BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Teddy sadar


__ADS_3

Kimy merebahkan tubuhnya di ranjang kesayangannya. Akhirnya setalah sekian lama, ia bisa bebas juga. Gadis itu menatap langit-langit kamarnya, sesaat kemudian ia menoleh ke nakas kecil samping ranjangnya. Kimy bangkit dan menuju nakas itu, ia menarik lacinya dan mendapati foto mesranya bersama Gilang di situ. Kimy tersenyum, ia ingat saat sebelum ia pergi meninggalkan rumah saat itu. Ia begitu frustrasi akan gosipnya dan Tristan yang menghianati Gilang saat itu, banyak fotonya beredar di berita online. Karena stres, ia pun menaruh fotonya bersama Gilang di laci agar tak selalu merasa bersalah dengan gosip yang beredar.


Perlahan Kimy mengusap wajah Gilang di dalam foto itu. Kamu sangat tampan, kamu sedang apa?


Terlihat dalam foto itu, Gilang memeluk mesra Kimy. Mendekap tubuh gadis itu dengan erat. Perlahan air matapun menetes, apa yang harus di lakukannya. Penjelasan seperti apa yang akan ia berikan pada kekasihnya itu. Apa Gilang akan amarah, tentu saja. Lelaki itu bukannya sangat pencemburu dan posesif.


Kimy hanya bisa membuang nafasnya pasrah akan hidup yang akan di jalaninya.


**


Hari berganti hari, sudah 4 hari Kimy pulang ke rumahnya. Tristan juga sama sekali tak menampakkan diri di rumah gadis itu, ia hanya rutin menelepon dan mengirim pesan saja. Gadis itu selalu berdiam diri di rumah, tidak tahu mau kemana dan akan melakukan apa. Dia seperti masih trauma dengan pemberitaan tentang dirinya dulu. Walaupun berita itu sudah berbulan-bulan lalu, tapi Kimy masih merasa trauma dengan pemberitaan buruk tentangnya, maklum saja selama ini image nya selalu bagus di mata netijen.


Tok tok


Terlihat bi asih masuk ke kamar Kimy " Non ada bu alexa.." Kata bi asih, belum selesai wanita paruh baya itu menyelesaikan kalimatnya tapi perempuan bernama Alexa itu sudah masuk ke kamar Kimy.


" Astaga, sejak kapan aku di larang masuk ke kamar ini.." Kata Lexa dengan gayanya sambil bersedekap menatap nyalang Kimy.


" Kak lexa.." Kimy berlari memeluk wanita yang sudah di anggap kakaknya itu.


Lexa tersenyum " Akhirnya aku bertemu gadis nakal ini lagi.." Kata lexa sambil mencubit pinggang Kimy.


" Awwhhh.. Sakit kak.." teriak Kimy.


Setelah puas kangen-kangenan mereka pun sama-sama merebahkan tubuhnya di ranjang besar Kimy.


" Ayo cerita sekarang.." todong lexa.


" Cerita apa?.." Kimy pura-pura bodoh.


" Kalau nggak mau cerita sekarang, aku telponin Gilang nih.." ancam lexa.


" Kak.." cegah Kimy, padahal lexa hanya menggertak saja tak mungkin serius telpon gilang juga.


" Ck.. Kamu bener-bener gila Kim. Aku tahu kamu udah gila dari dulu, suka bohongi Gilang pergi ke sana-sini nggak jelas. Tapi aku nggak nyangka kamu setega itu.. Kamu tahu Gilang hampir gila karena kamu.."


" Masih hampir kan, belom gila beneran.." jawab Kimy dengan tertawa.

__ADS_1


" Entahlah.. Sejak mama papanya masuk rumah sakit dia sudah nggak hubungi aku lagi. Dia juga kabarnya menarik diri dari dunia model. Dia fokus di balik layar saja kata tian.."


" Jadi mama sinta juga sakit?.." lexa mengangguk.


" Dan pak Teddy koma.." lanjut lexa. Tak terkejut, Kimy memang melihat tentang kecelakaan Teddy saat itu di berita, bahkan ia mengira kalau Teddy sudah meninggal.


" Mami juga tak ada kabarnya sampai sekarang kak.." Kata Kimy lemah.


Lexa mengusap lengan gadis itu, berusaha menenangkan " Apa yang terjadi sebenarnya kim, kamu beneran jatuh cinta sama Tristan itu. Bukankah dulu kamu membencinya.."


" Ceritanya panjang kak.."


" Aku siap dengerin, sampai Besok pun aku dengerin.."


Kimy tertawa mendengar perkataan lexa, lexapun ikut tertawa. Mereka berdua tertawa sangat keras seakan menumpahkan segala beban di hati. Lexa dan Kimy terlentang dan menatap langit-langit kamar berwarna biru langit itu. Setetes air mata membasahi pipi Kimy. Lexa menoleh dan melihatnya. Ia kemudian meraih tangan Kimy dan menggenggam tangan Kimy erat. Tak mau bertanya lagi, lexa tahu Kimy tak baik-baik saja. Dia ingin Kimy menenangkan diri dulu. Lexa memang orang yang paling mengerti gadis itu. Ia tahu bagaimana caranya menenangkan hati Kimy. Semakin tangan lexa menggenggam erat tangan Kimy, semakin kencang isak tangis Kimy.


" Menangislah.. Keluarkan apa yang kamu rasakan.." Ucap lexa pelan.


**


" Siapa yang ngarang, bodoh. Laki-laki itu datang ke gallery ku bersama Kimy. Aku melihat Kimy dengan mata kepalaku sendiri. Mereka tadinya akan memesan gaun pengantin padaku, tapi Kimy menolak.."


" Hah.." Septian tersenyum meremehkan. " Jangan sampai Gilang denger, kau tahu dia baru saja bangkit dari keterpurukan. Jangan sampai dia kembali seperti dulu lagi.." Septian mengancam.


" Tapi dia berhak tahu.."


" Dia akan tahu sendiri nanti kalau memang mereka benar akan menikah, tanpa harus kau kasih tahu.."


Nadine mendengus kesal mendengar perkataan Septian itu, dari dulu lelaki itu selalu mendukung Kimy.


Ceklek


Gilang keluar dari kamarnya " Kamu di sini Nad?.." Gilang tak tahu kalau ada nadine, pasalnya sebelum dia mandi hanya ada septian di apartemennya.


" Iya lang, aku mau ajak kamu makan malam nanti.."


" Tian nggak bilang kalau habis ini aku kerumah sakit.."

__ADS_1


" Kerumah sakit?.."


" Iya, papa sudah sadar. Jadi aku akan kesana.." Kata Gilang sambil mengikat tali sepatunya.


" Wah om Teddy sudah sadar. Boleh nggak aku ikut lang?.."


" Nggak.." jawab Septian.


" Apaan sih, kenapa jadi kau yang melarang ku?.."


" Tian bener Nad, papa belum boleh di kunjungi banyak orang. Keadaannya belum stabil.."


Nadine hanya mendengus kesal, padahal ia sudah berharap bisa bertemu dengan teddy. Nadine tak mau terlambat lagi, kali ini ia ingin mengambil kesempatan sebelum semua terlambat lagi seperti dulu. Ia akan terus menempel pada Gilang sebelum ada wanita lain yang merebutnya lagi.


**


Di rumah sakit tampak Teddy masih terbaring lemah, walaupun ia sudah sadar tapi masih ada beberapa alat yang menempel di tubuhnya. Hendra tampak menemani lelaki itu di sampingnya.


" Apa dia datang kesini?.." Tanya Teddy dengan suara yang masih terdengar lemah.


" Benar tuan..Tristan datang ke sini. Saya menghubunginya dan dia juga memberikan darahnya pada anda.."


Teddy tampak tersenyum " Jadi anak itu benar-benar putraku? Aku ingin bertemu dengannya.."


" Nanti akan saya hubungi tuan.."


Ceklek


" Papa.." Gilang muncul bersama Septian di sampingnya. " Papa sudah sadar, apa yang papa rasakan?.." Gilang terlihat senang dan mendekat pada Teddy.


Teddy tak menjawab, bahkan expresi lelaki paruh baya itu terlihat datar. " Kenapa kamu kesini, di mana mamamu? Apa dia mengira aku sudah mati.." Kata Teddy dengan raut muka tajam.


Deg


Gilang diam membeku, lelaki tampan itu hanya menggenggam tangannya dan mengeras kan rahangnya. Bukan ini yang dia harapkan. Ia hanya ingin senyuman hangat dari Teddy dan mengatakan ya aku baik-baik saja anakku. Tapi apa yang di dapatkan nya, sampai kapan ia akan di acuhkan oleh lelaki itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2