
"Aku denger Kimy ketemu dengan Gilang ya kemarin? " Tanya Nadine pada Dony. Saat ini Dony sedang berada di gallery Nadine, lelaki itu datang untuk memastikan gaun yang akan dipakai Kimy saat pernikahannya nanti.
"Hmm" jawab Dony dingin. "Tahu dari mana?"
"Tante Sinta kasih tahu aku" jawab Nadine, wanita itu berjalan mendekati Dony membuat Dony menatapnya. Dony baru sadar kalau Nadine memakai pakaian yang terlalu ketat saat ini, membuatnya menggeram kesal. Dony mencoba menjauh ketika tubuh sexy Nadine berada tepat di depannya. "Mau kemana?" Nadine menahan lengan Dony ketika lelaki itu mau beranjak, namun Dony menepis tangan Nadine, sedangkan Nadine hanya tersenyum tipis membiarkan lelaki itu menjauh. Nadine tahu kalau Dony selalu menghindari bersentuhan fisik denganya. Pernah mereka berciuman sekali saat Dony memintanya menjadi pacarnya dulu. Tapi itu terjadi begitu saja dan mereka melupakanya begitu saja, seadainya hubungan itu didasari cinta pasti keduanya akan saling bertanya kenapa hubungan percintaan mereka seperti itu. Tapi karena mereka mempunyai tujuan, mereka sama sekali tidak peduli. "Jadi wanita itu memberi tahumu?" Tanya Dony kemudian dan Nadine hanya mengangguk.
"Don, aku boleh tanya sesuatu?" Dony tak menjawab, dia hanya menatap Nadine, seakan menunggu gadis itu bertanya. "Kenapa Tristan begitu mencintai Kimy? Bukankah dia dulu seorang playboy, suka gonta ganti teman kencan, kenapa harus Kimy yang sudah mempunyai kekasih"
"Itu bukan urusanku" jawab Dony singkat.
"Setidaknya kan kamu tahu, dia kan bos kamu" desak Nadine. Dony tersenyum miring "Kalaupun aku tahu, aku tidak akan memberitahumu" muka Nadine berubah ketika mendengar itu. "Lalu kenapa kau menembakku dulu?" harusnya Nadine tak bertanya seperti itu walaupun sempat beberapa kali pertanyaan itu muncul di hatinya. Sebenarnya Nadine tidak peduli apa tujuan lelaki itu menembaknya, tapi perkataan Dony barusan seakan menyiratkan kalau keberadaannya tak memberi arti apa-apa untuk lelaki itu.
"Sudahlah, urusanku sudah selesai" Dony berjalan berniat meninggalkan Nadine, namun bajunya ditarik oleh wanita itu. "Kamu tidak bisa pergi gitu aja sebelum menjawab pertanyaanku Donny!" sampai kancing baju Dony terlepas karena tarikan itu. Dony menatap tajam Nadine "Apa yang kamu inginkan dariku?" Beberapa detik mereka saling menatap hingga entah siapa yang memulai duluan, keduanya sudah menyatukan bibir mereka. Saling menyesap kuat meminta lebih. Dony mendorong tubuh Nadine hingga membentur pada dinding dibelakangnya membuat Nadine semakin memasrahkan diri akan sentuhan lelaki itu. Masih dengan ciuman kasar itu Dony menciumi bibir, muka hingga sekarang turun ke leher Nadine. Dony kembali lagi ke atas menciumi sekali lagi bibir merekah Nadine, lelaki itu berhenti sejenak dengan nafas saling menggebu "Hentikan aku kalau kamu menolakku" Kata Dony dengan nafas menyapu muka Nadine. Nadine masih diam, justru dia menutup matanya. Tidak perlu jawaban lagi, lelaki itu mengangkat kedua paha Nadine hingga menempel pada pinggangnya, membawa wanita itu ke sofa yang ada di belakang, melanjutkan kegiatan mereka di sana.
**
"Hoek.. Hoek.." Kimy mengeluarkan lagi seluruh isi di perutnya. "Apa perlu ke dokter, kamu muntah terus kim" Kata lexa sambil memijat tengkuk Kimy. Keduanya baru sampai rumah setelah dari kantor Tristan dan makan siang di sana.
"Enggak" Jawabnya sambil membasuh mulutnya.
__ADS_1
"Tapi kalau terjadi apa-apa aku bisa di bunuh sama Tristan" Kata lexa.
"Enggak akan terjadi apa-apa, orang hamil wajar muntah kak" jawab Kimy sambil berjalan keluar dari kamar mandi. "Aku sudah pernah merasakannya dulu, walaupun aku telat menyadari kehamilanku" lexa terkejut mendengarnya
"Kamu pernah hamil?"
Kimy mengangguk "Jangan tanyakan apapun, aku tidak mau membahasnya" jawab Kimy cepat ketika asistennya itu ingin bertanya lebih lanjut.
Tok tok
"Non Kimy ada nyonya Sinta mencari nona" pembantu Kimy berteriak di balik pintu. Kimy dan Sinta saling berpandangan "Suruh tunggu bik" jawab Kimy kemudian.
"Mau apa dia?" Tanya lexa pada Kimy.
"Kamu yakin?"
"Hm" Kimy mengangguk lalu meninggalkan kamarnya untuk menemui Sinta.
"Aku kira kau tidak di rumah?" Tanya Sinta pada sarah yang menemuinya.
__ADS_1
"Ada apa mencari anakku, kau mau mencari masalah" Tanya sarah dengan raut muka cemas menghampiri Sinta. "Jangan macam-macam sint, Kimy sudah mencurigaiku bodoh!" katanya lagi.
Sinta menggeleng "Sudah diamlah, kalau kau banyak bicara dia akan semakin curiga." jawab Sinta sambil sesekali melihat ke lantai dua dimana Kimy berada. "Kau tidak tahu kalau dia sudah bertemu Gilang kemarin? Sarah terkejut mendengar perkataan Sinta itu.
"Apa, K-kau gil"
"Kimy sayang" potong Sinta ketika melihat kimy turun dari tangga. Sarah segara berbalik dan tersenyum pada anak kesayangannya itu. "Maaf mama ganggu kamu nak" Kata Sinta.
"Ada apa tante?" Sinta dan sarah terkejut, mereka serentak melihat ke arah Kimy.
"Tante?" Tanya sarah. Tidak biasanya Kimy memanggil Sinta dengan sebutan tante, biasanya selalu mama. "Maaf tante" lanjut Kimy melihat pandangan aneh kedua wanita di depannya itu.
"Iya enggak apa-apa kalau kamu sudah tidak mau panggil tante mama, tante mengerti kok. Mungkin calon suamimu yang melara--"
"Tristan tidak melarangku, ini kemauanku sendiri"
Sinta sedikit melirik sarah yang terdiam melihat sikap putrinya itu "Oke, maafkan tante" katanya, wanita itu mendekat pada Kimy, memegang lengan kimy lembut "Tante mau minta tolong sama kamu" Kimy diam menunggu sarah melanjutkan kata-katanya "Tolong bujuklah Gilang agar mau pulang, agar mau berbaikan dengan papanya"
Kimy mengerutkan keningnya. Rupanya benar kata Tristan kalau Sinta ini benar-benar kurang waras alias gila. "Kimy tidak bisa Tan, maaf. Sebentar lagi kimy akan menikah, tante pastinya tahu, apa yang akan terjadi kalau Tristan sampai tahu tante memintaku untuk menemui Gilang" sejenak Sinta diam, dia tidak menyangka kalau Kimy akan menjawab seperti itu. Selama ini Kimy sopan, baik, selalu menurut sama dia. Tapi sekarang apa yang di dengarnya sungguh di luar dugaan.
__ADS_1
"Kim, kamu sungguh benar-benar tidak peduli lagi pada anak tante, gilang" Tanya Sinta sekali lagi.
Kimy menjauh dari Sinta, dia memunggungi kedua wanita paruh baya itu "Gilang sudah dewasa Tan, dia tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri" Sinta dan sarah saling memandang, terlihat kekecewaan diwajah kedua wanita itu "Kimy tidak bisa menghianati Tristan" Kimy menoleh pada dua wanita itu, memandang Sinta dan sarah bergantian "Aku tidak mau melakukan hal yang tidak di sukai calon suamiku" lanjutnya lagi membuat kedua wanita itu semakin mematung di tempatnya. Beberapa saat terdiam, Kimy memutuskan untuk meninggalkan tempat itu, tapi sebelum itu dia berhenti di dekat Sinta "Tristan sudah melakukan yang terbaik, dia berusaha berdamai dengan masa lalunya, melupakan hal sangat menyakitkan dalam hidupnya. Aku rasa tante paham kalau itu tidaklah mudah. Jadi jangan kacaukan yang sudah Tristan lakukan" Kimy melangkah dan berhenti lagi "Dan lagi, aku tahu kalau tante sengaja mengundang Gilang kemarin untuk datang. Apa yang tante inginkan? Aku pastikan mulai sekarang semua yang tante rencanakan tidak akan pernah berhasil karena aku akan selalu di samping Tristan, ingat Tan. Jangan buat aku dan Gilang semakin membenci tante" setelah mengatakan itu, Kimy benar-benar meninggalkan mereka berdua yang masih mematung di tempatnya.