
" Jeff akan mewarisi semua kekayaan anda, apa anda yakin? Nona Kimy sedang hamil anak Gilang, apa anda tidak memikirkan bayi itu?" Tanya Hendra pada Teddy yang saat ini tengah duduk bersantai di belakang rumah mewahnya.
Teddy tak seberapa menghiraukan ucapan asistennya itu. Ia malah terus menghisap cerutu yang ada di tanganya.
"Tuan"
"Sudah berapa lama kau bekerja padaku, kenapa masih saja kau tanyakan hal yang tidak penting itu" jawab Teddy dengan raut muka santai.
Hendra mengernyit, ia tak menyangka bos nya separah itu membedakan antara Tristan dan Gilang, bahkan sampai ke anak mereka. Bukankah anak-anak mereka tak tahu menahu tentang permasalahan orang tuanya.
"Saya rasa anda sudah keterlaluan tuan"
Teddy tersenyum miring mendengar ucapan Hendra, ia menatap lelaki yang sudah puluhan tahun bekerja padanya. Ia percaya pada Hendra 100%, ia juga tahu kalau lelaki yang berdiri di hadapannya ini tak pernah menyembunyikan apapun yang ada di pikirannya. Ia selalu mengungkapkan walau itu bertolak belakang dengan pikiran Teddy sendiri.
"Kau pikirkan saja bagaimana caranya agar perusahaan Tristan itu berubah kepemilikan pada cucuku Jeff. Tidak ada yang boleh memiliki aset Tristan kecuali Jeff, tidak Kimy apalagi Gilang. Mereka di larang menyentuh perusahaan itu"
" Tapi nona Kimy berhasil mengembangkan perusahaan Tristan, anda jangan lupakan itu. Nona Kimy ikut andil di dalamnya"
Teddy tersenyum meremehkan "Itu karena dia seorang selebritas, dia populer dan jangan lupakan tangan dingin Dony di belakangnya" bantah Teddy.
"Kau cari cara agar Dony berada di pihak kita"
"Dony di belakang nona Kimy" sanggah Hendra.
"Ck" decak Teddy.
"Aku ingin selalu menyingkirkan semua orang yang tak berguna itu. Hanya Jeff yang berhak atas apa yang di miliki putraku, Tristan"
Anda terlalu berlebihan memperlakukan tuan muda Jeff, batin Hendra.
**
Saat ini Kimy tengah berdiri di pinggir pantai, tempat di mana ia dan Gilang berziarah Tristan. Tubuh Tristan tidak di temukan, jadi di situlah ia berziarah ketika ia merindukan Tristan. Namun bedanya kali ini Kimy datang seorang diri. Ia berdiri menatap hamparan lautan luas itu.
"Aku merindukanmu Tristan. Maafkan aku menghianatimu, dia menjagaku dengan baik, menjaga Jeff seperti darah dagingnya sendiri. Beberapa hari ini, aku selalu memimpikanmu. Kamu berdiri menggendong Jeff kita, kamu tahu. Dia mirip sekali denganmu. Dia benar-benar anakmu Sayang" air mata Kimy perlahan membasahi pipinya. Sebenarnya ia tak ingin menangis di sini, tapi air mata s*alan ini dengan tanpa permisi begitu saja keluar.
"Sayang, kamu tahu Gilang sedang sakit. Dia tidak pernah mau berobat dengan serius, padahal penyakitnya sudah parah. Tapi kemarin dia bersedia menerima donor hati itu, aku senang Tristan. Setidaknya masih ada yang menjaga Jeff. Aku tidak bisa kehilangan orang sebaik Gilang. Gilang seperti seorang kakak bagiku, aku menyayanginya. Walaupun aku tidak bisa mencintainya seperti aku mencintaimu" Kimy menghapus jejak air mata di pipinya.
"I miss you so much Tristan" katanya lagi pelan.
**
"Jeff"
Jeff menoleh ke asal suara dan ia pun berlari menghampiri orang itu.
"Om ganteng" teriaknya sambil memeluk Tristan.
__ADS_1
Jeff melepas pelukannya, ia melihat wajah Tristan heran "Tenapa om ada di cini?" Tanya Jeff dengan polos, tangan Jeff masih berada di leher Tristan.
"Kebetulan om lewat dan melihatmu" jawab Tristan tanpa melepaskan pandangan pada wajah Jeff.
"Jeff lagi apa di sini?" Tristan melihat sekeliling, ia tahu kalau ini sekolah anak itu. Tristan sengaja menghampiri Jeff karena merindukan bocah itu.
"Ini Tan cekolah Jeff om, Jeff lagi nunggu di jemput"
Tristan mengangguk-angguk pura-pura paham "Mau nggak om ajak jalan-jalan?"
Jeff menggeleng "Nggak om, mommy, daddy cama paman Dony akan malah pada Jeff kalau ikut olang yang ndak Jeff kenal"
Tristan mengangguk paham, ia memaklumi itu. "Tapi kan om bukan orang jahat dan Jeff kenal om"
"Eemmm" Jeff terlihat berfikir.
"Baiklah-baiklah Kalau begitu, kapan Jeff berlatih berkuda dan menembak? Nanti om samperin"
"Nanti cole om"
"Benarkah, jadi nanti sore kita bisa bertemu lagi Jeff. Nanti om akan menemui Jeff di tempat latihan. Gimana?"
Jeff mengangguk dan terlihat sangat senang "Benel ya om, nanti cole temuin Jeff di tempat latihan ya"
"Siap sayang, kalau gitu om pergi dulu ya Jeff, sampai ketemu nanti sore ya di tempat latihan"
Jeff mengangguk dan memeluk lagi Tristan. Setelah pelukan itu, Jeff berlari lagi ke dalam gedung sekolahnya.
**
"Seorang pria?" jawab Hendra.
"Benar pak" jawab bodyguard itu.
"Apa pak Gilang dan bu Kimy tahu, atau pak Dony?"
"Sepertinya tidak ada yang menyadari kehadiran pria itu pak. Beberapa bodyguard dari pak Gilang juga tidak tahu"
Memang Jeff itu selalu di jaga ketat oleh para bodyguard dari Gilang dan Dony. Sedangkan dari pihak Teddy juga ada, tapi bedanya dari pihak Teddy ini tidak secara terang-terangan mengikuti kemana Jeff pergi. Mereka menyamar selayaknya orang pada umumnya, jadi keberadaan mereka tidak disadari oleh orang sekitar.
"Apa ada foto pria itu?"
"Ini saya memotretnya pak, tapi sayangnya kurang jelas, ini dari arah belakang" bodyguard itu memberikan hpnya pada Hendra.
Hendra menerima hp itu dan melihat di layar, tampak dari belakang seorang pria duduk di kursi roda sedang memeluk Jeff dengan erat. Jeff juga terlihat senang, terlihat dari tawa yang terpancar. Mereka tidak canggung sama sekali.
Hendra mengernyitkan kening "Apa ini saudara dari Kimy? Kenapa mereka terlihat akrab" gumam Hendra.
__ADS_1
"Sepertinya bukan pak, karena pria itu tidak pernah menemui tuan muda Jeff saat ada bodyguardnya, atau bahkan saat ada pak Gilang dan pak Dony"
Sekali lagi Hendra memperhatikan foto itu, ia lebih mendekatkan lagi layar itu ke mukanya. Maklumlah Hendra sudah berumur dan berkaca mata, jadi butuh fokus yang tinggi untuk tahu siapa sosok yang ada di foto itu.
"Bapak geser lagi, ada beberapa foto lagi yang sama ambil" Kata bodyguard itu.
Hendra mengikuti apa kata bawahannya itu, ia menggeser foto itu, tampak foto kedua masih di angel yang sama, kemudian ia menggeser lagi ke foto ketiga dan pupil mata Hendra membesar seketika. Hendra melihat pria itu menoleh ke samping saat meminta Jeff untuk mencium pipinya.
"Tristan"
Hendra memzoom foto tepat di wajah pria itu. Jantung Hendra berdetak lebih cepat, tangan lelaki itu bergetar, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan Hendra hampir saja terjatuh kalau saja bodyguard itu tidak memegangi tubuhnya.
"Pak Hendra"
Hendra menaikkan tangannya, memberi isyarat kalau dia baik-baik saja. "Kirim foto itu ke hpku" katanya sambil mengembalikan hp bodyguard itu.
"Baik pak"
**
Di tempatnya Gilang kembali merasakan sakit yang teramat di perutnya. Badannya sudah pucat seperti tidak ada aliran darah. Mual dan pandangan terasa menghitam. Gilang mendongakkan kepalanya ke atas, memejamkan matanya sejenak. Sudah sering ia merasa seperti ini. Dan kali ini terjadi lagi, Gilang masih berada di kantornya, duduk di kursi kerjanya. Ia masih terus memejamkan mata dan mengetatkan rahangnya menahan sakit.
"Lang" Septian yang baru masuk ke ruangan Gilang pun segera tahu apa penyebab sahabatnya itu bertingkah demikian.
"Lang kamu nggak apa-apa?"
Gilang tak menjawab, ia hanya mengangguk.
"Obatmu di mana?" Septian yang panik mengobrak abrik laci meja kerja Gilang.
"Lang mana Obatmu?" panik Septian.
"Aku nggak apa-apa, ambil kan minumku aja" jawab Gilang masih dengan posisi yang sama.
Segera Septian meraih Gelas berisi air di meja kerja itu dan segera memberikan pada Gilang. Ia sedikit membantu Gilang menegakkan badannya.
Setelah minum Gilang membuka mata, ia masih terlihat pucat. Bahkan Septian yang melihatnya pun sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Lang mending kita kerumah sakit deh"
Gilang menggeleng "Baru kemarin kesana" Jawabnya.
"Tapi aku khawatir Lang, lihat mukamu pucat sekali. Udah deh mending aku antar kamu ke dokter mu" putus Septian meraih lengan Gilang untuk bangkit, tapi sekali lagi Gilang menangkis tangan Septian. Gilang paling tidak suka di perlakukan seperti itu. Ia ingin di anggap normal, ia tidak suka di kasihani layaknya orang sakit.
"Aku bilang aku nggak apa-apa" Kata nya dengan dingin.
"Tapi---"
__ADS_1
Gilang menatap septian, tanpa berkata apapun Septian tahu kalau Gilang menyuruhnya diam.
Bersambung...