
"Bagaimana?" Teddy bertanya pada Hendra asistennya, yang berdiri di hadapanya.
"Masih dalam pantauan tuan, mereka masih menyisir seluruh rumah sakit terdekat dari lokasi"
"Pastikan Sinta dan anaknya tidak mendengar ini"
"Baik"
"Kau sudah tahu nomor ponsel siapa itu?"
"Sebentar lagi tuan, itu nomor ponsel luar negeri, agak sedikit rumit melacaknya"
Teddy mengangguk.
"Kau awasi Kimy terus, jangan sampai dia ceroboh dalam mengurus perusahan itu"
"Baik"
Hendra menyerahkan sebuah map, lalu undur diri dari ruangan kerja Teddy itu. Sejak sembuh dari kecelakaan, Teddy menghabiskan waktunya di tempat itu. Ia bekerja dari rumah. Hanya sesekali keluar kalau anda undangan makan malam dan sebagainya.
Teddy tahu putranya tidak mungkin mati semudah itu. Tristan bukan lelaki biasa, putranya itu mempunyai musuh di mana-mana. Tentu saja ia mencurigai kalau kecelakaan itu di rencanakan oleh seseorang.
Diam-diam Teddy menyelidiki kecelakaan itu. Hingga ia menemukan sebuah bukti, kalau pesawat pribadi Tristan telah di retas sistemnya hingga mengalami kerusakan. Teddy belum bisa menemukan siapa orangnya. Tentu saja bukan orang sembarangan, mengingat ia mampu membobol keamanan berlapis itu.
Teddy bukan lelaki paruh baya biasa. Ia mampu melakukan apa saja, walaupun tubuhnya berada di atas kursi roda. Lelaki itu pantas saja menurunkan jiwa psikopatnya pada putranya Tristan. Ia tidak menyerah sampai di situ, ia mengerahkan seluruh anak buah bayangannya mencari keberadaan Tristan. Karena Teddy yakin Tristan masih hidup.
Hingga sebuah fakta mengejutkan ia dapat. Istrinya Sinta, yang ia kira sudah berubah ternyata ikut terlibat dalam peristiwa itu. Kenapa Teddy bisa tahu, karena sejak ia sadar dan bisa memaafkan Sinta, Teddy menyadap ponsel istrinya itu. Sesuatu yang mencurigakan ia dapat, ketika wanita itu selalu menelpon nomor yang sama dan selalu membicarakan tentang kecelakaan itu.
Ceklek
"Papa mau makan sekarang?" Sinta datang ke ruangan kerja Teddy. Wanita ular itu seperti biasa menampilkan wajahnya yang lembut seperti tidak punya dosa.
Teddy melirik Sinta sinis, ingin sekali ia memaki istrinya itu. Namun lelaki itu tahu, ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Tubuhnya lemah saat ini, bisa saja sewaktu-waktu Sinta mendorongnya dari tangga dan mengarang cerita kalau ia mati terjatuh, bisa saja kan. Mengingat wanita ular itu bisa melakukan apapun.
"Nanti saja, aku masih sibuk" jawab Teddy tanpa melihat ke arah Sinta.
"Papa harus jaga kesehatan, makan tempat waktu. Inget kata dokter pa" Sinta berjalan mendekati Teddy, ia berdiri dibelakang kursi suaminya itu dan mengalungkan tangannya ke leher Teddy. Sinta mencium pipi Teddy lembut.
Teddy yang merasa kesal dan risih hanya menutup matanya dan mengeraskan rahangnya, untuk memendam emosinya saat ini.
"Aku sibuk, keluar lah"
"Baiklah, nanti panggil mama kalau sudah selesai" Sinta mengecup sekali lagi pipi Teddy.
Sinta berjalan meninggalkan Teddy, namun belum sampai ke pintu wanita itu berbalik.
"Oh ya pa, papa sudah menghubungi pengacara papa?"
Teddy menatap mata Sinta dengan tatapan bertanya. Dan Sinta paham itu.
"Untuk mengurus wasiat papa"
Teddy mencengkeram tanganya kuat. Berani sekali wanita ular itu bicara tentang wasiat saat ini. Apa wanita itu kira dengan berita kematian Tristan yang tak jelas bisa merubah isi wasiatnya begitu saja. Oh tidak, Teddy tidak sebodoh itu.
"Belum, sekarang belum saatnya" jawab Teddy dengan tenang.
__ADS_1
"Apa yang papa tunggu, sekarang hanya Gilang satu-satunya pewaris papa. Walaupun Gilang tidak menginginkannya, tapi siapa lagi yang akan menggantikan papa"
"Aku belum mati, kau lupa itu"
"Aku tahu pa, mama hanya memastikan kok" jawab Sinta dengan muka kecewanya.
"Pergilah!!"
Sinta kemudian berlalu begitu saja, meninggalkan ruangan itu.
Teddy dengan cepat mengambil ponselnya untuk menghubungi pengacaranya.
"Rubah wasiatku, jangan ada nama Sinta dan Gilang. Hapus nama mereka berdua dari daftar ahli warisku" perintah Teddy mutlak tak terbantahkan. Kemudian ia melempar lagi ponselnya ke meja.
"Kau belum mengenalku Sinta" kata Teddy dengan raut wajah menyeramkan.
**
"Menurutmu pesawat Tristan itu murni kecelakaan atau ada yang sengaja melakukanya?" Tanya Nadine dengan wajah sok polos pada Gilang. Saat ini Nadine sedang berada di kantor Gilang.
Gilang menghentikan pergerakanya, ia melempar pulpen yang sedari tadi menemaninya kerja begitu saja.
"Maksudmu apa?" Tanya Gilang heran dengan wanita yang sedari tadi mengganggunya itu.
"Aku enggak ada maksud apa-apa, aku cuma nanya"
"Kenapa kau pikir kalau kecelakaan itu ada yang sengaja melakukanya?" Tanya Gilang penuh selidik.
"Lang kau tahu kan si Tristan itu, dia itu banyak sekali musuhnya"
"Sayangnya aku enggak punya masalah, hidupku damai dan tenang" jawab Nadine dengan menegakkan badannya bangga.
"Urusi kekasihmu itu, dia banyak waktu sekali datang ke rumahku" jawab Gilang malas.
"Siapa?"
"Kau lupa kekasihmu siapa?" Tanya Gilang heran.
"Ee.. Maksudmu Dony?"
"Ck, siapa lagi"
"Aku sudah putus darinya, jadi jangan sangkut pautkan lagi dia denganku."
"Apa.. kau putus dari lelaki itu!!" Gilang sedikit terkejut. Pantas saja Nadine beberapa hari terakhir ini selalu menempel padanya, ternyata ia putus dari Dony.
"Hem.. Udahlah aku males bahas dia. Lang.. Aku boleh main ya kerumahmu?"
Gilang langsung melotot menatap Nadine.
"Kenapa?" Tanya Nadine heran, karena tatapan horor dari lelaki itu.
"Jangan nyari masalah, kau tahu Kimy benci banget denganmu"
"Apaan sih Lang, kau saja yang enggak tahu kalau hubunganku sama Kimy sudah membaik. Aku sering bertemu denganya saat itu, saat Tristan masih hidup"
__ADS_1
"Tetap saja, jangan berani-beraninya datang kerumahku" ancam Gilang.
Ceklek
"Hey kalian nggak makan siang, sudah waktunya makan siang ini" Tanya Septian pada kedua temanya itu.
"Kau saja duluan, aku makan siang bareng Gilang" jawab Nadine ketus seperti biasanya kalau sama Septian itu.
Septian mencibir Nadine.
"Lagian ngapain sih Nad, tumben-tumbenan kau datang kesini. Bukankah biasanya kau sibuk sama kekasihmu itu"
"Diam kau, banyak omong" ketus Nadine.
Septian menatap curiga Nadine, ia sedikit menyipitkan matanya.
"Jangan bilang kau---" Septian menatap tajam Nadine.
"Nad.. Inget, Gilang sudah menikah. Jangan ada pikiran macam-macam, awas kau ya" ancam Septian.
"Pikiran macam-macam apa, dasar gila!! Lang.. Lihat itu Tian" Nadine berpindah tempat duduk di dekat Gilang, seakan mengadu pada lelaki itu.
"Sudahlah, kalian selalu saja bertengkar" Gilang beranjak meninggalkan kedua sahabatnya itu. Begitu juga Tian, ia segera mengekori Gilang dan di susul juga oleh Nadine dengan tetap menggerutu.
**
"Don, gimana kalau kak Lexa aja yang jadi sekertarisku" Tanya Kimy sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.
"Wanita itu tahu apa?" jawab Dony santai tanpa menatap Kimy. Keduanya sekarang sedang makan siang di sebuah restoran setelah bertemu klien.
"Kak lexa itu pintar dan cekatan. Dia semua yang mengurusi job-jobku dulu"
"Cekatan.. Kau kira tugas sekretaris sama dengan asisten artis"
Kimy berpikir sejenak, benar juga. Apa lexa kuat seharian duduk dengan komputer di depannya begitu.
"Jangan pikirkan masalah sekretaris, aku yang akan mengurusnya. Yang pasti dia harus wanita"
Kimy mengangguk setuju dengan ucapan Dony itu.
Sedangkan di pintu masuk restoran, ketiga orang itu masuk dengan celingukan mencari tempat duduk yang kosong.
Netra Dony tidak sengaja bertemu dengan Nadine yang berdiri disana.
"Sial*n dia di sini" Kata Nadine pelan namun bisa di dengar oleh Septian.
"Siapa?" Tanya Tian dengan mengikuti arah pandang Nadine.
"Kekasihmu dan---" Tian menajamkan pandangannya "Kimy.."
Gilang menoleh mengikuti pandangan Tian dan benar saja, di sana istrinya dan Dony terlihat sedang makan siang. Dony menatapnya, namun Kimy tidak tahu keberadaanya karena posisinya yang membelakanginya saat ini.
Tangan Gilang menggenggam erat membentuk sebuah bogeman dan dia berjalan dengan cepat ke arah kedua orang itu.
"Lang.. Lang.. Jangan mencari masalah di sini Lang.." Kata Septian mengikuti Gilang dengan langkah lebarnya. Nadine berdecak malas, harus bertemu lelaki yang statusnya saat ini mantan kekasihnya bersama Kimy, wanita yang ia benci.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=