
Satu persatu orang-orang yang memakai pakaian serba hitam meninggalkan area pemakaman. Kini hanya menyisakan beberapa orang saja di situ. Kimy melihat Gilang yang masih bersimpuh di depan pusara mamanya. Lelaki itu terlihat kuat karena tidak menangis saat ini, tapi Kimy tahu mata Gilang begitu sembab dan memerah.
Kimy mendekat dan ikut duduk di samping Gilang "Mama sudah tenang di surga, tuhan lebih sayang mama Lang" Kata Kimy pelan.
Mendengar itu Gilang menoleh sebentar, ia melihat Kimy yang memakai kaca mata hitam di sebelahnya sedang tersenyum padanya.
"Terima kasih sudah datang Kim" Kata Gilang pelan.
Kimy mengangguk.
"Kita pulang--"
"Aku mau ke rumah mama dulu Kim, kamu pulang duluan aja" Gilang menyela ucapan Kimy.
Kimy mengangguk lagi.
Kimy beranjak dan berjalan meninggalkan Gilang, Kimy berjalan melewati Teddy dan Hendra yang juga masih berada di situ.
"Pa, Kimy pulang duluan" pamit Kimy pada Teddy.
Teddy mengangguk tanpa menjawab.
**
Sarah meringkuk di kasurnya, tubuhnya gemetar dan air mata tidak bisa berhenti membasahi pipinya.
Ceklek
Daniel masuk ke dalam kamar, ia membuang nafasnya pelan. Daniel masih marah dan mendiamkan Sarah, tapi melihat istrinya begitu Daniel benar-benar tidak tega.
Apalagi hari ini mereka mendapat kabar kematian Sinta. Sarah benar-benar terpukul, sedih dan terlihat ada ketakutan di matanya.
Daniel berjalan mendekati Sarah, ia melihat Sarah masih bergulung selimut tebal.
"Sarah" panggil Daniel.
Sarah tak menyahut, selanjutnya Daniel duduk di tepi kasur dan membuka selimut itu perlahan.
Daniel bisa melihat tubuh istrinya itu bergetar, itu pertanda Sarah Sedang menangis.
"Kamu harus makan" Kata Daniel pelan.
"Semua sudah terjadi, kalau kamu menangis terus dan tidak mau makan, nanti kamu sakit"
Perlahan Sarah menoleh pada Daniel yang sudah menatapnya lekat. Air mata Sarah semakin deras kala ia melihat mata suaminya yang juga terlihat memerah sepertinya juga habis menangis.
Hati Sarah sakit sekali, karena ulahnya telah menyakiti orang-orang terkasihnya.
"Pa--" Sarah terisak.
"Jangan menangis lagi" Kata Daniel.
Sarah menggeleng.
"Papa masih marah padaku, Kimy juga. Bagaimana aku tidak menangis"
"Semua sudah terjadi" jawab Daniel.
"Aku takut pa, Sinta meninggal begitu tragis. Aku takut" Suara sarah semakin bergetar dengan air mata yang tak bisa berhenti.
Daniel maju perlahan, kemudian membawa Sarah ke dalam Pelukannya. Walaupun hati Daniel masih marah, tapi nalurinya sebagai seorang suami tidak bisa di bohongi. Daniel memeluk Sarah dan menepuk punggung istrinya supaya tenang.
**
Gilang berdiri di depan jendela kaca besar di apartemenya. Dia melihat kerlap kerlip pemandangan ibu kota Jakarta. Lelaki itu bohong pada Kimy akan pulang ke rumah mamanya. Nyatanya ia ada di sini, di apartemenya yang sudah lama sekali tidak di kunjunginya.
Drt drtt drttt
Hp Gilang yang berada di saku bergetar, ia segera merogohnya keluar dan melihat siapa yang menghubunginya malam itu.
Nadine, nama itu muncul di hpnya. Gilang pun berdecak malas untuk mengangkat, ia pun memasukan kembali hpnya ke dalam saku celana, namun belum ia mengeluarkan tanganya, hpnya bergetar lagi.
Gilang mengangkat panggilan di hpnya saat melihat nama Dony di sana.
"Ada apa?" Jawabnya.
**
Saat ini Dony sudah berada di apartemen Gilang, mereka duduk di sofa saling berhadapan. Terasa sangat canggung karena memang mereka tidak pernah mengobrol sebelumnya.
"Saya turut berduka" ucap Dony singkat.
Gilang tak menjawab, ia masih menatap Dony datar.
__ADS_1
"Saya tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bicara. Tapi memang saya harus bicara secepatnya sebelum terlambat"
Gilang mengerutkan alis, ia bertanya dalam hati. Apa yang akan di bicarakan manusia es ini sekarang.
"Mengenai perceraian itu, saya harap kau tidak bersungguh-sungguh"
Gilang sedikit kaget, bagaimana Dony tahu mengenai itu.
"Apa maksudmu, dari mana kau tahu?" jawab Gilang.
"Kimy sudah menandatangani, tolong jangan di proses surat it--"
"Tanda tangan apa?" sela Gilang.
Sekarang giliran Dony yang mengernyit. Sepertinya Gilang tidak tahu tentang surat itu, pikir Dony.
"Seorang pengacara datang menemui Kimy dan menyerahkan surat permohonan cerai, di situ tertulis kau yang menggugatnya" Dony menjelaskan.
"Brengs*k!!!" umpat Gilang.
Gilang berdiri, ia berdecak pinggang dan satu tangannya memijat pelipisnya.
Dony yang melihat itu sedikit heran.
"Kau tidak tahu surat itu?" Tanya Dony namun Gilang tak menjawabnya.
"Bukan kau yang mengirim?" Dony pun mengubah pertanyaanya.
Gilang menatap Dony sejenak lalu ia kembali duduk.
"Bukan aku, papa yang menginginkan perceraian ini. Tapi aku tidak akan pernah menceraikan Kimy sampai kapanpun"
Dony sedikit lega mendengar ucapan Gilang itu. Nyatanya kali ini Dony yang akan mendukung pernikahan mereka, karena hanya Gilang lah yang bisa membantu Kimy melewati segala hal yang di alaminya.
Dony tahu kalau Gilang mempunyai cinta yang besar dan tulus tanpa pamrih pada Kimy. Saat ini Kimy butuh sosok lelaki seperti itu dan Gilang lah orangnya.
"Baguslah, aku sudah menduga kalau kau tidak mungkin melakukan itu" Kata Dony dengan raut muka yang terlihat senang.
Sedangkan Gilang malah heran dengan sikap Dony itu, sejak kapan laki-laki dingin itu mendukung pernikahannya.
"Apa maksudmu kau tidak ingin aku bercerai dari Kimy?" Tanya Gilang sedikit heran.
Dony mengangguk pelan sambil menatap Gilang heran, nyatanya lelaki di depannya ini masih tidak percaya padanya.
"Apanya yang kenapa?" jawab Dony.
Gilang tak menjawab, ia hanya menatap Dony dengan pandangan penuh selidik. Jangan-jangan laki-laki dingin ini punya maksud tertentu, pikirnya.
"Kau kira siapa yang menyuruh Kimy menikah denganmu, bukankah aku sudah pernah bilang"
Gilang masih tak menjawab, ia ingin tahu apa yang selanjutkan Dony katakan.
"Aku rasa kau cemburu padaku karena Kimy dekat denganku. Haha.." Dony sedikit tertawa.
Namun tawa itu tidak berlangsung lama, mengingat Gilang menatapnya dengan tajam.
"Kau salah bung kalau cemburu padaku. Ada disini untuk membantu Kimy, aku menjaganya seperti aku melayani Tristan dulu. Tidak ada yang salah dari hubungan kami, Kimy bahkan tidak melihatku sebagai lelaki" Kata Dony yang tumben panjang banget.
Pandangan Gilang seperti melunak.
"Aku hanya ingin memastikan Kimy baik-baik saja, tidak ada serangan publik atau semacamnya. Aku akan membentuk karakter Kimy menjadi wanita yang tangguh, kuat di dunia bisnis yang baru di gelutinya ini" lanjut Dony.
"Untuk itu aku sangat butuh bantuanmu"
Gilang mengangguk pelan, ia paham sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Gilang.
Dony menggeleng "Tidak ada, kau hanya cukup berada di samping Kimy, jangan pernah tinggalkan dia apapun yang terjadi" jawab Dony memastikan.
Melihat Gilang sudah paham maksud kedatangannya, Dony pun beranjak. "Baiklah, aku pergi. Terima kasih sudah menyambutku"
"Tunggu--" Gilang pun ikut beranjak.
"Ada apa?" tanya Dony.
"Karena kau sudah berbaik hati memberi tahu tentang surat itu padaku. Aku juga akan memberi tahu sebuah rahasia untukmu"
Dony mengernyit heran, rahasia apa yang ia tidak ketahui, pikirnya.
**
Dony berlari kecil menuju apartemen Nadine. Wanita itu harus mendapatkan hukuman karena sudah menyembunyikan hal besar itu padanya.
__ADS_1
"Nadine si*lan berani sekali kamu" Kata Dony pelan sambil terus menuju kamar Nadine.
Sampai di depan apartemen Nadine, Dony berhenti sejenak. Ia mengatur nafasnya yang sedikit tersengal karena berlari ke situ.
Lelaki itu menatap tombol pin di pintu itu. Apa masih sama, pikirnya.
Dony memencet beberapa angka yang masih sangat ia ingat dan terbuka lah pintu itu.
"S*al dia tidak mengganti pin nya" katanya pelan sambil berjalan masuk.
Dony mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Terlihat tv menyala, menandakan di empunya sedang berada di tempat. Tapi di mana?
Ceklek
Tiba-tiba Nadine keluar dari kamar mandi dengan menggunakan gaun malam yang lumayan transparan.
Nadine yang keluar itu langsung melihat Dony mematung di tempatnya.
"Dony!!" teriak Nadine sangat terkejut.
"Kamu ngapain di sini, keluar" teriaknya lagi.
Dony sedikit panik melihat Nadine berteriak seperti itu, namun dia segera ingat tujuannya kemari. Dengan langkah lebar Dony pun menghampiri Nadine.
"Hey.. Ngapain kamu, keluar" teriak Nadine karena Dony malah mendekat padanya.
Dengan satu tarikan tangan, pinggang Nadine sudah menempel sempurna pada tubuh Dony.
"Don kamu gila, pergi ngg--"
"Nggak" jawab Dony.
Nadine panik, karena wajah Dony sudah begitu dekat denganya. Bahkan nafas lelaki itu terasa menyapu wajahnya.
"Mau apa kamu?" Tanya Nadine menatap manik Dony.
Dony mendorong tubuh Nadine hingga ke tembok belakangnya. Lalu mengunci tubuh wanita itu.
"Denger, mulai sekarang kita tinggal bersama"
Nadine melotot kan matanya karena terkejut bukan main.
"Kamu gila!!" teriaknya, berusaha mendorong tubuh Dony tapi tubuh itu tak tergerak sedikitpun.
"Ya aku gila, itu karena kamu"
Nadine tak menjawab, ia masih bingung dengan yang terjadi itu.
"Maksud kamu apa sih aku nggak ngerti?"
Tangan kanan Dony mengelus wajah Nadine dengan pelan. Kemudian ia juga menyapu bibir Nadine dengan ibu jarinya. Perlakukan Dony itu membuat Nadine menahan nafas, ia menelan salivanya. Sungguh itu menyiksanya.
Tidak berhenti di situ, tangan itu turun ke bawah menjelajahi leher jenjang Nadine, kebawah dan kebawah lagi. Nadine bener-bener tersiksa hingga dia menggigit bibir bawahnya.
Melihat wajah Nadine yang mupeng itu, bibir Dony tersenyum puas.
Tangan besar Dony berhenti di depan perut Nadine. Ia melihat manik dalam wanita itu.
Nadine tersentak, ia terkejut karena menyadari kalau Dony sudah tahu kehamilannya. Wanita itu salah tingkah, dia bingung harus bagaimana.
"Berani kamu menyembunyikanya dariku?" Kata Dony pelan.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mata Nadine. Perlahan air mata itu turun membasahi pipinya. Akhirnya Dony tahu kehamilannya.
Nadine menunduk karena bingung harus merespon apa.
"Lihat aku" Dony menarik dagu Nadine supaya menatapnya.
Dengan ragu Nadine pun menatap manik mata lelaki itu.
"Kamu tidak percaya padaku Nad? Kenapa kau sembuyikan dariku, dia anakku. Kau terlalu percaya diri bisa melewati semua itu sendirian"
Nadine kicep, dia tak menjawab apapun.
"Mulai sekarang, kau tanggung jawabku. Kita akan tinggal bersama" Kata Dony lalu ******* bibir merah Nadine yang sedari tadi menjadi perhatianya.
Nadine terkejut dengan serangan Dony yang tiba-tiba, namun ia tak kuasa menolak. Nadine pun memejamkan mata ikut menikmati ciuman itu
***
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
Selamat membaca
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️