BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Menculik


__ADS_3

Di negara lain, Tristan mendapat pesan di ponsel nya.


Tangannya mengepal erat setelah membaca pesan itu. Kau mau main-main denganku. Batinnya penuh seringai.


Tok tok


Dony masuk ke ruang kerja Tristan "Siang ini anda akan bertemu dengannya.." Kata Dony santai sambil meletakan sebuah map di depan Tristan.


Tristan hanya mengangguk, pandangan lelaki itu terlihat sangat tajam. Terlihat kilatan amarah di matanya. Jiwa psikopatnya seakan muncul lagi.


**


"Hari ini kau ada waktu sayang? Aku ingin makan siang bersamamu.." siska bergelayut manja di lengan suaminya, joseph mattew. Wanita yang masih sangat cantik di usianya yang tak muda lagi itu sedang mengantar suaminya kehalaman depan untuk berangkat bekerja.


"Berdua saja?.." jawab Joseph.


"he'em.."


"Tumben istriku yang cantik ini mau makan siang berdua saja. Kau tidak ajak anak-anak?.."


"Tidak. Aku sengaja ingin berdua denganmu.."jawab siska sambil mengedipkan satu matanya, menggoda suaminya.


"Baiklah. Tunggu aku siang nanti. Aku akan menjemputmu dan kita akan makan siang di restoran kesukaanmu.."


"Noo.. Aku ingin makan siang di rumah, aku akan memasak semua makanan kesukaanmu sayang.." jawab siska malu-malu.


"Oh ya.. Baiklah, tapi ingat kau tidak boleh terlalu capek sayangku.." Joseph berkata sambil mengecup kening istri cantiknya itu. Siska membalas dengan mencium bibir joseph sekilas. Kemudian lelaki itu menuju mobil dan meninggalkan halaman rumahnya.


Siska sangat senang hari itu, entah kenapa ia ingin Selalu berdua dengan suaminya. Siska pun mulai menyiapkan bahan masakan di dapur. Di bantu beberapa asistennya, ia ingin menyiapkan makanan spesial untuk suaminya nanti.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur, siskapun telah selesai memasak beberapa macam masakan kesukaan joseph. Hari sudah menunjukan pukul 11.00 siang. Berarti sebentar lagi Joseph akan pulang pikirnya. Siska mengendus lengan kanan dan kirinya. Ia mengernyit karena tubuhnya ternyata bau dapur. Tentu saja ia tak mau bertemu dengan suaminya dalam keadaan seperti itu. Siska pun berfikir untuk mandi dan sedikit berdandan. Sebelum ia naik ke lantai dua ia menyuruh asistennya untuk istirahat atau jalan-jalan ke luar rumah karena ia tak mau terganggu dengan keberadaan mereka.


Tiga puluh menit sudah siska mandi dan keluar dengan tubuh yang sudah segar. Ia pun duduk di kursi riasnya. Ia sedikit berdandan, siska berputar di depan cermin menatap tubuhnya yang ternyata masih terlihat langsing memakai gaun tanpa lengan, dengan sedikit menunjukkan lekuk tubuhnya. Siska tersenyum puas dengan penampilannya kali ini.


Ting tong Ting tong


Suara bel rumah terdengar membuat siska buru-buru merapikan rambutnya.

__ADS_1


"Cepat sekali kau datang sayang.." Siska bicara sendiri sambil terkekeh pelan. Sekali lagi ia menatap cermin sebelum akhirnya dia benar-benar berlari keluar kamarnya untuk menemui suaminya.


Ceklek


"Sayang.."


Deg


Bukan suaminya yang datang, sebelum siska bersuara tiba-tiba orang itu membekap mulut siska dengan sebuah sapu tangan. Tubuh wanita itu menegang, hidungnya mencium bau obat yang menyengat, sebelum akhirnya dia pingsan.


**


"Aku ingin bertemu dengannya.." pinta Teddy pada hendra. Sudah beberapa kali sejak siuman lelaki itu selalu menanyakan keberadaan Tristan putranya.


"Sudah saya hubungi di kantornya, sekretarisnya bilang kalau dia sedang di luar negeri tuan.." jawab hendra.


"Kapan dia kembali, aku sudah tidak sabar.."


"Nanti akan saya tanyakan.." jawab hendra.


"Bagaimana keadaan Sinta?.." akhirnya Teddy menanyakan istrinya itu.


"Tidak. Pastikan dia tidak membuat ulah setelah tahu siapa Tristan.." hendra menjawab dengan anggukan.


"Dan satu lagi, aku ingin bertemu pengacaraku. Aku ingin merubah surat wasiatku.."


"Baik.." jawab hendra.


Teddy mengeha nafas panjang, akhirnya penantianya selama ini berujung manis. Ia bisa bertemu dengan putranya lagi. Dia ingin sekali menebus semua kesalahannya.


"Tuan.." Teddy menoleh pada hendra yang terlihat sedikit ragu untuk bicara.


"Ada apa?.."


"Gilang, dia sudah tahu tentang siapa Tristan sebenarnya.."


Deg

__ADS_1


"Apa??? Bagaimana bisa dia tahu. Kau memberitahunya.." hendra menunduk, karena memang dia yang memberi tahu semua tentang masalah Teddy di masa lalu. Semua itu ia lakukan karena dia berfikir kalau Teddy tidak akan sembuh lagi, ia mengira Teddy akan koma dan meninggal. Mengingat bagaimana parahnya keadaan Teddy saat itu. Hendra hanya butuh orang dari keluarga bosnya yang tahu permasalahan sesungguhnya, agar dia bisa bertindak dan mengambil keputusan dengan benar saat itu.


"Maafkan saya tuan.."


"Kenapa bisa kau seceroboh ini. Aku sudah mempercayakan semua padamu. Kau tahu dia dan ibunya bisa saja membuat rencana licik seperti dulu.."


"Tuan maafkan saya sekali lagi. Tapi tuan.. Gilang putra anda ini tidak sama seperti nyonya. Dia sangat dewasa dan bijaksana menanggapi permasalahan ini. Bahkan dia yang beberapa kali mendatangi Tristan agar bisa menemui anda. Agar anda bisa sembuh.."


"Ck.. Kau tahu Sinta sangat licik. Itu bisa jadi taktiknya agar rencananya tak ketahuan. Dia anak kandung Sinta, siapa yang di contohnya kalau bukan ibunya" jawab Teddy mencibir.


Hendra diam tak menjawab, ia bingung harus bagaimana menghadapi sikap keras kepalanya Teddy itu. Kenapa lelaki itu tak pernah bisa berubah, selalu mengira apa yang ada di pikirannya benar. Kenapa dia tak pernah belajar dari pengalaman dan kesalahannya dulu.


**


Siska perlahan membuka matanya. Ia menatap sekeliling, ia mendapati tangannya terikat di sebuah kursi. Mulutnya tersumpal kain dan kakinya juga terikat. Ia melihat sekelilinya. Ia berada di sebuah ruangan kotor, seperti gedung tak berpenghuni.


Aku di mana? Siapa yang melakukan ini?


Terdengar langkah kaki mulai mendekat, tidak satu orang, siska yakin ini langkah kaki beberapa orang. Benar saja dari sudut ruangan keluar beberapa orang memakai jas hitam seperti seorang pengawal. Dan keluarlah Dony di antara orang-orang.


Laki-laki itu, bukankah dia.


Siska menajamkan matanya. Apa dia salah lihat atau bagaimana? Kenapa bisa ada lelaki itu di sini. Belum sempat dia berfikir terlalu jauh, keluarlah seorang Tristan dari balik pintu itu. Lelaki tampan yang sempat membuat hati siska bergetar karena seperti mempunyai ikatan batin. Siska melotot di buatnya. Tidak salah lagi.


Apa ini, bukankah dia Tristan. Bukankah dia sahabat putraku. Bukankah dia kekasih keponakanku?


Siska menggelengkan kepalanya, Tristan yang terlihat tampan dengan memakai kacamata hitam itu terlihat sangat dingin. Tidak seperti dulu saat pertama ia bertemu dengan lelaki itu.


Tristan berhenti beberapa langkah di depan siska.


"Apa kabar nyonya, anda masih mengingatku?.." tanya Tristan dingin.


Sarah menyipitkan matanya, mengisyaratkan kalau wanita itu menjawab sesuatu namun tak bisa karena mulutnya masih tersumpal kain.


Tristan memberi isyarat pada anak buahnya dan seorang lelaki mendekati siska melepas kain yang ada di mulut siska.


"Apa yang kau lakukan?.." Siska berteriak sesaat setelah kain di mulutnya terlepas.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2