
Malam itu tidak seperti biasanya. Kimy ikut menyiapkan makan malam bi Ana. Ia menata makanan bi Ana itu di meja makan. Kimy terlihat serius, bahkan ia tak menyadari sesekali bi Ana melirik ke arahnya.
"Bibi ini sudah selesai, tinggal nunggu Gilang turun buat makan malam" Kata Kimy dengan senyuman di wajahnya.
"Biar saya panggil saja ya Nya bapak, takutnya bapak ndak tahu kalau Nyonya menunggu"
Bener juga pikir Kimy, karena selama ini mereka tidak pernah makan malam berdua di rumah.
"Boleh bik" jawab Kimy sambil mengangguk.
Lima menit setelah bi Ana memanggil, Gilang pun turun. Lelaki itu terlihat masih memakai baju yang sama seperti tadi siang.
Kimy yang tadinya sibuk dengan ponselnya pun mendongak melihat kedatangan lelaki itu.
Kimy mengernyitkan keningnya.
"Lang, kamu sudah tidur ya?" Tanya Kimy melihat raut muka Gilang khas orang bangun tidur. Mata lelaki itu sedikit merah. Ia juga meneliti penampilan Gilang yang tidak segar seperti biasanya.
"Aku ketiduran tadi Kim" jawab Gilang sambil meneliti menu yang ada di atas meja. Mata lelaki itu langsung berbinar.
"Wahh.. Siapa yang masak, enak ini kayaknya" seru Gilang dengan semangat.
"Ya bibi lah yang masak, aku kan enggak bisa masak. Aku cuma bantu nata di meja aja"
"Makasih ya Kim" Kata Gilang lalu mendudukkan tubuhnya.
Kimy mengangguk, ia mengambil piring dan mengambilkan nasi untuk Gilang. Itu reflek di lakukanya karena dulu Kimy pun melakukan seperti itu saat mereka masih pacaran.
"Mau lauk apa?" Tanya Kimy.
Gilang yang masih melongo karena di ladeni sama istrinya itupun sedikit terkejut "Emm.. Semuanya. Maksudnya ayam sama telur dan sayurnya juga" jawab Gilang dengan senang.
Setelahnya, mereka berdua pun makan bersama dalam keheningan. Hanya suara dentuman piring dan Sendok saja yang terdengar. Kimy dan Gilang memulai makan mereka benar-benar seperti orang asing saja.
"Maaf pak" suara bi Ana menginterupsi makan malam mereka.
"Ada apa bi?"
"Itu sore tadi ada yang antar foto katanya di suruh bapak" Kata bi Ana menunjuk sebuah kotak besar di sudut ruangan.
"Oh iya.. Makasih ya bi tadi siang saya yang nelpon mereka memang" jawab Gilang ramah.
"Foto apa Lang?" Tanya Kimy sambil menoleh melihat benda itu.
"Itu foto pernikahan kita Kim. Kamu nggak keberatan kan, kalau aku panjang foto pernikahan kita"
Kimy membatu di tempatnya. Makanan yang ada di mulutnya jadi susah tertelan. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Dan ia juga tidak tahu kalau akan ada foto pernikahannya dengan Gilang di rumah itu.
"Kim." panggil Gilang.
"Em.. Terserah kamu aja" jawab Kimy akhirnya. Hanya sebuah foto, tak berarti apapun bagi Kimy. Dia meyakinkan diri sendiri seperti itu.
Setelah makan malam selesai, kedua pasangan suami istri itupun masuk ke kamarnya masing-masing saling mengistirahatkan hati dan pikirannya dari segala aktivitas yang ada.
Beda halnya dengan Kimy yang sudah langsung pergi ke alam mimpi. Gilang masih belum bisa tidur di kamarnya. Lelaki itu dari tadi siang tidak bisa tidur. Ia berbohong pada Kimy kalau bangun tidur.
Nyatanya Gilang memendam sakitnya sendirian. Sejak kejadian hidungnya yang tiba-tiba mimisan tadi siang, Gilang merasakan perutnya sedikit demi sedikit mulai terasa sakit hingga sekarang. Ia tidak bisa menyimpulkan apapun, karena yang ada di pikiranya saat ini memang hanya karena ia kecapean saja.
__ADS_1
Lelaki itu merebahkan tubuhnya perlahan sambil menahan perutnya yang sakit. Matanya mulai menerawang ke atas. Ia memikirkan hubungannya dengan Kimy yang mulai membaik. Hingga perlahan matanya bisa menutup dengan sempurna, lelaki itu akhirnya bisa tidur.
**
"Bagaimana?" Tanya Dony pada seorang lelaki yang duduk di sofa apartemenya. Lelaki itu masih terlihat muda, sekitar berumur 22 tahun, Namanya Leo.
Leo melempar sebuah map di meja depan Dony.
"Lihat saja sendiri" jawab lelaki muda itu.
Dony menatap tajam Leo yang bersikap kurang ajar itu. Tapi setelahnya, Dony hanya menggeleng saja, ia tahu kalau Leo memang seperti itu. Gaya Leo seperti anak yang suka ngerab, bersikap acuh, tidak sopan dan seenaknya. Di balik penampilan yang selengek an itu, siapa menyangka Leo adalah seorang hacker handal.
Dony memajukan tubuhnya untuk mengambil map yang ada di meja itu. Perlahan ia membuka map itu satu persatu.
Mata Dony memicing menatap Leo.
"Si*lan.. bukan Damian-damian idiot ini kan pelakunya" Tanya Dony penuh arti, setelah membaca biodata pemilik nomor ponsel itu.
"Baca saja terus jangan banyak nanya" jawab Leo tanpa memperdulikan tatapan tajam Dony.
Dony pun membuka halaman berikutnya map itu. Dan terlihat mata Dony melebar seketika. Ia membatu sebentar, lalu beralih menatap Leo.
"Laki-laki itu yang melakukan peretasan di sistem pesawat bos" Kata Leo menjelaskan.
Dony tak menjawab, ia masih sedikit shock. Kemudian terlihat ia menutup mata sebentar lalu menghembuskan nafas beratnya.
"Jadi dia tahu" seru Dony pelan.
Setelah kepergian Leo, Dony terlihat mondar-mandir di dalam unit apartemenya. Ia akui memang sedikit lengah. Tapi semua sudah terjadi, bagaimana lagi. Tapi lelaki itu sedikit bingung setalah tahu pelakunya. Dia harus bagaimana. Tidak mungkin lapor polisi, noo dia dan Tristan paling anti sama yang namanya polisi. Dan kalaupun lapor polisi justru ia akan bunuh diri di sana, mengingat seberapa banyaknya kejahatan yang Tristan dan ia lakukan dulu kala.
Dony menghembuskan lagi nafas beratnya. Apa ia harus memberi tahu Nadine soal ini. Oh tentu tidak, wanita bar-bar itu cukup bahaya kalau tahu. Bisa terjadi perang dunia sampai tujuh turunan nanti.
**
"Nanti pulang jam berapa aku jemput ya?" Kata Gilang sembari sibuk dengan kemudinya.
Kimy menoleh sebentar, lalu kembali lagi fokus ke jalanan. "Aku ada urusan sama Dony pulang kerja nanti--"
"Dony?"
Kimy mengangguk sebagai jawaban.
"Kalian sedekat itu Kim?" Tanya Gilang dengan sesekali menoleh pada Kimy.
"Dia Asistenku sekarang, Aku banyak belajar darinya" jawab Kimy sekenanya tapi memang itu kenyataannya.
"Ck.." Gilang berdecak kesal dan Kimy menyadari itu.
"Aku akan menjemputmu nanti" Kata Gilang lagi saat sudah sampai di depan kantor Kimy.
Sebelum Kimy keluar ia menoleh sebentar "Aku kan sudah bilang--"
"Aku akan menunggu sampai urusanmu sama Dony selesai" jawab Gilang tanpa menoleh pada Kimy dan Kimy sudah hafal betul tabiat Gilang itu, kalau sudah begitu tidak bisa di bantah lagi. Karena Kimy malas berdebat akhirnya ia pun memutuskan keluar dari mobil Sport Gilang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Setelah Kimy keluar, lelaki itu langsung melajukan mobilnya lagi menuju kantornya.
**
Siang itu Gilang sedang meeting, tapi pikirannya sama sekali tidak fokus. Kali ini bukanlah Kimy penyababnya, melainkan perutnya yang semakin sakit. Sesekali Gilang mengelus perut ratanya itu di balik meja tanpa satupun orang menyadarinya.
__ADS_1
Setelah rapat selesai Gilang masih belum beranjak dari tempatnya. Ia sempat memejamkan matanya sejenak sambil tetap duduk di tempatnya.
Cklek
"Aku cariin ternyata masih di sini" seru Septian dengan membawa beberapa map. Lelaki itu langsung masuk menghampiri Gilang.
Gilang segera mendongak mendengar suara Septian, Lelaki itu membuka matanya.
"Kau kenapa?"
Gilang menggeleng singkat tanpa menjawab pertanyaan Septian.
"Wajahmu pucat, kau sakit?"
"Cuma sakit perut" jawab Gilang sambil membolak-balik map yang tadi septian bawa, dan tergeletak di meja depannya.
"Kalau sakit pulang aja, biar ini aku yang urus" Septian merebut map yang Gilang pegang.
"Kau kira aku anak SD yang sakit terus di izin in pulang sama gurunya" Gilang kembali merebut map dari tangan Septian itu.
"Terserah kau saja. Oh ya, kemarin ada tawaran talk show, mereka rencananya mengundangmu dan Kimy. Gimana?"
Gilang melotot ke arah Septian "Serius kau tanyakan ini padaku?"
"Aku kan cuma nanya, apa salahnya. Siapa tahu kalian setuju. Kalian kan dulu sempat menjadi pasangan terpopuler, apa nggak mau mengulang lagi sejarah yang sama" Kata Septian yang tentu saja hanya untuk menggoda Gilang.
"Hehe.. Cuma bercanda" Kata septian lagi saat mendapatkan tatapan horor dari Gilang.
"Cepat mana yang harus ku tandatangani, nanti aku pulang lebih cepat karena menjemput istriku"
"Heemm.. Ya ya yang sekarang sudah beristri" jawab septian menunjukan halaman-halaman yang harus Gilang tanda tangani.
**
Wanita berkaca mata tebal itu begitu fokus pada layar komputer. Sesekali ia menggerutu karena dari tadi pekerjaannya tidak kunjung selesai.
Riana, wanita berambut ikal dan berkaca mata tebal itu sudah seminggu terakhir ini menjadi sekretaris Kimy. Tidak ada yang istimewa dari wanita itu. Ia malah sangat sederhana untuk ukuran seorang sekretaris di perusahaan sebesar Abraham Corporation. Tapi entah kenapa, Kimy lebih sreg dengan Riana dari pada wanita-wanita yang berpenampilan seksi lainya.
"Riana.. ikut aku makan siang yuk" Kata Kimy yang berdiri di depan meja sekretarisnya itu. Riana yang tidak tahu kedatangan Kimy sedikit terkejut.
"Oh bu Kimy.. Tapi pekerjaan saya belum selesai bu" jawab Riana dengan suara sedikit bergetar.
"Enggak apa-apa, makan dulu aja. Ayo.."
"Tapi bu--"
"Sudahlah Ri.. Ayo" ajak Kimy lagi.
Dengan berat hati Riana pun mematikan komputernya dan mengikuti Kimy. Mereka berdua pun di antar sopir makan di restoran yang tidak begitu jauh dari kantornya.
Setelah sampai keduanya pun memesan makanan, sambil menunggu makanan, keduanya mengobrol masalah pekerjaan. Kimy sesekali bertanya tentang latar belakang sekretaris barunya itu. Siapa tahu Riana biasa menjadi teman barunya, mengingat Kimy tidak punya teman di kantor. Hanya Dony dan Dony saja yang menjadi teman bicaranya selama ini. Lelaki itu juga sepertinya semakin over protektif dalam menjaganya. Kimy selalu di larang berbicara dengan orang yang tak berkepentingan denganya.
Saat keduanya tengah asyik makan tiba-tiba Nadine menghampirinya "Bisa kita bicara!!"
**
Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.
__ADS_1
Selamat membaca
❤️❤️❤️❤️