BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Malam Panas 2 (21+)


__ADS_3

Tristan mendongakkan kepalanya sejenak menatap Kimy yang mendesah. Hatinya bersorak menang, dia membuat gadis pembangkang itu tunduk pada akhirnya.


Tristan terus melanjutkan aktivitasnya, dia mencium, menjilat dan menggigit bukit kembar itu dengan kasar bergantian kanan kiri. Kimy sendiri sudah sangat kacau, desahannya sudah menggema ke seluruh ruangan.


Tristan memberi jarak tubuhnya dengan Kimy, lelaki itu sejenak duduk bersimpuh melepaskan kemeja hitam yang masih menempel di tubuhnya. Dengan gerakan cepat kancing kemeja itu satu persatu terlepas, menampilkan dada bidang seorang Tristan. Perut sixpack menggambarkan laki-laki itu gemar berolah raga. Kimy membuang muka melihat pemandangan mempesona itu. Dia tak kaget melihat perut sixpack laki-laki karena pacarnya sendiri mempunyai tubuh tak kalah bagus dari laki-laki gila itu. Tristan kembali menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Kimy. Dia bergerak mengangkat tubuh Kimy, untuk melepaskan kaos yang masih bertengger di leher gadis itu. Namun Kimy justru menamparnya, dan berteriak memanggil kekasihnya "Gilaaaaang Tolooong.." Membuat Tristan makin marah, terlihat rahangnya makin mengeras.


Tristan membanting tubuh Kimy ke ranjang dengan keras " Awwhh sakit Tristan.." dan menamparnya "PLAAAKKK.." Tubuh Kimy terhuyung lemah mendapat tamparan keras dari tangan berorot pria itu. Suara Kimy kembali terisak. Dengan gerakan cepat Tristan melepas celana jeans Kimy seperti orang kesetanan. " Tristan, aku mohon jangan lakuin ini.." Kimy terduduk dengan tangan memohon. Penampilannnya sangat kacau, rambutnya acak-acakan, ujung bibirnya sedikit berdarah akibat tamparan laki-laki gila itu.


" Kau mencintainya?.." Tristan bertanya sangat lirih, sambil menghentikan aktivitasnya.


Kimy hanya diam menatap Tristan, dia takut pada laki-laki gila itu. Kimy tidak menyangka laki-laki gila itu akan bertindak sejauh itu.


" JAWAB AKU JALANG!!!..." Bentaknya. Deg, kata itu lagi. Air mata Kimy semakin deras mengaliri pipi mulusnya. Kimy tak mampu berkata-kata, dia hanya menganggukan kepalanya pelan, sangat pelan.


"Bagus, bukankah kalian saling mencintai. Akan lebih mudah bagiku menghancurkan kalian.." Jawab Tristan sambil melanjutkan aktivitas melepas celana Kimy.


"Jangan, aku mohon!.." Kata itu terus terulang keluar dari mulut Kimy. Sampai akhirnya tubuh Kimy benar-benar terexpose sempurna, tanpa sehelai benangpun, karena ****** ******** pun sudah di lepas oleh laki-laki gila itu.


Tristan beringsut berdiri melepas celana panjangnya itu, kesempatan itu Kimy gunakan untuk mencoba bangkit dan berlari. Namun lagi-lagi lelaki gila itu memegang satu kaki Kimy dengan tangan Kirinya, sedangkan tangan kanannya masih sibuk melepas celananya.


Keduanya sudah benar-benar tanpa pakaian yang melekat ditubuh mereka. Dengan cepat Tristan menarik kedua kaki Kimy, hingga tubuhnya mencapai ujung ranjang. Dengan cepat dia menarik kaki kimy, menyampirkanya di bahunya dan "BLESS.." Senjata Tristan masuk dengan sempurna kelubang surgawi Kimy.


" Tidaaakkk!!!!! Gilaaang!!!.."


Teriakan itu yang muncul di bibir mungil Kimy, dia telah hancur, harga dirinya sudah hancur, yang ada di otaknya cuma Gilang dan hanya Gilang.


Sedangkan bagi Tristan, teriakan Kimy merupakan kemenangan. Gilang, nama itu terus yang di ucapkan Kimy membuat Tristan muak, semakin ingin mengoyak lubang surgawi itu dengan kasar.


" Awwh sakiiit..." Tristan menghujaninya dengan gerakan-gerakan kasar. Air mata Kimy semakin tumpah.


" Mendesahlah baby.." Rancau Tristan sambil terus memainkan inti Kimy.


" Kau membuatku frustasi baby, kau membuatku memperkosamu..." lanjutnya. Ini adalah pengalaman Tristan pertama bermain dengan wanita yang menolaknya. Selama ini wanita-wanita itu selalu merayunya, memberikan tubuhnya dengan ikhlas hati padanya. Dan penolakan yang di lakukan Kimy, cukup menggores harga diri seorang Tristan. Penolakan Kimy membuatnya frustasi, membuatnya terobsesi pada gadis itu untuk memilikinya. Apalagi mendengar gadis itu menyebut nama laki-laki lain saat di gagahinya, sungguh itu benar-benar membuat darahnya mendidih. Dia bertekad akan membuat wanita itu mendesah dan menyebut namanya berkali-kali.


Dua puluh menit, keduanya tumbang setelah lenguhan panjang keluar dari bibir Tristan. Keadaan Kimy sendiri dia sudah benar-benar tak berdaya, dia lemas, bahkan hampir mati. Tristan benar-benar menghajarnya dengan berbagai macam gaya. Sedangkan dia sendiri hanya menangis dan mengatakan " Maafkan aku Gilang.." berkali-kali dengan suara lirih.


***


Di tempat lain, Gilang merasa perasaannya kacau, sejak tadi dia membuang nafas kasar seakan frustasi. Perasaanya tidak enak, di apartemenya foto berduanya dengan Kimy tiba-tiba tersenggol lengannya dan jatuh. Dia sama sekali tak bisa memejamkan mata sebentarpun.


Tristan Mondar-mandir, dia berusaha menghubungi nomor ponsel Kimy yang jelas-jelas dari kemarin-kemarin tak aktif itu.


" Kamu di mana sayang?.." Katanya sambil merebahkan badannya di sofa ruang tamu apartemenya.


***

__ADS_1


" Kimy!!.." Daniel berteriak di tengah tidurnya.


Sarah yang tidur di sebelahnya akhirnya bangun mendengar teriakan suaminya.


" Sayang, kenapa?.." Melihat Daniel duduk sambil memegangi kepalanya.


Sarah memberi gelas berisi air minum pada suaminya agar suaminya itu tenang.


" Papi mimpi Kimy berteriak kenceng sambil nangis mi, dia ada di tengah lautan sendirian. Papi khawatir mi, tidak pernah papi mimpi seperti ini.." Kata daniel terlihat khawatir.


Sarah mengelus punggung suaminya lembut " Papi kita berdoa ya, Kimy baik-baik aja, bukankah dia yang bilang kita gak boleh khawatir.." Jawab sarah memberi kekuatan pada suaminya.


" Tapi Kimy belum kabari kita lagi mi, sudah tiga hari sejak dia menghilang. Apa kita lapor polisi aja.." Katanya Daniel lagi. Daniel memang sangat dekat dengan putrinya itu melebihi kedekatannya sarah dengan Kimy.


" Kemarin juga Gilang bilang belom ada info, siapa teman Kimy yang di luar kota. Karena Gilang tahu semua temen-temen Kimy.." Kata Daniel lagi gugup.


" Papi tenang pi, berfikir jernih dulu. Jangan asal bertindak. Publik sedang menyorot keluarga kita. Hmmm... sabar dulu oke.." Lanjut sarah menenangkan Daniel.


***


Kimy membuka matanya ketika dia merasakan nyeri disekujur tubuhnya. Kondisi yang sangat mengenaskan. Dia tengkurap di bawah selimut tanpa sehelai benangpun menempel di tubuhnya. Matanya sembab akibat menangis semalaman lalu tertidur. Di rahang membengkak dengan tanda kabiruan. Bibirnya juga bengkak dan di sudutnya ada sedikit luka bekas pukulan laki-laki gila itu. Untuk leher dan tubuh jangan di tanya lagi, seakan tubuhnya berubah warna menjadi merah keunguan penuh tanda kissmark.


Kimy berusaha untuk bangun, namun di daerah intinya terasa sangat nyeri. Dia membuka mata sepenuhnya, kosong tidak ada siapa-siapa di sisinya. Dia mengingat bagimana bajingan itu memperkosanya secara brutal, menyakitinya, menamparnya dan setelah puas laki-laki gila itu dengan tak berdosanya meninggalkan kamar itu. Kimy sudah seperti pelacur yang di buang tuannya. Air mata kembali membanjiri pipinya.


Kimy menyingkap selimut tebal yang menyelimuti tubuhnya, sangat menjijikan melihat tubuh polosnya sendiri. Sekuat tenaga ia berdiri, dan berjalan dengan gontai ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.


Are you okay?


Tanyanya dalam hati, dengan deraian air mata.


Jalang.


Dia berfikir cocok sekali kata itu untuknya saat ini. Dia tersenyum getir, dan bertanya seberapa besar kesalahannya harus menanggung hal semenyakitkan ini?


Tanda di tubuhnya itu semakin membuatnya jijik dengan tubuhnya sendiri. Dia ingat Gilang selalu memberi tanda itu saat mereka bercinta, di bagian-bagian favoritnya.


Gilang.


Hatinya trenyuh, sakit seperti di tusuk ribuan jarum mengingat lelaki itu. Dia merasa saat ini sudah tak pantas untuk Gilang kekasihnya. Dia hina, dia kotor, Kimy menangis sejadi-jadinya mengingat Gilang lelaki yang di cintainya, dia merasa pasti akan kehilangan lelaki itu, jika tahu kondisinya saat ini.


Kimy terduduk di bawah pancuran air yang membasahi tubuhnya. Entah sudah berapa menit dia berada di situ dengan tatapan kosongnya. Air terus membasahi tubuhnya. Bibirnya kebiruan menahan dingin, badannya sedikit bergetar namun dia tetap berada di situ, dengan tatapan kosongnya.


Seorang pelayan wanita masuk ke kamar membawa nampan berisi makanan dan baju wanita. Wanita itu mengedarkan pandangan ke segala arah namun tidak mendapati Kimy. Dia meletakkan nampan itu di atas ranjang dan berjalan ke kamar mandi, dia mendengar gemericik air dan perempuan itu berbalik karena sudah memastikan kalau Kimy sedang ada di dalam.


Tristan muncul di balik pintu, membuat pelayan wanita itu membungkukkan badannya.

__ADS_1


" Sepertinya nona di dalam kamar mandi tuan.." Katanya pada Tristan.


" Hhhmm.." Jawab Tristan di sertai anggukan kecil. Wanita itu meninggalkan kamar itu.


Tristan melihat ranjang yang begitu berantakan akibat ulahnya semalam. Dia berjalan dan memungut baju serta celana Kimy yang berserakan di lantai.


Beberapa saat Tristan merasa aneh.


Apa wanita mandinya selama ini?


Dia berjalan ke kamar mandi mengetuk pintu itu, tidak ada sahutan dari dalam. Dia mengetuk lagi, tak ada sahutan lagi, tapi dia masih mendengar suara air gemericik dari dalam.


Apa yang terjadi?


Secepat kilat dia membuka kamar mandi yang tak terkunci itu. Dia mendapati tubuh Kimy terduduk di lantai dengan menekuk kedua kaki dan meletakkan kepalanya di atasnya, dengan air yang masih mengguyur tubuhnya.


Secepat kilat Tristan mematikan shower itu, ketika dia melihat Kimy menggigil kedinginan. Tristan duduk berjongkok di depan Kimy, memandang wanita yang sedang melihat lantai dengan tatapan kosong itu.


" Kau baik-baik aja?.." Tanyanya pada Kimy. Tanpa ada jawaban yang keluar dari mulut wanita itu.


" Hey!!.." Dia menarik kasar dagu Kimy agar melihat ke arahnya.


Pandangan mereka bertemu.


Tristan bisa melihat muka polos Kimy memar karena ulahnya.


" Apa yang kau lakukan? Kau mau mati?.." Tanyanya lagi dengan ketus.


" Maaf!.." Satu kata keluar dari mulut Kimy.


Untuk apa Kimy minta maaf, harusnya laki-laki bastrad itu yang bersujud di kakinya mohon ampun. Tapi tidak, gadis itu tidak meminta maaf untuk apa yang terjadi semalam. Gadis itu minta maaf karena mungkin dia lupa pernah melakukan kesalahan, sehingga membuatnya berada di tempat itu dan mengalami hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


" Maafkan aku, jika dulu pernah menyinggungmu.." Imbuhnya lagi.


" Apa maksudmu?.." Jawab Tristan.


" Lepaskan aku, aku janji akan menjauh dari kota ini dan tak akan menyinggungmu lagi.." Lanjutnya.


" Hah!!.." Tristan tertawa singkat.


" Kau kira karna itu aku membawamu kesini?.."


Bukan itu, lalu apa?


" Jangan berfikir macam-macam, jadilah gadis penurut. oke.." Kata Tristan lagi sambil menyambar tubuh Kimy, menggendongnya, dan membawanya ke luar dari situ.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2