
Malam itu perasaan Kimy sangat kacau. Dia sama sekali tidak bisa tidur. Dan sekarang dia malah berdiri di balkon berharap kalau Tristan tiba-tiba muncul. "Kenapa dia tidak bisa ngerti.." ucapnya pelan. "Aku sudah memilihmu, kenapa kamu tidak percaya padaku.." udara malam semakin menembus kulit Kimy yang malam itu sedang memakai gaun malamnya yang tembus pandang. Dia merengkuh tubuhnya sendiri. "Kamu dimana?.."
Kimy masuk ke dalam kamarnya dan mengecek ponsel yang sebelumnya tergeletak di nakas. Segera dia mencari no kontak Tristan dan menelponnya. Panggilan pertama sampai ke empat di abaikan. "Kamu dimana?.." Kimy jadi teringat Dony, asisten kekasihnya itu, tapi dia ingat kalau Dony masih berada di New York. Biasanya Dony selalu tahu dimana Tristan berada. Kemudian dia inget Mario. Laki-laki itu mungkin tahu keberadaan Tristan saat ini pikirnya. Kimy keluar dari kamarnya untuk menanyai no ponsel Mario pada salah satu bodyguard Tristan, karena Kimy tidak memilikinya.
"Kamu belum tidur baby.." terdengar suara sarah menyapa Kimy saat ia baru keluar dari kamar.
"Belum. Mami dari mana?.." Tanya Kimy yang melihat sarah berjalan dari bawah dengan Menenteng tas bermerknya.
"Hmm.. Mami ada urusan tadi.." jawab Sarah sedikit gugup.
Kimy berjalan mendekati Sarah. Menatap wanita itu lekat "Mami masih shoting? Mami masih keluar malam sendirian setelah apa yang terjadi.."
"Tidak, mami hanya ada sdikit urusan dengan teman mami kim, kamu tidak udah khawatir.."sarah berusaha berbicara dengan tenang. Namun Kimy mengenal sarah, wanita itu tidak pandai berbohong darinya.
" Ceritakan sama Kimy apa yang terjadi mi?.."
" Tentang apa?.."
" Tentang mami yang menghilang. Kimy ingin tahu apa yang terjadi?.."
" Tidak ada yang serius sayang. Mami baik-baik saja, lihat.." sarah merentangkan tangannya supaya Kimy melihatnya.
" Mami pasti tahu bukan itu yang Kimy maksud.." Sarah terdiam sejenak, lalu tersenyum kembali seakan tak terjadi apa-apa."Percayalah mami baik-baik saja sayang.."
"Kenapa mami menyetujui hubunganku dengan Tristan?.." Pertanyaan yang membuat sarah cukup terkejut saat mendengarnya. Kimy masih penasaran dengan apa yang terjadi satu tahun setelah kepergianya. Kenapa semua orang-orang terlihat baik-baik saja, pdahal tahu kalau maminya diculik oleh Mario, orang kepercayaan Tristan. Semua seperti tak terjadi apa-apa, semua baik-baik saja kecuali satu, Gilang. Kimy berpikir, hanya lelaki itu yang hancur setelah semua yang terjadi.
Sarah terlihat sedikit berfikir, kemudian dia tersenyum memegang tangan Kimy "Kenapa mami harus menolak kalau kamu memang mencintainya.."
Bukan itu, bukan seperti itu jawaban yang Kimy mau. Seharusnya maminya menceritakan semuanya padanya, seperti seorang sarah yang Kimy kenal, slalu terang-terangan. "Baiklah sepertinya mami belum mau jujur padaku.." Kimy berniat meninggalkan sarah namun sarah menahan lengan Kimy. "Percayalah semua ini untuk kebahagiaanmu nak.." katanya pelan, Kimy mengabaikan perkataan sarah, ia meninggalkan wanita itu untuk turun kebawah menemui salah satu bodyguard Tristan.
"Kimy mulai curiga.." wanita itu mengirim pesan kepada seseorang.
"Tenang. Bersikaplah sewajarnya.." balas orang itu.
__ADS_1
Pagi hari Kimy membuka matanya pelan. Terang, dia bisa melihat cahaya matahari masuk ke celah jendela kamarnya. Dia memijit kepalanya pelan, semalem dia ketiduran di sofa kamarnya saat menunggu kekasihnya. Seperti mau gila rasanya di diamkan lelaki itu. Setelah semalam dia gagal mencari no ponsel Mario dan diapun ketiduran saat menunggu Tristan. Kimy menegakkan badannya, merenggangkan otot tubuhnya pelan. Sekali lagi dia melihat sekeliling kamarnya sunyi, tak ada jejak Tristan di situ. Dalam hati Kimy bersumpah akan membuat Tristan membayar mahal karena sudah membuatnya gelisah dan menunggu semalaman. Kimypun bangkit berjalan ke kamar mandi dan bertekad mencari Tristan di manapun berada.
"Calon suamiku ada di dalam?.." Tanya Kimy tepat di depan angel, sekretaris Tristan.
Angel mendongak menatap Kimy nyalang. Dia tersenyum tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat itu "Aku tidak percaya kau datang lagi setelah sekian lama.." Jawabnya angel sinis.
"Kau seharusnya tau kalau aku tidak pernah pergi kemana-mana. Aku selalu di sini.." Kimy menunjuk hatinya sendiri.
"Cckk.. Aku tidak percaya Tristan memilihmu. Pergilah, Tristan tidak di tempat. Seharusnya kau tahu dia dimana, kau mengaku calon istrinya tapi tidak tahu calon suamimu dimana.." ejek Angel.
"Nona Kimy.." Kimy menoleh ke sumber suara dan terlihat Dony menghampirinya.
"Don, kau sudah datang.."
" Ya. Tadi pagi saya datang.." jawab Dony.
" Aku mencari Tristan.."
" Masuklah ke ruangan saya dulu.." Kimy mengangguk dan mengikuti Dony ke ruanganya. Agel hanya mencibir melihat Kimy meninggalkannya.
" Panggil aku Kimy don, bukankah kita akrab.." jawab Kimy santai.
" Oke baiklah.." jawab Dony sambil duduk di sofa. Di ikuti Kimy. "Apa bos Tristan tidak kasih tahu kalau hari ini dia ke bali.."
" Bali?????.." Kimy terkejut mendengarnya.
"Iya, bos ada pertemuan dengan para pemegang saham perusahaan baru yang bos akuisisi.."
Kimy tidak percaya kalau Tristan meninggalkannya ke bali tanpa pemberitahuan. Kimy merasa seperti bocah yang sedang di tilap orang tuanya pergi. Hampa, marah, kesal jadi satu Kimy rasakan."Kenapa kau tidak ikut?.."
"Saya ada kerjaan juga di sini, bos minta saya untuk menghandlenya.."
Kimy berdiri marah "Aku tidak percaya bosmu sia*an itu pergi tanpa memberitahu, apa maunya.."
__ADS_1
Dony terkejut dengan sikap Kimy "Apa kalian bertengkar?.."
"Ya, dia sangat kekanak-kanakan. Dia pergi melarikan diri dariku.."
Dony tak berani lagi komentar kalau sudah begitu, dia hanya terdiam melihat Kimy mondar-mandir di ruanganya. "Don, kau bisa bantu aku?.."
**
Tristan duduk di antara beberapa orang yang sudah berumur. Dia terlihat paling muda sendiri. Tristan duduk dengan mendengarkan salah satu asisten dari pemegang saham berpresentasi. Tidak ada yang meragukan Tristan dalam dunia bisnis. Walaupun di situ usianya masih terbilang muda, namun kemampuan Tristan dalam menjalankan bisnis tak di ragukan lagi. Dia menatap satu persatu orang-orang di situ dengan tatapan dinginnya. Dia menimpali setiap kalimat yang dapat di sanggahnya. Tidak ada senyum, tidak ada tawa. Satu kata, dingin. Itulah Tristan di dunia bisnis.
"Baiklah, saya berharap kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Mengenai proyek pertama yang akan kita kerjakan saya menunggu laporan terbaiknya. Saya tidak mau cela sedikitpun.." katanya dengan tatapan tajamnya. Semua orang di situ mengangguk, mengerti dengan perkataan lelaki itu. Tristan bangkit meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh dan permisi.
" Pak Tristan tunggu.." seseorang mengejar Tristan. Dia adalah Burhan. Lelaki berumur 54 tahun itu berjalan sedikit berlari menghampiri Tristan. Tristan yang mendengarnya pun berhenti dan menoleh ke asal suara.
" Ada apa?.."
" Pak Tristan sudah dapat hotel atau belum? Kalau belum saya ada hadiah kecil buat bapak supaya menikmati sejenak liburan di Bali.."
"Tidak perlu, saya langsung kembali ke Jakarta.." memang niat Tristan ke bali hanya untuk rapat saja. Dia tidak ada niat dan waktu untuk liburan. Apalagi dia datang seorang diri.
"Sayang sekali pak, padahal bapak bisa menginap sehari atau dua hari untuk istirahat. Sekalian survey untuk bisnis kita yang baru. Bukankah ini pertama kalinya pak Tristan merambah dunia bisnis pariwisata. Mungkin dengan menginap di hotel yang saya siapkan bapak sekalian bisa menilai apa yang kurang. Jadi proyek pertama kita ini tidak akan mengalami hal yang sama.." panjang lebar Burhan menjelaskan agar Tristan tertarik menginap di hotel yang dia siapkan.
Tristan tak menjawab, tapi dia sedikit berpikir ada benarnya juga kata orang itu. Setidaknya walaupun tak menginap, dia bisa memakai hotel itu sejam atau dua jam hanya untuk sekedar tahu fasilitas seperti apa yang dimaksud Burhan.
"Baiklah saya akan istirahat sekitar tiga jam dari sekarang.." setelahnya saya harus segera kembali ke Jakarta.
Burhan terlihat senang dan antusias dengan jawaban Tristan. Kemudian dia membawa Tristan ke loby, menyiapkan sopir dan mobil untuk mengantar Tristan ke hotel yang burhan maksud.
15 menit perjalanan untuk sampai ke hotel tersebut. Tristan keluar dari mobil dengan memperhatikan detail bangunan hotel yang dilihatnya. Tidak terlalu besar memang, tidak sperti hotel besar di ibu kota. Namun Tristan tahu kalau bangunan itu berkualitas. Tristan sudah hafal dilihat dari karakter bangunan itu sendiri. Apalagi hotel itu berdiri dengan pemandangan pantai lepas. Tristan pun masuk di sambut oleh beberapa orang yang mungkin sudah di persiapkan untuk menyambut kedatangannya.
"Mari silahkan tuan.." beberapa orang membukakan pintu kamar vvip untuk Tristan. Besar dan luas, itu kata pertama yang Tristan lihat dari kamar itu.
"Baiklah, tinggalkan saya sendiri.." ucap Tristan dingin. Setelahnya beberapa orang meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Tristan melihat laut lepas di balkon kamar itu. Dibalkon juga terdapat kolam renang mini, lebih ke bath up buatan yang terpampang nyata di luar ruangan. Beberapa saat pintu kamarnya diketuk. Tristan pun menghampirinya. Seorang wanita cantik dan berpakaian sexy berdiri tepat di depanya. Mata Tristan menajam melihat wanita itu.