
Ronald
Kata itu terus terngiang ditelinga Kimy. Tidak terlintas di benak Kimy kalau kakak sepupunya itu yang melakukan. Bahkan Kimy masih berpikir positif, kecelakaan itu memang murni kecelakaan tidak ada campur tangan manusia.
Kenapa kak, kenapa?
Kimy tak bisa berkata apa-apa, otaknya pun terasa berhenti untuk berfikir. Ia terus mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi.
Kimy segera turun dari mobil yang mengantarkannya ke rumah mewah orang tuanya.
"Non Kimy" sapa bi Asih melihat kedatangan nonanya.
"Mami mana bi?" Tanya Kimy dengan langkah tergesa melihat sekeliling mencari sosok Sarah.
"Nyonya ada di belakang non"
Tanpa menjawab Kimy pun langsung melangkahkan kakinya menuju di mana tempat Sarah berada.
"Sayang.. Kamu kesini nggak telpon mami dulu" Kata Sarah setelah anaknya itu berdiri di depannya.
"Kimy--" Sarah meneliti wajah anaknya yang ternyata terlihat sembab khas orang habis menangis.
"Kamu kenapa?" Sarah berdiri mendekati Kimy, ia meraba pipi Kimy dengan kasih sayang.
Kimy diam tak menjawab dan itu justru menambah kekhawatiran seorang Sarah.
"Gilang menyakitimu?" Tanya Sarah lagi.
"Mami tahu semua ini kan?" Tanya Kimy lirih.
Sarah yang masih bingung dengan maksud putrinya itu hanya diam menunggu Kimy melanjutkan bicaranya.
"Mami tahu Kak Ronald dan mama Sinta yang merencanakan kecelakaan itu"
Seketika sarah memundurkan tubuhnya selangkah. Ia sangat terkejut dengan pertanyaan itu. Dari mana Kimy tahu?
Wajah Sarah terlihat sangat shock dan Kimy menyadari itu.
"Dari reaksi mami, sudah jelas kalau mami Tahu" Kata Kimy lagi dengan wajah kecewanya, air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi. Sedangkan Sarah, ia terlihat bingung harus menjawab apa.
"Kanapa mi? Kenapa mami tega sama aku. Aku hamil anak Tristan mi, kenapa mami tega memisahkan anak ini dari ayahnya"
"Kimy.. bukan begitu nak, mami tidak ikut terlibat. Mami nggak tahu apa-apa nak" bantah Sarah.
Sarah mencoba menenangkan putrinya dengan merengkuh tubuh Kimy namun Kimy menghempaskan tangan Sarah dengan kasar.
__ADS_1
"Aku bukan anak mami, aku benci sama mami" ucap Kimy lirih namun seperti sebuah pisau yang menusuk hati Sarah.
"Sayang, maafkan mami. Mami beneran nggak tahu apa-apa Kimy" Sarah pun ikut menangis mendengar kebencian putrinya itu.
"Lalu apa yang mami tahu, hm.. Katakan sejujurnya mi? Kenapa kalian semua begitu tega"
Kimy menangis hingga tubuhnya terasa lemas, kakinya bergetar serasa tak kuat menopang begitu berat masalah yang ia hadapi ini. Tubuh Kimy limbung, ia pun bersimpuh di lantai sambil meremas dadanya. Sakit.. Sakit sekali rasanya, keluarga yang seharusnya menjaga tapi justru merekalah yang merenggut segala kebahagiaanya.
"Sayang.." Sarah ikut bersimpuh di depan Kimy. Ia ingin sekali memeluk putrinya tapi tak ada keberanian dalam diri wanita itu. Ia hanya menangis pasrah melihat kata demi kata yang Kimy lontarkan kepadanya.
"Mami tahu apa yang Tristan alami selama ini? Dia kehilangan mamanya dari kecil mi, dia harus berjuang sendirian. Dia berusaha menutup matanya pada kejahatan kalian di masa lalu. Tapi kenapa.. Kenapa kalian masih begitu keji padanya. Tidakkah kalian punya hati nurani? "
Sarah semakin menangis tersedu mendengar kata perkara yang Kimy ucapkan.
"Apa perlu aku katakan apa yang mami perbuat pada mamamya Tristan?"
Sarah menggeleng dengan cepat. Ia tidak mau kalau Kimy tahu apa yang ia lakukan di masa lalu. Ia tidak mau Kimy dan Daniel membencinya.
"Mami menn-curi matta mamanya Tristan" Kata Kimy kata perkata penuh penekanan.
Duar
Bagaikan di sambar petir, akhirnya kata itu terucap dari bibir putrinya sendiri. Sarah menangis sekencangnya dan mencoba merengkuh tubuh Kimy, namun Kimy menolak.
"Jangan sentuh aku mi, aku muak. Aku benci sama mami yang munafik" Kimy beranjak, ia pun berdiri dan menatap tajam Sarah. Sorot matanya penuh dengan kebencian pada wanita itu. Hati Sarah hancur, lebih baik ia mati dulu itu, daripada ia kembali tapi harus begini.
"Bukan padaku, harusnya mami ucapkan itu pada mamanya Tristan. Dan juga pada Tristan. Tapi apa.. Mami malah membunuhnya" teriaknya.
"Mami tidak membunuhnya nak, mami tidak ikut andil dalam rencana itu"
"Tapi mami tahu kan?"
Sarah tidak menjawab, tapi air mata yang semakin keluar sudah menjadi jawaban untuk kimy.
Kimy tersenyum kecewa melihat itu, lalu air matanya pun keluar lagi.
"Aku kira kalian semua sudah berubah. Kalau tahu seperti ini, aku tidak akan melarang Tristan membalas dendamnya pada kalian"
Kimy menangis lagi, kali iki dia sangat menyesal dan merasa berdosa pada kekasihnya yang telah pergi. Tristan begitu mencintainya, demi dia, Tristan sampai melupakan kebencian yang selama ini tertanam di hatinya. Tapi apa balasan orang-orang ini.
"Ronald dan Sinta yang merencanakan bukan mami. Mami nggak tahu apa-apa. Setelah mami tahu kamu hamil, mami sudah nggak mau lagi ikut dalam rencana mereka" Kata Sinta sambil menangis, ia berharap dengan penjelasannya ini Kimy tidak marah lagi padanya.
"Haha.." Kimy tertawa, kecewa dan terkejut menjadi satu atas pengakuan Sarah itu. Kini ia tahu, tidak ada yang benar-benar tulus padanya. Semuanya palsu.. Perlahan kakinya mundur selangkah, air mata masih mengenang di matanya. Kali ini ia tidak mau kalah lagi, ia tidak mau diam lagi. Semuanya harus tuntas, mereka semua harus menerima akibatnya. Tangan Kimy mengepal kuat, ia pun berbalik dan berjalan meninggalkan sarah yang masih meraung menangis di tempatnya sambil terus memanggil namanya.
**
__ADS_1
Di tempat lain, Gilang masih tergugu di tempatnya. Ia baru saja keluar dari ruangan seorang dokter. Karena sakit pada perutnya tak kunjung mereda, ia pun memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dulu sebelum menjemput Kimy.
Kangker hati stadium empat.
Gilang masih tidak percaya dengan apa yang dokter katakan tadi. Bagaimana bisa ia mempunyai penyakit itu, bukankah ia hanya kecapekan saja. Beberapa kali ia membuang nafasnya kasar.
Gilang masih duduk di depan ruangan dokter. Ia tidak tahu harus bagaimana. Haruslah ia bersedih?
Konsumsi alkohol berlebih atau ada faktor turunan.
Kata dokter itu adalah penyebab terjadinya penyakit yang ia alami saat ini. Gilang baru menyadari, selama perpisahanya dengan Kimy, Ia banyak sekali menegak minuman beralkohol. Bahkan setiap hari. Tidak ada hari-harinya tanpa mabuk.
Gilang mengusap kasar wajahnya. Ia tidak peduli dengan penyakit s*alan yang menggerogoti tubuhnya. Yang terpenting saat ini, ia bisa bersama dengan Kimy dan hubunganya semakin dekat dengan istrinya.
Gilang terseyum ketika mengingat Kimy, ia baru ingat akan menjemput Kimy setelah ini. Dengan menghembuskan nafasnya Gilang meremas amplop coklat berisi hasil pemeriksaan dokter dan ia pun memasukan amplop itu ke dalam tong Sampah yang berada di sebelah kursi yang ia duduki.
**
Saat ini Kimy berada di kawasan wisata ancol. Ia sengaja memilih tempat itu untuk melihat laut. Tempat favoritnya dan juga tempat di mana katanya Tristan telah pergi dari dunia ini. Ia hanya meyakini, kalau laut yang ia pandangi saat ini akan terhubung di laut itu, laut yang membuat tubuh kekasihnya kedinginan saat itu.
Air mata terus saja membanjiri pipi Kimy saat ini. Pandangannya tidak bisa berkedip sedetikpun. Ia menatap laut lepas itu, seakan di sana ada sosok Tristan yang juga menatapnya.
"Aku enggak kuat sayang" Kata Kimy lirih dengan menutup kedua matanya. Bersamaan dengan itu, air matanya juga semakin deras membanjiri wajahnya.
Hatinya begitu sesak, ia tidak tahu harus bagaimana. Orang-orang yang di anggap keluarga dan bisa di percaya ternyata membohonginya.
"Aku harus bagaimana Tristan, bolehkah aku menyusulmu" katanya lagi dengan membuka mata.
"Enggak adil kamu ninggalin aku sendirian, harusnya kamu bawa aku ke tempat mu. Aku enggak sanggup lagi" katanya dengan nada suara yang bergetar karena bercampur dengan air mata.
Kimy menutup matanya lagi, ia diam sejenak, seakan mengingat kenangan bersama kekasihnya dulu.
Hanya kematian yang memisahkan kita
Tidak. Aku tidak mau berpisah walau salah satu dari kita mati. Kalau kamu mati, aku pasti akan ikut bersamamu.
Kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi. Kamu akan tetap bersinar sperti bulan dimalam hari dan seperti matahari di siang hari. Kamu harus berjanji padaku, Kimy tidak boleh menyerah pada kehidupan. Ada ataupun tidak ada aku di dunia ini.
Kimy tersentak kemudian. Ia menangis dengan kencang, tubuhnya bergetar, Kimy pun bersimpuh dengan deraian air mata. Kata-kata itu muncul begitu saja di ingatanya. Tristan ada disini, dia masih menjaganya, dia ingin Kimy tetap hidup bahagia. Kimy memukul-mukul dadanya, sesak, sakit. Rasanya lebih sakit ini dari pada di siksa dulu. Ia seperti tak sanggup lagi menjalani kehidupan ini.
**
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
Selamat membaca
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️