BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Ingatan bintang jatuh


__ADS_3

Hari ini Tristan dan Kimy benar-benar datang ke rumah Teddy. Memang Dony sudah mengatur jadwal untuk Tristan bertemu papa kandungnya itu. Teddy yang mengundang Tristan untuk makan malam itu.


Tristan masih terus menggenggam tangan Kimy sambil mengemudikan mobilnya sendiri karena hari itu mereka tidak di temani sopir, sesekali Tristan mencium punggung tangan wanitanya itu. Kimy hanya tersenyum dengan perlakuan manis calon suaminya itu.


"Apa kamu siap?" Tanya Kimy khawatir, bagaimana pun ini pertama kali dia akan melihat Tristan menemui papanya secara pribadi.


"Kamu cantik" Tristan tidak menjawab malah memuji Kimy, membuat wanita itu mendengus kesal.


"Aku serius Tristan"


"Aku juga sangat serius sayang"


"Terserah" jawab Kimy kesal. Tristan mencium punggung tangan wanitanya "Jangan cemberut"


"Kamu yang bikin" jawab Kimy singkat tanpa menoleh.


"Aku siap sayang, kenapa harus takut." Kimy menoleh melihat wajah datar Tristan yang menatapnya lurus kejalanan itu. Kimy tersenyum "Aku akan selalu di sampingmu apapun yang terjadi Tristan" katanya dengan meraba rahang tegas lelakinya itu, Tristan menoleh dan tersenyum, mengambil tangan Kimy dan menciumnya singkat.


"Mama senang kamu datang sayang, seringlah main ke sini" Kata Sinta dengan memegang salah satu tangan Kimy. Kimy tak menjawab, dia hanya tersenyum kepada wanita paruh baya itu. "Ayo kita langsung ke meja makan saja, papamu sudah menunggu dari tadi" ucap Sinta lagi yang kali ini di tujukan pada lelaki yang berjalan di samping Kimy, siapa lagi kalau bukan Tristan.


"Pa, mereka datang" ucap Sinta kepada suaminya. Teddy yang tadinya sedang membaca sebuah majalah di meja makan, meletakanya dan melihat ke arah anak lelakinya dengan bangga.


"Ayo duduklah di sini" ucap Teddy pada Tristan. Tristan pun mengikuti arah tangan Teddy yang menyuruhnya duduk di dekatnya itu, tentunya dengan menggandeng tangan Kimy untuk ikut duduk di sebelahnya. "Papa senang sekali kalian datang" Kimy tersenyum kepada Tedd, sedangkan Tristan hanya berdehem kecil, tangannya meremas tangan Kimy dengan kuat di atas pahanya. Seketika Kimy menoleh, melihat wajah Tristan yang menegang. Kimy meletakkan tangan satunya di atas tangan Tristan yang meremas tangannya, Kimy mengusap lembut punggung tangan Tristan, seakan mengerti perasaan lelaki itu saat ini.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mengundang kami" jawab Kimy kepada Teddy. Teddy hanya mengangguk mendengarnya.


"Bagaimana keadaanmu, jangan terlalu stres, bekerjalah sewajarnya. Sebentar lagi kau akan menikah. Jagalah kesehatanmu" Teddy mengusap lengan Tristan, namun lelakinya itu tak bergeming sedikitpun. Tristan masih menunjukan muka datarnya. Kimy masih melihat wajah datar kekasihnya itu, lalu dia melihat wajah Teddy dan Sinta bergantian. Sungguh tidak bisa di gambarkan rasanya berada ditengah-tengah keadaan yang seperti itu, waktu seakan berhenti sesaat.


"Maaf saya terlambat" sebuah suara yang familiar membuat Kimy mematung seketika. Kimy dan Tristan terdiam, mereka tak menoleh ataupun menyahut. Bagi Kimy tanpa menoleh pun dia tahu suara siapa itu.


"Kau datang, ayo masuklah" Kata Sinta pada orang itu. Sedangkan Teddy dia sedikit terkejut, namun dia tak mengatakan apapun. Teddy hanya berdehem ringan.


Kimy semakin menggenggam tangan Tristan kuat, ketika matanya menangkap seorang berdiri di depannya. Tepatnya di samping Sinta duduk, berseberangan dengan Kimy. Mata Kimy masih melihat celana jeans yang lelaki itu gunakan. Seperti slow motion, Kimy semakin ke atas melihat sosok itu. Matanya terus keatas, melewati kemeja yang lelaki itu gunakan. Seketika jantungnya bedegub kencang ketika mata tajam lelaki itu menatapnya. Gilang, tidak di sangka mereka akan bertemu saat ini. Mata mereka bertemu, saling menyelami dan seakan saling berbicara.


Apa kabar?


Aku baik.


Bagaimana denganmu?


Aku, seperti yang kamu lihat. Aku juga baik.


Aku dengar kau tidak baik?


Maybe


"Aku tidak menyangka kau datang" suara itu membuat Kimy dan Gilang memutus pandangannya.

__ADS_1


"Mama yang memintaku datang" jawab Gilang sambil menarik kursi dan mendudukinya. Sinta seperti di serang, diapun gelagapan saat itu. "A-aku memang yang meminta Gilang datang pa, itu karena aku ingin dia akur dengan kakaknya. Bagaimana pun mereka saudara kan" Kata Sinta membela diri sebelum diserang oleh Teddy.


Kimy dan Tristan belum bersuara, mereka masih saling mengaitkan tangan mereka dibawah sana. Tristan bahkan semakin erat menggenggam tangan wanitanya itu.


"Kau selalu bertindak semaumu, harusnya kau bilang padaku sebelum menyuruhnya datang" Teddy menatap Sinta dengan kemarahannya.


"Oh maaf, jadi kedatanganku tidak di harapkan?" Gilang bersuara lagi membuat suasana seakan tambah mencekam. "Ck, harusnya dari awal saya tahu kalau anda tidak pernah mengharapkan kedatangan saya" tambah Gilang dengan sinisnya. Hati Kimy perih mendengar itu, Kimy tahu Gilang, Kimy tahu segalanya tentang lelaki itu. Dulu saat mereka masih menjalin kasih, Gilang selalu cerita kalau papanya tidak pernah peduli terhadapnya. Setalah itu Gilang tidak pernah menceritakan lagi tentang papanya kepadanya, bahkan Kimy tidak pernah melihat interaksi antara Gilang dan papanya saat itu dan sekarang setelah sekian lama, setalah hubungan itu berubah, Kimy benar-benar baru tahu kalau hubungan bapak dan anak itu begitu dingin. Bahkan Kimy bisa melihat kalau Teddy lebih perhatian terhadap Tristan tadi.


"Baiklah, saya permisi kalau begitu" saat Gilang mau beranjak pergi Sinta menahan paha anak lelakinya itu supaya tidak berdiri. Bersamaan dengan itu Tristan pun bersuara membuat semua orang menatapnya. "Jadi saya di undang untuk menyaksikan pertunjukan ini?" Kata Tristan dengan nada dingin.


Tristan berdiri dengan tangan yang masih bertautan dengan wanitanya. "Terima kasih sudah mengundang kami, saya harap kalian semua datang di pernikahan saya bulan depan" kemudian Tristan menarik Kimy, membawa pergi wanitanya menjauh dari tempat itu.


"Sudah puas!" teriak Teddy kepada Sinta, istrinya. "Kau selalu membuatku muak!!" tambahnya. Melihat itu, Gilang langsung berdiri meninggalkan orang tuanya "Gilang tunggu" teriak Sinta berdiri mengejar anak lelakinya, mengabaikan kemarahan Teddy.


"Mau kemana nak?" teriak Sinta ketika berhasil menahan lengan Gilang. "Jangan pergi, tidurlah di sini malam ini" pinta Sinta. Gilang tersenyum sinis "Mama kira Gilang bisa tidur setelah melihat semua ini? Apa yang mama harapkan dengan mengundangku datang kesini" Sinta diam sebentar menatap anak lelakinya itu "Mama lakukan ini semua untukmu nak" jawab Sinta. Lagi-lagi Gilang tersenyum sinis "Bukan demi Gilang, tapi demi diri mama sendiri." katanya sambil pergi berlalu dari Sinta.


"Br**ngs*K" Tristan memukul strir mobilnya berkali-kali, Kimy hanya menahan nafas mendengar umpatan lelaki itu. "Sayang sudah jangan marah-marah" ucap Kimy pelan dengan mengelus lengan lelakinya itu. "Dia selalu mencari masalah denganku, lihat" jawab Tristan menggebu dengan kilatan marah di wajahnya. "Aku tahu, dia sedang mengujimu. Kamu tidak boleh kalah sayang, aku tahu mama Sinta sengaja melakukan itu." Tristan menoleh "Jangan sebut wanita itu dengan sebutan mama, bahkan dia tidak pantas dipanggil itu" Kimy menghela nafas "Sayang, tenangkan dirimu. Kita akan sering menghadapi hal seperti ini nanti. Aku rasa tante Sinta sengaja agar kamu dan om Teddy tidak bisa berdekatan" Kata Kimy sambil menilai. Tristan diam tak menjawab, dia hanya mengeraskan rahangnya sambil terus mengemudi dengan kecepatan tinggi.


Datanglah kalau kau ingin melihatnya, ini kesempatan terakhirmu sebelum dia menikah. Gilang melihat lagi pesan yang dikirim oleh mamanya kemarin. Saat ini Gilang sedang berada di balkon kamarnya, dia memikirnya pertemuannya dengan Kimy tadi. "Kamu akan menikah denganya" lelaki itu bicara sendiri dan tersenyum pahit memikirkan nasibnya. Malam itu dia melihat langit di atas sana, terlihat ada kilatan seperti bintang jatuh. Seketika ingatanya berputar saat dia masih menjadi kekasih Kimy. "Yank ada bintang jatuh" teriak Kimy saat melihat sebuah kilatan yang sama. Gilang yang memeluknya pun melonggarkan pelukannya "Kamu kok masih percaya kaya gitu sih yank" Kimy mendongak menatap wajah Gilang saat itu "Aku percaya, ayo kita minta sesuatu. Katanya kalau melihat bintang jatuh kita harus minta sesuatu, nanti permintaan itu akan terkabul yank" minta Kimy dengan nada manjanya. Seketika Kimy memejamkan matanya, Gilang yang melihatnya pun hanya tersenyum gemas melihat expresi kimy yang komat kamit itu. Kimy membuka mata dan melihat Gilang sedang menatap wajahnya "Apa yang kamu minta?" Tanya Gilang dengan menciumi pucuk kepala Kimy. "RAHASIA" jawab Kimy sambil tertawa, membenamkan wajahnya di dada kekasihnya itu. Gilang menggelitik perut Kimy "Kasih tahu nggak?" Kimy tertawa menggeliat "Ampun jangan yaaank" teriak Kimy. Gilang berhenti menggelitik ketika posisinya itu sekarang berada di atas tubuh Kimy, lelaki itu mengungkung tubuh kekasihnya itu "Oke kalau nggak mau kasih tahu, aku juga nggak mau kasih tahu" Kata Gilang tepat di depan wajah Kimy. "Emangnya kamu tadi juga doa" Tanya Kimy serius "Iya donk" Gilang tidak bohong, memang saat Kimy menutup matanya Gilang pun melakukan hal yang sama, dia juga berdoa saat itu. "Kamu minta apa?" Tanya Kimy balik "RAHASIA" jawab Gilang membalas perkataan Kimy.


Gilang membeku seketika ketika ingatan itu tiba-tiba muncul tanpa permisi. Dan di tempat lain pun Kimy juga sedang menatap langit yang sama dengan Gilang, Kimy pun melihat ada bintang jatuh. Sayang kali ini berbeda, Kimy menatap langit itu dengan Tristan di sebelahnya. Kimy menyadarkan kepalanya di bahu lelaki itu. Saat ini mereka berdua sedang berada di pinggir pantai, Tristan membawa Kimy ke tempat itu karena ingin menenangkan pikirannya. Sama halnya dengan Gilang, Kimy juga teringat saat dulu dia berdoa meminta sesuatu saat melihat bintang jatuh itu, Kimy benci kenapa harus mengingat saat itu, di saat dia sekarang bersama Tristan yang lagi butuh sandaran. Tiba-tiba doa yang diinginkan dalam ingatan itu muncul begitu saja.


Tuhan aku ingin Gilang menjadi jodohku, aku ingin dia mencintaiku selamanya.

__ADS_1


Di tempat lain Gilang berkata lirih "Kamu tahu apa yang aku minta dulu" Tuhan aku ingin wanita di sampingku ini, suatu saat yang menjadi istriku. Aku ingin mencintainya selamanya tuhan. Batin Gilang berkata. Tanpa di sadari, di tempat dan kondisi yang berbeda, kedua manusia itu mengulang lagi doa mereka walaupun di dalam hati. Apakah tuhan mendengarnya, yang jelas autor dengar lo Gilang 😜😜😜🤭🤭🤭🤭


__ADS_2