
"Oh shiit.. Kau membuatku gila sayang.." katanya lagi sambil mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Kimy yang sedikit terbuka saat tidur dan justru itu yang semakin menggoda Tristan.
Tristan mencium bibir mungil Kimy dengan lembut, lenguhan kecil gadis itu membuat hasrat Tristan semakin menggebu. Ia terus menciumi Kimy penuh *****.
Kimy seperti melayang di angkasa, ia merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dalam mimpinya saat ini, ia merasa sedang berduaan dengan Gilang di apartemen kekasihnya itu. Ia tak menolak cumbuan kekasihnya, justru ia membalasnya. Kimy merasa sentuhan Gilang membuatnya gila. Sudah lama ia tak merasakan sentuhan kekasihnya itu. Kimy sangat merindukan lelaki itu.
"Aachh.. Gilang.."
Deg
Tristan menghentikan aksinya, ia mendongak kan wajahnya melihat Kimy yang masih terlelap. Apa yang dia dengar barusan, dia tak salah dengar kan. Apa gadis ini memanggil nama Gilang. Menyebut lelaki lain saat ia mencumbunya.
"****.."
Gilang melepaskan pelukkan nya, ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Kimy. Hasrat nya yang sudah di ubun-ubun seakan menyiksanya kali ini. Bagaimana tidak, Tristan lelaki dewasa yang biasanya menghabiskan waktunya untuk bercinta dengan para wanita cantik. Sudah beberapa waktu sejak Kimy sakit ia tak pernah menyentuh gadis itu, ia juga tak menemui wanita-wanita yang biasanya memuaskan dirinya. Entah kenapa Tristan jadi tak ***** melihat wnaita ****** di luar sana. Dan sekarang ia harus menahannya lagi, saat semuanya hampir meledak gadis itu malah menyebut nama lelaki lain. Sungguh membuat mood Tristan berantakan. Tristan berdiri, berjalan ke kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk menenangkan dirinya.
Di tengah guyuran shower Tristan mengeraskan rahangnya. Benar kata Bajingan itu, aku bisa memiliki tubuh Kimy tapi tak bisa dengan hatinya.
**
Ke esokan hari di tempat berbeda Gilang mengunjungi mamanya di RSJ di temani dengan Nadine. Nadine membawakan makanan kesukaan Sinta dan juga buah-buahan. Gadis itu begitu antusias kali ini. Dia sangat semangat ingin memenangkan hati Sinta.
Ceklek
Gilang membuka pintu kamar tempat Sinta di rawat. Terlihat wanita paruh baya itu sedang duduk termenung di atas ranjangnya dan menatap ke luar jendela.
"Ma.. Gilang datang.." sapa Gilang pada Sinta. Wanita itu menoleh dan mendapati anak lelakinya berdiri di ambang pintu bersama seorang gadis.
Nadine terlihat mengangguk dan tersenyum ramah pada Sinta. Gilang dan nadine berjalan menghampiri Sinta yang masih diam.
" Tante ini saya bawakan makanan kesukaan tante.." Nadine menaruh makanan itu di nakas sebelah Sinta duduk, Sinta tak menjawab ia hanya melirik tempat makan yang nadine bawa.
" Ma.." Gilang memeluk Sinta hangat. Tangan Sinta pun mengelus punggung anak lelakinya itu. " Ma.. Mama baik-baik saja kan? Gilang kangen sama mama.." bisik Gilang di telinga Sinta. Wanita paruh baya itu terlihat mengangguk pelan.
__ADS_1
Gilang melepas pelukan nya, ia menatap wajah Sinta yang terlihat lelah dan agak kurusan. " Mama terlihat kurus, mama harus banyak makan. Mama mau pulang ke rumah kan?.." Sinta mengangguk tanpa menjawab. " Kalau mama mau pulang, mama harus buktikan sama dokter kalau mama baik-baik saja. Mama harus banyak makan. Nadine tadi masak buat mama, capcay sama koloke kesukaan mama. Mama mau makan sekarang?.." Sinta tak menjawab, ia melirik nadine yang memperhatikan nya dari tadi.
" Lang.. Apa kamu sudah menemukan Kimy?.." Tanya Sinta mengalihkan perhatian nya.
" Ma.."
" Gilang, apa yang coba kalian berdua lakukan. Kalian mau membujuk mama. Kalian mau menghianati Kimy. Apa kamu sudah melupakan Kimy?.." Gilang dan Nadine terlihat terkejut dengan apa yang Sinta katakan. Nadine berfikir wanita paruh baya itu memang sangat cerdik, bahkan saat dia lagi sakitpun dia bisa membaca pikiran nadine dengan tepat. Sedangkan bagi Gilang, bagaimana mungkin mamanya berfikir kalau dia dan nadine ada hubungan, nadine sudah dia anggap seperti saudara tidak mungkin Gilang menjalin hubungan dengan nadine.
" Apa yang mama bicarakan?.."
" Tante, jangan salah paham.."
Gilang dan nadine bicara bersamaan. Gilang melihat ke arah nadine, memberi isyarat supaya diam.
" Ma.. Mama jangan banyak mikir, apa yang mama pikirkan itu tidak benar.."
" Bisa aku bicara berdua dengan anak Lelaki ku.." Kata Sinta sinis tanpa melihat ke arah nadine sedikitpun.
Nadine mengangguk "Iya tante.. Saya permisi. Nadine tunggu di luar.." jawab nadine sambil berlalu meninggal anak dan ibu itu.
" Sstt.. Stop bahas gadis itu.." Kata Sinta penuh penekanan. " Bagaimana papa?.."
Gilang menghela nafas sejenak " Keadaan papa sempat membaik ma, ada seseorang yang membuat papa membaik.."
Sinta terkejut " Seseorang?.."
" Seseorang yang papa cari selama ini.." jawab Gilang dengan memperhatikan raut wajah Sinta. Mereka saling terdiam beberapa saat, saling bertanya lewat mata.
" Gilang jangan bilang kalau.."
" Ya.. Aku sudah tahu semuanya ma dan Aku menemukan nya. Aku yakin mama juga tahu soal dia kan?.. "
" Gilang!!.. Kamu tahu apa yang kamu lakukan. Bajingan itu berbahaya, dia yang berusaha membuat papa dan sarah celaka.." Kata Sinta panik.
__ADS_1
"Sarah? Ada dengan mami.. Apa mami juga tahu siapa lelaki itu, apa dia mengenalnya?.."
Sinta berdiri dan berjalan mondar-mandir dengan khawatir " Gilang jauhi lelaki itu, jangan sampai papa tahu soal dia. Kamu tidak tahu betapa bahaya nya dia Lang.."
Gilang tersenyum sinis " Terlambat ma, sepertinya papa sudah jauh lebih tahu dari pada mama.. "
" Apa?.."
" Ma.. Sudahi semua ini, Gilang tidak mau sampai ada korban ma. Kalau kedatangan nya bisa membuat papa sembuh, kenapa tidak?.. "
" Tidak Gilang, tidak.." Teriak Sinta histeris." Kamu tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, dia bisa membunuh kita semua lang.." Teriak nya lagi sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan nya.
" Kamu mau mama mati? kalau kamu membiarkan dia masuk ke dalam hidup papa. Kamu sudah pasti akan kehilangan mama lang.." Teriak Sinta histeris.
" Ma jangan berfikir yang tidak- tidak.. "
" pergi dari sini.. Pergi.. Aaachhhh.." Teriak Sinta sambil menjambak rambutnya.
" Ma, tenang ma.. "
" Accchhhhhhhh... Aaachhhh..... "Sinta terus berteriak histeris hingga perawat datang.
" Maaf ada apa ini?.. Maaf tuan bisa tinggalkan pasien, kondisi pasien belum stabil tolong jangan di buat stres, tolong tinggalkan pasien tuan.." Kata seorang perawat dengan panik. Datang lagi dua perawat dengan membawa nampan yang berisi suntikan.
Melihat keadaan mamanya Gilang panik." Lang ada apa?.." Tanya nadine yang baru muncul.
" Mama histeris lagi nad.."
" Oke.. Kita keluar lang, biar mereka yang menangani tante.." nadine menarik lengan Gilang. Lelaki itu menuruti nadine dan keluar dari ruangan itu.
Gilang mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang, tangannya mengepal erat memikirkan Sinta yang histeris.
Apa yang mama sembunyikan dariku?
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=