BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Lamaran


__ADS_3

Hari ini aku berdiri di depan cermin besar yang menampilkan tubuh indahku yang di balut dengan kebaya yang pas dengan badanku. Aku masih tidak percaya hari ini telah tiba. Hari dimana lelaki gila itu melamarku. Di dalam kamar hotel aku berdiri menunggu detik-detik itu.


"Kimy kamu sudah siap?.." Suara kak lexa membuyarkan lamunanku. Aku hanya menjawab dengan mengangguk.


Kak lexa membawaku keluar menuju ballroom yang sudah didekor sedemikian rupa. Dari sudut mataku, aku bisa menangkap banyak sekali terpasang camera di sana.


"Apa dia sudah datang kak?.."Tanya ku pelan.


"Ya, dan apapun yang terjadi kamu harus tenang okey.." Aku sedikit ambigu dengan perkataan kak lexa.


Memang apa yang akan terjadi?


Kak lexa membawaku berjalan melewati tamu undangan yang sudah terduduk rapi. Aku tak memperhatikan siapa saja yang datang. Mataku hanya menatap depan. Aku juga tidak peduli siapa yang akan datang di acaraku itu.


Namun jantungku sedikit bergetar ketika pandanganku mulai mendapati sosok yang aku kenal duduk disana. Aku sedikit menajamkan pandanganku.


Apa aku salah lihat?


Deg


"Om tedy, Gilang.."


Aku memelankan langkahku, duniaku seakan berhenti seketika.


"Kimy, tetap jalan. Ingat kamu harus tenang.." terdengar bisikan kak lexa pelan membuatku menoleh ke arahnya. Kak lexa hanya mengangguk pelan dan tetap membawaku menuju altar.


Apa ini, kenapa Gilang dan papa nya ada disini. Apa ini kejutan, Apa Gilang yang akan melamarku. Ada sedikit kebahagiaan didalam hatiku.


Tidak. Ada Tristan, lelaki gila itu juga di sana. Dia sedang berdiri menanti kedatanganku.


Aku menatap Gilang penuh tanya saat aku melewatinya. Terlihat sangat tenang wajahnya.


Gilang apa yang terjadi?


"Wah cantik sekali ya kimy. Pasangan yang sangat serasi ya.." perkataan seorang MC membuyarkan lamunanku.


Tristan menyambut tanganku, saat aku sampi di depannya. Dia mengecup punggung tanganku membuat semua orang disana bebisik dan menatapku iri. Seketika pandanganku menatap Gilang, tapi justru Gilang membuang muka. Dia terlihat acuh tak memperdulikanku.


Gilang, kamu kenapa? Apa kamu sudah benar-benar melupakanku.


"Nah sekarang calon mempelai kan sudah hadir disini, mari kita beri kesempatan untuk calon mempelai laki-laki untuk menyampaikan niatnya datang ke sini.." Ucap salah satu MC perempuan itu.

__ADS_1


"Iya mari silahkan tuan Tristan.." sahut MC laki-laki.


Aku menatap lelaki yang berdiri di depanku itu. Dia memang sangat tampan dengan setelah yang di kenakannya. Siapa wanita yang tidak tergoda dengan ketampanan seorang Tristan.


"terima kasih. Selamat siang semuanya. Maaf sebenarnya saya tidak menyiapkan kata-kata untuk ini, ehhm.. Om Daniel, saya Tristan. Saya datang kesini membawa keluarga saya. Mungkin perkenalan keluarga kita sedikit terlambat. Tapi walaupun begitu, saya ingin mengenalkan anggota keluarga saya sebelum kita benar-benar menjadi keluarga. Saya ingin anda yakin kalau saya lelaki yang pantas untuk putri anda.." Tristan menghentikan ucapannya, seketika ia memandang seluruh orang yang menatapnya kagum.


"Di sebelah sana.." Tristan menunjuk om teddy "Dia adalah papa kandung saya om.." semua orang bergemuruh dengan suaranya masing-masing. Mereka menatap Tristan dan om teddy yang duduk di kursi roda itu tak percaya.


What??? Apa yang terjadi, jadi si gila itu membuka jati dirinya sekarang. Apa tujuannya sebenarnya.


Papi juga sangat terkejut, dia tak percaya begitu saja. semua kejadian terasa begitu mengejutkannya. Namun ku lihat papi berusaha untuk tetap tenang.


"Tolong harap tenang semuanya, biarkan calon mempelai menyelesaikan ucapannya.." Kata salah satu MC yang di sana.


"Saya tidak akan menjelaskan apa-apa di sini. Saya hanya ingin memperkenalkan keluarga saya selebihnya tidak.." Tristan menghentikan ucapannya lalu ia menatap ke dalam mataku.


"Kimy, Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah kita lalui bersama. Awal perkenalan kita memang tidak berjalan dengan baik, kau tahu itu kan? Tidak mudah memang. Tapi aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang kau. Boleh saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika itu bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan. Aku yang tadinya tidak percaya lagi dengan cinta, mulai menemukan itu saat bersamamu. Maafkan apa yang telah terjadi selama ini, kita mulai dari awal lagi perkenalan kita. Sayang Menikahlah denganku.."


Aku tergugu, seketika tubuhku menjadi patung. Kata-kata ini, apa benar keluar dari hatinya sendiri. Benarkah yang dia katakan? Haruskah aku percaya. Tapi bukankan lelaki di depanku ini psikopat gila yang bisa dalam waktu bersamaan berubah sifat. Aku sedikit menggeleng membayangkan kalau ucapannya adalah sebuah kebenaran.


"Sayang.."


"Nona Kimy ayoo donk di jawab.." sahut salah satu MC.


"Ya.. Aku bersedia.."


Suara tepuk tangan para undangan memenuhi ruangan itu. Terlihat Tristan mendekat padaku dan menyematkan sebuah cincin berlian dijari manisku. Kemudian dia mencium keningku dengan begitu lembut.


"I love you.." bisiknya.


Acara lamaran itupun berjalan dengan lancar. Setelah selesai aku meninggalkan ballroom menuju kamar yang sudah di siapkan oleh EO di ikuti oleh Tristan.


"Kenapa kau ikut kesini?.."


"Kenapa, bukankan kau sudah menerima lamaranku. Sebentar lagi kau jadi istriku sayang.."


"Tristan ini baru lamaran bukan pernikahan. Kamar ini di sediakan untuk aku istirahat bukan bulan madu.." jawab ku ketus.


"Persetan dengan semua itu, aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu mulai sekarang.." Jawabnya sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


Aku terdiam, percuma berdebat dengannya aku tidak akan menang.

__ADS_1


"Tristan.."


"Hmm.. Apa sayang?.."


"Ada yang ingin aku tanyakan?.."


"Apa itu.." Tristan berdiri dan berjalan medekati ku, aku sedikit gugup ditatap tajam olehnya.


"Kenapa om Teddy dan.."


"Jangan sebut namanya Kimy, aku bisa gila mendengarnya.."


"Jadi apa kau akan menjelaskan padaku?.." Aku pura-pura tak tahu padahal aku tahu hubungannya dengan om Teddy. Aku hanya ingin mendengar dari mulut lelaki itu.


"Bukankah tanpa penjelasanku kau sudah tahu sayang.." Tristan tersenyum devil padaku. Aku mencoba menelan ludahku kasar.


Sial, rupanya dia ingat kalau aku tahu rahasianya.


"Lalu kenapa kau membuka rahasia yang selama ini kau sembunyikan. Tidak mungkin tanpa alasan kan?.."


"Sayang.." Tristan mendekat padaku, dia membelai rambutku lembut "Aku tidak mau publik beranggapan kalau aku sebatang kara dan mereka beranggapan aku tidak layak untuk seorang Kimy yang sempurna. Aku ingin menunjukan kalau aku juga punya keluarga.."


Dasar psikopat gila, tidak mungkin cuma karena alasan sepele itu dia melupakan dendamnya.


"Kau sengaja melakukan itu? Kau sengaja membuat Gilang datang menyaksikan langsung lamaran ini?.."


"Kimy sudah aku bilang jangan sebut namanya dihadapanku.."


"Kenapa? Bukankah kalian kluarga, dia adikmu. Mau tidak mau namanya akan selalu kau dengar setiap saat.."


"Tapi tidak dari mulutmu brengsek.." jawab Tristan kasar.


Aku sedikit tercekat mendengarnya. Aku terdiam seketika. Jujur saja aku masih sedikit takut pada Tristan. Setiap mendengar sedikit nada kasar yang keluar dari mulutnya, aku selalu teringat perbuatan kejinya padaku dulu.


"Kimy maaf.."


"Sejak kapan kau selalu minta maaf padaku. Bukankan sudah biasa aku kau perlakukan seperti itu.."


"Aku janji tidak akan lagi kasar padamu sayang.. Maafkan aku. Tapi tolong jangan memancing amarah ku.."


Sekali lagi aku terdiam. Memang aku tahu Tristan mempunyai tingkat emosi yang tidak stabil seperti kebanyakan orang lainnya. Dia bisa marah meledak seketika dan baik dalam sekejap. Dia juga bisa bersikap lembut dan kasar dalam waktu bersamaan. Lelaki ini bisa benar-benar menjadi orang gila dalam keadaan tertentu. Aku mulai menyadari kalau aku tidak boleh membuatnya tersinggung. Aku harus bisa mengendalikan dia kalau mau hidupku tenang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2