BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Selamat datang dirumah


__ADS_3

Setelah kurang lebih 20 jam perjalanan, Kimy dan Tristan mendarat juga di Indonesia, sedangkan Dony masih di New York karena ada beberapa urusan di kantor cabang New York yang harus dikerjakan.


Tristan memeluk pinggang Kimy dengan posesif keluar bandara. Keduanya menutupi mata mereka dengan kacamata hitam. Beberapa media mengejar keduanya untuk di wawancara, namun Tristan dan Kimy memilih diam. Mereka terus berjalan menuju mobil mewah yang sudah menunggunya. Seorang sopir membukakan pintu mobil dan keduanya pun masuk. Mobil itupun berlalu meninggalkan tempat itu.


"Selamat datang di rumah sayang.." bisik Tristan dengan sebuah kecupan di pipi Kimy. Kimy tak menjawab, dia hanya tersenyum penuh cinta memandang lelaki yang terus menempel padanya itu.


"Apa papi, mami tahu aku pulang?.."


"Iya mereka tahu, mereka menyambutmu sayang.." Tristan mencium lagi pucuk kepala Kimy.


"Aku kangen mereka Tristan.."


"Kalian akan segera berkumpul lagi.." Kimy mengangguk senang.


Mobil itu memasuki rumah mewah Daniel. Ada beberapa body guard berdiri di sana. "Sejak kapan papi memakai bodyguard.." Kimy bicara sendiri namun Tristan hanya tersenyum mendengarnya.


Keduanya keluar dari mobil di sambut anggukan oleh para bodyguard itu. Pintu rumahpun terbuka "Selamat datang non Kimy.." sambut ni asih dengan ceria.


"Bi asih.. Terima kasih. Papi mami mana?.."


"Papi di sini sayang.." terlihat Daniel dan sarah berjalan ke arahnya.


"Papi.." Kimy berlari memeluk Daniel.


"Anakku yang cantik, papi merindukanmu sayang.." Daniel memeluk tubuh Kimy dengan erat.


"Ehem.. Kamu tidak lupa kalau masih mempunyai seorang mami kan sayang.." suara sarah membuat Kimy meneteskan air mata. Dengan segera Kimy berpindah ke pelukan sarah. Mereka berpelukan sangat erat.


"Kimy senang mami baik-baik saja.." air mata Kimy tumpah saat itu juga.


"Jangan menangis, mami baik-baik saja baby.." sarah melihat wajah Kimy yang sudah penuh air mata "Lihat kamu jelek kalau lagi nangis. Sudah diam.." sarah mencoel hidung Kimy.


"Tristan.." Daniel juga memeluk lelaki itu. Menepuk beberapa kali punggung tegap Tristan. "Om senang kamu berhasil membujuknya pulang.." katanya lirih yang hanya di dengar mereka berdua. Tristan hanya mengangguk mendengarnya.


"Sayang kamu mau istirahat atau makan dulu.." Tanya sarah.


"Kimy sudah makan di pesawat mi, Kimy capek.."


"Ya sudah, kamu istirahat. Tristan bawa Kimy istirahat.."


"Jangan lupa, malam nanti kita akan makan malam di luar menyambut kepulanganganmu sayang.." sahut Daniel.


Tristan dan Kimy hanya mengangguk, Tristan lalu menggandeng tangan Kimy ke lantai dua. Tristan membuka kamar Kimy dengan kunci yang di bawanya. "Kamu mengunci kamarku?.."


"Iya.."


"Kenapa? Aku tidak pernah menguncinya selama ini.."


Ceklek


"Ayo masuk sayang.." Tristan menarik pinggang Kimy, membawanya masuk kekamarnya.


"What??.." Kimy kaget melihat fotonya bersama Tristan terpampang nyata di atas tempat tidurnya. "Kamu beneran gila ya, kita belum menikah kenapa ada foto sebesar ini di sini Tristan.."


"Nanti kalau sudah menikah di ganti dengan foto pernikahan sayang. Ini masih foto pertunangan kita kan.."


"ihhh norak tahu, kenapa kamu selalu percaya diri sekali memanjang foto selebar itu. Bukankah di rumahmu dan dikantormu juga ada foto besarmu.."


"Iya aku suka sekali melihat wajahku sendiri yang tampan sayang.."

__ADS_1


"iiihhhhh.." Kimy menampilkan tampang jijiknya. Tristan hanya tertawa menanggapi expresi jijik Kimy.


"Jadi kamu sering tidur di kamarku?.."


"Bukan hanya tidur aku tinggal di sini baby.."


"Apa? Ngapain kamu tinggal di sini tris. Kita belum menikah.."


"Sebentar lagi. Setelah ini kita akan mempersiapkan pernikahan kita.."


"Ehh kamu gila, aku baru pulang, aku butuh bernafas. Aku belum siap menikah sekarang.."


Tristan menarik pinggang Kimy hingga menempel sempurna ditubuhnya "Tidak ada alasan. Tidak ada karir di sini.."


"Tristan kamu melarangku jadi model lagi? Aku akan hidup seperti apa nanti. Aku tidak punya teman lagi di sini. Satu-satunya temanku kak lexa sudah menghianati ku.."


"Dia tidak menghianati mu sayang, maafkan dia.."


"Tidak.."


" Baiklah terserah kamu. Yang terpenting di sini kamu tidak aku izinkan berfoto memamerkan tubuhmu lagi. Tugasmu hanya berada di sisiku, menemani aku.."


"Kamu egois Tristan.." jawab Kimy lemas.


"Dimana cincinmu?.." Tanya Tristan lirih sangat lirih. Mengabaikan perkataan Kimy sebelumnya.


"Aku bu.."


Cup


Satu ciuman mendarat di bibir Kimy.


" Tristan.."


" sudah ku bilang aku memb.."


Cup


Ciuman kedua mendarat lagi.


" Tristan kenapa sih.."


" katakan atau aku tidak akan melepaskan bibirmu hari ini.." Tristan semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Kimy. Kimy semakin terdesak karena badannya sudah menempel sempurna pada tristan.


" Satu.."


"Dua.."


"Ti.."


"Oke fine. Aku menyimpannya.." jawab Kimy cepat. Tristan tersenyum penuh kemenangan. Namun bukan Tristan namanya kalau dia mundur. Tristan tetap mencium bibir Kimy. Dengan lembut dan hati-hati dia mencium bibir Kimy. Begitu pun Kimy, dia menerimanya dengan senang hati.


**


Malam ini keluarga Daniel mengadakan makan malam di sebuah restoran mewah dengan ruangan VIP. Di sana sudah tertata dengan indah meja makan dengan berbagai bunga dan hidangan lezat. Terlihat sarah dan Daniel sudah di sana sedang bercengkerama sambil menunggu beberapa orang yang diundang.


"Kamu yakin menjadikan dia sebagai menantumu sayang?.."


Dahi Daniel berkerut mendengar pertanyaan sarah. Kenapa dengan istrinya itu. Bukankah sebelumnya mereka sudah sepakat. "Kamu ragu pada Tristan sarah?.."

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Firasat ku mengatakan kalau ini tidak akan baik-baik saja. Aku masih ragu apa Kimy benar-benar jatuh cinta pada Tristan.."


"Kamu tidak melihat mata putrimu sayang. Dia jatuh cinta pada Tristan. Mereka saling mencintai.."


"Kamu tidak mengerti Daniel, ada banyak misteri yang tidak kamu tahu. Bahkan kita tidak tahu sejak kapan Kimy mengenal Tristan bahkan jatuh cinta padanya.."


"Maksud kamu apa. Apa kamu menyembunyikan sesuatu?.."


"Aku tidak menyembunyikan apapun.."


"Kalau tidak cukuplah diam sayang. Biarkan Kimy berbahagia.." sarah tidak menjawab. Dia hanya menghela nafasnya kasar.


Beberapa saat kemudian Teddy dan Sinta datang. Terlihat Sinta mendorong kursi roda Teddy. "Kenapa masih sepi, mana anak-anak.." Tanya Sinta pada Sarah.


"Mereka segera datang, ayo duduk sini.." Sarah dan Daniel menyambut kedatangan calon besanya itu.


Saat ini Sinta duduk bersebelahan dengan sarah. "Apa dia akan datang?.." bisik sarah pada sinta.


"Kita lihat saja apa anak itu punya nyali datang.." jawab Sinta. Keduanya tersenyum penuh arti, seperti punya maksud tersendiri.


"Tantee.." Panggil Nadine pada Sinta dan Sarah. Terlihat Nadine datang tanpa di temani sang kekasih yang saat ini masih berada di New York.


"Oh hay Nad.. Sini.." jawab Sarah mempersilahkan Nadine datang.


"Aku tidak percaya tante mengundangku di saat Dony tidak di sini. Aku tidak tahu bagaimana reaksi Kimy nanti melihatku Tan.."


Sarah dan Sinta tersenyum "Kita akan lihat sebentar lagi sayang, mungkin Kimy sudah tak membencimu. Kalian akan menjadi teman mulai saat ini.." sarah mengedipkan salah satu matanya dan sedikit melirik Sinta yang tersenyum simpul. Entahlah kedua wanita paruh baya itu sepertinya merencanakan sesuatu.


" Mana Tristan dan Kimy kenapa belum datang?.." Daniel memerhatikan pintu ruangan vip tersebut menunggu kedua anak yang di sayanginya.


"Sebentar lagi sayang sabar aja, mereka sudah lama tidak bertemu. Kamu seperti nggak pernah muda saja Daniel.." seru sarah menggoda suaminya.


Ceklek


Pintu terbuka dan yang datang justru Mario. Dengan santai dan senyum khasnya Mario berjalan santai menghampiri orang-orang itu. " Apa aku sepenting ini, kalian semua menatapku tak berkedip. Kalian menungguku.." Mario berkata seperti biasa dengan percaya diri. Semua orang berdecak malas mendengar perkataannya. "Lalu apa ini?.."


"Diamlah kita sedang menunggu Tristan dan Kimy.." jawab Sarah begitu malas menanggapi ocehan Mario.


"Oowhhh.. Ternyata aku mendahului mereka, tidak keren sama sekali aku harus ikut menunggui mereka.." Mario menarik kursi duduk berhadapan dengan Nadine yang menatapnya tajam. Mario begidik melihat tatapan wanita di depannya itu. Bisa-bisanya wanita itu menjadi kekasih sahabatnya. Mario hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Didalam mobil Tristan terus menggenggam tangan Kimy, tangan itu dibawa ke atas pahanya sedangkan tangan yg lain sibuk dengan kemudinya. Kimy memandangi tangannya yang di genggam Tristan dan juga wajah tampan kekasihnya itu bergantian. Kimy hanya tersenyum mendapat perlakuan manis itu "Fokuskan pandanganmu ke depan sayang.." suara berat Tristan membuatnya tersadar.


Kimy sedikit salah tingkah.


"ehem, kenapa makan malamnya harus di luar rumah sih. Dirumah juga bisa kan.." Kimy mencoba mengalihkan pembicaraan. Tristan merasa gemas dengan tingkah Kimy yang bersemu. Rasanya dia ingin sekali menghentikan mobilnya kalau tidak di buru waktu. Mereka telat malam ini karena ketiduran setelah pergulatan panjang mereka yang tiada henti. Entahlah Kimy sudah menjadi candu bagi Tristan. Dia benar-benar tak melewatkan Kimy barang sedetikpun.


" Mungkin orang tuamu ingin yang spesial sayang.."


" Ya sudah cepat kita sudah telat, aku yakin mami sudah ngomel-ngomel di sana.." Kimy membayangkan maminya yang suka ngomel pada Daniel kalau telat.


Beberapa saat mereka berdua telah sampai di restoran mewah itu. Tristan langsung saja menggandeng Kimy menuju ruang vip yang telah Daniel pesan.


" Maaf kami telat.." seru Tristan setelah pelayan membukakan pintu.


"Ya tuhan kemana saja kalian, kita sudah jamuran menunggu kalian.." gerutu sarah.


"Sayang.." Daniel mengingatkan sarah.


"Maaf mi.." Kimy melihat sarah dengan tampang sedih yang di buat-buat sambil tersenyum menggoda. Sarah hanya menghela nafas panjang melihat tingkat putrinya itu. Kimy melihat sekeliling dan tidak menyangka kalau makan malam itu didatangi oleh orang tua Gilang dan juga Nadine.

__ADS_1


"Mama Sinta.." Kimy menghampiri Sinta dan memeluk wanita itu.


"Kimy, mama kangen sekali. Sudah lama sekali kita tidak bertemu sayang.." Sinta membelai punggung terbuka Kimy dengan lembut. Semua orang di sana tersenyum bahagia melihat keakraban keduanya kecuali Tristan. Tristan mengetatkan rahangnya melihat Kimy memeluk wanita itu. Ada hati yang bergejolak, namun dia berusaha demi Kimy. Sikap Tristan itu tidak lepas dari pantauan Teddy dan Mario. Keduanya melihat Tristan dengan pikiran masing-masing.


__ADS_2