BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Kimy versus Angela


__ADS_3

Setidaknya papi masih tetap berada di posisi papi, Kimy tidak mau melihat papi hancur. Kimy akan baik-baik saja pi.


" Tak kupercaya, selain menjual tubuh, ternyata kau juga menukar tubuhmu itu dengan perusahaan orang tuamu. Sungguh memalukan!!.." Kata-kata kasar itu keluar dari mulut Angela.


Kimy tersontak mendengar olokan wanita sexy itu. Matanya melotot tajam, dengan cepat Kimy meraih gelas berisi air putih di mejanya. Niatnya cuma satu, menyiramkan air itu pada muka wanita sexy bermulut pedas itu.


" Hentikan pertikaian kalian, banyak camera di sini. Kalau kalian lanjutkan, terima saja hukuman mati dari pria gila di panggung itu. Dia tak akan membiarkan orang lain merusak acaranya, silahkan teruskan kalau tak percaya.." Kata Mario santai sambil bersedekap menatap dua wanita yang berselisih itu.


Kimy membuang nafas kasar dan mencoba bersikap tenang lagi.


" Oke baiklah, aku juga tak mau mengotori tanganku ini.." Kata Kimy sambil mengibas-ibaskan tangannya yang tak kotor.


" Dia bukan tandinganku.." Lanjut Kimy.


" Sialan!! Kau masih bisa bersikap sombong padaku, setelah menjual tubuhmu pada Tristan?.." Jawab Angel.


" Setidaknya tubuhku masih berharga, dari pada harus kuserahkan cuma-cuma.." Jawab Kimy lagi. Jawaban Kimy itu menyinggung Angela, karena selama ini Angela memberi tubuhnya untuk Tristan gratis. Dia bisa tidur dengan bosnya itu adalah hal terindah yang dia miliki.


" Hahaha.. Kau terlalu berbangga hati jalang. Kau belum tau Tristan, kau akan menangis darah kalau tau dia sebenarnya.." Jawab Angela tak mau kalah.


" Kalau kalian masih bertengkar, oke baiklah!! Mari lanjutkan di luar, kalian bisa saling menjambak di sana, aku pasti akan sangat menikmati. Aku juga sedang butuh hiburan saat ini.." Kata Mario mulai jengah dengan kedua wanita itu.


" Diam!!.." Kata Kimy dan Angela bersamaan.


Mario terperanjat kaget mendapat gertakan dari kedua wanita itu.


" Terserah kalianlah mau apa. Angel, kau pasti akan mati, karena mengganggu gadis itu.." Mario menakuti Angel, di balas lenguhan malas wanita sexy itu.


Di atas panggung, Dony menyerahkan sebuah Map berisi berkas-berkas pengalihan wewenang dari Tristan kepada Daniel. Tristan dan Daniel menandatangani berkas-berkas itu.


" Terima kasih, saya akan mencoba menjalankan perusahaan ini dengan sebaik-baiknya pak.." Kata Daniel formal dan datar kepada Tristan.


" Tolong jangan panggil saya pak, panggil saya Tristan pak Daniel. Anda lebih tua dari pada saya..." Jawab Tristan.


" Anda juga orang tua kekasih saya.." Imbuh Tristan.


Daniel hanya diam, mendengar perkataan pria itu. Perasaanya mengatakan, itu tidak mungkin. Tapi apa yang dikatakan pria itu tentang putrinya sepenuhnya benar, tidak ada sedikitpun kesalahan.


" Apa kau mencintai Kimy?.." Pada akhirnya Daniel memberanikan diri bertanya.


" Tentu, saya mencintainya.." Jawab Tristan.


Daniel mengangguk, dia tidak bisa berbuat apa-apa kalau itu sudah kehendak puterinya.


" Jagalah dia, jangan kau sakiti putriku. Dia berharga bagi kami, asal dia bahagia aku akan mengikuti apapun keinginanmu.." Pinta Daniel pada Tristan.


Tak tahu kenapa hati Tristan tersentuh mendengar permintaan dari orang tua gadis itu. Walaupun saat ini dia bersandiwara, tapi apa yang dikatakannya tentang gadis itu adalah kenyataan, dia mungkin sudah jatuh cinta pada gadis itu, dia ingin melindungi gadis itu, dan tak membiarkan orang lain menyakitinya. Karena hanya dia yang punya hak untuk menyakiti gadis itu.


Daniel tiba-tiba memeluk Tristan, membuat Tristan tak nyaman. Dia merasakan ketulusan seorang papa yang menyerahkan anak gadisnya pada seorang laki-laki. Tristan memberikan jarak, melepas pelukan itu. Dia tidak mau hanyut dalam kehangatan seorang papa, yang sudah lama tidak dia dapatkan.


" Jangan begini pak, saya janji akan membuatnya bahagia.." Kata laki-laki itu dingin.


" Bolehkah, kami menemui Kimy.." Tanya Daniel lagi.


" Ya, tentu saja. Kimy akan tinggal bersama saya mulai sekarang.." Jawab Tristan datar.


" Baiklah, Terima kasih.." Jawab Daniel.


Mereke berjabat tangan dan di sambut tepuk tangan meriah dari semua orang.


Permainan di mulai.


Tristan tersenyum lebar, mereka semua bahagia. Termasuk Kimy, dia melihat papinya tersenyum bahagia. Tidak ada lagi yang Kimy mau. Dia bisa melihat orang tuanya tertawa lepas lagi. Walau dalam hatinya hancur, sudah di pastikan dia kehilangan orang yang di cintainya, Gilang.


**


Di tempat lain seorang wanita paruh baya meradang melihat tayangan live di televisi.

__ADS_1


" Kurang ajar, Daniel kau menjual anakmu. Kau lupa kalau Kimy mempunyai Gilang. Berani sekali kau merebut apa yang Gilang miliki?.."


Wanita itu menelpon seseorang, sambil berjalan mondar-mandir.


Tuut!!!


" Hallo, bagaimana? Kau belum menemukan apa-apa tentang pria itu?.." Tanya Sinta pada orang di balik telepon.


" Kau bekerja sangat lambat, aku akan mencari orang lain. Kau sama sekali tak bisa di andalkan!!.." Katanya dengan marah dan menutup telepon itu.


Ddrrttt!!!


Ponsel wanita itu berbunyi lagi, dengan kesal dia mengangkatnya lagi tanpa melihat siapa yang menelpon.


" Apa lagi? hah.." Bentaknya.


" Papa!!.." Sinta terkejut ternyata suaminya, Teddy yang menghubunginya.


" Sayang, maaf, mama lagi marah sama marketing kartu kredit, mereka selalu menghubungiku untuk menggunakan produk mereka.." Bohong Sinta dengan lembut pada suaminya.


" Ohh iya sayang, mama sudah melihat beritanya. Maafkan mama pa, mama tidak tahu kalau Daniel akan melakukan hal yang memalukan begini. Masalah Gilang, papa tidak usah khawatir, mama yang akan urus. Gilang akan baik-baik saja pa.."


" Papa kapan pulang? Baiklah, jangan memikirkan masalah ini ya, hati-hati ya sayang. Mama juga mencintai papa.." Sinta menutup teleponnya.


Daniel, kau mau main-main denganku?


Dengan cepat Sinta mencari nomor telepon Gilang di ponselnya, Sinta ingin memastikan kalau putra kesayangannya itu baik-baik saja.


Tuutt!! Tuuutt!! Tuuttt!!


Beberapa kali panggilan di abaikan oleh anaknya itu. Sinta berdecak malas, dia lalu beralih menghubungi Septian.


Tuutt!! Tuuutt!! Tuuttt!!


" Hallo, Tian.."


" Tian, Gilang dimana? Dia tak mau mengangkat teleponku. Apa dia baik-baik saja?.." Tanya Sinta beruntun pada Septian.


" Tian dengerin tante, kau jangan tinggalkan Gilang sendirian, dia pasti terpukul. Tante tidak mau terjadi apa-apa sama dia. Tante percayakan dia padamu, oke.."


" Baiklah, kalau ada apa-apa segera kau hubungi aku ya.." Sinta lalu menutup ponselnya. Wanita paruh baya itu terlihat lelah, dia menghempaskan tubuhnya di sofa. Menutup mata dan memijat pelipisnya pelan.


**


Gilang menghancurkan segala isi ruang kerjanya. Laptop, berkas dan semua yang ada didekatnya sudah hancur berserakkan di ruangan itu. Begitu tahu kalau kekasih yang sangat di rindukannya itu telah bersama pria lain beberapa hari terakhir ini. Dia melihat gadis yang di cintainya bermesraan dengan pria lain.


Lelaki tampan itu kini tengah duduk di kursi kebesarannya, matanya terpejam, ruangan yang berantakkan itu menjadi saksi betapa hancurnya pria itu.


Septian mulai memungut barang-barang yang hancur itu. Dia tak pernah melihat Gilang sehancur ini, sahabat serta bosnya itu adalah lelaki mandiri, kuat dan bertanggung jawab. Dia tidak menyangka Gilang akan hancur karena seorang gadis.


Tok.. Tok


" Gilang, kau di dalam?.." Nadine mengetok pintu.


" Gilaang.."


Septian beranjak menuju pintu, namun suara Gilang menghentikan langkahnya.


" Suruh dia pergi, aku tidak mau ketemu siapapun.." Kata Gilang dingin.


Septian melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan itu.


Ceklek!!


" Gil... Tian mana Gilang?.." Tanya Nadine sambil memaksa masuk, namun tubuhnya dihalangi oleh Septian.


" Pergilah, jangan ganggu dia dulu.." Titah Tian.

__ADS_1


" Aku tidak ganggu dia, dia butuh seseorang di sampingnya saat ini.." Jawab Nadine.


" Nad please.. Jangan menambah masalah lagi, Gilang mau kau pergi!.."


" Aku tidak percaya dia menyuruhku pergi, dia butuh aku saat ini.. Gilaaang!!.." Teriak Nadine. Septian menarik tangan Nadine menjauh dari ruang kerja Gilang.


" Nad, denger. kau jangan bikin masalah di kantor. Jangan kau buat malu Gilang, liat semua orang memperhatikanmu seperti ini.."


" Hah, aku buat malu Gilang? Kau tidak salah, Kimy sialan itu yang mempermalukannya.."


" NADINE!!!.." bentak Tian.


" Jangan gila kau, kalau Gilang dengar dia akan semakin sakit. pergilah, aku tidak mau menyakiti wanita. Tapi kalau kamu tidak mau pergi, terpaksa aku panggil security..." Ancam Tian pada gadis itu.


" Aku tidak mengerti, apa yang membuatmu begitu mendukung Gilang sama Kimy, nyatanya Kimy tidak layak untuk Gilang dan Kau masih mendukungnya.." Kata Nadine sambil menghela nafas panjang, lalu pergi meninggalkan Tian.


" Aku mendukung apa yang membuat Gilang bahagia.." Teriaknya membuat Nadine berhenti sejenak, tapi gadis itu tak menggubrisnya, dia terus berjalan untuk keluar kantor itu.


**


Laura menerima sebuah foto di layar ponselnya. Wanita berumur 40 tahun yang masih terlihat cantik dan sexy itu hanya menatap nanar ke depan. Setelah sekilas melihat sebuah foto, wanita itu meneruskan pandangan menerawangnya. Entah apa yang difikirkan wanita dewasa itu, setelah melihat tayangan di televisi, wanita itu hanya diam seribu bahasa.


" Shiitt, wanita gila itu tak merespon pesanku.." Umpat Angel di kamar mandi ballroom hotel bintang lima itu.


Hanya dia harapanku untuk menghancurkan jalang Kimy itu. Lihat, jangan panggil aku Angel kalau tidak bisa menyingkirkan jalang itu dari hidup Tristan.


" Papi, mami.." Kimy memeluk orang tua nya bergantian. Dia memeluk Daniel begitu erat seakan tak mau melepaskannya. Sedangkan di sampingnya, Tristan menunggui gadis itu.


Sarah memperhatikan Tristan dingin, wanita itu sedikit banyak mendengar gosip tentang lelaki tampan di depannya itu. Kalangan artis sering menggosipkan lelaki itu dengan artis dan model terkenal. Bagaimana mungkin seorang pemain wanita sepertinya, bisa membuat anaknya tertarik dan meninggalkan Gilang kekasihnya. Walaupun Sarah akui tampang lelaki itu sangat sempurna dan juga kaya raya.


" Ada masalah Nyonya sarah?.." Gilang menyadari tatapan tak sukanya Sarah. Suara laki-laki itu tiba-tiba terdengar menyeramkan. Kimy dan Daniel yang sebelumnya masih berpelukkan melepaskan diri karena suara itu.


Kimy melihat maminya memperhatikan Tristan dengan tatapan tak sukanya. " Mami.." Panggil Kimy, membuat Sarah mengalihkan pandangannya dari Tristan ke arah putrinya.


" Iya sayang.." Jawab Sarah lembut.


" Sayang.." Tristan menarik pinggang Kimy, mendekatkan tubuh gadis itu pada tubuhnya.


" Sepertinya orang tuamu tidak menyukaiku.." Kata Tristan pada Kimy, lalu mencium pucuk kepala gadis itu. Sungguh Tristan bakat sekali menjadi aktor, dia berakting sangat natural, membuat semua orang percaya kalau dia begitu mencintai gadis itu.


Kimy bingung harus bagaimana, dia melihat orang tuanya canggung.


" Ehemm.. Tidak seperti itu Tristan.." Jawab Daniel.


" Aku dan istriku belum mengenalmu, dan juga kami masih shock dengan semua ini. Semua ini begitu tiba-tiba, maafkan kami kalau menyinggungmu, iya kan ma.." Lanjut Daniel lagi, di jawab anggukan kecil tanpa expresi oleh Sarah.


" Kimy, jadi kalian akan tinggal bersama?.. Tanya Sarah pada putrinya.


" Tapi kalian kan belum menikah, mami cuma tidak mau orang menganggapmu wanita tidak baik.." Lanjutnya lagi.


" Tidak akan nyonya. Tidak akan ada yang berani mengganggunya.." Jawab Tristan, tak di hiraukan oleh Sarah. Sarah kesal laki-laki gila itu selalu menyela omongannya.


" Kimy, bisa kita bicara berdua.."


" Maaf nyonya, kita harus segera pergi karena masih ada pekerjaan yang menungguku.." Jawab Tristan lagi.


" Kau melarangku bicara dengan putriku sendiri?.." Tanya sarah yang mulai terpancing emosinya.


" Maa.. Sudahlah, kapan-kapan kita masih bisa bertemu dengan Kimy lagi.Tristan banyak pekerjaan, biarkan mereka pergi.." Sela Daniel.


Papi, mami maafkan Kimy.


" Pi, mi kalian tidak usah khawatir, Kimy akan baik-baik saja. Nanti Kimy akan temui kalian lagi.." Kata Kimy menenangkan orang tuanya.


Kimy memeluk orang tuanya bergantian. Gadis itu menahan sesak, dia tak mau menangis di depan orang tuanya.


" Kami permisi.." Kata Tristan, lalu mereka berjalan keluar, meninggalkan ballroom itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤❤❤❤❤❤❤\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2