
Gilang berlari keluar dari gedung pencakar langit menuju mobilnya yang terparkir asal di depan loby. Saat ini lelaki itu tengah berada di kantor Kimy, namun seorang resepsionis memberi tahunya kalau Kimy sudah keluar kantor dari siang hari. Gilang segera menghubungi no ponsel sopir Kimy, namun sopir itu ternyata sudah di suruh Kimy untuk kembali ke rumah.
Tadinya Gilang berniat mencari Dony, siapa tahu lelaki itu tahu Kimy pergi kemana. Tapi resepsionis bilang Dony juga meninggalkan kantor tidak lama setelah kepergian Kimy.
Beberapa kali Gilang menelpon nomor ponsel Kimy namun tidak aktif. Gilang juga sudah menelpon bi Ana katanya Kimy belum pulang ke rumah. Kemana istrinya pergi.
Gilang mengemudi sambil menelpon orang-orang yang Kimy kenal termasuk lexa namun hasilnya nihil, Kimy tidak bersama mereka.
Tibalah saat Gilang menelpon ke rumah Daniel dan bi Asih yang menerima. Bi Asih bilang kalau Kimy saat ini tidak berada di sana, namun ia mengatakan kalau Kimy tadi siang sempat datang untuk menemui maminya Sarah.
Setelah menutup telepon, Gilang langsung menghubungi nomor ponsel Sarah, mertuanya.
"Mi.. Tadi siang Kimy menemui mami?" Tanya Gilang to the point setelah Sarah mengangkat ponselnya.
"---------"
"Mami tahu sekarang Kimy dimana?"
"----------"
"Nggak mi, ini aku jemput Kimy ke kantor tapi katanya sudah pulang dari siang tapi di rumah belum ada"
"-----------"
"Mami kenapa.. Iya ini aku lagi cari Kimy mi"
"-----------"
"Iya mami nggak usah khawatir. Nanti Gilang kabari kalau Kimy sudah ketemu, ya udah Gilang tutup ya mi"
Gilang menutup ponselnya, lalu ia pun menghentikan mobilnya di pinggir jalanan yang sepi.
**
"Kamu gila Nad, kenapa kamu memberitahu Kimy?" Dony saat iki sedang berada di gallery Nadine.
Nadine yang sedari tadi cemas itu pun berdiri menghampiri Dony yang datang dan marah-marah.
"Kimy, Kimy, Kimy terus. Kenapa enggak ada yang peduli sama aku" hardik Nadine dengan menatap tajam Dony.
Dony tak pernah melihat Nadine Semarah ini sebelumnya. Kenapa dengan wanita itu. Niat Dony datang ke situ adalah karena dia khawatir Nadine menelponya sambil menangis. Tapi entah, setelah melihat Nadine yang terpikirkan di otak Dony adalah Kimy yang sudah mengetahui segalanya. Dony cukup pusing menghadapi permasalahan yang tiada henti itu, akhirnya malah meluapkan kemarahanya pada Nadine.
"Kamu kenapa?" Tanya Dony hati-hati karena melihat kondisi Nadine yang bad mood.
__ADS_1
"Kamu bertengkar sama Kimy?" Tanya Dony lagi.
Nadine menggeleng.
"Bukan itu, aku takut Don" suara Nadine tiba-tiba melemah. Sorot matanya terlihat cemas akan sesuatu.
Dony mendekat dan memegang kedua pundak Nadine "Katakan ada apa?"
Nadine menatap Dony, air matanya tiba-tiba saja keluar. Entah kenapa sekarang ini Nadine begitu sensitif. Apalagi melihat Dony di hadapanya. Sisi manjanya seakan muncul secara tiba-tiba.
"Om T--Teddy tadi ke--kesini" jawab Nadine dengan terbata.
"Om Teddy.. Ada apa?" Tanya Dony dengan raut muka yang ikut menegang.
"Dia ngancem aku Don, aku takut" suara Nadine bergetar bercampur air mata.
"Ngancem apa, bicara yang jelas Nad" gertak Dony tak sabaran.
"Dia mengira aku ada hubunganya dengan kecelakaan Tristan. Dia tahu nomor ponsel itu. Om Teddy bertanya padaku, aku takut. Aku harus gimana?" Kata perkata itu keluar dari mulut Nadine dengan cepat tanpa jeda. Terlihat sekali wanita itu sedang panik saat ini.
Dony seperti sedang menyadari sesuatu, sesaat dia diam. Lalu akhirnya ia pun membawa Nadine ke dalam pelukannya.
"Aku takut"
Nadine mengangguk mendengar perkataan Dony itu.
Jadi om Teddy sudah tahu, apa dia tahu kalau istrinya terlibat.
**
Senja pun berganti malam, namun Kimy belum juga kembali ke rumah. Gilang yang dari tadi seperti orang gila kesana kemari pun sudah pasrah, lelaki itu sekarang sudah sampai di rumah. Ia memarkir mobilnya di halaman rumah, namun ia masih diam mematung di dalam mobil. Jiwanya kembali kosong lagi. Kemana istrinya pergi, bukankah tadi pagi masih baik-baik saja. Apakah Kimy melarikan diri darinya? Ataukah dia membuat kesalahan. Segala pertanyaan bersarang di otak Gilang saat ini. Hingga saat Gilang mendengar pagar rumahnya terbuka, ia pun menoleh dan ternyata mendapati Kimy membuka pagar itu. Wanita yang seharian ini membuatnya gila kembali muncul dengan muka datar tak berekspresi.
Gilang tersenyum mendapati istrinya di sana, dengan cepat ia pun keluar dari mobil menghampiri Kimy yang berjalan tanpa menatapnya. Sepertinya Kimy juga tak menyadari keberadaan Gilang saat ini.
"Kimy" panggil Gilang.
Kimy berhenti, ia menoleh ke sumber suara. Ia mendapati Gilang suaminya di sana. Tatapan mata Kimy nanar tanpa ekspresi. Gilang menyadari itu, ada sesuatu yang terjadi dengan istrinya.
"Kamu dari mana, aku mencarimu kemana-mana?" Tanya Gilang lagi setelah ia berdiri tepat di depan istrinya.
Kimy terseyum tipis, saking tipisnya bahkan Gilang pun tak menyadarinya.
Kimy berjalan lagi, berlalu melewati Gilang, mengabaikan lelaki itu.
__ADS_1
"Kim--"
Kimy tak memperdulikan panggilan Gilang itu. Ia terus saja berjalan seakan tak ada siapapun di sana.
Gilang cengo di tempatnya sambil matanya terus mengikuti pergerakan istrinya.
Sesampainya di kamar, Kimy pun merebahkan tubuhnya di kasur. Lelah jiwa dan raga tentu saja yang ia rasakan saat ini. Wanita itu menatap langit-langit kamarnya, ia bingung apa yang harus di lakukan setelah ini.
Gilang, satu nama itu terlintas tiba-tiba di otak Kimy. Bagaimana ia mengahadapi lelaki itu. Haruskah ia pura-pura baik-baik saja. Tidak, ia Tidak bisa lagi untuk berpura-pura tidak terjadi sesuatu. Gilang harus tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kimy bertekad besok akan memberi tahu Gilang segalanya dan ia akan meminta cerai dari lelaki itu.
Tok tok
"Kimy.. Kamu tidur?"
Suara Gilang di balik pintu membuyarkan lamunan Kimy. Ia menoleh sekilas, lalu kembali menatap langit-langit kamarnya dan menutup matanya. Membiarkan suaminya itu terus memanggil namanya di sana.
Sedangkan Gilang, ia masih berdiri di depan pintu kamar Kimy, berharap istrinya mau keluar dan menjelaskan apa yang terjadi.
Setelah menunggu sekitar lima belas menit di sana, Gilang pun akhirnya menyerah. Ia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Satu persatu kancing kemejanya ia lepas dan ia lempar ke rak baju kotor. Tubuh bagian atasnya kini tak di lapisi apapun.
Gilang menekan perutnya dengan jari telunjuk dan sedikit terasa nyeri.
"Ah ini tidak sakit" bohongnya.
Lalu ia pun meraba jantungnya.
"lebih sakit ini"
Gilang lalu mengetatkan rahangnya. Memang sangat sakit, di abaikan dan tak di anggap oleh orang yang kita cintai. Sakitnya melebihi apapun juga.
Gilang membuang nafasnya kasar.
"Sabar Lang.. Kasih Kimy waktu" ucapnya pada diri sendiri.
Setelahnya, ia pun masuk ke kamar mandi. Ia mengguyur seluruh tubuhnya dengan air dingin untuk meredam segala emosi yang di rasakanya. Ia memang harus sabar menghadapi istrinya itu. Tidak mudah memang, tapi Gilang sudah betekad apapun yang terjadi ia tidak akan menyerah.
***
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
Selamat membaca
❤️❤️❤️❤️
__ADS_1