BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Tanda tangan


__ADS_3

"Gilang enggak sarapan bi, tolong panggilkan ya" perintah Kimy pada bi Ana.


"Maaf bu, pak Gilang sudah berangkat pagi-pagi tadi. Beliau juga tidak sarapan" jawab bi Ana.


"Sudah berangkat?"


"Iya bu"


Kimy mengernyit heran, dari semalam tingkah Gilang sangat aneh.


Ting tong


Ting tong


Bel rumah itu berbunyi. Bi Ana lari ke luar untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi begitu.


Setelah beberapa saat bi Ana masuk lagi menemui Kimy "Bu ada tamu"


"Buat aku bi?"


"Nyari bapak dan bu Kimy"


Kimy beranjak meninggalkan sarapanya, pagi-pagi begitu tidak biasanya ada tamu yang berkunjung. Pikirnya.


"Siapa ya?" Tanya Kimy ketika sudah berada di ruang tamu.


"Oh.. maaf mengganggu nona Kimy pagi-pagi, saya pengacara pak Teddy. Saya mau mengantar ini"


Kimy mengambil sebuah amplop yang di berikan oleh pengacara itu dan membuka saat itu juga.


Surat permohonan cerai


Jadi karena ini Gilang bersikap aneh, dia mau menceraikan ku.


Kimy tak terkejut, dia bersikap biasa saja.


"Baik pak, saya terima" Kata Kimy memasukan kembali kertas itu dalam amplop.


"Baik nona, saya permisi kalau begitu" Kata pengacara itu.


"Em.. Pak" sela Kimy.


"Iya"


"Gilang yang mengajukan gugatan ini?" Pertanyaan bodoh macam apa ini. Sudah jelas di situ tertulis kalau yang menggugat adalah Gilang. Tapi Kimy hanya ingin memastikan, apa benar Gilang mau menceraikannya. Padahal kemarin Gilang berjanji di depan pusara mama Tristan kalau tidak akan meninggalkannya.


"Benar bu" jawab pengacara itu.


Kimy lalu mengangguk mengerti.


Setelah itu pengacara pun meninggalkan rumah itu. Setelah kepergian pengacara itu, Kimy masih diam membeku di meja makan. Dia berfikir sejenak, bukankah ini yang dia mau. Kenapa hatinya rasanya aneh sekali. Ia pun membuang kasar nafasnya dan segara beranjak untuk pergi ke kantor.


Sebelum benar-benar pergi, Kimy membaca ulang lagi kertas itu, dia memejamkan mata sejenak dan segera mengambil pena di dalam tasnya. Tanpa berfikir dua kali, Kimy pun menandatangani surat cerai itu


Mungkin ini yang terbaik


**


"Apa! kalian baru menikah belum genap tiga bulan. Masa mau cerai" Septian meninggikan suaranya mendengar curhatan dari Gilang.


"Itu kan permintaan papa, aku juga nggak akan pernah menceraikan Kimy" jawab Gilang dengan suara lesu.


Gilang sudah menceritakan semuanya pada Septian. Memang Septian adalah orang kepercayaan Gilang. Septian selalu tahu apapun yang terjadi pada dirinya.


"Lalu apa yang akan kau lakukan, kalau papamu tetap ingin kalian cerai gimana? "


"Papa nggak berhak ikut campur urusan rumah Tangga ku"


Septian mengangguk paham.


"Lalu apa yang akan terjadi dengan tante Sinta Lang, apa kau bawa saja dia kerumahmu? setidaknya di sana tante aman"


"Aman kau bilang. Aku bahkan tidak percaya dengan mama ku sendiri. Dia bisa berbuat begitu pada Tristan, artinya mama bisa juga menyakiti Kimy"

__ADS_1


"Bener juga sih Lang, terus bagaimana?"


"Biarin mama bertanggung jawab atas kesalahan yang ia buat" Kata Gilang


"Aku cuma bingung menghadapi Kimy, aku merasa bersalah Padanya. Aku malu atas kesalahan mama yan" lanjut Gilang.


"Tapi kau nggak bisa bersikap begitu Lang. Kimy lagi hamil, dia butuh perhatianmu"


"Aku tahu" jawab Gilang dengan menunjukan wajah murungnya.


"Aku hanya butuh waktu sendiri dulu" lanjutnya Gilang lagi.


**


"Aku nggak akan pernah mau menandatangi surat itu pa" tangis Sinta di ruang kerja Teddy.


"Sampai mati aku akan tetap menjadi istrimu, istri Teddy" Sinta mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa papa tega melakukan ini sama mama, apa sedikit saja rasa cinta papa sudah nggak ada buat mama pa" Sinta bersimpuh di lantai. Sementara di kursi kebesaranya, Teddy duduk dengan santai, di sebelahnya ada Hendra yang setia menemani Teddy.


"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kau sia-sia kan kesempatan itu. Tidak ada lagi yang perlu di pertahankan, aku sudah menalakmu. Sekarang tanda tangani saja dan semua urusan selesai. Aku tidak akan membawamu ke penjara"


Sinta menggeleng.


"Nggak mau pa, mama nggak mau bercerai"


"Baiklah karena kamu tidak mau mengikuti perintahku. Terpaksa aku akan tetap mengurungmu" Kata Teddy dengan tenang.


Sinta menggeleng lagi. Sudah tiga hari ini Sinta di kurung oleh Teddy, mau sampai kapan Teddy melakukan itu padanya.


"Nggak pa"


Sinta berdiri, dia mendekat ke meja Teddy "Tolong pa, aku berjanji akan berubah. Aku sudah tidak punya siapa-siapa"


"Kalau kau tanda tangani surat itu, Kau bebas Sinta. Kau akan mendapat sedikit kompensasi dariku untuk melanjutkan kehidupanmu"


"Mama tetep nggak mau. Mama tidak butuh uang papa, mama mencintai papa"


Teddy tersenyum sinis, bisa-bisanya wanita itu masih membual. Pikirnya.


"Baik"


"Pa nggak!! mama nggak mau" Sinta panik melihat Hendra berjalan ke arahnya. Sinta segera berbalik dan berlari keluar ruangan. Hendra yang melihat Sinta berlari, melirik ke arah Teddy. Sedangkan Teddy seperti memberi kode pada asistennya itu dengan anggukan.


Sinta keluar ruangan kerja Teddy dengan buru-buru, ia berlari tanpa lagi menoleh ke belakang. Niatnya kali ini hanya satu, wanita itu ingin melarikan dari kurungan Teddy.


Dengan langkah seribu Sinta menuruni anak tangga, nafasnya naik turun mengikuti gerakan kaki, sedangkan keringat sudah membanjiri tubuhnya.


Setelah berlari, akhirnya Sinta berhasil keluar dari rumah besar itu. Tapi perjuangannya belum berakhir, di halaman rumahnya sudah ada beberapa anak buah Teddy yang sudah berdiri menghampirinya.


"Jangan mendekat" seru Sinta sambil melihat kanan kiri berusaha mencari sesuatu untuk melindungi diri, namun tak menemukan apa-apa.


"Nyonya" teriak Hendra di belakangnya.


Sinta semakin panik, dia berlari lagi. Tapi anehnya beberapa anak buah Teddy di depannya itu justru memberi jalan untuknya. Mereka tidak lagi menghalangi Sinta.


Sebenarnya Sinta merasa aneh, tapi karena niatnya sudah bulat untuk melarikan diri dari situ dan akan pergi ke rumah Gilang, dia pun semakin cepat melangkahkan kakinya.


Sampai di depan gerbang rumahnya Sinta berhenti, ia menoleh ke belakang. Terlihat Teddy berjalan menghampirinya, Sinta pun segera membuka gerbang itu. Sinta semakin mengernyit heran, saat gerbang besi yang menjulang tinggi itu dengan mudah terbuka. Gerbang itu tidak di kunci.


Terserahlah, yang penting dia bisa kabur dari situ, pikir Sinta.


Setelah dia berhasil keluar, Sinta pun berlari lagi dengan kencang. Dia tidak peduli dengan Hendra yang masih mengejarnya.


Dia berlari dan berlari hingga..


Braaaakkkk


Tubuh Sinta terpental sejauh 7 meter ke depan. Wanita itu terlihat kejang-kejang dengan mata menatap ke atas. Darah segar mengalir di sekitar kepalanya.


"Ted-Teddy.. K-kau t-tega" kemudian mata Sinta tertutup.


Setelahnya, mobil jeep berwarna hitam yang sempat berhenti itu melanjukan lagi mobilnya.

__ADS_1


Di tempat lain..


Prang


Gilang menjatuhkan Gelas yang ada di sisi meja kerjanya. Tanpa sengaja lengannya menyenggol Gelas itu.


**


"Gilang minta cerai?" Tanya Dony terkejut.


Kimy mengangguk.


"Lalu kau setuju?" Tanya Dony tak percaya.


Kimy mengangguk lagi "Sudah aku tanda tangani surat cerainya"


Dony menganga mendengarnya..


"Kenapa kau mau?"


Kimy mengernyit, kemudian membuang nafasnya kasar "Kenapa aku harus menolak. Pernikahan ini memang tak seharusnya terjadi--"


"Kau lagi hamil" seru Dony.


Kimy mendengus kesal dengan lelaki itu "Aku tahu dan aku sadar. Memangnya kenapa kalau aku hamil? Ada atau tidak ada Gilang, anak ini akan tetap lahir sebagai anak Tristan"


Dony mengacak rambutnya, ia juga kesal dengan Kimy yang bertindak tanpa berfikir.


"Kau tahu, kalau publik tahu kau hamil dan bercerai dari Gilang, mereka akan menganggapmu apa?"


Kimy mengernyit mendengar itu.


"Memangnya apa yang akan terjadi?" tanyanya.


"Ini lebih buruk dari pada kau hamil di luar nikah dengan Tristan" jawab Dony frustasi sambil mengusap wajahnya.


"Apa?" Tanya Kimy lagi.


"Mereka menganggap kau mempermainkan kakak beradik ini. Pertama, kau menikah dengan Gilang setelah Tristan meninggal. Lalu publik tahu kau hamil dengan Gilang, kau malah menceraikan Gilang. Investor pasti akan mencap buruk reputasimu, mereka pasti akan menarik saham-sahamnya--"


Kimy sedikit terkejut mendengarnya.


" Tapi Gilang yang menggugat ku? " Kimy membela diri.


"Aku tidak percaya. Bukannya dia itu hampir gila karena kehilanganmu, mana mungkin dengan mudahnya dia menceraikanmu"


Mendengar itu, Kimy berfikir lagi. Benar juga apa yang di katakan Dony. Masa sih Gilang mau menceraikannya, bukankah selama ini dia selalu bilang tidak akan meninggalkanya.


Kimy hanya bisa membuang nafasnya kasar..


**


"Maaf, nyonya Sinta tidak bisa di selamatkan" ucap seorang dokter.


Gilang mematung mendengarnya.


Sedangkan Teddy dan Hendra yang juga berada di situ, mereka juga hanya diam tanpa menjawab apapun.


"Ma--" lirih Gilang.


Gilang tidak menyangka pertemuanya kapan hari adalah pertemuan terakhir dengan mamanya.


Hari ini Gilang di telpon oleh Hendra, di kabari kalau Sinta kecelakaan dan masuk rumah sakit. Setelah mendengar itu, Gilang pun bergegas pergi kerumah sakit, namun dia tidak menyangka kalau mamanya akan pergi secepat ini..


Air mata Gilang tiba-tiba saja menetes melewati pipi. Bukan ini yang ia harapkan dari Sinta. Walaupun ia marah dan benci dengan Sinta, tapi Gilang tidak pernah mengharapkan kematian mamanya sendiri.


Hendra mengusap lengan Gilang, membuat Gilang sadar kalau ini bukan mimpi..


*


Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.


Selamat membaca

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2