BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Nadine berulah


__ADS_3

Kedua wanita cantik itu saling duduk berhadapan, saling menatap tajam, dan saling menunjukan rasa kebencian. Siapa lagi kalau bukan Kimy dan Nadine.


Saat ini mereka masih berada di restoran itu, hanya saja mereka sudah pindah ke ruang VIP yang berada di dalam ruangan tertutup. Sedangkan Riana, gadis itu masih dengan setia makan di tempatnya tadi sambil menunggu Kimy.


"Cepat katakan, aku enggak punya banyak waktu" suara Kimy terdengar nyaring di telinga Nadine.


Seketika Nadine terseyum mengejek.


"Kau sibuk mengurusi perusahan calon suamimu yang mati, dan kau sendiri malah menikahi lelaki lain" Kata Nadine tanpa basa basi.


"Kalau aku jadi kau, aku sudah tidak punya muka" ejeknya lagi.


Kimy tak menghiraukan kicaun Nadine itu, sudah biasa bagi Kimy mendengar itu dari mulut Nadine. Kimy justru akan aneh ketika wanita di depannya itu bersikap baik padanya seperti saat pertama kali kimy kembali ke Indonesia.


"Aku tebak kau kesal padaku, karena aku menikah dengan Gilang" jawab Kimy dengan senyum penuh kemenangan. Kimy tidak mau di depan musuh bebuyutanya itu terlihat lemah dan kalah. Sedikit melebih-lebihkan tidak masalah bagi Kimy, asal wanita di depannya ini merasa kepanasan.


Nadine diam tak menjawab, namun mukanya kentara sekali sangat kesal pada Kimy.


"Aneh.. Kau sudah punya Dony kenapa kesal aku menikah dengan Gilang"


"Aku kesini tidak akan membahas masalah itu" putus Nadine karena hati sudah panas.


"Lalu.." Tanya Kimy.


"Tentu saja membahas sesuatu yang lebih menarik. Misalnya saja calon suamimu itu mati dengan tidak wajar--"


"Maksudmu apa?" Sela Kimy dengan mencengkram kedua tangannya kuat. Ia rasanya tidak rela kalau ada yang menyebut Tristan sudah mati.


"Tidak usah marah.. apa kau tidak penasaran bagaimana seorang Tristan yang hebat bisa mati begitu saja. Apalagi matinya sebelum acara pernikahan kalian" Nadine bicara dengan gerakan lambat sambil memainkan ujung rambutnya yang panjang.


"Kau bicara tidak masuk akal" seru Kimy meremehkan.


"Ibu mertuamu tahu segalanya, kau tidak penasaran padanya?"


Kimy memicingkan kedua matanya "Mama Sinta?"


"Iya siapa lagi ibu mertuamu"


"Maksudmu apa *****, katakan jangan bertele-tele" teriak Kimy.


Nadine geli mendengar panggilannya yang di tujukan untuknya itu. Harusnya panggilan itu cocoknya untuk kimy, pikirnya.


"Kau tahu, sebelum kecelakaan itu terjadi aku menemani Dony menemui pengacara Tristan. Aku mendengar Dony menyuruh pengacara itu menulis wasiat, Tristan memberikan seluruh hartanya padamu Kimy--"


Kimy diam tak menjawab, ia menunggu Nadine melanjutkan ucapannya.


"Aku jadi curiga kenapa kau bisa menikah dengan Gilang secepat itu ya.. Padahal kalian tidak pernah bertemu sebelumnya" Nadine pura-pura berfikir.


Kimy masih tidak mengerti dengan ucapan Nadine itu. Otaknya susah sekali mencerna rasanya. Emosi lebih cenderung menguasai pikirannya saat ini.


"Aku kasih tahu ya Kimy sayang.. Jujur saja, aku sempat memberi tahu tante Sinta mengenai wasiat Tristan"


Kimy mengerutkan wajahnya.


"Ahh.. Kau lambat sekali dalam berfikir. Aku kira tante sinta mungkin sengaja membuat kecelakaan itu terjadi, lumayankan kalau anak tirinya mati, kau bisa menikah dengan anak kandungnya. Dan sepertinya dugaanku benar.. Kalau tidak, kenapa bisa kalian menikah secepat itu. Atau kalian sudah selingkuh sebelumnya? Hehe.." Nadine menertawakan Kimy.


Kimy masih diam tak menjawab, ia seperti menyatukan sebuah puzzle. Sangat rumit..

__ADS_1


Kimy tidak gampang percaya dengan ucapan Nadine. Ia tahu kalau pernikahanya dengan Gilang bukan terjadi karena itu. Pernikahan itu terjadi karena dia hamil dan Nadine belum menyadari kehamilanya ini. Lalu bagaimana bisa Nadine menuduh Sinta. Pikirannya Kimy buntu rasanya.


Beda dengan pikiran Kimy, Sebenarnya Nadine tidak ada niat memberi tahu Kimy tentang semua ini. Tapi hatinya sangat sakit hari ini ketika mengetahui kehamilan Kimy. Hatinya benar-benar hancur.


Sebenarnya sebelum bertemu Kimy, Nadine datang dulu ke kantor Gilang. Seperti biasa ia tidak pernah memberi kabar Gilang akan kedatangannya. Tetapi saat sampai di kantor Gilang, Nadine justru di kejutan sebuah fakta kalau Kimy sedang hamil. Tidak sengaja ia mendengar perkataan sepetian yang mengatai Gilang sudah tua karena akan segara menjadi seoarang ayah. Gilang juga terlihat bahagia, Nadine juga mendengar Gilang bicara kalau ia tidak sabar lagi menunggu kelahiran anaknya.


Hati Nadine bagai di tusuk sebuah pisau. Ia langsung berfikir akan memberi tahu Kimy masalah Sinta yang ikut terlibat dalam kecelakaan Tristan. Kimy wanita murahan bagi Nadine. Ia tidak rela, Kimy selalu menang dan bahagia sedangkan dirinya.. Baru juga sebulan Tristan mati, ia sudah menikah dengan lelaki lain dan sudah hamil pula. Apa namanya kalau bukan wanita murahan , Nadine tidak tahu kalau di dalam perut Kimy adalah anak dari Tristan. Ia mengira itu adalah anak Gilang.


"Hah.. Kau tidak tahu apa-apa *****, kau pikir aku percaya" jawab Kimy akhirnya.


Nadine sempat mengumpat dalam hati, ternyata mempengaruhi Kimy tidak semudah itu. Benar juga kata Sinta, Kimy sudah terlanjur benci denganya, apapun yang di katakanya pasti ia tidak akan percaya.


"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi kau harus tahu, tante Sinta tidak setulus itu terhadap Tristan. Kau bisa tanyakan saja langsung, apa dia ada hubungannya dengan kecelakaan pesawat itu"


Kimy diam lagi, sebenarnya hati kecilnya saat ini bimbang antara percaya atau tidak. Mengingat perbuatan Sinta terhadap Tristan selama ini tidak main-main.. Tapi kalau di suruh percaya 100% dengan makhluk yang berada di depannya ini juga sedikit agak susah.


"Aku tahu kau meragukan ucapanku Kimy. Tapi coba bukalah matamu lebar-lebar, tante Sinta bisa melakukan apapun untuk Gilang. Kau tahu Gilang hampir mati karena berpisah darimu, tubuhnya memang hidup tapi jiwa raganya sudah mati. Kau pikir, orang tua mana yang tega melihat anaknya seperti itu sayaaang.. Baiklah kalau kau tidak percaya, tanyakan pada Dony. Dia sedang membantuku menyelidiki sesuatu"


"Dony tahu "


"Yesss.. Dony tahu"


**


Kimy berjalan dengan langkah lebar menuju mobilnya. Bahkan ia mengabaikan Riana yang sedari tadi menunggunya. Wanita itu seakan lupa dengan apapun saat ini. Dia begitu geram, marah, kesal menjadi satu. Tujuannya kali ini adalah rumah Sinta.


"Ke rumah mama Sinta pak" ucapnya pada sopirnya.


Mobil sedan mewah itu pun meninggalkan pelataran restoran. Nadine yang melihatnya di serambi restauran pun tersenyum puas sekarang. Akhirnya ia bisa mempengaruhi Kimy. Ia akan sangat senang melihat pertikaian antar menantu dan mertua itu dan tentu saja, sebentar lagi juga akan ada pertikaian antar anak dan ibu. Nadine tersenyum bangga pada dirinya sendiri saat ini.


**


Kimy baru turun dari mobilnya, namun Sinta bisa melihat menantunya itu dari balkon tempatnya berdiri saat ini. Sinta segera berlari kecil untuk menemui Kimy di bawah sebelum bertemu dengan suaminya Teddy. Bisa bahaya.. melihat dari raut muka Kimy, Sinta sudah bisa memastikan menantunya itu dalam kondisi yang buruk saat ini.


"Kim--" suara Sinta tertahan di tenggorokan ketika melihat Kimy dan Teddy berbicara di depan pintu utama.


Wanita itu terlihat menetralkan kondisi jantungnya saat ini sambil berjalan perlahan menghampiri kedua orang itu. Bukan dua tapi tiga, karena Hendra asisten suaminya itu juga berdiri di sana.


"Iya pa terima kasih.." samar-samar Sinta mendengar suara Kimy yang mengucapkan terima kasih kepada suaminya.


Sinta membuang nafas kasarnya, lalu tersenyum dan berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya, ia mendekati mereka bertiga.


"Sayang.. Kimy.. Kejutan sekali kamu datang nak" sapa Sinta yang langsung memeluk menantunya itu.


Kimy yang tak siap dengan kehadiran Sinta itupun hanya tersenyum yang terlihat sekali di paksakan. Ia membalas pelukan Sinta.


"Ya sudah.. Kamu masuk dulu, papa ada urusan" Kata Teddy pada Kimy.


Kimy melepas pelukannya dan beralih menatap Teddy "Iya pa.. Hati-hati di jalan" ia pun mencium tangan Teddy. Setelahnya Teddy berlalu bersama dengan hendra tanpa pamit pada Sinta, ia mengabaikan wanita itu.


Sinta mendengus kesal, bisa-bisanya Teddy mengacuhkan dirinya di saat Kimy ada di hadapanya.


"Ayo sayang.." Sinta menarik tangan Kimy untuk masuk ke dalam rumah.


"Ma.."


"Ada apa Kim, kenapa tegang begitu, wajahmu pucat. Kamu sakit?"

__ADS_1


Kimy menghindari sentuhan Sinta..


**


Di tempat lain Teddy sedang berhadapan dengan Nadine saat ini. Wanita itu hanya menunduk kaku berada di depan Teddy. Selama ini Nadine tidak pernah berhadapan secara langsung dengan Teddy. Badannya sedikit gemetar seperti di kuliti oleh lelaki itu.


"Katakan apa yang kamu ketahui tentang kecelakaan Tristan?" Nadine sangat terkejut mendengar pertanyaan lelaki yang aura nya tak kalah menakutkan dari Tristan itu.


"Kau tuli?"


Nadine mendongak, memberanikan diri menatap lelaki di depannya itu. Di sebelah Teddy ada Hendra yang berdiri seperti sebuah patung. Sungguh jantung Nadine seperti mau copot rasanya. Mimpi apa dia hari ini di datangi oleh dua lelaki dewasa yang menakutkan itu.


"S-saya t-tidak tahu apa-apa om" jawab Nadine dengan suara bergetar.


Sungguh selama bertahun-tahun bersahabat dengan Gilang baru kali ini ia berinteraksi dengan Teddy. Ternyata benar, Teddy semenakutkan itu, pantas saja Gilang tidak pernah menceritakan lelaki yang katanya adalah ayahnya itu.


"Kau pikir kenapa aku bisa mendatangimu ke sini, jangan buang-buang waktuku cepat katakan, siapa yang merencanakan kecelakaan Tristan. Aku tahu selama ini kau berhubungan baik dengan Sinta. Kau pikir aku tidak tahu"


Nadine menggeleng beberapa kali, ia ingin mengatakan kalau bukan dirinya yang terlibat. Tapi mulutnya seperti kelu, tidak bisa mengeluarkan suara.


"Aku bisa menghancurkan perusahaan orang tua mu dan gellery mu ini--"


"Saya benar-benar tidak tahu om" ucap Nadine cepat dengan air mata sudah berderai, entah sejak kapan air mata membasahi pipinya.


Teddy seperti memberi aba-aba pada Hendra. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu, sebuah nomor ponsel orang, yang Nadine sendiri belum tahu siapa pemiliknya.


"Kau tahu nomor siapa itu kan?"


Nadine melihat ke arah nomor di ponsel yang hendra sodorkan padanya.


Nadine menggeleng lagi "Saya tidak tahu om sumpah.. Dony masih menyelidiki"


Pandangan tajam Teddy meredup ketika mendengar nama Dony. Asisten anaknya itu bukan lelaki sembarang, jadi Dony sudah tahu. Pikir Teddy.


"Saya akan tanyakan nanti sama Dony, saya minta bantuan sama Dony untuk mencari tahu om" Kata Nadine lagi masih dengan suara yang bergetar.


Hendra membisikkan sesuatu pada Teddy, pupil mata Teddy langsung terlihat membesar ketika Hendra membisikkan sesuatu padanya.


"Kau.. Berani sekali mengatakan semua ini pada Kimy" ucapan Teddy menggelegar di seluruh ruangan. Nadine bergetar, ia sangat ketakutan. Dari mana Teddy tahu, Bukankah dia baru saja memberi tahu Kimy. Apakah secepat itu seorang Teddy tahu. Atau Kimy yang memberi tahu lelaki itu.


Nadine beberapa kali menggelengkan kepala, sambil mengusap air mata yang terus mengalir.


"Aku peringatkan kau, jangan berani lagi kau bawa Kimy dalam masalah ini atau ku habisi kau anak ingusan"


Nadine masih terus menunduk tak berani menatap mata Teddy barang sedetik pun. Lelaki itu sungguh mengerikan.


"Aku tidak tahu hubunganmu dengan Sinta seperti apa. Tapi kalau ada bukti kau ikut terlibat, siap-siap kau membusuk di neraka" Kata Teddy lalu Hendra mendorong kursi roda lelaki itu keluar dari ruangan Nadine.


Kaki Nadine terasa lemas, ia menangis sejadi-jadinya setelah kepergian Teddy itu. Wanita itu mencari ponselnya lalu menelpon Dony.


"Donn.." suara Nadine bergetar


**


Jangan lupa like dan komen ya sayang-sayangku.. Like dan komen kalian adalah semangatku.


Selamat membaca

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2