
Kau mau aku yang menembak kepalamu atau dengan sukarela bercerita kepadaku.." Tristan berkata sambil menatap tajam lelaki berusia 54 tahun bernama Burhan itu. Tangan kirinya menggenggam tangan Kimy erat. Tristan tahu hal itu tidak pantas dilihat Kimy, tapi mau bagaimana lagi, Kimy memaksa dan dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti kemauan wanitanya itu.
Sedangkan di sisi lain sana, ada Burhan dan Alana yang terduduk dengan mulut dilakban dan tubuh terikat menyatu dengan kursi. Kimy menatap Alana yang meliuk-liukan tubuhnya mencoba untuk melepaskan ikatan tangannya itu. Kimy hanya menelan ludahnya, dia tidak tahu harus bersikap bagaimana melihat Alana tak berdaya seperti itu. Kedua orang itu di kepung oleh anak buah Tristan, termasuk ada Dony di sana.
"Siapa yang menyuruhmu Burhan Notonegoro.." lelaki tua itu tak menjawab, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya . "Anakmu bernama Irma Notonegoro?.." Tanya Tristan lagi. Lelaki itu langsung bergerak - gerak setelah mendengar nama anaknya di sebut. Segera Tristan memberi kode Dony, Dony menyuruh anak buahnya untuk membuka lakban di mulut lelaki tua itu.
"Toloong, tidak ada yang menyuruh saya pak.." jawab burhan dengan ketakutan dimatanya.
Ceplak
Anak buah Tristan menampar lelaki itu. Tangan Kimy menggenggam Tristan lebih kuat karena melihat itu. Tristan menoleh pada wanitanya yang terus menatap lelaki tua itu. Merasa Kimy baik-baik saja, Tristan maju selangkah di ikuti Kimy.
"Kau tahu konsekuensi karena sudah main-main denganku Burhan.." Kata Tristan dingin. "Hari ini kalau kau tidak mati di sini, berarti anakmu yang akan mati di sana.."
"Tidak jangan pak Tristan saya mohon, ini kesalahan saya, jangan libatkan anak saya satu-satunya.." pria itu berlari kecil dengan kursi masih menempel ditubuhnya kemudian dia bersujud di depan Tristan.
Aku pernah begini
Kimy semakin kuat menggenggam tangan kekasihnya itu. Dia tidak ingin kalah dengan kenangan pahit yang Tristan lakukan dulu. Salah satu anak buah Tristan menendang perut lelaki itu dengan kencang, seketika Kimy memalingkan wajahnya saat itu. Wajahnya kini berada dibalik punggung Tristan.
"Sayang.." bisik Tristan. Kimy tak menjawab badannya bergetar kencang saat itu. Kenangan itu, kenangan saat Tristan menendang perutnya berulang - ulang berputar di otaknya. Air mata tiba-tiba mengalir di pipinya. Tristan merangkul Kimy, mencium beberapa kali pucuk kepala wanitanya.
"Kamu oke sayang.." bisiknya lagi. Kimy tak menjawab, wanita itu justru lemas tak berdaya, Kimy pingsan. Dengan cepat Tristan mengangkat tubuh kekasihnya itu. Dia berlari membawa kimy ke rumah sakit terdekat. Tristan takut trauma Kimy kambuh. Tristan lupa kalau wanitanya punya trauma dengan bentuk kekerasan akibat ulahnya dulu.
"Sayang.." panggilnya ketika sudah sampai rumah sakit, Tristan berlari menggendong wanitanya ke ruang IGD "Tolong istri saya.." katanya pada perawat yang datang membantunya.
"Baik tuan. Tidurkan dulu, saya akan memeriksanya.." jawab perawat itu.
"Dimana dokternya?.." Tanya Tristan panik.
__ADS_1
"Sebentar lagi datang.." benar saja belum selesai perawat bicara, seorang dokter dan dua perawat datang. "Ini dokternya.." tunjuk perawat itu.
"Dokter lakukan yang terbaik untuk istri saya.." Tristan bicara dengan sangat panik, dia tidak peduli harus berbohong menyebut Kimy istrinya.
"Baik tuan, tunggu di luar dulu saya akan memeriksanya.." jawab dokter wanita itu. Tristan putus asa mendengar dokter itu, dia mengusap kasar wajahnya dan berjalan menunggu diluar.
"Br*ngs*k kenapa aku bisa begitu bodoh lupa dengan traumanya.." Tristan beberapa kali mengumpat dan berjalan mondar-mandir.
Terlihat Dony datang dengan tergesa "Bagaimana keadaannya?.." Dony terlihat khawatir.
"Dokter masih memeriksa.." jawab Tristan pasrah.
"Aku menembak lengannya, dia terkapar. Sepertinya tidak ada yang menyuruhnya, itu murni karena dia ingin mendapat simpati darimu dengan menghadiahi sebuah room service dan seorang wanita.." Tristan ingin menjawab, mana mungkin seperti itu. Mana mungkin wanita yang datang ke kamarnya Alana kalau seperti itu niatnya. Tidak mungkin semua itu kebetulan kan. Namun Tristan sudah tak peduli lagi dengan semua itu, yang dia pikirkan saat ini adalah Kimy.
"Bajingan itu mati.."
"Kau bodoh, kenapa tidak kau tembak kepalanya saja. Kenapa kau biarkan dia hidup.." cecar Tristan menggebu-gebu.
Terlihat dokter menghampiri mereka berdua, Tristan segera mendekat pada dokter itu "Bagaimana istri saya?.." Dony terkejut, sejak kapan Tristan menikahi Kimy. Bos nya itu benar-benar sudah hilang akal kalau sudah bersama kekasihnya, batinnya.
"Keadaannya normal, tidak ada masalah untuk istri anda. Cuma jantungnya sedikit berdetak lebih cepat dari orang normal. Mungkin istri anda kecapekan atau habis melakukan aktivitas berat. Tolong jangan terlalu capek.." Tristan merasa lega mendengarnya.
"Apa dia sudah sadar?.."
"Tristan.." suara lembut membuat ketiga orang disana menoleh ke asal suara. Terlihat Kimy berdiri disana dengan muka terlihat pucat.
"Astaga Kimy.." Tristan berlari menghampiri wanitanya itu "Kenapa berdiri disini.."
"Aku tidak apa-apa, aku tidak mau di rumah sakit. Ayo kita pulang.." Kimy menarik tangan Tristan untuk di ajak pergi.
__ADS_1
"Apa-apaan, tidak! kamu istirahat dulu di sini.." bantah Tristan.
"Ya sudah aku akan pulang sama Dony kalau kamu tidak mau.." Kimy menunjukan tampang cemberutnya.
"Sayang.."
"Tidak apa-apa kalau nyonya mau istirahat di rumah tuan. Nanti saya resepkan vitamin untuk nyonya.." dokter itu menyela ucapan Tristan agar tidak terjadi perdebatan panjang.
Tristan menyipitkan matanya "Apa kau yakin dokter?.." dokter itu mengangguk "Tidak apa-apa, nyonya akan baik-baik saja, hanya butuh istirahat dan minum beberapa suplemen.."
Tristan melihat wajah Kimy yang tersenyum manis padanya "Baiklah, berikan vitamin yang terbaik untuk istri saya.."
"Baik.." dokter itu pun pergi meninggalkan mereka.
"Istri apa?.." Tanya Kimy heran. "Kita belum menikah kenapa kamu bilang aku istrimu.."
"Apa bedanya, kita hanya butuh surat. Kita sudah seperti suami istri bukan. Hanya surat s*alan itu yang membuat statusmu belum menjadi nyonya Tristan.." Tristan meraih pinggang Kimy dan memeluk wanitanya posesif. "Sudah jangan banyak bicara, aku tadi begitu takut melihatmu pingsan sayang. Apa benar kamu baik-baik saja sekarang, hm?.."
"Aku baik-baik saja.."
"Don, siapkan pesawat kita akan segera kembali ke Jakarta.."
"Kembali.." Kimy terkejut, dia masih ingin berada di Bali, menikmati keindahan kota itu.
"Iya kita kembali, aku lebih khawatir padamu daripada liburan ini.."
"Tapi aku sudah sembuh, aku masih ingin di sini.."
"Nanti sayang, setelah kita menikah, kita akan pergi kemanapun kamu mau. Sekarang kita kembali, kamu harus banyak istirahat agar pernikahan kita berjalan lancar.." bujuk tristan lembut. Kimy terpaksa mengikuti Tristan. Malam itu ketiganya benar-benar meninggalkan bali dengan pesawat pribadi milik Tristan.
__ADS_1