
Tristan membawa Kimy ke sebuah rumah mewah yang dia sewa selama di New York. Ia menggenggam tangan Kimy erat. Kali ini tekadnya sudah bulat akan membawa Kimy pulang ke Indonesia dan segera menikahinya.
" Lepas, apa kau mau menculikku lagi.." Kimy menarik paksa tangannya namun sedetikpun Tristan tak bergeming. Dia tetap menggenggam tangan Kimy semakin erat. "Rumah siapa ini?.."
" Selama di New York kita akan tinggal di sini.." jawab Tristan.
" Kita, kau bukan kita. Aku akan tetap tinggal di tempatku.."
Tristan menempelkan tubuh Kimy pada tembok dan mengurungnya "Aku benci kamu bersikap formal terus padaku Kim. Aku siapa?.."
"Kenapa ada yang salah?.."
"Aku tunangan mu, calon suamimu ingat itu.." Kata Tristan penuh penekanan. "Kamu taruh di mana cincinmu?.."
"Sudah ku bilang, aku membuangnya.."
"Kimmmyyy.." rahang Tristan mengetat, rasanya kesabarannya benar-benar sudah habis saat ini "Oke baiklah, nanti kita akan beli lagi. Cincin pernikahan kita.."
"Kau gila.."
Tristan menatap lurus mata Kimy, tatapan yang sangat tajam hingga dia bisa melihat bayangannya dimata wanita itu. Semenit, dua menit Tristan terus menatap Kimy tanpa kata.
Tristan oh Tristan, tatapanmu yang dingin ini bisa membuatku gila. Sial*n kenapa bisa aku mencintai laki-laki gila ini.
" Katakan kamu tidak mencintaiku.." Kata Tristan pelan dengan pandangan yang masih sama. Kimy tak menjawab tentu saja. Bahkan anak kecilpun tahu kalau dia mencintai lelaki itu. Kimy tak bisa berbohong. Mata, hidung, bibir dan semua yang ada pada Tristan membuatnya benar-benar gila. Dengan sepihak Kimy mencoba memutus pandangannya. Namun Kimy tak mampu. Ya dia tak mampu harus berpura-pura tidak jatuh cinta. Dia tak mampu harus berjauhan lagi dan lagi. Sudah cukup satu tahun ini.
"Br*ngsek.." Kimy mendorong dada Tristan, namun sebaliknya Tristan justru mencium bibir Kimy dengan rakus. Kimy tak menolak, Mereka berciuman dengan rakus, sama-sama meluapkan kerinduan yang selama ini terpendam. Hari itu mereka menghabiskan waktu berdua sampai malam tiba.
Pukul 23.00 Kimy terbangun, saat matanya terbuka pikirannya masih belum sepenuhnya sadar. Di lihatnya langit-langit yang tak dikenalinya. Seketika otaknya melayang terlintas apa yang telah dia dan Tristan lakukan sejak siang sampai selarut itu. Dan terjadi lagi, pertahanananya runtuh lagi. Kimy membuang nafas kasar, mencoba banngun dan dia melihat tubuhnya yang polos terbungkus selimut tebal.
"Kimy, you idiot.." ucapnya pelan. Segera dia bangkit dan meraih kemeja putih Tristan yang tergeletak di lantai. Kimy memakai kemeja itu dan berjalan keluar kamar.
Tristan dan Dony melihat Kimy turun dari tangga. Tristan mengetatkan rahangnya melihat Kimy hanya memakai kemejanya Tanpa memakai daleman, terlihat dari kancing yang tak terpasang sempurna. Tristan melirik Dony, terlihat dony juga memperhatikan Kimy. "Jaga matamu Don.."
"Yang benar saja anda cemburu padaku 😁.."
"Jangan banyak bicara. Paling kan mukamu jangan kau tatap Wanita ku.."
"😁😁Aku senang akhirnya kalian bersama lagi, selamat.."
__ADS_1
"Simpan ucapan selamatmu, palingkan mukamu bajing*an.."
"Hahahaha.." Dony terbahak.
"Hey Don.."
"Hay nona.."
"Apa yang kamu lakukan Kimy.."
"Apa?.." Kimy di buat bingung dengan pertanyaan Tristan.
"Yang benar saja kamu tidak memakai daleman sayang.."
"Sssttt.. Tristan diam.." Kimy menutup mulut Tristan dengan tangannya. Tak kalah akal Tristan pun menarik Kimy hingga terduduk di pangkuannya. Dony yang melihat nya pun hanya tersenyum simpul.
"Lepas aku mau duduk sendiri.." Kimy beranjak dari pangkuan Tristan dan duduk di sebelah lelaki itu.
"Apa kamu lapar?.."
"Jam berapa sekarang?.." Tanya Kimy yang tak tahu waktu.
"Tengah malam sayang.."
"Kamu kecapean Kimy.."
"Ehemm.." Dony berdehem supaya bosnya itu tidak melanjutkan kata-katanya tapi Tristan tentu saja masa bodoh.
"Aku mau pulang.."
"Pulang kemana bukanya aku sudah bilang kita akan tinggal di sini.."
"Tristan jangan gila. Aku bukan pengangguran, besok aku ada kerjaan.."
"Tidak ada yang lebih gila dari aku sayang. Aku sudah mengurus semua kerjaan kamu.."
"Maksudnya gimana?.."
"Ehm.. Maaf saya permisi dulu.." Dony tahu kalau akan ada perdebatan panjang, dia memilih undur diri dari situasi itu.
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain, seorang lelaki berdiri di balik jendela rumah mewahnya. Lelaki itu memegang wine di tangannya. Salah satu sudut bibirnya terangkat. Dia tersenyum devil. "Nikmatilah dulu kebersamaan kalian.."
**
" Jadi kamu akan pulang ke indo.." Tanya Ronald pada Kimy yang di rangkul posesif oleh Tristan. Saat ini Kimy dan Tristan berada di kantor Ronald. Mereka bertiga sedang duduk di sofa yang berada di ruangan Ronald "Apa tidak sayang karirmu lagi bagus di sini kim.."
"Iya kak.."
"Tidak ada yang bagus di sini untuk Kimy, tempat dia di sampingku Nal.." Kimy menatap tajam Tristan yang di balas tatapan cinta dari Tristan.
"Ck.. ucapan playboy mana bisa di percaya.." jawab Ronald cuek tanpa menatap Tristan, dia hanya memainkan bolpoin di tangannya dan menatap benda itu. "Ngomong-ngomong kau sekarang banyak berubah Tan. Sekarang kau sudah bisa tersenyum. Apa beban di hatimu sudah hilang? Tristan yang dingin seperti es itu sudah mencair.."
Mendengar omongan Ronald hati Kimy terenyuh. Apa maksud kakak sepupunya itu. Apa Ronald tahu, tidak. Kimy sangat yakin Ronald tidak tahu apa-apa. Kalau Ronald tahu pasti dia sudah menghajar Tristan, bahkan bisa jadi membunuh kekasihnya itu. Melihat Kimy khawatir Tristan menggenggam erat tangan kimy.
"Baiklah Nal aku rasa cukup, mungkin besok aku akan membawa Kimy kembali. Terima kasih sudah menjaganya selama di sini.." Kimy menyadari perubahan sikap kakak sepupunya itu terhadap Tristan. Kimy ingat dulu saat pertama kali dia membawa Tristan ke rumahnya Ronald sangat wellcome terhadap Tristan dan mereka terlihat sangat dekat dulu. Tapi sekarang Kimy melihat Ronald tak banyak bicara dengan Tristan, dia juga terlihat tak mau menatap muka kekasihnya.
"Tentu aku menjaganya, dia putri kesayangan momy. Oh ya kau tidak mau mampir dulu ke rumahku. Tapi sekarang sudah tidak ada momy yang menyiapkan makanan lagi.."
"Kak.." Kimy menghampiri Ronald dan memeluk lelaki itu. Tristan hanya mengetatkan rahangnya mendengar apa yang di ucapkan Ronald.
Maaf Nal, hanya itu yang bisa ku ucapkan.
"Baiklah pulanglah.." Ronald melepas paksa tubuh Kimy yang masih memeluknya. Ia berdiri dan berjalan menjauhi Kimy. Lelaki itu melihat ke luar kantor melalui jendela besar, mengabaikan Kimy yang masih menangis dan Tristan yang masih duduk di tempatnya.
Tristan memandangi Kimy yang masih menangis, dia pun membuang nafas kasar. Dia benci melihat Kimy menangis. Dia akan membuat perhitungan pada siapun yang sudah membuat kekasihnya itu menangis. Dia bangkit menghampiri Kimy "Its oke kita pulang hmm.." Tristan membelai lembut punggung terbuka Kimy.
"Tapi kak Ronald.." jawab Kimy pelan. Tristan menggeleng pelan. Memberi tanda agar Kimy tak melanjutkan bicaranya. Tristan menggenggam tangan Kimy bersiap untuk meninggalkan ruangan itu "Aku dan Kimy pulang Nal. Kalau ada sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku, nomor ponselku masih sama.." katanya dengan tatapan tajam sambil membawa Kimy keluar dari ruangan itu. Tak sedikitpun Ronald bergeming. Dia diam seribu bahasa. Hanya rahangnya yang terlihat mengeras entah menahan apa.
Saat perjalanan pulang Kimy tak henti-hentinya membicarakan Ronald." Ada sesuatu Tristan, kak Ronald tidak pernah begitu. Kamu lihat sikapnya kepadamu, bukankan dulu dia begitu dekat denganmu.."
"Kimy berhenti membahas masalah ini.." jawab Tristan sambil mengemudikan mobilnya. "Aku tidak mau membahas sesuatu yang membuatmu sedih. Ujungnya kamu menangis dan aku benci itu.."
" Tristan kenapa sih tidak sedikitpun kamu merasa bersalah setidaknya bersimpati atas kematian tante.." Kimy berteriak " Oh ya aku lupa bagaimana mungkin kamu merasa bersalah..ck.." Kimy masih menangis dengan sedikit tersenyum getir, membayangkan kenyataan kalau pria di sampingnya itu yang sudah merenggut nyawa tantenya.
Mendengar itu Tristan mengusap kasar wajahnya dan menepikan mobilnya. Dia mencoba mengatur emosinya sejenak dan menoleh pada Kimy "Sampai kapan bahas ini terus. Kita sudah membahasnya kemarin sayang, aku tidak mau berdebat lagi dengan masalah yang sama.." Tristan mencoba menahan suaranya selembut mungkin.
Kimy menatap tajam Tristan "Selamanya, masalah ini yang akan menghantui hubungan kita selamanya Tristan. Ini masalah nyawa manusia Tristan, nyawa. Tanteku yang mati kamu tahu Tanteku.." teriak Kimy lagi dengan derai air mata.
"Huh.." Tristan membuang nafas kasarnya "Kamu membuatku gila Kimy. Lalu apa yang harus aku lakukan, apa katakan. Berhenti menangis Kim. Aku benci melihatmu menangis, Itu membuat darahku mendidih kamu tahu.."
__ADS_1
"Darahmu mendidih heh, hanya melihatku menangis darahmu mendidih. Kamu tidak merasakan di posisiku Tristan. Aku bingung, di sisi lain dia tante dan aku harus pura-pura tidak peduli.." Kimy semakin berteriak.
Tristan mengetatkan rahangnya, dia mencengkeram stir mobil dengan tangannya. Ingat Tristan bukanlah lelaki yang penyabar sebelum mengenal Kimy. Dia lelaki gila karena kerasnya kehidupan yang dia jalani. Kalau sekarang dia terlihat lemah bukan berarti sifat gilanya sudah hilang, tetapi demi Kimy dia berusaha berubah. Lelaki itu juga sedang berperang dengan batinnya. Antara penyesalan dendam dan cinta. Tapi Kimy mana peduli dengan yang Tristan rasakan. Kimy terus menerus menodong Tristan dengan kesalahan yang dia lakukan.