BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Maafkan aku


__ADS_3

Mendengar ucapan kasar Tristan, gadis itu menangis, semakin sesak dadanya. Ia pun mengangguk pelan. Ia sudah pasrah apapun yang terjadi, kalau pun ia harus mati ia siap.


"Haha.."Tristan tertawa terbahak melihat reaksi gadis di depannya itu. Tristan bukan sedang bahagia tentunya. Ia menyembunyikan kekecewaan dengan tawanya.


"Kau benar-benar ****** murahan Kimy. Kau bahkan menciumku dan menginginkan aku saat terakhir bersamaku.." Kata itu begitu menusuk telinga Kimy, gadis itu merasa begitu jijik dan juga bersalah. Entah lah Kimy sendiri bingung, Bahkan dalam hatinya ia membenarnya apa yang lelaki gila itu ucapkan kalau dirinya saat ini benar-benar seorang ****** murahan.


Tristan berdiri "Kau nikmatilah hukumanmu.."


Kimy mendongak menatap lelaki itu "Tristan ku mohon jangan biarkan aku sendiri di sini, aku takut gelap.." Kimy memohon di bawah kaki Tristan.


"Hah.. Oh ya.. Kau akan terbiasa, tenanglah.." Jawabnya dengan senyum devil lalu ia pun berjalan Pergi meninggalkan Kimy.


"Tristan tunggu jangan tinggalkan aku di sini, kumohon.." Kimy merangkak mengikuti Tristan ke depan pintu dan ketika lelaki itu mau menutup pintu, tangan Kimy menahan pintu itu supaya tak tertutup.


"Ku mohon Tristan, aku akan mimpi buruk kalau berada di tempat gelap. Aku takut, aku tidak mau di tempat ini.."


"Minggirkan tanganmu atau ku biarkan dia terjepit pintu. Mungkin dengan satu tangan kau akan terlihat lebih cantik.." mendengar itu Kimy menarik tangannya cepat. Tristan tersenyum devil, lalu menutup pintu dan menguncinya.


"Tristaan.. Tolong jangan tinggalkan aku di sini. Aku takut. Tristan maafkan aku.. Papi, papi Kimy takut pi.." Kimy terus menangis sambil memeluk tubuhnya. Ia terus memanggil Daniel papi nya. Ya.. Kimy sangat dekat dengan Daniel, ia seperti punya ikatan dengan papinya itu.


Sedangkan di balik pintu, Tristan duduk menyandarkan tubuhnya. Lelaki itu masih di situ, mendengarkan tangis menyayat hati gadis yang diam-diam sudah merebut hatinya. Entah kenapa dada lelaki itu begitu sesak mendengar setiap tangis Kimy. Andaikan waktu bisa di ulang, andaikan pertemuan mereka berdua di awali dengan cerita indah. Andaikan ia menjadi lelaki yang Kimy cintai. Tristan menenggelamkan kepalanya di atas lututnya.


Kimy salahkan aku mencintaimu?


Esok hari, Dony dan Mario sudah berada di kantor Tristan. Dony dan Mario saling pandang ketika melihat Tristan memijat pelipisnya tanpa bicara apapun. Padahal Tristan yang memanggil mereka ke situ, apalagi Mario yang jauh-jauh datang tapi di abaikan.


"Kau memanggilku ke sini hanya untuk melihatmu frustrasi begitu?.." Tanya Mario "Sudah ku bilang kalau akhirnya kau yang tersiksa jangan sakiti gadis itu lagi.."


"Diam brengsek.." jawab Tristan. Seketika Mario diam sambil menggaruk tengkuknya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi bos? Apa nona Kimy masih di ruang bawah tanah?.." Tanya dony.


"Itu adalah tempat satu-satunya yang aman untuknya.."


"Tapi kelihatannya kau tidak baik-baik saja.." Tristan tak menjawab, memang benar ia tak baik-baik saja. Semalaman ia menunggu Kimy berhenti menangis hingga pukul 04.00 pagi. Setelah ia rasa gadis itu tertidur, ia baru meninggalkan ruang bawah tanah itu.


"Gadis itu harus menerima hukuman. Mario lakukan tugas ke dua. Aku ingin artis itu benar-benar hancur berkeping, kau boleh membunuhnya.."


"Tunggu.. Maksudmu mamanya Kimy?.." Tanya Mario tak percaya.


Tristan mengangguk yakin.


"Bos.." dony menyela, ia tak ingin Tristan bertindak bodoh.


"Sstt.. Kau diamlah, itu bukan tugasmu.."


"Nona Kimy akan membenci Anda kalau tahu. Anda akan menyesalinya bos.."


Dony dan Mario keluar "Sialan Tristan, aku harus menghabisi orang tua gadis itu. Apa Tristan sudah gila, bukankah dia jatuh cinta pada Kimy?.." Mario masih menggerutu sambil berjalan, namun tak di tanggapi oleh Dony.


**


Gilang dan Hendra masih tertegun diam, mereka berdua masih belum percaya dengan apa yang di katakan dokter barusan.


Dokter memberi tahu kalau kemungkinan hidup Teddy sangat kecil. Teddy harus tetap berada di rumah sakit dengan pantauan dokter khusus. Lelaki paruh baya itu harus bergantung hidup pada alat medis. Dokter sempat memberi pilihan, melepas alat-alat dan ikhlas melepas Teddy pergi atau masih ingin mempertahankan Teddy. Gilang memilih opsi kedua, dia yakin suatu hari Teddy akan sembuh dari koma. Ia belum rela Teddy meninggalkannya dan mamanya.


"Gilang om mau bicara.." Hendra memulai pembicaraan. Gilang pun mengangguk dan mengikuti Hendra di belakang.


Hendra sudah membuat keputusan, ia akan menceritakan semuanya pada Gilang. Tidak ada lagi yang perlu di sembunyikan, toh Teddy keadaannya sudah seperti itu.

__ADS_1


Mereka berdua kini sedang duduk di kursi tunggu di rumah sakit. Tempat sepi adalah pilihan mereka. Hendrapun mulai bercerita.


"Kau akan sedikit terkejut Lang. Tapi kau sudah dewasa, om yakin kau bisa menghadapinya.."


Beberapa jam Hendra menceritakan segalanya tentang masa lalu orang tuanya Gilang. Semuanya hendra ceritakan, tidak ada yang di tambah ataupun di kurangi.


Ia menceritakan siapa Daffa, bagaimana bisa Daffa ada di dunia dan bagaimana Daffa kehilangan orang tuanya. Hendra juga menceritakan kalau Teddy begitu menyesal dengan perbuatannya, mencampakkan daffa dan mamanya Rahma.


Dan yang tak kalah mengejutkan bagi Gilang adalah kemungkinan Daffa itu adalah Tristan. Lelaki yang ia benci akhir-akhir ini. Lelaki yang sudah merebut kekasih hatinya adalah kakak kandungnya. Gilang sedikit shock dengan kenyataan itu. Tetapi dari awal ia sudah menyiapkan hati, berita terburukpun ia harus siap.


"Jadi dia mau balas dendam om? Apa lelaki itu tahu keadaan papa, apa dia mengharapkan papa mati om?.."


Gilang begitu sesak, di saat ia mati-matikan mempertahankan hidup papanya, ternyata ada anak kandung lainnya yang mengharap kan Teddy mati.


"Aku tidak tahu lang, semoga saja tidak. Ini masih dugaan ku. Terkait semua masalah seakan datang bersamaan. Om masih menyelidikinya.." jawab Hendra tampak putus asa.


**


Sore hari Tristan pulang ke rumah sebelum waktunya, Itu karena ia ingin melihat keadaan Kimy di ruang bawah tanah. Apa gadis itu baik-baik saja. Apa dia sudah makan. Pertanyaan itu terus berputar-putar di otaknya.


Setelah sampai di rumah, ia buru-buru ke ruang bawah tanah tanpa mengganti pakaian kerjanya. Tristan masih memakai kemeja dan menggulung lengannya sampai siku.


Cekrettt


Pintu terbuka menampilkan keadaan di ruang sempit, pengap serta gelap itu. Kimy terlihat menekuk lututnya di pojokkan, wajahnya ia tenggelamkan di sana. Terlihat nampan dan piring berserakkan di lantai dengan makanan yang bercecer kemana-mana.


"Apa yang terjadi?.." setelah menutup pintu Tristan masuk. Ia yakin Kimy belum memakan makanannya "Kau membuang makananmu Kimy?.."


Tristan mendekat dan menarik wajah Kimy supaya melihat ke arahnya "Lihat aku, kau membuang makananmu, kau mau mati?.." Tanya lelaki itu dengan kasar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2