BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Akan menikah


__ADS_3

Kimy berdiri di balik jendela kamarnya, ia melihat ke halaman luas rumah Tristan. Terlihat beberapa bodyguard saling bercengraman di bawah sana. Pikiran gadis itu melayang jauh, bagaimana bisa lelaki gila itu kemarin malam meminta dirinya untuk menikah dengan nya. Apa sebercanda itu arti sebuah pernikahan bagi pria psikopat itu dan juga bagaimana dia bisa merasakan sentuhan Gilang di mimpinya, seperti nyata. Perlahan Kimy meraba bibirnya, ia benar-benar merindukan sosok Gilang di sampingnya. Tapi apa bisa dia berharap lebih, apa dia masih pantas untuk Gilang. Kimy merasa kotor, bahkan dia pernah mengandung anak dari lelaki lain. Mengingat itu, perlahan air matanya menetes.


Ceklek


Kimy segera menghapus jejak air mata di pipinya sebelum ia menoleh untuk melihat siapa yang datang.


" Non.."


Kimy menoleh ke asal suara, terlihat asisten rumah tangga yang biasa melayani nya berdiri di ambang pintu.


" Iya bik.."


" Non Kimy di tunggu tuan di bawah.."


Kimy mengerutkan alis nya heran " Ada apa?.."


" Untuk makan malam bersama tuan non.."


Kimy terlihat berpikir sejenak, sejak kapan dia diperbolehkan keluar kamar, sejak kapan juga dia boleh makan di meja makan bersama mereka. Pertanyaan-pertanyaan itu bergelayut di otak Kimy.


Gadis itu mengangguk" Baiklah nanti aku akan turun.." Jawabnya.


Entahlah apa yang di rencanakan lelaki gila itu dia tak peduli, dia akan ikuti permainan psikopat gila itu. Kimy keluar kamar, perlahan dia menuruni anak tangga. Terlihat Dony, Mario dan Tristan duduk santai diruang keluarga. Mereka bertiga menyadari kedatangan Kimy. Mario hanya berdehem ringan, sedangkan Dony seperti biasa tak bereaksi apapun. Tristan sendiri memilih untuk berdiri, dan berjalan ke meja makan "Ayo kita makan malam.." ajak nya pada Mario dan Dony.


Kimy berjalan pelan ke meja makan. Tristan, Mario dan Dony sudah di tempatnya.


" Mari nona.." Seorang asisten rumah tangga memeprsilahkan Kimy untuk duduk di sisi Tristan sebelah kanan berhadapan dengan Dony dan Mario.


Kimy berjalan perlahan dan duduk di kursi itu. Ketiga lelaki itu sudah mengambil makanan dan siap menyantap nya, sedangkan Kimy dia masih diam memperhatikan menu-menu yang tersaji.


" Mau ku ambilkan?.." Tanya Tristan.


Kimy menoleh ke asal suara lalu dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Perlahan Kimy mulai mengambil menu-menu yang di inginkan nya dan mulai menyantapnya dengan tenang.


" Mulai sekarang kita akan makan bersama seperti ini.." Kata Tristan tiba-tiba di tengah makannya yang entah di tujukan pada siapa.


Kimy tak menghiraukan perkataan lelaki itu, dia terus saja menikmati makannya. " Kau dengar kan?.." Kimy menghentikan makannya, dia melihat kedua lelaki di depan nya Dony dan Mario yang tampak asyik menikmati makanannya, lalu ia menoleh pada Tristan.

__ADS_1


" Aku?.." Tanya gadis tampak heran.


Tristan mengangguk " Kenapa kau terlihat terkejut, kau tidak suka makan bersama seperti ini. Bukankah seperti sebuah keluarga?.."


" Ck.. Kenapa, kenapa aku harus makan di sini?.."


" Agar kau terbiasa, jika perlu kau yang melayani segala kebutuhanku.."


Kimy terkejut " kebutuhanmu?.."


Tristan mengangguk lagi" Iya, bukankah tugas seorang istri melayani kebutuhan suaminya.."


" Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..." Kimy tersedak mendengar apa yang lelaki gila itu katakan.


Dony dan Mario hanya tersenyum jahil melihat tingkah laku Kimy yang terlihat lucu menurut mereka.


" Apa yang kau katakan?.. Dasar gila.. "


" Aku bisa mendengar mu.. "


" Sebentar lagi, makanya kau harus membiasakan diri untuk melayaniku.."


" Ck.. Dalam mimpimu.."


Tristan tersenyum " Bahkan dalam mimpiku pun kau tetap akan menjadi istriku, tidak ada celah bagimu memimpikan lelaki lain baby.."


Deg


Kimy merasa tersindir dengan ucapan Tristan.


**


Ke esokan hari, Daniel papa Kimy mendatangi kantor Tristan. Ia sudah tak tahan menahan rindu pada putrinya. Setelah menemui resepsionis dan di arahkan ke ruangan Tristan, Daniel tampak berjalan santai menuju lift. Banyak pasang mata melihat kedatangan daniel, pasalnya baru kali iki seorang Daniel menginjak kan kaki di kantor Tristan. Semua orang tahu Daniel, mungkin mereka beranggapan kalau Daniel datang ke sini sebagai calon mertua dari Tristan.


Daniel keluar dari lift yang langsung di sambut oleh Dony. Dony membawa Daniel ke ruangan bos nya.


Ceklek

__ADS_1


" Mari silahkan.." seru Dony pada Daniel setelah pintu ruangan bosnya terbuka. Daniel masih berdiri di ambang pintu, dia melihat sekilas ruangan besar itu. Terlihat Tristan berdiri membelakanginya.


Daniel berdehem ringan lalu masuk ke ruangan itu "Terima kasih.." balas nya pada Dony.


Tristan menoleh dan mendapati Daniel sudah berdiri di sana " Selamat siang pak Tristan.." sapa Daniel dengan santai.


" Siang pak Daniel, selamat datang di kantor saya.." jawab nya mendekati Daniel. Tristan melihat Daniel dengan sorot mata tajam, tak seperti seorang calon menantu yang bertemu dengan calon mertua nya.


" Mari silahkan duduk.." Tristan mendahului berjalan menuju sofa di ruangan nya, sedangkan Daniel terlihat berjalan di belakang lelaki gila itu. Setelah mereka berdua sama-sama duduk, Tristan terlihat berdehem ringan " Apa yang membuat anda repot-repot datang menemui saya pak?.." Tanya Tristan to the paint, lelaki itu memang tak pernah berbasa-basi dalam urusan apapun.


Daniel terlihat membuang nafas " Maafkan saya mengganggu waktu anda, tapi saya ingin bertemu dengan Kimy. Saya mencoba menghubungi anda melalui telepon tapi tak mendapat jawaban. Apa Kimy tahu apa yang terjadi dengan maminya?.."


" Saya ikut berduka dengan apa yang terjadi pada nyonya sarah dan Kimy, dia sudah mengetahuinya.."


Jawab Tristan santai.


Daniel sedikit terkejut, ternyata Kimy putrinya sudah mengetahui apa yang terjadi dengan maminya. Tapi kenapa Kimy tak mendatanginya " Jadi dia sudah tahu?.."


"Iya dia sudah tahu, dia sedikit terpukul.." Jawab Tristan santai.


" Saya ingin bertemu dengan nya?.."


Tristan tak menjawab, dia berfikir beberapa saat "Saya akan membawanya pada anda, tapi tidak sekarang. Anda cukup menunggu saja pak.."


Daniel tampak diam, baru kali ini lelaki yang biasanya berwibawa itu tampak lemah di depan lawan bicara nya dan hanya Tristan yang bisa mendominasinya.


" Saya sangat merindukan dia, saya sangat kesepian. Tolong izinkan saya menemui nya walaupun hanya sebentar.." perkataan Daniel terdengar pilu jika orang lain yang mendengarnya, tapi itu tentu saja tidak berlaku pada lelaki gila seperti Tristan.


" Pak daniel, sebenarnya saya ada sedikit berita gembira, saya sebelumnya belum berniat menyampaikan pada anda tapi karena anda sudah berada di sini sebaiknya sekalian saya beritahukan.."


" Berita gembira?.."


" Iya.. Saya dan kimy akan segera menikah.."


Daniel terkejut. " Apa!!!.." bagaimana mungkin dia tak tahu soal rencana pernikahan putrinya. Harusnya lelaki gila di depannya ini meminta izin nya terlebih dulu, tapi ini lebih pada pemberitahuan dari pada meminta persetujuan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2