
" Orang tuaku selalu mengajariku untuk menghargai orang lain, mereka selalu mengajariku untuk tidak menghina orang lain, mereka mengajariku untuk membela diri, jika ada orang yang sengaja menginjak harga diri kita. Nenek tahu, itulah yang mereka ajarkan padaku. Jangan pernah menghina orang tuaku, mereka tidak pernah salah mendidikku. Kalau aku berbuat kesalahan itu murni karena salahku sendiri.." Kimy berkata sambil berlinang air mata.
Nek Inah hanya diam di tempatnya mendengar perkataan gadis itu. Kimy berlari meninggalkan nek Inah, gadis berlari ke kamarnya.
Tristan terpaku mendengar apa yang di ucapkan Kimy. Laki-laki itu berdiri mematung di depan pintu. Setelah Dony dan Mario membuka pintu, tanpa sengaja mereka bertiga mendengar semuanya.
Tristan berjalan memasuki rumahnya. " Tak seharusnya nenek mengatakan itu.." Nek Inah terperanjat kaget mendengar suara Tristan. Dengan cepat wanita tua itu menolehkan wajahnya ke sumber suara.
" Kau sudah pulang?.."
Tristan menghentikan langkahnya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
" Aku dengar semuanya. Aku ingatkan nenek untuk tidak mengganggu gadis itu, dia tamuku di sini. Tidak ada yang boleh mengusiknya.."
" Dan satu lagi, tanpa izinku Laura di larang untuk datang ke rumah ini, apa lagi membuat kekacauan disini.." Kata Tristan lagi.
" Gadis itu yang menyerang Laura, kau tau?.." Jawab nek Inah.
" Dia tak mungkin melakukan itu tanpa sebab, jadi nenek tak usah membela Laura. Aku sudah tahu sifat Laura dan aku baru saja bertemu dengannya di luar.."
Nek Inah menganggukkan kepalanya, paham dengan apa yang di ucapkan Tristan.
**
" Benarkah? bagus, kau selidiki secara detail latar belakang wanita itu, kerjamu bagus. Aku tunggu kabar selanjutnya.." Sinta menutup panggilan itu. Wanita itu tersenyum puas dengan kerja anak buahnya.
Kau kira aku bodoh bocah! Seberapa hebatpun kau sekarang, kau hanyalah anak ingusan. Sampai kapan kau menutupi identitas palsumu itu. Kau kira mudah menghancurkanku, kau dan Teddy ternyata sama-sama bodoh. akan ku hancurkan kau seperti ibumu.
Sinta mengambil ponselnya lagi, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menghubungi anaknya. Sinta memang sibuk akhir-akhir ini, dia sibuk mengurusi kasus Gilang. Dia dan Septian yang mati-matian mengurusi kasus itu, mulai dari mencari pengacara, serta mencoba mencari bukti-bukti yang bisa meringankan Gilang. Sedangkan Gilang sendiri sudah tak peduli dengan kasusnya, dia masa bodoh dengan imagenya yang jelek.
tut..tuut..tut..
Beberapa panggilan Sinta tak di respon oleh Gilang.
Wanita itu rasanya semakin gila menghadapi anaknya.
" Gilang, Gilang, kenapa susah sekali kau untuk menuruti kata-kata mama.." Kata wanita itu pelan.
Di sisi lain, Gilang sedang berada di Apartemennya. Laki-laki tampan itu terlihat kacau. Dia juga sudah lupa mengurus dirinya sendiri.
" Lang, kau ingat wanita yang menyerangmu di club malam itu?.." Tanya Septian pada Gilang.
Gilang menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Dia tak tahu apa yang terjadi padanya malam itu, karena dia benar-benar mabuk saat itu.
" Aku akan cari wanita itu, sebelum lawanmu menemukannya. Karena wartawan tak tahu menahu kalau kau terluka malam itu, harusnya kita laporkan saja dia kepolisi, tapi aku pikir, kalau dia kita laporkan akan membahayakan posisimu juga.."
__ADS_1
" Terserahlah apa yang akan kau lakukan.." Jawab Gilang cuek.
" Lang, ayolah.. sampai kapan kau begini. Kau mengurung diri itu tak menyelesaikan masalah.."
" Lalu menurutmu aku harus bagaimana? aku sudah tak punya masa depan lagi. Dan kau, sebaiknya pergi saja, percuma aku bukan lagi artis yang menguntungkan lagi.."
" Hah!!!.." Septian mendesah sambil menggelengkan
kepalanya.
" Aku tak percaya kau jadi begini Lang, lihatlah di kantormu. Disana banyak orang yang bergantung hidup padamu, kau lupa sudah membangun kantor itu dengan keringatmu sendiri, tanpa campur tangan orang tuamu dan sekarang kau mau menghancurkannya begitu saja?.."
Gilang diam tak menjawab perkataan Septian, lelaki itu sedikit berfikir tentang hidupnya.
" Dulu sebelum kau mengenal Kimy, kau begitu semangat membangun bisnismu, aku sebagai temanmu sangat bangga padamu. Kau bahkan tak melirik satupun wanita-wanita yang mengejarmu.." Septian membayangkan masa lalu mereka.
" Kau mencintainya kan?.." Septian melihat expresi wajah Gilang, namun Gilang hanya diam menatap nanar tv di depannya.
" Kalau kau mencintainya, harusnya kau mencarinya Lang. Sekarang aku tanya, apa Kimy juga mencintaimu?.." Gilang menoleh pada Septian, dia mengerutkan keningnya tak mengerti.
" Setahuku, Kimy sangat mencintaimu. Gadis itu bisa gila kalau ada wanita lain mendekatimu, kau ingat kan, berapa banyak wanita yang di labrak Kimy karena mereka mencoba menggodamu. Apa menurutmu dia rela melepasmu begitu saja.." Perkataan Septian mulai Gilang mengerti, laki-laki itu mulai antusias dengan omongan Tian.
" Lalu dia terpaksa meninggalkanku??.." Jawab Gilang.
Gilang beranjak dari duduknya, laki-laki itu mondar-mandir sambil berfikir.
Kenapa aku bodoh sekali sayang, harusnya aku percaya padamu. Tidak mungkin kau meninggalkanku, setidaknya aku harus bertemu dulu denganmu, Kimy.
Laki-laki tampan itu, menyambar kunci mobil di depan rak tv. Dia bergegas meninggalkan Apartemennya.
" Kau mau kemana?.." Tanya Tian santai tanpa merubah posisi duduknya.
" Aku harus menemui seseorang.." Jawab Gilang sambil berlalu meninggalkan Septian. Tian tersenyum melihat Gilang bertingkah begitu.
Ini baru Gilang yang aku kenal.
Gilang menghentikan mobil sportnya di sebuah gedung pencakar langit. Laki-laki tampan itu keluar dari mobilnya memaki kacamata hitam dan masker. Laki-laki itu berjalan melewati penjaga yang sudah pasti tak mengenalnya karena penutup muka yang dia kenakan. Kalau sampai dia tak memakai penutup muka, udah di usir dia dari gedung itu. Karena para penjaga di situ sudah mengenalnya saat dulu dia mendatangi Tristan dan memukul pengusaha kaya itu.
" Permisi.." Gilang berhenti di resepsionis. Satu wanita muda dengan baju ketat berdiri menjawab sapaan Gilang.
" Selamat siang bapak, ada yang bisa saya bantu?.." Jawaban resepsionis.
" Saya mau bertemu dengan pimpinan perusahaan ini.."
" Maaf dengan siapa dan keperluannya?.." Jawab wanita itu lagi.
__ADS_1
" Bisa di buka sebentar maskernya bapak?.."
Gilang memutar otak sejenak. " Saya buka ini, tapi tolong jangan berteriak ya, karena saya tidak mau ada orang mengenali saya.." Wanita muda itu hanya mengernyit bingung, tak mengerti apa maksud laki-laki di depannya ini. Kenapa dia harus berteriak.
Gilang membuka penutup mukanya sekilas, lalu dengan cepat dia menutup lagi masker itu.
Oh my god Gilang artis ganteng itu!!!!
Wanita muda itu tampak begitu senang karena bisa melihat artis yang dia kagumi secara langsung.
" Bagaimana, bisa saya bertemu dengan bos anda?.."
" Iya-iya bisa.." Jawab wanita itu dengan gugup.
Wanita itu meraih gagang telepon untuk memberi tahu sekertaris bosnya, Angela. Namun dia berhenti sejenak untuk berfikir.
" Maaf, saya benar-benar minta maaf. Pak Tristan tidak ada di tempat, beliau keluar kantor sekitar satu jam yang lalu. Maaf saya kelupaan.." Kata wanita itu.
Gilang mendesah pelan " Baiklah terima kasih.." Jawabnya.
Gilang keluar dari gedung itu, dia berjalan ke mobilnya. Namun hal tak terduga terjadi, dia melihat asisten papanya masuk ke dalam gedung itu.
Om Hendra, mau apa dia datang ke sini?
Perlu di ketahui, Hendra adalah pria berumur 50 tahun, seumuran dengan Teddy. Pria itu adalah tangan kanan Teddy papanya Gilang. Seingat Gilang sejak dia masih kecil, Hendra sudah bekerja pada papanya.
Tanpa banyak berfikir Gilang memutar badannya, dia memalingkan muka agar Hendra tak mengetahui keberadaannya. Setelah di rasa cukup aman, Gilang kembali melihat kondisi sekitar. Hendra sudah tidak ada, dia sudah masuk ke dalam gedung.
Gilang berfikir sejenak sebelum masuk ke mobilnya. Dia akhirnya meninggalkan mobilnya lagi dan berjalan masuk ke dalam gedung. Hati kecilnya mengatakan kalau dia harus mengikuti Hendra ke dalam, dia ingin tahu ada urusan apa laki-laki itu datang kemari. Tentu bukan urusan pekerjaan kan? Mana mungkin papanya berpartner dengan musuh anaknya sendiri, itu yang ada di otak Gilang saat itu.
Berbagai pertanyaan hinggap di otaknya.
Apa papa mau membantuku mengembalikan Kimy padaku?
Apa papa diam-diam menyelidiki laki-laki yang sudah merebut kekasih anaknya?
Tapi sejak kapan papa ikut campur ke dalam masalah pribadiku. Apa itu permintaan mama?
Gilang berjalan sambil terus berfikir, hingga dia berhenti saat pandangannya menangkap sosok wanita sexy menggandeng tangan Hendra. Gilang menghentikan langkahnya, kemudian dengan cepat dia berbalik arah. Ternyata kedua orang itu berjalan menuju ke arahnya. Dengan langkah cepat Gilang keluar lagi dari gedung itu, kemudian dia masuk ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil Gilang masih memperhatikan kedua orang yang sedang bergandengan itu. Mereka berdua terlihat memasuki mobil sedan hitam milik Hendra.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1