BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bonchap 2


__ADS_3

Sabrina, jangan bandel.


Sabrina, hati-hati.


Sabrina, jangan sembarang berteman.


Sabrina, Sabrina, Sabrina.


Nama itu selalu menggema di setiap sudut ruangan. Gadis yang sudah mulai beranjak dewasa itu selalu mendapat larangan ini dan itu dari semua anggota keluarganya.


“Sab mau kemana?” Sabrina yang berjalan mengendap-endap itu pun seketika berhenti. Ia balik badan dan melihat sang kakak, Jeff berdiri di sana dengan menatapnya tajam.


“Bang Jeff” jawab Sabrina sambil nyengir.


“Udah jam berapa ini, kamu mau kemana dengan baju kurang bahan itu?” Sabrina langsung memeluk lengan kekar Jeff, menyandarkan kepalanya di sana.


“Abang tahu nggak ini hari apa?”


“Apa?” Jawab Jeff.


“Ini hari sabtu abang, malam minggu. Emangnya abang nggak malam mingguan sama kak Eve?”


“Jangan beralih topik, abang nanya kamu mau kemana pake baju minim bahan gitu?” Ucap Jeff dengan tegas.


“Ya malem mingguan lah bang”


Jeff mengerutkan kening “Kemana, sama siapa?”


“Sama temen bang”


“Temen yang mana, semua temenmu abang tahu”


Sabrina melepas pelukan lengan Jeff, ia manyunkan bibirnya yang mungil menggemaskan itu


“Abang kenapa sih, aku juga mau have fun sama temen-temen bang. Aku ini udah TUJUH BELAS TAHUN lewat bang, tapi aku nggak ngerti apa-apa dunia luar, abang ngerti nggak kalau aku ini di katain kuper, nggak gaul di sekolah” ucap sabrina sambil berkaca-kaca, ia sengaja menekankan kata tujuh belas tahunya agar kakaknya itu paham kalau ia sudah cukup umur untuk mengenal dunia luar.


“Siapa yang berani mengatai Sabrina Luvena Abraham kuper? Mau cari mati dia” ucap Jeff dengan tatapan tajamnya.


Sabrina lelah rasanya menghadapi kakaknya Jeff. Hidupnya terasa di sangkar burung emas, apapun kegiatanya Jeff harus tahu, dengan siapa ia berteman dan bermain, Jeff harus tahu. Bahkan Mommy dan papanya saja tidak begitu, Jeff emang lebay.


“Aku mau nyusul zane aja kalau gitu di tempat tongkronganya” kilah Sabrina.


“Nggak boleh, Kamu mau di kerubungi teman-teman Zane yang berandal itu”


“Trus gimana donk bang, aku lelah bang, aku bosan dikurung terus, aku pingin keluar kayak temen-temenku. Kenapa abang nggak ngerti sih”


Sabrina berkata sambil menangis, lalu ia lari ke kamarnya dan membanting pintu kamar itu. Sab membanting tubuhnya di ranjang king size berwarna merah muda, warna kesukaannya. Selalu seperti itu, Jeff memperlakukan Sabrina bagaikan tawanan, sedangkan Jeff sendiri mana peduli ia dengan tangisan Sab, baginya itu hanya angin lalu nanti juga adik kecilnya itu selesai ngambeknya kalau udah capek, seperti sekarang setelah kepergian Sab ke kamarnya, Jeff pun dengan cueknya meninggalkan rumah untuk menemui Eve. Sedikitpun tidak ada niatan Jeff untuk membujuk Sabrina.

__ADS_1


**


“Jeff kamu lagi nggak mood ya?” Tanya Eve yang saat ini berada di dalam mobil Jeff. Dari tadi Jeff hanya diam saja, dari pertama jemput di rumahnya sampai sekarang nyampai di depan dokter praktek, Jeff tetap diam saja.


“Aku? Nggak mood kenapa, cuma lagi capek” katanya sambil menyandarkan tubuhnya di jok mobil yang ia duduki.


“Kamu banyak kerjaan di kantor?”


“Hm” jawab Jeff singkat.


Umur Jeff sekarang menginjak 23 tahun, ia baru saja wisuda, meninggalkan Eve yang saat ini masih di bangku kuliah semester akhir. Sejak umur 20 tahun, Jeff sudah memegang beberapa perusahaan, baik salah satu anak perusahaan Abr corporation milik papanya Tristan, maupun perusahaan kakeknya Teddy, karena seluruh perusahaan Teddy sekarang jatuh di tangan Jeff. Teddy cukup memantau saja karena umurnya memang sudah sepuh.


“Aku cuma bentar kok, ambil resep doang” kata si Eve, lalu ia berniat keluar dari mobil meninggalkan Jeff, namun Jeff mencengkal lenganya.


“Tunggu, aku anter” katanya, Eve tersenyum mendengar itu. Eve tahu, Jeff tidak akan membiarkannya sendiri, walau itu hanya sekedar ambil resep dokter saja.


Eve memang sering mendatangi psikiater dan selalu di anter oleh Jeff. Gadis itu memiliki gangguan kecemasan yang berlebih, ia tidak nyaman bertemu orang baru, orang asing, hari-harinya di liputi dengan ketegangan, ketakutan entah pada apa, perasaan itu sering muncul dan hilang sewaktu-waktu.


**


Pukul 01.00 dini hari Zane baru saja pulang dengan mobil sport berwarna darg grey andalanya. Seperti biasa Zane baru saja pulang dari tempat tongkronganya, bersama kawanan club mobil.


Berbanding terbalik dengan Jeff, adik lelakinya ini tergolong cowok yang suka keluyuran malam, balap mobil, ketua club mobil sport dan masih banyak kegiatan unfaedah lainya yang di lakukan Zane. Masalah akademik, Jeff masih belom ada yang menandingi, kepintaran dan kejeniusanya tidak di turunkan pada kedua adik kembarnya.


Zane menaiki tangga sambil bersiul-siul ringan, sudah dini hari, jadi tidak ada tanda-tanda kehidupan yang masih nampak di rumah mewah itu. Ketika melewati kamar Sabrina kembaranya, ia pun berhenti dan iseng aja membuka pintu dan ternyata si empunya kamar sedang berjoget-joget tak karuan di atas kasur, suara musik sangat kencang membuat Zane langsung menutup pintu takut momy dan papanya bangun.


“Zane ayo temenin aku ngedance” teriak Sabrina sambil memutar-mutar tubuh Zane.


“Jam berapa ini, udah gila kamu ya” teriak Zane yang juga ikut muter kayak Sabrina.


“Biarin, aku lama-lama gila beneran karena bang Jeff” balas Sab sambil teriak juga.


“Kenapa lagi dia?” Tanya Zane.


“Aku nggak di bolehin keluar lagi Zane”


Zane malah terbahak mendengarnya.


“Tapi bang Jeff mobilnya nggak ada, dia lagi keluar kayaknya, kenapa nggak ikut dia aja tadi kan yang penting keluar”


Sab mencibir Zane.


“Mana mungkin ajak aku kalau lagi kencan sama kak Eve”


Zane malah terkekeh kencang.


“Besok-besok sama aku aja keluarnya buat alasan, nanti suruh temenmu jemput di tempat tongkronganku”

__ADS_1


“Ahh emang bang Jeff bodoh”


“Iya juga sih” jawab si Zane sambil menggaruk tengkuknya.


Ceklek


Tiba-tiba pintu terbuka dan tubuh Jeff yang tinggi muncul di sana. Jeff sedikit kaget dengan kondisi kamar Sabrina yang berisik dan kacau, di tambah ada Zane di sana yang berjoget bersama Sab.


Karena kedua adik kembarnya itu tak mengetahui kedatanganya, Jeff pun segera mematikan music itu.


Tentu saja Zane dan Sab kaget, mereka berdua menoleh mendapati Jeff sudah berdiri di sana.


“Bang Jeff” seru mereka bersamaan.


“Apa, kenapa kalian kaget begitu. Ngapain kalian berduaan di dalam kamar malam-malam gini”


Sab dan Zane cengo, bahkan mereka tak mampu untuk sekedar menjawab pertanyaan ambigu Jeff.


“Zane keluar!” Perintah Jeff tak terbantahkan.


Dengan berat hati, Zane pun meninggalkan kamar Sabrina.


Sabrina cemberut melihat Jeff mengusir kembaranya.


“Kenapa!! nggak suka aku nyuruh Zane keluar. Kalian mau tidur bareng?”


“iiihhhh apaan sih bang, lagian juga kenapa kalau tidur bareng. Zane itu kembaranku, dari di dalam perut kami sama-sama, nggak ada yang salah juga kalau kita tidur bareng sekarang” jawab Sabrina sambil mendengus kesal.


Mendapat jawaban begitu, Jeff malah mendekati Sabrina dengan tatapan tajamnya, tentu saja Sabrina takut. Siapa yang berani membantah tatapan itu, bahkan om Dony saja takut, padahal calon mertuanya. Pikir sabrina.


Tubuh sabrina membeku kala tubuh tegap Jeff mengurungnya di tembok, tatapan menakutkan itu masih mengintimidasinya.


“Aku peringatkan Sabrina Luvena, jangan berani-berani kamu membawa lelaki masuk ke kamarmu”


Sabrina berkedip-kedip mendengar kalimat itu, sambil menatap Jeff tentu saja.


“Paham!!”


Tak di sadari, Sabrina pun mengangguk.


“Anak pintar” kata Jeff lalu mengelus pucuk kepala Sabrina.


Setelahnya Jeff meninggalkan kamar Sabrina yang masih cengo.


“Ngapain aku ngangguk, bego” ceriwisnya ketika Jeff sudah hilang di balik pintu.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2