
“Sabrina nggak bisa ikut Papa” kata Jeff saat mendatangi kedua orang tuanya yang sedang menunggu Sab di ruang keluarga.
Tristan dan Kimy kompak menoleh ke asal suara.
“Jeff, kenapa adikmu nggak bisa ikut?” Tanya Tristan, sedangkan Kimy ia tak bertanya apapun, ia hanya melihat expresi sang putra.
“Sab lagi nggak enak badan” jawab Jeff dengan santai, kemudian ia pun duduk di depan orang tuanya.
“Apa, Sab kenapa sayang? Coba kamu lihat dulu Kim” panik Tristan.
“Nggak usah pa, Sab udah tidur” seru Tristan dingin.
“Gimana sayang, mereka ingin sekali kenal Sabrina” tanya Tristan pada Kimy.
Kimy membuang nafasnya, ia sudah menduga semua ini akan terjadi.
“Ya udah nggak apa-apa, kita tetap datang ke sana, nggak enak sayang kalau di batalin” jawab Kimy.
“Jeff kamu yakin adikmu nggak perlu di bawa ke rumah sakit?” Tanya Tristan memastikan sekali lagi.
“Papa nggak usah khawatir, biar aku yang urus Sab” jawab Jeff tanpa expresi “Oh ya dan satu lagi pa. Aku harap papa nggak serius menjodohkan Sab dengan anaknya om Anton yang baru pulang dari luar negeri itu”
Kedua pasangan suami istri itupun kompak memandang wajah Jeff yang terlihat tidak sedang main-main.
“Kenapa, kamu tidak setuju dengan rencana perjodohan ini, kamu kenal Jeremy kan? Dia cocok dengan adikmu Jeff”
Kimy menarik pucuk lengan kemeja Tristan, berharap suaminya itu tidak meneruskan perkataanya.
“Sabrina masih terlalu muda pa” jawab Jeff lagi.
“Tidak masalah, mereka bisa saling mengenal dulu, kalau sudah sreg bisa tunangan dulu”
Jeff langsung berdiri dengan kedua tangan berada di saku celananya.
“Pembahasan seperti ini, Jeff nggak mau mendengar lagi” selanjutnya, Jeff langsung meninggalkan Kimy dan Tristan.
“Jeff tunggu” teriak Kimy, wanita yang sekarang berumur 45 tahun, yang masih kelihatan sangat cantik itu pun geram dengan sikap anak lelakinya yang menurutnya tidak sopan pada Tristan, suaminya.
Jeff berhenti namun tak berbalik untuk sekedar menatap mommy nya. Akhirnya Kimy lah yang mengalah, ia menghampiri Jeff, memutari tubuh tegap itu hanya untuk sekedar manatap wajah dingin putranya.
Sedangkan Tristan, ia sedikit ketar-ketir kalau-kalau istrinya dan anaknya bakalan adu mulut, karena itu sudah sering terjadi.
“Sikap kamu terhadap papamu, pantaskah seperti itu?” Tany Kimy.
Jeff tak menjawab.
“Jeff kamu denger Mommy kan?”
Jeff mengangguk.
“Mommy tahu kamu menyayangi Sabrina, tapi kamu harus tahu batasannu sebagai kakak Jeff”
Jeff mengetatkan rahangnya.
“Papamu sudah berapa kali mengingatkan, attitude Jeff, jaga sikapmu”
“Sayang sudah” Tristan meraih pinggang Kimy membawanya menjauh dari Jeff.
Jeff pun meninggalkan tempat itu, lebih tepatnya keluar rumah.
__ADS_1
Tristan melepas Kimy ketika melihat Jeff sudah keluar rumah.
“Kamu terlalu memanjakan anak itu Tristan, lihat kelakuanya semakin menjadi, tidak ada hormat sama sekali kepada orang tua” seru Kimy.
Tristan membuang nafasnya “Karakter Jeff sulit di rubah sayang”
“Ya mirip sekali denganmu” jawab Kimy ketus.
“Aku? Mana pernah aku bersikap tidak sopan terhadap orang yang lebih tua” Tristan membela diri.
Kimy tersenyum remeh mendengarkan pembelaan suaminya itu “apa perlu ku ingatkan bagaimana buruknya sikapmu terhadap nenekmu dan juga
pap—sory” Kimy hampir kebablasan mengulas masa lalu kelam keluarga mereka.
“Pokoknya kamu dulu juga nggak sopan begitu, tapi bedanya dulu kamu bersikap begitu hanya terhadap orang tertentu, tapi Jeff ini kepada semua orang, termasuk kepada kita” tutur Kimy.
“Tapi sebenarnya apa yang membuat Jeff marah, apa hanya karena perjodohan Sabrina? Apa Jeff merasa di langkahi, dia bisa juga segera bertunangan dengan Eve kalau mau, nanti aku coba bicarakan dengan Dony” seru Tristan.
“Heh sayang, sejak kapan kamu ikut campur masalah percintaan anak-anak, biarkan mereka yang mejalani, kita nggak usah ikut campur, apalagi Jeff. Kalau Sabrina memang harus kita yang mencarikan jodoh untuknya, aku nggak mau putriku salah dalam memilih lelaki” ucap si Kimy mendapat anggukan dari Tristan.
“Kimy aku minta padamu jangan bertengkar dengan Jeff, mengertilah anak itu sayang” ucap Tristan sambil memeluk Kimy.
“Tapi dia keterlaluan, dia bersikap kurang ajar padamu”
“Stttt.. nggak ada yang kurang ajar, jangan bicara seperti itu, jangan sampai dia mendengarmu bicara seperti itu, hmm?”
Kimy mendengus kesal “Iya” jawabnya.
**
“Kau kenapa, lagi ada masalah?” Tanya Teddy pada cucu kesayanganya yang saat ini sedang merenung di taman belakang, siapa lagi kalau bukan Jeff.
“Barusan asisten kakek kasih tahu kalau kau datang, ada apa nak?”
Jeff membuang nafas “Nggak ada apa-apa kek, Jeff hanya butuh sendiri, sedikit capek”
“Liburanlah, sudah berapa lama kau bekerja sangat keras begini, ajaklah wanitamu Jeff” goda sang kakek.
“Sejak kapan Jeff main wanita kek”
Teddy terbahak mendengar jawaban cucunya, kenapa sifat Tristan yang dulu playboy tidak menurun pada anaknya, batinnya.
“Papamu apa kabar, sepertinya dia lupa kalau kakek masih hidup, terakhir kesini sepertinya tiga bulan lalu” ujar Teddy.
“Kakek punya no hp nya, kenapa tidak telepon saja?” Jawab Jeff.
Teddy mengerutkan kening “Dari jawabanmu, sepertinya kau sedang kesal padanya”
“Ya, dia terlalu ikut campur urusanku” jawab Jeff dengan tenang.
“Wajarlah, dia papamu nak. Dulu waktu kakek masih muda juga selalu memcampuri urusan papamu”
“Kalau Daddy? Kenapa kakek selalu membahas masa lalu kakek dengan papa, bukankah Daddy juga anak kakek?” Tanya Jeff heran.
“Dan satu lagi, Jeff adalah anak Daddy Gilang bukan papa”
“Jeff!!” Bentak Teddy, tak pernah terpikir kalau Jeff bakal berkata seperti itu.
“Jangan sampai papamu dengar kau bicara seperti ini nak, kau akan menyakitinya” ujar Teddy.
__ADS_1
Jeff tersenyum tipis “Selama ini kakek selalu membahas papa, kakek selalu membanggakan papa, kalau kakek lupa Jeff ingetin, bagaimana pun baiknya papa Tristan, ayah kandung Jeff adalah Daddy Gilang kek”
Teddy terdiam, banyak yang berkecambuk di dadanya, tapi lelaki tua itu lebih memilih diam.
“Tapi kau menyayangi papamu nak” kata Teddy lirih.
“Ya, Jeff menyayangi papa, tapi papa tidak bisa menggantikan posisi Daddy di hati Jeff” detik selanjutkan Jeff berdiri “Jeff pamit kek” Jeff pergi begitu saja tanpa salim pada Teddy, kumat lagi si Jeff.
**
Pukul 23.00 Jeff pulang di temani oleh Eve. Jeff dalam kondisi mabuk, bukannya pulang ke rumah ia malah mendatangi rumah Eve, karena Dony sedang tidak di rumah, akhirnya Eve pun mengantarkan Jeff pulang.
Eve memapah tubuh tegap Jeff untuk menuju ke kamarnya, rumah mewah itu sudah sepi, sepertinya penghuninya sudah pada tidur, hanya ada penjaga dan pembantu saja tadi yang membantu Eve membuka pintu.
“Masukin sandinya Jeff” perintah Eve pada Jeff. Saat ini keduanya sudah berada di depan kamar Jeff.
“Hemm” jawab Jeff sambil tersenyum pada Eve.
“Jeff jangan bercanda, ayo buka kamarmu, tubuhmu berat Jeff”
“Sayang jangan marah, abang minta maaf” Eve mendelik kaget sekaligus malu, bisa-bisanya Jeff memanggilnya sayang, tapi kok pake bang segala, pikirnya.
“Ayo Jeff buka” seru Eve lagi.
Jeff pun memencet pin di kamarnya dengan cepat, sangat cepat bahkan, Eve yang sedikit mengintip saja ketinggalan.
Setelah pintu terbuka Eve pun memapah Jeff lagi “Sayang, Sabrina maafkan abang”
Deg
Eve berhenti seketika mendengar rancauan Jeff barusan, hatinya seperti di siram dengan air panas, otaknya pun langsung mendidih.
Maksudnya apa ini, batin Eve.
Eve menurunkan Jeff ke ranjang dengan pelan, melepas sepatu dan menyelimuti lelaki itu.
Eve masih berdiri mematung meyaksikan Jeff yang tertidur pulas, entah pikiranya melayang kemana, hatinya mulai tak tenang.
Maksudnya apa Jeff bicara kayak tadi, jadi tadi dia mengira aku Sabrina, makanya di panggil sayang, tapi kenapa dengan Sabrina. Ngak mungkin Jeff suka Sabrina kan, mereka kan adik kakak, yang benar saja, batin Eve.
Sab dan Kak Eve itu spesial buat bang Jeff. Perkataan Zane tadi pagi muncul di ingatan Eve seketika.
Eve berniat meninggalkan kamar Jeff namun tiba-tiba saja pergelangan tanganya di tarik oleh Jeff dan berakhir Eve yang jatuh di atas tubuh Jeff. Eve terpekik.
“Jeff!!” Seru Eve.
“I love you” ucap Jeff dengan suara parau dan mata yang tertutup, Eve yang mau berontak pun tak berdaya dan akhirnya ia pun lebih memilih menikmati moment itu, entah siapa yang ada di pikiran Jeff saat ini, yang terpenting Eve ingin menikmatinya dulu.
Di pandanginya wajah Jeff yang sangat tampan bak dewa yunani itu dengan jarak yang cuma sesenti. Entah, naluri saja tiba-tiba Eve pun mendekatkan bibirnya pada bibir Jeff yang menggoda dan pertemuan bibir itu pun terjadi.
Ceklek
“Ab—“ Sab langsung menutup mulutnya ketika melihat Eve berada di atas tubuh Jeff dengan poisisi yang sangat intim, pinggang Eve di dekap oleh Jeff. Eve yang mendengar pintu terbuka pun langsung beranjak dan menoleh melihat Sab berdiri di ambang pintu.
“Sab” seru Eve.
“Jangan pergi” suara parau Jeff mengintrupsi kecanggungan antara Sabrina dan Eve, mendengar itu, Sabrina pun mundur selangkah dan memilih menutup pintu.
Entah, tiba-tiba saja sudut bibir Eve tersenyum miring saat ini.
__ADS_1
Bersambung..