BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
sangkar emas


__ADS_3

Aku mulai merasakan pusing di kepalaku. Berat sangat berat, hingga aku sulit membuka mata. Perlahan kucoba terus membuka mata dan samar-samar ku rasakan tanganku begitu hangat. Pandanganku mulai tampak walaupun masih sedikit kabur. Aku menoleh ke samping dan kudapati seorang lelaki tertidur diceruk leherku. Tubuhnya masih terduduk di kursi, dengan tangan menggenggam tangan ku erat. Ku rasakan hangat nafasnya menerpa tulang leherku. Dia adalah lelaki psikopat itu, Tristan.


Aku mencoba bangkit, tapi tubuhku terasa lemas. Ternyata pergerakanku membangunkannya. Tristan beringsut dan membuka mata. Lelaki itu terlihat lelah, matanya merah dan wajahnya terlihat kusut.


"Kau sudah sadar sayang.." lembut, lembut sekali ucapannya sambil membelai rambutku. Aku hanya menatapnya datar. Entah ini Tristan yang bagian mana lagi. Rasanya lelaki ini selalu berubah-ubah.


"Aku kenapa?.."


"Kau pingsan tadi, kau lupa?.." Aku sedikit berusaha mengingat kejadian sebelum aku pingsan. Ku pandang wajahnya. Ya.. Aku ingat saat dia menciumku, tepatnya aku dan dia saling berciuman. Dia terus mencumbuku sampai nafasku sesak dan bayangan itu muncul di otak ku. Aku ingat sekarang, lalu apa artinya itu. Aku kenapa? Kenapa aku bisa pingsan.


"Aku ingat.."


"Apa yang kau rasakan sekarang?.." lelaki itu sangat lembut padaku.


"Tidak ada. Aku tidak merasakan apa-apa. Hanya badanku sedikit lemas dan sedikit pusing.."


"Itu mungkin efek dari obat yang di suntikan dokter tadi.."


"Kau memanggil dokter?.."


"Ya aku sangat khawatir.." Tristan mendekat padaku dan mencium keningku.


"Lalu aku kenapa?.."


"Apa tubuhmu merasakan sakit?.." Aku menggeleng karena memang selama ini tubuhku baik-baik saja.


"Kimy kita akan mempercepat pernikahan kita? Minggu depan aku akan melamarmu dan setelahnya kita akan menggelar pesta pernikahannya.."


Aku hanya cengo mendengar perkataan Tristan. Apa maksudnya ini, kenapa begitu tiba-tiba?


"Ada apa, kenapa begitu tiba-tiba? Apa ada masalah.."


"Tidak ada. Aku hanya tidak sabar ingin menjadi suamimu. Aku mencintaimu.."


Deg


Lelaki sialan ini kenapa tiba-tiba mengucapkan kata cinta.


"Sekarang kau harus makan. Kau tidak sadarkan diri terlalu lama. Kau melewatkan makan siangmu.." ku lihat Tristan berdiri dan mengambil piring yang ada di meja, dia kembali dengan membawa makanan untukku.


**

__ADS_1


Papi terkejut ketika dia pulang dari kantor dan bi asih memberi tahu kalau aku sakit. Segera dia menghampiriku kekamar.


"Sayang kamu kenapa?.."


Papi tiba-tiba saja masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Padahal saat ini Tristan sedang berbaring di sampingku sambil memeluk perutku. Lelaki itu memejamkan mata, tapi aku yakin sebenarnya dia tidak tidur.


"Papi.."


Tristan juga sedikit terkejut dengan kedatangan papi yang tiba-tiba. Seketika Tristan membuka mata dan mendudukkan tubuhnya tanpa beranjak dari sampingku.


"Maaf.. Maaf papi tidak mengetuk pintu. Papi khawatir tadi.." raut muka papi memang terlihat khawatir.


"Kimy nggak apa-apa pi, tadi Kimy kecapean dan pingsan.."


"Pingsan, bagaimana bisa. Kamu kan selama ini secapek apapun tidak mudah pingsan sayang.."


"Saya sudah memanggil dokter tadi om. Dia tidak apa-apa hanya butuh istirahat.."


Om. Hehehe.. Bajingan ini memanggil papi om. Baru pertama ini aku mendengarnya memanggil orang dengan benar.


"Bagus, kamu harus istirahat. Baiklah, aku akan menyuruh bi asih untuk membawakan makan malam kalian ke kamar.." Papi keluar dari kamar ku setelahnya.


**


Acara lamaranku akan di gelar di sebuah hotel. Tentu saja, tidak mungkin papi mengadakan acara lamaran di rumah kan. Karena kolega papi sangat banyak. Dia ingin mengumumkan pada dunia kalau putri kesayangannya akan segera menikah. Semua media online maupun cetak sudah memberitakannya. Bisa ku lihat dari ponsel yang setiap hari aku pegang. Ya.. Aku sudah boleh membawa ponsel, walaupun isinya hanya no ponsel Tristan, papi dan kak lexa. Aku tak mampu berbuat banyak, Tristan selalu mengawasi pergerakanku.


Aku turun dari tangga mencari papi. Dari pagi setelah sarapan aku tak melihatnya. Padahal papi dan juga Tristan sudah cuti kerja mulai hari ini. Tristan sedang keluar bersama Dony katanya.


Lalu papi kemana?


"Bi asih liat papi?.." ku tanya bi asih yang sedang sibuk di dapur itu.


"Di taman belakang non, sudah dari tadi. Sepertinya tuan lagi banyak masalah non.."


Masalah? Ada apa lagi?


Aku berjalan menuju taman belakang. Kulihat papi sedang duduk sendirian di gazebo, papi terlihat termenung.


"Papi.." Papi menoleh padaku dengan sedikit senyum.


"Sayang, Sini.."

__ADS_1


"kok papi duduk sendirian di sini, papi ada masalah apa lagi?.." Tanyaku. Papi menggeleng sambil tersenyum. Dia membelai rambutku lembut.


"Papi hanya sedih sebentar lagi kamu ninggalin papi sayang.."


"Nggak mungkin hanya itu kan? Papi kangen mami?.."


"Sayang, entah kenapa papi merasa mamimu belum pergi. Papi merasakan mamimu akan kembali.."


"Piii.." ku peluk tubuh papi yang mulai bergetar.


"Kimy, kamu janji sama papi kamu harus bahagia dimanapun kamu berada ya?.." Aku mengangguk mendengar ucapan papi itu, sambil menahan sesak di dadaku.


"Tristan lelaki yang baik dan bertanggung jawab, dia pasti bisa membahagiakan mu sayang.."


Andaikan papi tahu apa yang sudah di lakukan Bajingan itu. Andaikan papi tahu dia melakukan ini hanya untuk balas dendam. andaikan papi tahu kemungkinan besar yang menyakiti mami adalah lelaki itu.


"Kimy janji.." jawab ku pelan.


"Sayang ada satu hal lagi yang harus kamu tahu. Tentemu siska, dia menghilang.."


Deg


"Apa maksud papi?.." Aku begitu terkejut, ku tegakan badanku seketika. Jantungkupun mulai berdebar.


"Tiga hari yang lalu, joseph menghubungi papi. Dia bilang siska menghilang, sudah di cari kemanapun tidak ketemu. Mereka juga sudah lapor polisi. Sampai semalem papi Menghubunginya juga tidak ada perkembangan kasusnya.."


"Kenapa papi baru bilang sama Kimy?.."


"Papi nggak mau membuatmu sedih sayang. Kamu baru sembuh.."


Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa orang-orang yang kusayangi pergi begitu misterius semua. Tante siska.


"Mereka tidak bisa datang di acara pertunanganmu sayang.."


"Andai saja papi kasih tahu lebih awal. Kita bisa tunda dulu acaranya pi.."


"Tidak sayang, Tristan menginginkan acara ini di percepat. Papi yakin ini yang terbaik untuk kalian.." Aku hanya mengangguk menjawab perkataan papi itu.


Hari terasa begitu cepat. Banyak sekali yang terjadi dalam hidupku. Bahkan sampai aku dititik ini, rasanya aku masih tidak percaya semua yang kumiliki dulu perlahan hilang satu persatu. Kebahagiaan, karir, cinta, popularitas, semua hilang bagai di telan bumi. Sekarang aku hanya seorang Kimy, yang hidup dalam sepi, hidup dalam sangkar emas. Apakah masih ada harapan kebahagiaan untukku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2