BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Percayalah padaku


__ADS_3

" Papi dengar kamu akan menikah dengan Tristan?.." Tanya Daniel yang kini sedang duduk di ranjang kamar putri cantiknya itu. Daniel mengelus pundak Kimy lembut "Apa kamu bahagia bersamanya sayang?.."


Kimy menatap Daniel dengan pandangan nanar, sebenarnya ingin sekali dia menceritakan segalanya pada Daniel, tapi keadaan papinya itu saat ini tidak sedang baik-baik saja. Bagaimana kalau dia cerita hanya akan menambah beban Daniel.


" Kimy bahagia pi, Tristan memberikan semua yang Kimy mau.." jawab Kimy sambil menggenggam tangan Daniel.


" Sayang, putri papi yang cantik. Kamu mau bersama dengan Tristan bukan karena itu kan?.."


" Itu apa pi?.." Tanya Kimy sedikit bingung.


" Bukan karena dia memenuhi segala kebutuhanmu, putri papi nggak matre kan? Kamu mencintai Tristan kan?.."


Kimy menatap Daniel dengan tatapan kosong, dia bingung harus menjawab apa. Dulu memang dia seorang gadis yang sedikit matre. Tipe lelaki idaman Kimy adalah ganteng dan kaya raya persis seperti sosok Tristan sekarang. Kehidupan nya sebagai model dan anak orang kaya membutuhkan gaya hidup yang tinggi. Itulah alasan kenapa dia saat itu juga naksir Gilang. Gilang memang bukan termasuk pengusaha yang punya nama besar, tapi namanya di dunia hiburan dan pemilik sebuah agency cukup beken dikalangan selebriti saat itu. Apalagi Gilang lelaki yang tampan penuh pesona, siapa yang bisa menolak. Satu lagi Gilang adalah anak seorang Teddy, seorang pengusaha terkenal seperti papanya Daniel dan juga Teddy seorang politikus terkenal saat itu. Gilang juga memanjakan Kimy, apapun yang Kimy mau dan butuhkan Gilang selalu menurutinya, itulah kenapa dia sangat mencintai Gilang.


" Tentu saja tidak pi. Aku memang menyukai Tristan pi.." bohongnya. " Pi.. Apa papi setuju kalau Kimy menikah dengan Tristan?.." Tanya Kimy ragu. Ia hanya ingin tahu pendapat Daniel tentang Tristan.


Daniel tersenyum "Apapun yang membuatmu bahagia papi akan mendukungmu.." Jawabnya.


" Kimy, ada yang mau papi tanyakan.." Kimy mengangguk menunggu pertanyaan Daniel.


" Tentang berita yang beredar di luar, apa hubunganmu dan Gilang belum berakhir? Gilang beberapa kali datang menemui mamimu, dia menanyakan keberadaanmu saat itu.."


Kimy menelan ludahnya, dia bingung harus menjawab apa "Aku dan Gilang sudah tidak mungkin bersama pi.." Jawabnya lirih.


Daniel mencoba mengerti "Oke, kita tidak usah membahas Gilang ya, nanti kalau Tristan dengar tidak enak.." Kata Daniel kemudian, karena melihat perubahan raut muka putrinya. Gilang tak mau membuat kimy sedih.


Kimy mengangguk " Pi.. Mami.."


" Ssssttttt.. Tolong jangan bahas masalah mami nak. Papi hanya mau pertemuan kita ini di isi dengan kebahagiaan, oke.."


" Tapi pi, apa papi baik-baik saja tanpa mami?.." Tanya Kimy dengan air mata yang sudah mulai menggunung.


Daniel memeluk Kimy erat "kita akan baik-baik saja nak, oke.. Papi akan baik-baik saja dan kamu juga harus janji sama papi kalau akan bahagia. Mamimu pasti akan bahagia juga melihatmu bahagia bersama lelaki pilihanmu.." Kata Daniel menguatkan putrinya, walau dia sendiri sedang menahan sesak di dadanya.


Andai papi tahu kalau kemungkinan besar yang menyebabkan mami celaka ada lelaki gila yang papi hormati itu.

__ADS_1


Kimy semakin menangis sejadi-jadinya di pelukan Daniel. Haruskah dia menikah dengan lelaki yang menyebabkan maminya celaka. Apa ada pilihan lain. Andai dia punya pilihan lain. Kimy terus memeluk Daniel dengan erat, begitupun dengan Daniel yang mengira Kimy menangisi kepergian sarah, dia tak tahu banyak sekali rahasia yang di pikul putri semata wayangnya itu.


Daniel merenggangkan pelukannya, dia menangkap wajah Kimy dengan kedua tangannya "Jangan menangis lagi, berjanjilah ini terakhir kali kamu mengeluarkan air matamu.." Kimy mengangguk membohongi papinya, tentu saja bohong gadis itu selalu menangis di rumah Tristan, mana mungkin itu yang terakhir kali.


Daniel melihat jam dinding di kamar putrinya "sudah siang, waktunya makan siang. Ajak Tristan untuk makan, papi akan turun dulu.." Daniel berdiri bersiap keluar kamar, kimy mengangguk dan melepaskan genggaman tangan Daniel, hingga Daniel keluar dari kamarnya Kimy terus menatap punggung lelaki yang di sayanginya itu.


Tok.. Tok


Ceklek


Kimy masuk ke kamar tamu yang di siapkan untuk Tristan. Ia berdiri di ambang pintu, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari Tristan.


Kemana dia?


Kamar tamu itu memang cukup besar ukurannya, terdapat ranjang dengan size King, sofa serta tv di kamar itu. Kimy masuk perlahan dan mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada sahutan.


Apa dia di balkon?


Kimy berjalan ke pintu yang menghubungkan balkon di kamar itu, namun belum dia membuka pintu balkon suara bariton terdengar di belakangnya.


Kimy menoleh dan mendapati Tristan berdiri di ambang pintu dengan menyandarkan tubuhnya ke pintu yang masih terbuka itu.


" Waktunya makan siang, papi menyuruhku memanggilmu.." jawab Kimy ketus.


Tristan berjalan masuk, tidak lupa ia menutup pintu kamar yang ia sandari tadi. "Kau tuan rumah yang tak ramah sayang, seperti ini kah perlakuanmu pada tamu yang baru pertama kali datang ke sini. Kau kasar sekali.." Jawabnya sambil terus berjalan mendekat pada Kimy.


"Aku benar-benar merasa seperti di rumah mertua. Aku sangat senang, kita akan sering berkunjung dan menginap di sini.." Kata Tristan tepat di depan Kimy.


Kimy sedikit menyipit. "Kita akan sering kesini?.." Tanya Kimy antara senang dan bingung.


" Hmm.. Tentu saja kita akan sering berkunjung kesini setelah menikah. Dia papamu, berarti papaku juga.."


Kimy menelan ludah kasar mendengar apa yang di katakan lelaki itu. Sedangkan Tristan hanya tersenyum jahil melihat expresi gadis itu.


" Tristan, ada yang mau aku tanyakan padamu?.."

__ADS_1


" Oke katakan.." jawab lelaki itu dengan melipat kedua tangan nya di dadanya.


Kimy berjalan menjauh, ia lebih memilih duduk di sofa Yang ada di kamar itu. " Kenapa kau ingin menikahi ku? Bukankah kau membenciku, kau membenci mamiku?.."


Sial, dari mana gadis ini tahu aku membenci sarah. Batin Tristan.


" Apa kau ingin balas dendam, kau ingin menyiksaku. Tidak puaskah kau sudah menyiksaku selama ini, bahkan kau membunuh.." Kimy menghentikan ucapannya.


Kau membunuh anakmu sendiri, kau membunuh janin yang ada di perutku Bajingan. Lanjutnya dalam hati.


Tristan mendekat pada Kimy, ia duduk bersimpuh di depan gadis itu "Itu kecelakaan Kimy, aku tidak membunuh sarah.." katanya bohong. Tristan mengira Kimy mau mengatakan kalau dialah yang membunuh sarah, padahal Kimy mau bilang tentang janin yang ada di perutnya. Kimy lupa kalau dia tahu itu dari suster rumah sakit bukan dari Tristan. Lelaki itu tidak tahu kalau sebenarnya Kimy juga sudah mengetahui kalau dia sempat keguguran.


"Balas dendam? Apa yang kau katakan sayang, aku ingin membahagiakanmu Kimy. Aku sungguh-sungguh, aku minta maaf karena sudah berbuat keterlaluan, aku ingin menebusnya.." katanya terlihat serius sambil menggenggam tangan Kimy. Tapi bagi Kimy, ia sudah tak percaya dengan apa yang Tristan ucapkan. Lelaki di depannya ini seperti bunglon, dia bisa berubah-ubah sewaktu-waktu.


"Tapi aku tidak mencintaimu.." ucap Kimy lirih tanpa melihat wajah Tristan, ia lebih memilih melihat tangannya yang di genggam oleh lelaki itu. Kimy benar-benar tak berani melihat mata lelaki itu.


Deg


Tristan menatap Kimy, ia tergugu seketika. Tapi dia tetap punya keyakinan kalau Kimy pernah punya perasaan padanya, sebelum tragedi gadis itu masuk rumah sakit. Tristan yakin. Dia mau mengembalikan kepercayaan Kimy lagi padanya.


" Tidak masalah, aku yakin kau akan jatuh cinta padaku nanti.." katanya dengan percaya diri.


Kimy terdiam sesaat " Apa kau mencintaiku?.." Tanya Kimy sedikit ragu.


Tristan menatap Kimy lekat, ia tak percaya kalau gadis itu bertanya tentang perasaannya. Tristan berdiri dan ikut duduk di sebelah Kimy. Dia masih menggenggam tangan gadis itu. Tangan kanannya meraih dagu Kimy, membawanya untuk menoleh padanya. Mereka saling menatap lekat, entah apa yang di rasakan Kimy. Tatapan Tristan begitu mendominasinya. " Kimy, tadinya aku tidak percaya cinta. Ada banyak luka di masa laluku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini. Tapi aku senang bersamamu, kau selalu membuatku ingin berada di dekatmu. Aku juga ingin selalu membuatmu tersenyum seperti saat kau tadi datang ke sini. Aku tidak tahu apa artinya ini. Aku ingin mencari tahu dengan menikahimu.."


Kimy tak bergerak, juga tak bersuara. Ia menatap Tristan lekat seperti terhipnotis. Ini pertama kalinya dia mendengar Tristan bicara panjang padanya. Dia tak menyangka kalau lelaki dingin dan gila ini bisa berkata seperti itu. Kenapa baru sekarang? Kenapa saat dia membenci lelaki itu. Kenapa dulu saat Kimy mencoba membuka hati dia malah menjauhinya, menyakitinya, membuat luka dan trauma yang mendalam pada tubuh dan hatinya.


" Percayalah, kali ini aku tidak akan mengecewakanmu. Kita mulai lagi dari awal.." Kimy tak menjawab, gadis itu benar-benar menjadi patung. Melihat Kimy tak bereaksi, Tristan membelai bibir mungil Kimy dengan ibu jarinya pelan. Lelaki itu terus menatap bibir mungil berwarna Pink itu. Perlahan tapi pasti ia memajukan wajahnya, mendekat dan terus mendekat hingga kedua bibir itu saling menempel sempurna. Tristan memangut bibir Kimy dengan lembut dan pelan. Kimy tak menolak, bahkan dia menutup matanya. Ciuman itu berlangsung cukup lama dan intens hingga terdengar suara pintu di ketuk.


Tok tok tok


" Tuan, nona Kimy.." Suara bi asih membuat Tristan dan Kimy saling melepaskan.


" Oohh shiit.." umpat lelaki gila itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2