BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bonchap 8


__ADS_3

“Kakek dengar kamu pacaran dengan anaknya Dony” tanya Teddy pada Jeff yang sedang memainkan piano di ruang keluarga.


Jeff menghentikan permainanya, ia menoleh pada lelaki berumur yang duduk di atas kursi roda, tidak lupa dibelakangnya ada asistennya yang juga sudah berumur, Hendra.


“Kakek harap itu hanya omong kosong Jeff” lanjutnya, Hendra mendorong kursi roda itu mendekat pada Jeff.


”Memang, itu hanya salah paham kek” jawab Jeff singkat dengan tatapan datarnya.


Teddy tersenyum, memang ia tak salah mendidik Jeff. Cucunya itu sangat dekat dengannya, bahkan karakter Jeff yang seperti itu, tidak lain dan tidak bukan adalah hasil karya darinya.


“Bagus” hanya itu jawaban Teddy.


“Suruh papamu menemui kakek Jeff” itu pesan untuk sekian kalinya yang lelaki tua itu sampaikan pada Jeff untuk seorang Tristan.


“Dia sibuk” jawab Jeff singkat lalu jari-jarinya menekan lagi piano dengan lihai, Jeff sangat menawan, terlihat sangat profesional saat memainkan piano itu.


“Sibuk mengurusi wanita yang tidak berguna” seru Teddy, Menurut Teddy ucapanya tidak mungkin di dengar oleh cucunya karena terbentur dengan suara piano, tapi Teddy lupa ia berhadapan dengan siapa, Jeff bahkan mendengar dengan jelas gumaman Teddy barusan.


“Kamu baru beli apartemen?” Tanya Teddy, sekarang Jeff yang kaget, ia menghentikan gerakanya, Jeff lupa siapa Teddy, mana mungkin ia bisa menyembunyikan semua itu dari kakeknya, pergerakanya selalu terbaca dengan apik oleh Teddy.


“Ya”


“Untuk apa, kalau kamu mau tinggal sendiri kenapa tidak beli rumah saja? Ayolah nak buat apa beli apartemen kecil seperti itu” bagi Teddy apartemen itu dibilang kecil, padahal itu apartemen dikawasan yang elit, bahkan keamanan sangat terjaga, tidak bisa sembarang orang masuk ke sana.


“Hanya untuk tempat istirahat aja kek, lagian aku belum berniat meninggalkan rumah”


“Kamu sudah dewasa, sudah memimpin beberapa perusahaan, tidak ada salahnya jika mencoba hidup sendiri” seru Teddy.


Jeff terdiam, memang benar apa yang di katakan kakeknya itu, beberapa kali Teddy menyuruhnya tinggal di rumah sendiri, terpisah dari orang tuanya tapi Jeff ingat pesan Daddy nya sebelum meninggal, agar Jeff selalu berada di dekat Kimy, menjaganya dan mengikuti apa yang Mommynya mau, walaupun mereke sering berbeda pendapat tapi Jeff selalu ingat pesan itu. Jadi sebisa mungkin sebelum menikah, Jeff akan selalu tinggal bersama dengan Kimy.


“Kalian semua benar-benar tunduk pada wanita itu, heran kakek, apa istimewanya dia” serunya pelan, kemudian Hendra mendorong kursi roda Teddy meninggalkan Jeff.


Jeff terdiam beberapa saat, ia sangat tahu kalau kakeknya memang tidak menyukai mommy nya, entah karena alasan apa, Jeff tidak pernah tanya dan kakeknya juga tak pernah memberitahunya.


“Pantau terus dia, sampai mana dia akan bermain-main dengan gadis kecil itu” seru Teddy pada Hendra ketika sudah di luar ruangan.


“Baik tuan” jawab Hendra.


**


Jeff sangat terkejut ketika ia sampai di rumah ternyata sedang ada tamu, yang membuatnya terkejut tamu itu adalah Anton beserta keluarganya, termasuk si Jeremy yang tampangnya terlihat sangat mengangumi Sabrinanya.


“Jeff, kamu sudah pulang, ada Om Anton dan Jeremy, kalian sudah lama tidak bertemu kan?” Seru Tristan ketika mendapati putranya masuk ke rumah.


Jeff melihat Jeremy dengan ekor matanya, tak ada tegur sapa yang ramah layaknya seorang teman lama yang baru bertemu, Jeff malah menatap tajam lelaki itu.


“Jeff” malah Anton yang berdiri menyalami Jeff dengan sopan. Walaupun Jeff itu lebih muda darinya tapi kemampuan Jeff mengalahkanya dan juga kedudukan Jeff yang tidak main-main, Jeff mampu menjalan beberapa perusaahaan dengan apik. Jeff menerima uluran tangan Anton dengan dingin.


“Duduklah dulu” seru Tristan lagi yang kali ini di turuti oleh Jeff, lelaki itu duduk di samping Sabrina, tepat berhadapan dengan Jeremy yang sedari tadi mencuri pandang ke arah adik kesayanganya itu.


Jeff menyenderkan tubuhnya pada sofa dan tangan kirinya ia masukan ke belakang tubuh Sab, tanpa aba-aba ia meremas pinggang Sabrina dengan kencang.

__ADS_1


“Ouw” Suara Sabrina tertahan, ia menggigit pipi dalamnya agar tak terdengar oleh siapapun.


“Kalian sangat beruntung sekali mempunyai putra dan putri yang sangat keren, bibit unggul semua” seru Anton memberi pujian. Orang-orang dewasa di situ saling melontarkan obrolan dan sesekali Jeremy juga menimpali, tapi tidak dengan Jeff dan Sabrina, kedua insan itu bahkan tidak peduli dengan obrolan orang-orang itu. Sabrina terlalu deg-deg an untuk sekedar ikut nimbrung obrolan orang dewasa itu karena dari tadi tangan Jeff *******-***** pinggangnya, Sab takut ada yang memergoki ulah abangnya itu. Sedangkan Jeff sendiri malah begitu menikmati menyentuh Sabrina, matanya memang seakan ikut mengikuti obrolan orang dewasa itu tapi tangannya di belakang terus aktif bergerilya kemana-mana.


“Papa, Sabrina boleh ke kamar dulu, Sab lupa ada tugas yang harus di kumpulkan besok” Sab mengintrupsi obrolan papanya.


“Oh iya udah sayang, nggak apa-apa. Kapan-kapan Jeremy biar menemuimu lagi, iya kan Jer?”


“Iya om” jawab Jeremy dengan sopan. Jeremy pun memberi senyuman terbaiknya untuk Sabrina, jelas itu tidak luput dari pandangan Jeff, lelaki itu begitu muak melihat senyuman Jeremy itu, saking muaknya iya bahkan meremas lagi pinggang Sab dengan sangat keras.


Sab malah menggigit giginya sendiri agar tak mengeluarkan suara. Remasan Jeff begitu kuat rasanya mau meremukkan tulang pinggul Sab saat itu.


Sabrina segera berdiri dan meninggalkan tempat itu, ia bahkan sedikit berlari seperti ketakutan, hanya Kimy yang menyadari sikap Sabrina itu.


Jeff tersenyum tipis, sangat tipis bahkan tak ada orang yang menyadarinya, tujuanya tercapai yaitu mengusir Sabrinanya dari pertemuan si*lan itu.


“Luar biasa cantik sekali putri kalian” kata ibunda Jeremy. Dari tadi ia mengagumi kecantikan Sabrina, bahkan ia berdoa semoga perjodohan Jeremy dan Sabrina benar-benar terjadi.


“Jer gimana suka nggak kamu?” Goda Anton pada putranya.


“Apa sih pa” jawab Jeremy malu, bisa-bisanya Anton menggodanya di depan calon mertua.


“Sabrina masih sekolah, kamu harus sabar Jer” seru Tristan.


“Saya siap menunggu Sabrina om” jawab Jeremy dengan mantap membuat rahang Jeff semakin mengeras.


Jeff berdiri, ia tak tahan mendengar obrolan konyol itu “Saya permisi dulu om, pa” dan melirik Jeremy tanpa menyapa.


Ceklek


Pintu kamar terbuka, tapi tubuh Sabrina tak terlihat, tapi Jeff tahu kalau tubuh gadis kecilnya itu tengah bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Jeff menurup pintu kamar itu dan tak lupa menguncinya, sabrina yang mendengar pintu di kunci segera membuka selimutnya.


“Ngapain abang kunci pintu” seru Sabrina.


Jeff segera menoleh ke asal suara, ia mendapati Sab hanya terlihat kepalanya saja karena setengah badanya masih tertutup selimut.


Jeff tersenyum menyeringai.


“Abang”


“Kamu lupa apa yang abang katakan” kata Jeff sambil berjalan menghampiri Sabrina, sabrina merasa ini tidak akan baik-baik saja, ia pun mundur hingga punggunya bersandar pada kepala ranjang.


“Ab—abang” seru Sabrina dengan gagap.


Jeff duduk di pinggiran ranjang, menatap dengan tajam Sabrina “Siapa yang mengizinkan mu bertemu dengan lelaki itu?”


“Papa dan Mommy bang, aku nggak bisa nolak” jawab Sab dengan takut.


“Bohong, kamu emang sengaja mau ketemu denganya kan? Kamu bisa nolak Sab, kamu udah dewasa, kenapa harus selalu nurut sama papa dan mommy”

__ADS_1


Sabrina menggelang “Aku nggak bisa nolak maunya mommy bang, kita semua sayang mommy, bahkan abang sendiri juga selalu nurut sama kata-kata mommy”


Benar juga pikir Jeff.


Jeff segera membuka selimut yang menutupi tubuh adiknya itu dan dengan entengnya mengangkat tubuh Sabrina untuk di pangku menyamping seperti bayi.


“Bang jangan gini” Sabrina mencoba melepaskan diri tapi tentu saja percuma.


“Stt diam Sab” kata Jeff di dekat daun telinganya membuat Sabrina merinding.


“Abang sudah peringatkan kamu, jangan buat abang marah. Nurut apa kata abang” bisik Jeff dengan suara sepelan mungkin dan jari-jari tangan kirinya menelusup masuk ke dalam kaos Sabrina dan mengusap pinggang gadis itu pelan.


“Bang” Sabrina merasa sangat merinding.


“Kamu harus di hukum sayang” bisik Jeff lagi, selanjutnya bibir Jeff sudah mengusai bibir merah Sabrina, mengobrak-abriknya dengan lancang tanpa permisi. Tangan kiri Jeff masih berada di pinggang Sabrina dan tangan kanannya memengang kendali tengkuk gadis itu.


Sabrina sudah kehabisan tenaga melawan Jeff, ia pun pasrah lagi dan mengikuti permainan abangnya itu, hingga ia pun mulai menikmati setiap sentuhan yang Jeff berikan.


“Ahh bang” untuk pertama kalinya Sabrina mengeluarkan suara laknat itu, terdengar sangat menikmati, Sabrina benci itu tapi memang begitu kenyataanya, ia sangat menikmati ini, untuk pertama kalinya. Tangan kanan Jeff sudah lancang berada di leher Sabrina, membelai leher jenjang itu dan perlahan turun hingga ke d*da, seperti mengukur benda itu dengan tanganya, sangat pas dan ia pun merem*snya pelan.


“Abang ahh”


Mendengar ******* Sabrina semakin membuat andrenalin Jeff tertantang. Ciumanya pun perlahan turun ke leher jenjeng itu, sedikit memberi tanda di sana sebagai hukuman dan sedikit berlama-lama hingga leher itu begitu basah oleh salivanya.


“Ahh bang”


Jeff tak menjawab apapun, ia masih asyik dengan mainan dileher dan dada Sabrina, hingga sebuah suara mengintrupsi kegiatan panas itu.


“Sab, Sabrina kamu udah tidur sayang?” Teriak Kimy di luar kamar sambil mengetuk pintu.


Seperti di tampar, Sabrina akhirnya sadar dan membuka mata, mendorong Jeff tapi gagal karena lelaki itu masih terus mencumbuinya dan malah mempererat dekapan di pinggangnya.


“Bang lepas ada Mommy” bisik Sab dengan nafas tersengal.


Jeff mana peduli, ia malah semakin genjar menciumi leher Sabrina dengan sensual.


“Mm.. ab-abbaang ada Mommy, lepashh”


Jeff tak bergeming, ia terus melanjutkan aktivitasnya.


Kini Jeff semakin berani, dengan cepat ia menyingkap kaos yang Sabrina gunakan ke atas hingga ke leher, Sabrina sangat kaget dengan apa yang di lakukan Jeff itu, karena dengan jelas kini abangnya itu bisa melihat pay*daranya yang terbukus bra warna merah maron.


”Bang!??” Pekik Sabrina.


“Ssstt!!!” Jawab Jeff.


Sebelum Jeff mencium benda itu, Sabrina segera menangkup wajah lelaki tampan itu dengan kedua tanganya. Sabrina bisa melihat wajah tampan Jeff begitu dekat sebagai seorang lelaki bukan sebagai abang, sempurna, memang Jeff setampan itu. Tapi apa Sabrina bisa memiliki lelaki ini sepenuhnya, dalam keadaan seperti ini pun Sabrina masih bisa berfikir begitu.


“Sabrina!” Panggil Kimy lagi.


Mendengar suara mommy nya, Sabrina malah mencium lagi bibir lelaki tampan di depannya itu, bibir itu sedari tadi menggodanya, wajah mupeng Jeff membuat Sabrina juga nggak bisa menahan entah rasa apa itu. Dengan senang hati Jeff menerima ciuman itu, kini keduanya berciuman penuh gairah tanpa peduli dengan suara-suara yang mengganggunya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2