacau. Dia tidak menyangka janji manis Sinta selama ini hanya bualan semata. Sudah banyak yang Nadine korbankan. Dia harus berpura-pura berdamai dengan Kimy, dia juga rela menjadi pacar Dony yang tidak di cintainya sama sekali, harus pura-pura manis di depan Gilang seakan sudah tidak mencintai lelaki itu lagi.


"Sial, sial, sial" katanya sambil memukul-mukul stir mobilnya. Nadine menepikan mobilnya di tempat sepi untuk mengatur emosinya saat ini.


"Kau akan menyesal Sinta, lihat saja. Kau sudah main-main denganku. Sampai mati aku tidak akan rela Gilang menikahi Kimy. Sial*n Tristan bodoh, kau benar-benar mati. Kau menggagalkan segalanya Tristan"

__ADS_1


__ADS_2