
Kimy menerima nampan berisi makanan dari bi Ana dan menaruh di pangkuan Gilang.
Hari ini Kimy tidak jadi berangkat ke kantor karena tidak tega meninggalkan lelaki itu.
"Aku bisa sendiri" Kata Gilang mengambil piring berisi nasi dan lauk lauknya.
Kimy membiarkan lelaki itu mengambil piring yang ada di tangannya. Ia menatap lelaki itu sambil berdiri bersedekap dada.
"Kamu kenapa enggak pernah makan di rumah?"
Gilang menghentikan gerakannya. Ia mendongak melihat wajah istrinya yang masam itu. Tetapi tidak ada yang tahu, jauh di dasar hatinya Gilang bahagia karena Kimy masih peduli padanya.
"Kamu tahu dari mana?" Tanya Gilang dengan memasukan Sendok makan kemulutnya.
"Kamu menyuruh bibi menyiapkan makanan untuk ku, tapi kamu sendiri tidak pernah makan di rumah. Mulai besok jangan ngurusi makananku, urus saja dirimu sendiri"
Gilang menghentikan makannya dan menatap istrinya yang terlihat marah itu.
"Jangan macam-macam, kamu nggak kasihan bayi itu" Kata Gilang dengan tatapan lembut.
"Aku akan memakan makananku kalau kamu juga makan"
"Okey.. kalau begitu mulai besok kita makan bareng di meja makan, bagaimana?" tawar Gilang tersenyum dengan penuh kemenangan.
Kimy mendengus kesal, bisa-bisanya lelaki itu tawar menawar saat ini.
"Kamu kenapa bisa mimisan banyak gitu, kamu kan nggak pernah mimisan dulu" Tanya Kimy sambil mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Aku kecapean aja, nggak usah khawatir"
Kimy tak menjawab, ia hanya menatap lelaki yang sedang sibuk dengan makananya itu.
"Lang.."
"Hmm.."
"Thanks.."
Gilang menatap Kimy yang juga sedang menatapnya dengan pandangan sayu.
"Untuk??"
Kimy membuang nafasnya kasar, ia menunduk. Sebenarnya Kimy malu terhadap lelaki itu. Kimy yang dulu mengaku sangat mencintainya, sekarang malah mengandung anak dari lelaki lain. Dan Bisa-bisanya Gilang masih mau menikahinya, bahkan peduli untuk hal sekecil itu contohnya makanan yang Kimy makan setiap hari.
"Untuk semuanya, terima kasih. Aku enggak bisa balas kebaikanmu" Kata Kimy serak seakan menahan tangisnya.
"Hey.." Gilang menyingkirkan nampan yang ada di pangkuannya. Ia memajukan tubuhnya mendekat pada Kimy.
"Kim.. Apa yang kamu bicarakan? Aku nggak mengharapkan imbalan apapun--"
"Lang A-aku enggak pantas kamu perlakukan begini. Aku banyak salah sama kamu, aku sudah menghianati kamu. Aku ninggalin kamu--" Kimy terbata-bata sambil menangis dan menunduk.
"Hey.. Hey.." Gilang menggeser maju lagi badannya hingga kini Kimy sudah sangat dekat denganya. Ia bisa mencium bau wangi rambut panjang Kimy saat ini.
Grep
Gilang memeluk istrinya itu dari samping. Tubuh Kimy masih bergetar di dekapan Gilang.
"Kamu jangan pernah merasa berhutang budi ataupun bersalah padaku okey.. Kamu tahu bukan itu yang aku harapkan. Melihatmu tertawa bahagia saja sudah membuatku senang. Inget.. Aku tidak mau kamu merasa berhutang budi"
Kimy semakin menangis mendengar perkataan lelaki itu. Kemudian dengan lancangnya Gilang tiba-tiba mencium pucuk kepala Kimy lama, sangat lama. Membuat Kimy sedikit terkejut, namun tidak tahu kenapa ia malah melingkarkan tangannya di pinggang Gilang. Kimy tahu ini salah, Gilang pasti akan salah paham dengan sikapnya ini. Tapi bagaimana lagi, Kimy hanya ingin berterima kasih pada lelaki itu, mungkin ia akan mencoba dengan cara menjadi istri yang baik. Misalnya, makan bersama dengan Gilang dan menyiapkan makanan lelaki itu setiap hari.
**
Air mata terus menetes di wajah cantik itu. Sudah berapa banyak Tisu yang wanita itu gunakan untuk mengelap ingus dan air matanya saat ini. Tisu-Tisu yang sudah kotor itu berantakan di sekeliling wanita itu.
Ia menatap lagi benda kecil yang menunjukan garis dua berwarna merah di sana.
__ADS_1
"Aku harus gimana.." ucapnya pelan dengan air mata yang terus keluar dari matanya.
"Aku enggak mungkin memberitahu dony--" Nadine terus mengusap kasar wajah, hidung dan matanya dengan sisa-sisa Tisu yang ada.
"Aku harus melakukan sesuatu, aku harus nyari dokter untuk menggugurkan kandungan ini. Aku enggak mungkin membiarkannya lahir tanpa seorang ayah" katanya sambil melihat ponselnya. Ia menekan-nekan ponselnya untuk mencari nomor seseorang.
**
" Jadi kenapa kamu menelponku siang-siang begini, bukankah kamu menyuruhku datang malam nanti" Tanya lexa ketika ia telah masuk ke dalam kamar Kimy.
Wanita itu mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar besar itu "Its beautiful.. Ini kamu banget kamarnya, Gilang yang mendesainya?" Tanyanya, kemudian ia duduk disofa yang ada di sudut kamar itu.
"Hmm.."jawab Kimy.
"Kamu enggak ke kantor Kim?"
"Enggak Gilang lagi nggak enak badan" Kimy ikut duduk di sebelah lexa.
"Wow.. Kayaknya aku ketinggalan kereta nih. Udah ada kemajuan hubungan kalian?"
"Jangan ngaco"
"Apanya yang ngaco, kalian suami istri. Lihat.. dia memberimu rumah mewah. Kurang apa?" Tanya lexa dengan mengangkat kedua bahunya, bertanya pada Kimy.
"Udahlah kak jangan bahas ini"
Lexa menggedikan bahunya acuh.
"Dokter Mella mana?" Tanya Kimy kemudian.
"Nanti dia nyusul, kamu kira gampang menyesuaikan jadwal prakteknya. Lagian kamu telpon ndadak banget"
Kimy menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena omelan lexa itu.
"Kamu sekarang kegiatanya apa kak?"
"Terus Gilang dimana Kim, katanya enggak enak badan? Lama banget nggak ngobrol sama dia, aku kangen sama ocehanya itu. Terakhir kali lihat pas kalian menikah itupun gak sempet tegur sapa"
"Dia di kamarnya?"
Lexa melotot sambil menegakkan tubuhnya.
"What the.. KALIAN TIDAK SEKAMAR?" teriak lexa.
Kimy membungkam mulut besar lexa yang kurang ajar berteriak histeris itu.
"Mm-Le-pas" Kimy menarik tangannya malas pada wanita itu.
"*****.. Dasar gila kamu Kim. Tega ya kamu.."
"Kok aku--"
"Ya kamu.. Enggak mungkin Gilang yeng menginginkan kamar terpisah kan?"
Kimy diam mendengar ocehan lexa itu karena pada kenyataannya memang dialah yang menginginkan itu.
"Aku sumpahin kamu jatuh cinta lagi sama dia dan nangis-nangis enggak mau di tinggal dia"
Kimy melotot mendengar perkataan lexa itu, ia pun melempar mantan asistennya itu dengan bantal yang ada di pangkuannya.
Tok tok
"Kimy kamu di dalam? Aku masuk ya.." suara Gilang terdengar di balik pintu.
Cklek
Belum Kimy menjawab pintu itu sudah terbuka, wajah tampan Gilang menyembul dibalik pintu.
__ADS_1
"Lexa.." Sapa Gilang yang melihat wanita itu duduk di sofa bersama istrinya.
"Oh hey Lang.." lexa berdiri dan Gilang masuk ke dalam kamar itu. Keduanya pun saling memeluk singkat, layaknya dua orang akrab yang lama tidak bertemu. Kenyataanya memang mereka dulu seakrab itu. Lexa mengakui kalau memang dari dulu Gilang itu pribadi yang menyenangkan, walaupun sering kali ia di omeli lelaki itu gara-gara Kimy ketahuan bohong dan lexa membantu menutupinya.
"Hm.. Kamu enggak berubah, tetep ganteng dan--" lexa menjeda ucapanya dan mendekat ke telinga Gilang "Hot.." bisik lexa yang masih bisa di dengar oleh kimy.
"Dasar gila" Kata Kimy pelan namun kedua orang itu mendengarnya dan mereka tertawa pelan.
"Kamu sudah baikan?" Tanya Kimy meneliti tubuh Gilang. Lelaki itu sudah terlihat segar, seperti habis mandi. Gilang hanya memakai kaos oblong putih dan celana jeans panjang.
"Hallo.. aku nggak apa-apa cuma kecapean aja, jadi jangan berlebihan Kim"
"Ck.." decak Kimy malas sambil membuang muka.
"Mana dokternya, katanya mau di periksa?"
"Masih otw" jawab lexa sambil kembali mendudukkan tubuhnya di sofa yang tadi.
"Kenapa nggak ke rumah sakit aja, di sana lebih lengkap peralatanya kan?"
"Aku sih terserah bu bos aja" lexa melirik Kimy yang menghiraukan obrolan Gilang itu.
"Pak, di bawah ada dokter Mella katanya" tiba-tiba suara bi Ana menginterupsi. Memang kamar Kimy pintunya masih terbuka, jadi bi Ana langsung saja bersuara tanpa mengetuknya dulu.
"Langsung bawa naik aja bi" seru Gilang di angguki oleh bi Ana.
Setelah beberapa saat dokter Mella memeriksa kandungan Kimy dan dokter bilang bayi itu sehat. Detak jantungnya normal. Tetapi memang dokter itu tidak bisa melakukan USG karena tidak membawa peralatanya. Dokter Mella hanya memberikan resep obat dan vitamin saja.
"Jadi ini kurang lebih usia kandungannya 10 minggu ya Kim" Kata dokter Mella sambil memasukan lagi peralatanya ke dalam tas jinjing yang ia bawa.
"Iya dok.."
"Kalau nggak ada keluhan, makan aja apapun, jangan ada pantangan biar bayinya sehat" lanjut dokter itu lagi.
"Kamu enggak ngidam Kim?" Lexa menyela.
"Nggak ada tuh"
Sedangkan Gilang masih duduk dengan tenang di sofa. Ia tidak mendekat pada Kimy saat dokter itu memeriksa, takut kalau Kimy risih perutnya di lihat olehnya. Padahal dulu, seluruh lekuk tubuh kimy Gilang sudah hafal. Setelah itu dokter Mella pun pamit di antar oleh lexa ke depan.
Gilang beranjak dari duduknya menghampiri Kimy saat wanita itu menegakkan tubuhnya berniat akan turun dari ranjang.
"Mau kemana Kim, udah tiduran aja" Kata Gilang sambil duduk di tepi ranjang.
"Aku kan enggak sakit Lang" Kimy tetap saja bangun, ia sudah duduk dengan menggantung kakinya ke lantai, berdampingam dengan Gilang.
"Kim.."
"Hm.."
Gilang mengambil salah satu tangan Kimy, menaruh di pahanya dan menggenggam tangan itu. Mendapati tangannya di ambil, Kimy pun langsung menoleh ke arah lelaki itu.
"Kalau kamu pingin sesuatu bilang sama aku"
"Hmm?.." Tanya Kimy masih cengo dengan ucapan Gilang itu.
"Kalau kamu ngidam sesuatu--"
"Oh.. enggak kok, aku enggak ngidam" Kimy menggelengkan kepalanya.
"Aku suamimu, aku bertanggung jawab penuh atas dirimu. Anak yang kamu kandung itu, adalah anakku juga. Jadi jangan pernah merasa merepotkan ku.. Bergantunglah padaku Kimy--"
Seperti dulu
Ingin sekali Gilang meneruskan seperti itu, namun sayang, ia hanya berkata dalam hati. Gilang pingin Kimy selalu bergantung padanya seperti dulu. Meminta sesuatu padanya seperti dulu. Tapi apakah bisa?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1