BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bunuh diri


__ADS_3

"Kau sedang apa?" Tanya Sinta pada sarah. Sarah terlihat melamun seorang diri disebuah kedai kopi yang ada dihotel tempat mereka menginap.


"Memikirkan nasib putrimu?" tanyanya sekali lagi sambil menarik sebuah kursi di depan sarah lalu mendudukinya.


Sarah tak menjawab, ia hanya memijit pangkal hidungnya. Hidupnya terasa rumit akhir-akhir ini.


"Kita perlu apresiasi anak itu, kerjanya cepat juga, mengingat siapa lawannya kali ini"


"Diam Sinta!" Sarah melirik kanan dan kiri takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. "Ini kecelakaan, aku yakin bukan dia pelakunya. Dia tidak akan melakukan ini." Kata sarah sambil menekan setiap katanya.


"Ha ha ha.. ku kira kau mengenalnya lebih baik dari pada aku. Kali ini dia melakukannya bodoh, dia yang melakukannya. Kita tahu itu, jangan pungkiri kenyataan ini"


"Kau bukan aku, aku tidak tahu apa-apa. Sejak aku tahu keadaan Kimy, aku sudah menyerah pada rencana bodoh ini. Jadi jangan sangkut pautkan aku" desis sarah tepat di depan muka sahabatnya itu.


"Oke baiklah" Sinta tersenyum licik "Tapi semua sudah terjadi, Kimy sedang hamil, ingat itu"


"Diam Sinta, aku akan menghabisimu kalau orang lain tahu masalah ini" hardik sarah. Sarah berdiri bersiap meninggalkan tempat itu.


"Aku punya ide, yang aku yakin kau akan menyetujuinya" Sinta tersenyum licik melihat sarah mematung, wanita itu tidak jadi pergi dari tempatnya. "Ini akan menguntungkan kita semua sarah, percayalah padaku"


"Aku tidak akan lagi percaya pada ide-ide konyolmu itu" segara sarah meninggalkan Sinta sendirian. Sinta masih tersenyum licik ditempatnya "Heh, kau akan segera kembali padaku sarah, hanya aku yang bisa menyelamatkan kehormatan putri mu"


Setelah dua hari berada di itali rombongan itu pun kembali ke Indonesia dengan segala duka dan kekecewaan yang mereka rasakan. Kimy lebih banyak diam dan melamun stelah kejadian dia pingsan dikantor polisi itu. Kedatangan mereka pun disambut antusias oleh para wartawan di bandara. Akhirnya dengan berat hari rombongan itu berdiri di depan para wartawan dan menyampaikan duka mendalam mereka atas kecelakaan yang menewaskan Tristan dan Mario itu.


"Terima kasih saya ucapkan kepada para wartawan dan semua orang yang sudah mendoakan putra saya Tristan. Kita disini, saya dan keluarga saya, serta keluarga Daniel calon besan saya sudah memastikan keTKP, dan benar putra saya Tristan beserta sahabatnya Mario, berada dalam pesawat itu. Selain anak saya dan Mario, ada dua pramugari, seorang pilot dan kop pilot yang berada di pesawat itu" Kata Teddy di atas kursi rodanya.


"Tuan, apakah sudah di pastikan semua korban tidak ada yang selamat?" Tanya seorang wartawan dengan lantang.


"Saya hanya minta doa kepada kalian semua" jawab Teddy dengan mengusap kacamata nya yang berembun oleh air mata. Sinta mengelus pundak suaminya itu agar lebih tenang.


"Lalu pernikahan yang kurang tiga hari lagi akan batal tuan?" Tanya wartawan lainya tidak kalah lantang.


Kimy hanya menunduk mendengar pertanyaan wartawan itu. Tubuhnya di peluk erat oleh Daniel saat ini.


"Mengenai itu nanti saya yang akan sampaikan" sela Dony.


"Saya rasa cukup, terima kasih" Daniel melanjutkan. Rombongan itupun mulai berjalan meninggalkan tempat itu di bantu oleh beberapa bodyguard yang sudah di siapkan oleh Dony sebelumnya. Saat ini Dony yang memegang penuh kendali atas perusahaan Tristan.

__ADS_1


"Kimy, kimy komentarnya donk sedikit aja" teriak beberapa wartawan itu, namun tak dihiraukan oleh kimy. Daniel masih memeluk pinggang putrinya itu sembari terus berjalan kaarah mobil yang sudah menunggu.


**


Kebar kematian Tristan dan Mario sudah menghiasi layar kaca maupun elektronik. Batalnya pernikahan Kimy dan Tristan pun menjadi topik hangat saat ini.


Sedangkan Kimy sejak kepulanganya masih mengurung diri di kamar, lebih banyak diam dan melamun. Kurang dua hari lagi seharusnya pernikahan itu dilakukan. Kimy meraba cincin pertunangan dijari manisnya "Dua hari lagi, kenapa kamu ingkari janjimu Tristan" air mata jatuh lagi dipipi wanita cantik itu "Aku hamil Tristan. Ada anakmu di perutku, kenapa, kenapa, kenapa! " katanya sambil menekan ucapanya agar tak terdengar keluar kamar. Kimy menoleh pada nakas dan berjalan menghampirinya, wanita itu sperti mayat hidup sekarang. Tak ada senyum atau sinar kehidupan lagi dimatanya, dia membuka nakas itu dan mengeluarkan sebuah silet dari sana "Bukankah aku bilang tak ada yang dapat memisahkan kita, bahkan kematian pun" katanya lirih dengan menatap silet itu.


Perlahan darah itu mengalir disekitar urat nadinya, nyeri dan perih wanita itu rasakan. "Kita akan bertemu lagi setelah ini" Kimy terus berbicara sendiri seolah ada Tristan di depannya. "Aku tidak mau hidup sendirian Tristan"


Ceklek


"Ya tuhan Kimy" teriak lexa melihat darah mengalir di pergelangan tangan Kimy. Lexa berlari menghampiri wanita itu dan merebut silet yang masih berada di tangan Kimy.


"Jangan gila kamu hah" teriak lexa membuang silet itu.


"Kembalikan kak, kembalikan!" teriak Kimy histeris.


"Kamu mau mati hah, kamu gila kim, kamu gilaaa!! Ingat kamu lagi hamil, kamu akan membunuh bayimu bodoh"


"Aku tidak peduli, aku mau mati kak. Buat apa aku hidup sendirian tanpa Tristan. Aku tidak butuh bayi ini, aku tidak butuh" teriak Kimy, keduanya saling bersitegang. Lexa berusaha menghampiri Kimy namun ditepis oleh wanita itu.


"Mami Kimy enggak mau hidup lagi, biarin Kimy nyusul Tristan miiii" teriak Kimy sambil menangis histeris, Kimy menjatuhkan tubuhnya di lantai dan terduduk disana.


"Ya tuhan sayang, jangan lakukan itu Kimy demi tuhan" Sarah pun ikut terduduk di depan putrinya itu sambil menangis. Lexa langsung berlari keluar kamar untuk memanggil dokter.


"Kimy udah hancur mi, Tristan ninggalin aku. Aku harus gimana, aku harus gimana? Aku enggak mau hidup lagi" Kimy terus menangis dan merancau mengatakan ingin mati. Sarah langsung memeluk putrinya itu. Mereka berdua menangis sejadi-jadinya bersamaan "Kalau kamu mati, kamu akan membunuh mami, papi dan juga anakmu nak. Bertahanlah setidaknya untuk anak itu. Itu anak Tristan, darah dagingnya. Satu-satunya kenangan abadi yang kamu miliki dari Tristan sayang" perkataan sarah itu menghentikan tangis Kimy. Kenangan abadi, satu-satunya kenangan abadi dari Tristan. Kata-kata itu berulang-ulang muncul di otak Kimy. Sarah menjauhkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Kimy.


"Dengar, kamu harus melahirkan anak itu apapun yang terjadi. Kalau kamu mau dia lahir, kamu harus hidup, kamu harus sehat hm" Kimy masih memandang sarah mencerna setiap kata yang di dengarnya dari wanita di depannya itu.


"Tapi tidak ada Tristan mi" Kata Kimy pelan.


"Tidak masalah. Kita akan membesarkan bersama anak tak berdosa itu. Kami ada bersamamu sayang" bujuk sarah untuk meyakinkan putrinya itu. Setelahnya Kimy menangis memeluk lagi sarah, mengangguk beberapa kali dalam pelukan "Iya, aku akan membesarkannya mi"


Setelah beberapa saat Kimy sudah tertidur karena pengaruh obat yang diberikan oleh dokter (teman lexa yang dulu datang menangani kehamilan Kimy).


**

__ADS_1


Sarah menyetir mobilnya dengan kecepatan penuh. Melihat putrinya begitu frustasi sampai mau bunuh diri membuat nyalinya semakin besar untuk mencari jalan keluar dari masalah ini. Tujuannya kali ini adalah rumah Sinta. Kemarin wanita itu menawarkan solusi yang katanya tidak mungkin bisa ditolak, membuat niatnya menemui wanita gila itu semakin menggebu-gebu.


"Sinta ada?" tanyanya to the point pada salah satu pembantu yang membukakan pintu. Wanita itu langsung saja menyerobot masuk tanpa permisi.


"Hay, kau datang lebih cepat dari yang ku duga" Kata Sinta berjalan menuju ruang tamunya.


Sarah berjalan mendekat pada Sinta, ia berdiri tepat di depan Sinta, menatap tajam wanita gila itu "Katakan solusi apa yang kau tawarkan padaku kemarin" katanya dengan lirih namun mnnekan setiap kata.


Sinta tersenyum lalu berjalan meninggalkan sarah, wanita itu memilih duduk disofa dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap sarah remeh "Tenang sarah, santai. Duduklah dulu, kau mau minum teh?" ejek Sinta, demi tuhan Sarah rasanya ingin sekali menendang muka menyebalkan Sinta itu.


"Aku tidak punya waktu untuk main-main Sinta. Cepat katakan. Nyawa Kimy taruhanya"


"Nyawa Kimy?"


"Kimy hampir saja bunuh diri sial*n. Cepat katakan!!" gertak sarah.


Sinta sedikit terkejut mendengarnya, kemudian ia berjalan mendekati sahabatnya itu lagi. "Kita nikahkan Kimy dan Gilang" ucapnya tepat di telinga sarah.


Jeduarrr!!!


Sarah melotot mendengarnya, ia menatap Sinta dengan tatapan membunuhnya. Sinta tetap menjadi iblis yang tidak akan berubah. Bagaimana dia bisa berfikir sampai kesitu. Sarah bukan wanita gila. Dia tidak akan egois melakukan semua itu. Sarah sangat mencintai putrinya.


"Itu satu-satunya jalan keluar" katanya lalu menjauh lagi dari sarah dan duduk lagi di tempatnya. Sarah masih mematung ditempatnya, ia seperti kehilangan kata-kata mendengar ucapan sinta yang gila itu.


"Apa yang kau takutkan Sarah?" Tanya Sinta lagi ketika Sarah tak juga menjawab. "Anak itu butuh ayah. Gilang satu-satunya lelaki yang tepat"


"Tepat apanya heh, tepat apanya. Kau sengaja mengambil kesempatan dalam masalah ini" teriak sarah.


"Kesempatan apa yang aku peroleh. Berfikirlah realistis Sarah. Gilang adalah adik dari Tristan, satu-satunya keluarga Tristan. Apa coba yang salah, tidak ada kan. Publik tidak akan banyak bertanya kalau Gilang menggantikan Tristan dipelaminan"


"Heh, aku tidak percaya ini. Kau licik sint. Kau kira kimy akan setuju. Daniel akan menerima ini dan suamimu---"


"Justru itu, itu adalah tugasmu meyakinkan mereka semua. Aku hanya membantu sebatas ini"


"Aku tidak akan melibatkan Gilang dalam masalah ini" jawab Sarah lemah.


"Ya terserah kau. Hanya saja aku mau mengucapkan selamat untukmu. Sebentar lagi keluargamu akan jadi bulan-bulanan orang seindonesia. Seorang Kimy yang di puja-puja jutaan anak muda, hamil di luar nikah dan lebih kerennya lagi, yang menghamili sudah mati. Waah jadi siapa yang mau menikahi Kimy nanti. Jadi perawan tua donk. Amit-amit" ucap Sinta dengan wajah jijiknya. Sarah mengetatkan rahangnya mendengar ejekan Sinta itu, dia pun segera keluar dari rumah itu sebelum emosinya meluap.

__ADS_1


"Dua hari lagi, pikirkan itu" teriak Sinta namun tak di hiraukan sarah.


Sinta tersenyum penuh kemenangan. Sampai saat ini tidak ada yang bisa menghalangi jalanya. Sebentar lagi semuanya akan selesai, tamat. Dialah pemenangnya. Batinnya.


__ADS_2