
"Jadi kenapa makanannya dibuang?.." Tanya Tristan pada Kimy yang sedang bergelayut manja di lengan lelaki itu. Mereka berdua sekarang berada di dalam mobil, dikursi penumpang. Ada Dony yang menyetir mobil itu. Memang Kimy berniat mengantar makan siang untuk Tristan tadinya, tapi makanan itu dia lempar ke tempat sampah saat perjalanannya ke apartemen Tristan.
"Buat apa aku memberi makan orang yang selingkuh.."
"Kimy jangan mulai, aku tidak selingkuh.." Kimy tak menjawab ia justru menutup matanya.
"Ngomong-ngomong aku baru tahu sisi lain calon istriku yang cemburuan.."
"Kamu belum mengenalku dengan baik jadi berhati-hatilah.." jawab Kimy tanpa membuka mata.
"Tapi aku suka sisi liarmu sayang.." lelaki itu tersenyum sembari melirik wanita yang bersandar didadanya dengan mata tertutup itu. Dony yang mendengarnya hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Boss bisa bucin juga ternyata.
"Cari restoran don, kita belum makan siang.."
"Baik bos.." jawab Dony.
Setelah beberapa saat mereka sampai di sebuah restoran. "Sayang bangun kita sudah sampai.."
Kimy duduk dan meregangkan ototnya "Dimana ini?.."
"Kita makan siang dulu. Ayo turun.." kimy sedikit merapikam rambutnya dan turun dari mobil. Mereka berdua berjalan dengan tangan saling bertautan membuat orang yang melihatnya iri. Benar-benar pasangan yang sangat sempurna.
Mereka bertiga terlihat menikmati makan siang mereka. Kimy terlihat bersikap manis pada Tristan. Sesekali dia menyandarkan kepalanya pada lengan kekasihnya itu, atau hanya sekedar mengusap kening Tristan yang sedikit berkeringat. Kimy memang kalau sudah jatuh cinta pada seseorang tidak peduli tempat, dia akan menunjukan kemesraan dengan orang tersebut, seperti yang ia lakukan dulu dengan Gilang.
"Sayang kamu jangan membuat jomblo di depan kita ini merana.."
"Siapa?.." Tanya Kimy melihat ke sembarang arah.
"Lelaki yang di depanku ini, dia belum pernah berpacaran. Kasian sekali dia.." Dony tersedak mendengar perkataan bos sekaligus temannya itu.
"Hahaha.. Serius??.." Kimy tertawa terbahak. "Kau mau aku carikan pasangan don. Temanku banyak sekali. Seleramu seperti apa hmm.." Tanya Kimy dengan begitu antusias dengan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Dony.
Melihat itu Tristan menarik pinggang Kimy, dia tidak mau kalau kekasihnya terlalu dekat dengan Dony. "Seleranya sepertimu, aku beberapa kali memergokinya memperhatikanmu sayang.."
"Tristan!!.." sahut Dony. Kimy yang mendengar Dony memanggil Tristan hanya dengan menyebut nama sedikit terkejut, pasalnya lelaki itu selama ini selalu patuh dan hormat pada Tristan berbeda dengan Mario.
"Kau berani sekali.."
"Sayang tenang, Dony sudah seperti kakakku sendiri, tidak masalah.." Kimy hanya ber oh ria mendengar perkataan Tristan itu. Kimy tak tahu kalau hubungan mereka sedekat itu.
Setelah mereka menyelesaikan makan siangnya. Mereka bertiga kembali ke rumah orang tua Kimy untuk mengantarkan wanita itu. "Sayang aku harus kembali ke kantor ada rapat jam 2. Tidak apa-apa kan?.."
"Hmm.." jawab Kimy malas. Setelah mengatakan itu Tristan mencium bibir Kimy lembut. Cukup lama bibir mereka bertautan melupakan kalau di dalam mobil masih ada Dony.
__ADS_1
Kimy mendorong dada tristan "Sudah.." katanya sambil mengusap bibir Tristan yang sedikit mengkilap terkena air liur mereka berdua.
"Baiklah, nanti malam kita lanjutkan.." bisik Tristan ditelinga wanita itu. Setelah mendengar itu Kimy keluar dari mobil Tristan dan masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu sudah pulang.." sambut lexa ketika melihat Kimy datang.
"Aku kira kak lexa keluar.."
"Mau kemana, pekerjaanku di sini menjagamu kan?.."
"heheheeheh.. Lucu sekali. Aku kan bukan anak kecil kak dan juga aku bukan artis lagi. Kenapa kak lexa mau menerima pekerjaan macam ini.."
"Entahlah, Aku merasa punya tanggung jawab padamu. Oh ya Kim, tadi sepupumu menelepon kerumah katanya ponselmu tidak aktif.."
"Siapa? Kak ronald.." jawab Kimy sambil mengecek ponselnya "Oh ternyata ponsel ku memang mati kak.."
"Iya tadi dia menelepon mencarimu.."
Apa kak Ronald sudah menemukan pelakunya.
Kimy buru-buru naik ke lantai 2 menuju kamarnya dan mencharge ponselnya. Setelah ponselnya dihidupkan dia melihat ada nomor tak dikenal memanggilnya beberapa kali. Kimy langsung memanggil balik nomor itu.
"Kak Ronald?.."
"Kimy momy sudah ditemukan. Momy meninggal.."
Deg
"Kimy momy di bunuh. Ada bekas tembakan di dahinya. Polisi masih menyelidiki jenis peluru yang digunakan penjahat itu.."
Deg
Di tembak, peluru!!
Tubuh Kimy semakin lemas, air matanya semakin mengalir deras. Bayangan Tristan yang memegang pistol saat itu tiba-tiba muncul diotaknya. Kimy berusaha menghilangkan bayangan itu, dia menggeleng beberapa kali.
"Kak.."
"Kimy, kemungkinan kepolisian New York akan bekerja sama dengan polisi Indonesia karena kemungkinan besar ini ada sangkut pautnya dengan anak buah Tristan.."
Mendengar itu Kimy tak bisa berkata-kata lagi. Tangisnya benar-benar pecah saat itu juga. "Apa mungkin Tristan kak?.."
"Kakak tidak tahu, Kalau ini ada hubungannya dengan dia, apa motifasinya. Momy begitu menyukai Tristan.." Kata Ronald frustasi dibalik telepon.
Kakak tidak tahu Tristan.
__ADS_1
"Kakak matikan, nanti aku hubungi lagi.."
"Hhmm.." setelah Ronald memutus teleponnya, Kimy tak bereaksi, dia mematung membayangkan kalau Tristan melakukan pembunuhan itu. Air matanya semakin deras.
Sedangkan dikantornya Tristan mengeratkan rahangnya. Dia mendapat laporan dari Dony, percakapan Ronald dan Kimy berhasil ia dapatkan. Ya, Dony sudah melacak dari beberapa hari lalu setelah Kimy kedapatan bertemu dengan Gilang. Dan siapa saja yang menghubunginya saat itu hingga sekarang.
"Kenapa bisa jasad wanita itu dengan mudah di temukan? Sedangkan sarah sampai sekarang belum di temukan.." Tanya tristan dingin.
"Apa yang akan kau katakan pada nona?.." jawab Dony.
"Itu biar jadi urusanku. Kau segera temukan sarah hidup atau mati. Kerjamu lambat sekali.."
"Baiklah.." setelah mengatakan itu Dony keluar dari ruangan Tristan.
Tristan terus menatap foto Kimy yang berada di bingkai foto meja kerjanya. "Tidak akan ku biarkan kamu meninggalkanku lagi kali ini walau aku harus mengurungmu lagi kimy.."
**
Tristan masuk ke dalam kamar perlahan. Gelap, itu yang terlihat saat ini. Sudah malam hari tapi lampu kamar itu masih belum menyala. Tangan Tristan meraih sakelar di samping pintu dan lampu menyala. Tristan melihat ke seluruh ruangan dan ia mendapati Kimy meringkuk di samping ranjang dengan menelungkupkan wajahnya di lutut yang tertekuk itu.
"Sayang.." Tristan menghampiri Kimy, duduk berlutut di depan wanita itu.
Perlahan Kimy mengangkat wajahnya. Mata Kimy memerah bekas air mata yang mengering. Tristan menangkup kedua pipi wanita itu "Are you okay?.."
Kimy tak menjawab, ia menatap Tristan nanar. Air matanya keluar lagi melihat lelaki yang sudah mengisi hatinya itu. "Kenapa?.." Tanyanya lirih.
"What?.."
"Kenapa kamu melakukan ini pada orang-orang yang aku sayangi?.." Tristan tak menjawab, lelaki itu menatap Kimy dengan lembut.
"Siapa lagi yang akan kau lenyapkan? Hiks.. Hiks.." Kimy menangis tersedu. Ia menarik keras baju Tristan membenamkan wajahnya di sana.
"Aku membencimu, aku membencimu.." Kimy memukuli dada Tristan. Tristan tak menjawab, lelaki itu memilih diam. Dia merengkuh tebuh Kimy yang lemah itu. Perlahan Kimy melepaskan diri, ia menjauhkan tubuhnya. "Aku harus bagaimana, katakan?.."
Kimy memandang wajah Tristan yang datar itu "Kamu kan yang melakukannya? Kamu membunuh aunty.."
"Atas dasar kamu menuduhku sayang?.."
"Mata itu, karena mata mamamu berada ditubuh aunty.."
Deg
Tristan mematung, ternyata kimy mengetahuinya. Tristan benar-benar tak mengira wanita itu tahu rahasia terbesarnya.
Sejak kapan dia tahu? Pertanyaan itu muncul di hati lelaki itu.
__ADS_1
Kimy berdiri perlahan, badannya terasa lemas. Pertama dia kehilangan mamanya dan sekarang tantenya. Dan semua itu adalah ulah lelaki yang sudah berhasil merebut hatinya itu. Apa Kimy menyesal sudah memilih Tristan? Apa dia menyesal sudah mencintai lelaki itu? Pertanyaan itu juga dia tanyakan pada dirinya sendiri. Bahkan hatinya pun tak bisa menjawab.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=