
Gilang keluar dari mobil Sport nya, lelaki tampan itu kini berdiri di depan gedung pencangkar langit. Ia memarkir mobil nya tepat di depan gedung itu. Semua mata orang yang berlalu lalang melihat ke arahnya. Ada tatapan kagum akan ketampanan lelaki itu dari setiap mata yang melihat nya. Selain itu ia adalah seorang artis yang wajahnya sering wara-wiri di tv, sudah jelas semua orang tahu diri nya. Apalagi akhir-akhir ini berita panasnya menjadi gosip utama di tv.
Lelaki itu memakai kemeja panjang biru dan celana jeans warna senada. Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung nya. Memang keturunan Teddy tak ada yang gagal produk. Perlahan kaki nya melangkah masuk ke gedung itu. Di mana lagi kalau tidak di perusahaan Tristan, PT ABR. Ini sudah ketiga kalinya ia datang ke tempat itu, pertama saat ia mau menghajar Tristan, kedua saat ia menangkap basah Hendra asisten papa nya bersama wanita sexy dan ketiga saat ini. Namun kali ini Gilang tak memakai masker untuk menutupi wajah nya, biarlah orang tahu karena Gilang bertekad untuk menemui lelaki itu, ia benar-benar ingin memastikan sesuatu. Entah ini perbuatan nekat atau tidak, ia hanya ingin memastikan yang mengganjal di hati nya.
Gilang berhenti tepat di depan Resepsionis dan melepas kacamatanya "Siang bisa bertemu dengan Tristan?.." Tanya Gilang pada resepsionis itu. Wanita di depan nya itu terlihat terpana melihat ketampanan Gilang, ia melongo tak menjawab pertanyaan Gilang. Resepsionis itu sudah dua kali di datangi lelaki tampan itu, namun pesona Gilang masih mampu menghipnotisnya.
"Hallo.." sapa Gilang lagi.
"oh iya.. Sebentar.." resepsionis itu segera menelepon sekretaris bos nya Angela, memberi tahu kalau artis bernama Gilang itu mau bertemu atasan nya.
Beberapa saat resepsionis itu mempersilahkan Gilang ke lantai paling atas gedung itu, di mana ruangan Tristan berada.
Akhirnya kita bertemu lagi kakak ku. Gilang sedikit tersenyum.
Gilang keluar dari lift di lantai paling atas gedung itu, setelah lift terbuka terlihat Dony sudah berdiri menanti kedatangan nya.
"Mari sebelah sini tuan.." Kata Dony mempersilah kan Gilang mengikuti nya.
Gilang melihat keadaan sekitar, ada satu ruangan besar yang di dalamnya berderet kursi dan meja dengan dinding kaca tembus pandang yaitu ruang rapat. Gilang bisa memastikan dari cara penataan ruangan itu dan di depan ia melihat ada satu-satunya meja kerja yang Gilang yakini adalah meja sekertaris Tristan. Sedangkan ada dua ruangan besar lagi di situ. Saat Gilang melewati meja sekertaris Tristan ia sedikit kaget melihat wanita itu. Angela yang melihatnya pun hanya tersenyum menyapa nya.
Bukankah wanita ini yang bersama om Hendra.
Sekarang Dony dan Gilang sudah berada di depan salah satu ruangan besar itu, yang Gilang yakini adalah ruangan Tristan.
Tok tok
Dony mengetuk pintu dan membuka nya saat itu juga.
"Mari.."
Gilang masuk ke ruangan, terlihat Tristan berdiri memunggungi nya sambil melihat pemandangan di luar kantor melalui dinding kaca gedung itu. Seperti sudah menunggu nya. Beberapa saat Tristan memutar tubuh nya, melihat Gilang berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Silahkan duduk.." Dony mempersilah kan Gilang untuk duduk di sofa, namun Gilang menolak nya.
"Tidak perlu, langsung saja saya.."
"Baiklah, kalau begitu saya permisi.." Dony memotong ucapan Gilang lalu meninggalkan ruang an itu.
Tristan berdecak kagum akan keberanian adik nya itu, ternyata adik nya itu punya nyali juga menemui nya.
Tristan berjalan ke arah sofa dan duduk di sana "Duduklah dan katakan apa maksud kedatanganmu.."
"Heh.." Gilang sedikit tertawa "Aku kesini bukan untuk berbasa-basi. Aku ingin kau lepaskan Kimy, dia tidak bersalah.."
"Haha.. Kau lucu sekali bung, bagaimana bisa aku melepaskan dia kalau dia sendiri tak mau pergi dari sisiku.." jawab Tristan seakan mengejek Gilang.
"Kau pikir aku bodoh, 3 hari lalu dia mau menemuiku. Dan kita gagal bertemu, aku yakin kau yang membuat pertemuan ku dengan nya gagal.."
Sialan, gara-gara kau aku membunuh calon bayiku. Batin Tristan.
Gilang mengepalkan tangan nya, ia berjalan mendekat pada Tristan "Tristan aku sudah tahu semua rahasia mu, bukan Kimy sasaran mu tapi keluargaku. Lepaskan dia, dia tak bersalah.."
Mendengar perkataan Gilang, jantung Tristan berdekup kencang.
"Kau ingin balas dendam pada keluarga kami? Lakukan lah tapi jangan libatkan Kimy.."lanjut Gilang.
Hati Tristan semakin panas mendengar perkataan itu. Rahasia yang selama ini di jaga akhirnya terungkap sudah.
"Kau bicara apa bung?.." dalih Tristan menutupi kegelisahnya.
"Kau mau membunuh papa?.."
Deg
__ADS_1
Tristan menatap Gilang tajam, rahang nya mengeras, tangan nya mengepal kuat.
"Aku tidak tahu sebesar apa papa dan mama ku menyakitimu. Tapi untuk mereka berdua dan untuk Kimy, aku minta meminta maaf. Aku tidak ingin ada yang terluka, aku tidak ingin ada korban. Kimy pasti menderita di pisahkan dari orang tua nya. Bahkan. Sekarang mamanya kecelakaan, kalau dia tahu dia bisa shock. Ku mohon lepaskan dia.."
Tristan Aditya Abraham, dia diam mematung. Dia tak percaya dengan apa yang di dengar nya saat ini. Laki-laki di depannya ini meminta maaf untuk orang tuanya dan untuk gadis yang ia cintai. Hatinya menertawakan takdir nya yang sungguh berbeda dari lelaki di hadapan nya ini. Lelaki yang ia benci setengah mati ini, rela meminta maaf menjatuhkan harga diri nya. Bahkan jauh sebelum hari ini tiba, lelaki itu serasa ingin menghabisinya. Kenapa bisa, dua orang dari benih yang sama bisa berbeda karakter seperti ini. Apakah ia di takdirkan untuk selalu menjadi peran pendamping, untuk selalu kalah dan untuk selalu menjadi pihak yang bersalah. Tristan sedikit tersenyum trenyuh dengan takdir nya.
Tristan yang psikopat dengan karakter ganda, bahkan bisa membunuh musuh nya, harus berhadapan dengan lelaki yang berhati tulus sperti itu. Jujur saja ia sedikit kesal, ia lebih menyukai hal menantang. Seperti saling menghancurkan misalnya, atau saling membunuh. Itu lebih masuk akal bagi dia. Apa Kimy gadis yang ia cintai itu menyukai karakter lelaki seperti Gilang? Pikiran Tristan terus berputar dengan keterdiaman nya.
"Kau tahu apa yang kau katakan?.." Tristan bersuara.
"Aku sangat tahu, maka dari itu aku datang ke sini untuk memastikan. Kalau kau berniat balas dendam pada papa, kau berhasil. Dia sudah sekarat, hidupnya hanya tergantung pada alat medis. Kapanpun alat itu di lepas, ia akan pergi.."
Tristan diam, tak ada ekspresi di wajahnya.
"Sedangkan mama, dia sudah seperti orang gila yang setiap saat histeris.."
"Maafkan mereka Tristan.."
Tristan masih diam.
" Ada hal yang harus kau tahu tentang papa. Selama di rumah sakit, dia sempat sadar sebentar dan selalu menyebut nama Daffa. Aku yakin kau mengerti. Bahkan aku yang ada di samping nya tak ia singgung sedikit pun.."
Tristan mengeratkan genggaman tangannya.
"Dia mencari mu selama ini.."
Deg
Hati tristan seperti teriris, entah kenapa. Hatinya seperti di sayat sebuah pisau yang tajam. Apa selama ini ia hanya salah paham? Bukankah papa nya tidak menginginkan nya? Bukankah papa nya tak mengakui nya sebagai anak.
Gilang terus berfikir, otaknya seakan mau pecah. Sudah berapa tahun ia menyiapkan semua ini untuk balas dendam, bahkan hatinya sudah di penuhi kebencian. Kenapa sekarang berakhir seperti ini?
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=