BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Om ganteng


__ADS_3

Setelah 5 tahun berlalu apa sebenarnya yang sudah Tristan lewati tanpa Kimy. Apa Tristan masih lupa ingatan? kenapa Tristan tidak kembali ke Indonesia kalau sudah sembuh dari sakitnya.


Siapa yang kangen Tristan? 😁


🌺🌺


Tristan menarik lembut tangan Laura, wanita yang sudah menemaninya selama lima tahun terakhir. Wanita itu mundur selangkah mensejajarkan tubuhnya di samping Tristan. Tristan masih belum melepas tangannya, ia menarik Laura dan sekarang wanita itu terlihat menatap wajah Tristan.


Laura menunduk dan kemudian ia duduk bersimpuh di depan lelaki itu. "Maaf Lau, tolong jangan marah lagi. Kasihan janinmu" Kata Tristan lembut.


"Aku membencimu" Kata Laura ketus.


Tristan tersenyum geli dengan tingkah Laura yang menurutnya lucu.


"Aku berangkat dua hari lagi. Kau mau ikut atau tetep di sini?"


"Tentu saja ikut, Bajingan. Kau mau meninggalkan ku?"


"Kau ingat pesen nenek terakhir kali sebelum dia meninggal? Dia tidak ingin kau meninggalkanku sendirian"


Tristan mengangguk "Aku tahu"


Laura diam, wanita itu masih marah dan tak terima dengan keputusan yang Tristan ambil.


"Lau" panggil Tristan.


Laura melihat ke arahnya, namun wanita itu masih diam tak menjawab.


"Tenanglah semua akan baik-baik saja"


"Bagaimana aku bisa tenang, kalau kau akan--"


"Aku sudah menunggu selama lima tahun" Tristan menyela ucapan Laura.


Laura membuang nafasnya pelan "Aku tahu, aku lebih rela kau hidup bersamanya dari pada kau harus melakukan itu Tristan. Kau bodoh!!" umpat Laura dengan Kasar.


"Dengan keadaanku yang seperti ini?" jawab Tristan dengan senyum remeh.


"Kenapa memangnya? Kau masih Tristan yang sempurna dengan keadaanmu yang seperti apapun. Aku yakin dia bisa menerimamu. Kalian saling mencintai" keduanya terdiam dan saling memandang.


"Dimana Tristan yang selalu sombong dan percaya diri. Bahkan dulu saat pertama kali bertemu denganku, kau ingat? kau hanya seorang pengamen di lampu merah. Saat teman-temanmu bernyanyi dengan lantang. Kau hanya berdiri di belakang mereka. Pandanganmu dingin penuh kesombongan, padahal kau tidak punya apa-apa saat itu" sambil berkata itu, Laura berusaha untuk menyembunyikan kesedihanya.


Tristan memandang Laura, pikiranya mulai berkelana jauh ke belakang. Benar apa yang di katakan wanita itu. Tapi saat ini kondisinya berbeda.


"Sekarang berbeda Lau, aku bahkan tak pantas walau hanya berdekatan dengannya" ucapnya terdengar sendu.


Salah satu tangannya memencet sesuatu di sisi kanan tubuhnya. Dan benda yang di duduki Tristan bergerak meninggalkan tempat itu.


Laura melihat tubuh Tristan menghilang di balik pintu "Apa aku salah bicara. Bodoh Laura, harusnya kau bisa mengerem mulutmu. Kau tahu Tristan dalam kondisi krisis kepercayaan diri" ucap wanita itu merutuki dirinya.


**


Tristan membuka pintu kamarnya, kursi roda yang ia duduki perlahan berjalan menuju balkon. Tangan kanan Tristan meraih handle pintu dan membukanya. Ia bisa melihat pemandangan kota Barcelona dari sana. Ya, selama empat tahun terakhir tristan tinggal di Barcelona bersama dengan Laura.


Kursi roda itu tepat berhenti di pembatas balkon. Tristan mengetatkan rahangnya. Entah sudah berapa ratus kali lelaki itu selalu berada di situ ketika perasaannya seperti sekarang ini. Tristan masih sangat mencintai Kimy, tapi kenyataannya, dia tidak berani menghadapi tunangannya itu. Katakan Tristan lelaki brengsek yang bersembunyi di saat Kimy lagi di ambang kehancuran karena kehamilanya. Tapi Tristan terlalu takut untuk mengahadapi Kimy. Tristan sendiri merasa hancur lebur ketika dokter mengatakan kalaiu ia mengalami kelumpuhan permanen karena jaringan kedua kakinya remuk ketika kecelakaan itu terjadi. Mungkin Tristan kurang bersyukur karena tuhan memberikan kehidupan kedua untuknya, tapi lebih dari itu, rasa insecure lebih mendominasi. Tristan yang sejak lahir memiliki kesempurnaan fisik di atas rata-rata itu tidak bisa menerima kenyataan, apalagi tunangannya seorang kimy, Tristan akan lebih sakit ketika melihat Kimy di pandang sebelah mata karena memiliki pendamping yang lumpuh sepertinya.


"Maafkan aku sayang" Tristan berkata pelan, bahkan dirinya sendiri seperti tak mendengarnya.


**


"Tristan!!" Kimy berteriak dalam tidurnya, seketika Gilang pun terbangun dan melihat badan Kimy sudah basah kuyup dengan keringat dingin.


"Sayang" Gilang membangunkan Kimy dengan lembut.


"Sayang kamu mimpi buruk?" Gilang melihat Kimy membuka mata, namun pandangan istrinya terhadapnya terlihat berbeda.


"Gilang" panggil Kimy pelan.


"Iya" Gilang mengahadap Kimy dengan pandangan penuh tanya.

__ADS_1


"Kamu mimpi buruk?"


Kimy tak menjawab, wanita itu hanya diam sambil menatap mata suaminya yang memang baiknya luar biasa itu. Tidak mungkin Kimy menceritakan apa yang barusan ia impikan kepada Gilang.


"Kamu belum tidur?" Kimy lebih memilih menanyakan itu kepada Gilang.


"Sudah tadi"


"Kenapa kamu nggak cerita?"


Alis Gilang bertatut "Tentang apa?"


"Donor itu, Dony cerita padaku"


"Si*l si Dony" jawab Gilang. Lelaki itu kini menegakkan badannya, ia sekarang duduk bersandar di kepala ranjang.


Kimy ikut beranjak, ia pun duduk menghadap suaminya. "Kamu nggak berniat buat nolak lagi kan Lang?" Tanya Kimy to the point.


"Kim--"


"Kamu nggak lupa aku lagi hamil kan?" Tanya Kimy dengan nada sedikit lebih tinggi.


Gilang melihat wajah Kimy dengan frustasi, Gilang tahu wajah istrinya itu sedang menahan amarah.


"Kim aku--"


"Jangan sampai anakku yang kedua juga kehilangan bapaknya" Kata Kimy dengan nada ketus dan langsung beranjak meninggalkan Gilang.


Gilang membeku seketika mendengar ucapan Kimy barusan. Bukan apa-apa sih, Gilang tahu Kimy akan bersikap seperti itu ketika ia selalu menolak untuk menerima donor. Tapi yang membuat Gilang kaget adalah ucapan Kimy yang nggak mau anaknya keduanya kehilangan sosok bapak lagi. Tidak tahu kenapa, ucapan Kimy itu membuat hatinya tak nyaman.


**


Seminggu berlalu, Kimy menjemput Jeff di tempat les berkudanya. Sebenarnya tidak biasanya Kimy menjemput putranya itu, karena memang Jeff tidak sedekat itu dengan Kimy. Jeff lebih dekat dengan Gilang dan juga Dony. Kesibukan Kimy membuatnya harus merelakan waktunya bersama Jeff.


Kimy melihat Jeff sedang berkuda sendirian. Senyum wanita cantik itu merekah melihat putranya begitu mempesona di atas kuda.


"Lihat anakmu, kenapa dia mirip sekali denganmu" ucapnya yang tanpa sadar ia ucapkan begitu saja. Seketika Kimy membuang nafas. Sudah lima tahun berlalu, namun dadanya masih terasa sesak mengingat semua kenangannya bersama Tristan yang berlalu begitu saja. Tanpa pesan, tanpa pamit Tristan menghilang begitu saja dari hidupnya. Berat, Kimy merasa sampai sekarang pun ia masih terseok mengingat semua kenanganya bersama Tristan. Namun bukankah hidup harus tetap berjalan. Sedangkan ada Gilang yang selalu mendukungnya dengan tulus, siapa yang tak luluh. Tapi tetap saja di hati kecilnya, ruang untuk Tristan itu tak bisa tergantikan oleh siapapun.


Kimy pun berjongkok siap menyambut pelukan putra kesayangannya itu. Jeff memeluk Kimy dengan erat. Walaupun keduanya tidak terlalu dekat, namun Kimy tahu Jeff sangat menyayanginya. Keduanya mempunyai ikatan batin yang kuat antara anak dan ibu seperti pada umumnya.


"Momy kesini?" Tentu saja Jeff bertanya seperti itu, apa yang membuat gerangan seorang kimy yang super sibuk datang ke tempat les berkudanya.


Kimy mengangguk "Kenapa memangnya, momy nggak boleh datang?"tanyanya dengan muka penuh selidik.


"Momy biacanya cibuk, Daddy mana mom?" Tanya Jeff sambil celingukan mencari Gilang.


"Daddy nggak bisa datang sayang" jawab Kimy lembut.


"Paman Dony?" Tanya Jeff lagi.


"Dia juga nggak bisa datang. Apa kedatangan momy nggak cukup buat kamu sayang, Hmm?"


Jeff terlihat mendengus.


"Kenapa?" Tanya Kimy.


"Kalau cama Mom, Jeff nggak bisa main di cana" Jeff menunjuk tempat latihan menembaknya yang memang letaknya tidak jauh dari tempat berkudanya.


Kimy sedikit kaget, jujur saja Kimy tidak tahu kalau Jeff juga berlatih menembak. Bisa-bisanya anak sekecil Jeff di latih menembak oleh Gilang dan Dony. Mau di jadikan apa putranya itu. Apa mereka mau menjadikan Jeff Tristan kedua, pikirnya.


Kimy membuang nafas kesalnya.


"Sejak kapan Jeff berlatih di sana?" Tanya Kimy penuh selidik.


"Cudah lama, Jeff bahkan Cudah bisa menembak bulung yang ada di pohon itu" Jawabnya dengan polos sambil menunjuk seekor burung di atas pohon yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Lagi-lagi Kimy membuang nafas kesalnya.


"Sayang, siapa yang memintamu belajar menembak, daddy atau paman Dony?"

__ADS_1


Jeff menggeleng "Tidak ada, Jeff cuka lihat paman Dony menembak dan Daddy ngizinin Jeff buat belajal mom"


"Tapi kan Jeff masih kecil"


"Memangnya tenapa, walaupun Jeff macih kecil buktinya Jeff Cudah bisa nembak mom"


Kimy menghela nafas, ia yakin tidak akan ada ujungnya berdebat dengan Jeff. Walaupun putranya masih kecil, tapi Jeff selalu punya jawaban atas apa yang ia ucapkan.


Kimy memperhatikan wajah Jeff yang begitu menggemaskan, ia meneliti wajah putranya itu. Dan senyumnya kembali tersirat kala ada wajah Tristan di sana. Entah kenapa, sejak bermimpi tentang Tristan seminggu yang lalu, membuatnya semakin merindukan sosoknya.


"Jeff mau ikut momy nggak?"


"Temana?"


"Ke pantai"


"Ndak mau, Jeff mau di cini aja"


"Kok nggak mau sih, momy pingin ajak Jeff ke suatu tempat yang indah"


"Tapi Jeff mau ketemu temen Jeff mom, Jeff ndak mau"


"ketemu temenya kan masih bisa besok-besok" Kata Kimy mencoba membujuk Jeff.


Jeff menggeleng.


Kimy mendengus kesal. Lagian siapa sih temen Jeff yang membuat putranya itu menolak ajakannya.


"Siapa sih temen Jeff, emang sepenting itu sampai Jeff menolak ajakan momy, mom sedih tahu" Kimy pura-pura sedih.


"Om ganteng" jawab Jeff spontan.


"Om?"


Jeff mengangguk lagi.


"Temen Jeff om-om?"


"Iya mom, Cudah mom cepetan pelgi aja. Lagian Jeff belom celecai latihan"


Kimy berfikir sejenak, sejak kapan Jeff punya teman om-om. Kimy dan semua orang terdekatnya selalu memantau pergaulan putranya itu, mengingat siapa saja bisa menjadi musuhnya.


"Jeff sudah lama kenal om ganteng?" Tanya Kimy penuh selidik.


"Belom, balu ceminggu ini kenal om ganteng"


"Kenalnya di mana?"


"Di cini mom"


"Om ganteng latihan berkuda juga?"


Jeff menggeleng "Om ganteng celita, duyu om hobinya belkuda, dia sangat jago. Tapi kalena kecelakaan, om jadi ndak bica belkuda lagi"


"Jadi om berhenti berkuda?" Tanya Kimy lagi.


Jeff mengangguk.


"Boleh momy kenalan sama om ganteng?"


"Noooo...."


"Kenapa?" Tanya Kimy heran.


"Nanti daddy malah cama Jeff. Daddy cuka cembulu kalau mom deket-deket olang ganteng"


Kimy membuang nafasnya, bisa-bisanya anak sekecil Jeff berfikiran begitu.


"Jadi momy nggak boleh bertemu om ganteng?"

__ADS_1


Jeff menggeleng lagi.


Bersambung..


__ADS_2