
Malam telah tiba, Kimy masih terlihat berdiri memandang tempat tidurnya. Ia tersenyum getir membayangkan kalau dia sering menghabiskan waktu bersama Gilang di tempat tidur itu, banyak sekali kenangan bersama lelaki itu. Dia berfikir apa mudah melupakan semua kenangan itu. Tapi dia juga merasa tak pantas lagi untuk Gilang. Ia sudah menghianati Gilang yang sangat mencintainya. Dengan menerima setiap sentuhan Tristan itu sama dengan menghianati Gilang. Kimy hanya tersenyum getir dengan nasib cintanya bersama Gilang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kimy berjalan dan merebahkan tubuhnya di tempat tidur nyamannya. Sudah berbulan-bulan ia tak merasakan tidur senyaman itu walaupun dirumah Tristan dia juga menempati kamar yang tak kalah mewah. Kimy tersenyum dan mulai memejamkan matanya.
**
Pagi hari pukul 08.00 WIB, Gilang dan Septian berjalan dengan cepat setelah sampai di rumah sakit. Ia mendapat telpon dari hendra asisten Teddy kalau papanya sudah siuman dari koma panjangnya. Begitu mendapat telepon Gilang dan Septian segera menuju rumah sakit.
Saat Gilang dan Septian sampai di ruang di mana hendra di rawat, Gilang menghentikan langkahnya seketika saat melihat Tristan keluar dari ruangan itu bersama dengan hendra dan seorang dokter. Di luar ruangan terlihat Dony, asisten Tristan yang menunggu. Tristan terlihat merapikan lengan kemejanya. Ia menggulungnya ke atas.
Dia. Kenapa dia disini, sejak kapan? Apa om hendra menghubunginya?
Hendra dan dokter itu sekilas menoleh pada Gilang yang baru datang, hendra hanya tersenyum sambil menggangguk. Sedangkan dokter yang sudah mengenal Gilang dengan baik terlihat menghampiri lelaki itu.
" Kau sudah datang Gilang, syukurlah. Pak Teddy sekitar pukul 04.00 subuh tadi siuman. Keadaannya sempat drop karena tekanan darahnya sangat rendah dan beliau butuh darah. Untungnya pertolongan cepat. Pak Tristan sebagai kerabatnya yang kebetulan mempunyai golongan darah yang sama sudah menolong pak Teddy. Terima kasihlah padanya.." Kata dokter itu sambil menepuk pundak tristan lalu meninggalkan tempat itu. Gilang hanya diam membatu, entah kenapa di hatinya ada rasa tidak rela darah lelaki itu masuk ke tubuh Teddy papanya. Dia merasa sebagai anak yang selama ini ada di sisi Teddy tak berguna, saat teddy membutuhkannya dia tak ada disisi papanya.
" Ehghmm.. Lang.." panggil hendra yang sudah di sampingnya.
Gilang tersadar dari lamunannya, dan melihat ke arah Tristan yang sudah berdiri bersama Dony bersiap meninggalkan tempat itu. Saat Tristan mulai melangkahkan kakinya, Gilang menghentikannya.
" Bisa kita bicara sebentar?.."
Tristan berhenti dan melihat Gilang yang menatapnya tajam.
" Kau hanya punya waktu 10 menit, karena aku harus menjemput calon istriku di rumah mertuaku.."
Deg
Kimy, apa Kimy pulang. Dia menemui papi Daniel. Batin Gilang.
Gilang berjalan meninggalkan tempat itu, dia mencari tempat yang sepi di ikuti Tristan di belakangnya.
__ADS_1
Setelah dapat tempat yang lumayan sepi Gilang berdiri membelakangi Tristan.
" Bagaimana rasanya menjadi dua orang yang berbeda. Kau yang berusaha melenyapkan papa tapi kau juga memberikan darahmu padanya. Kau menyelamatkannya? Apa sekarang kau sudah bisa bernafas lega, karena tahu ternyata kau benar-benar darah daging papa.."
" Heh.. Kau jangan merasa cemburu, aku tak ada minat sama sekali merebut Teddy darimu. Harusnya kau tanyakan pada asisten Teddy, kenapa tengah malam dia menghubungi asistenku dan menyuruhku datang ke rumah sakit.." jawab Tristan sinis.
Gilang diam tak menjawab, dia menyadari harusnya tak bersikap kekanakan seperti ini. Bukankah dia sendiri yang meminta Tristan membantu untuk memulihkan kesadaran papanya, tapi kenapa justru dia bersikap seperti itu. Gilang membuang nafas kasar menyadari kesalahannya.
" Apa papa baik-baik saja?.."
" Kau bisa lihat sendiri.." jawab Tristan sambil berbalik bersiap meninggalkan Gilang. Saat kakinya mau berjalan, Tristan menghentikan langkahnya dan berbalik melihat punggung Gilang lagi " Kalau Teddy selamat kali ini, kau harus penuhi janjimu. Kau akan menjauhi Kimy karena aku akan segera menikahinya.."
Deg
Bagai di sambar petir di pagi bolong, Gilang hanya bisa mengeraskan rahang dan mengepalkan tangannya. Sedangkan Tristan sudah berjalan menjauh dari tempat itu.
**
" Tristan menelepon papi katanya ada urusan penting sayang. Nanti Mario yang akan menjemputmu. Ngomong-ngomong siapa Mario sayang? Apa keluarganya.."
" Mario temannya, mungkin bisa di bilang anak buahnya atau apa, kimy nggak tahu hubungan mereka semua pi.." jawab Kimy santai sambil mengunyah makannya.
Daniel sedikit terkejut dengan ucapan anaknya itu, bagaimana bisa Kimy tak tahu hubungan Tristan dan orang-orang terdekatnya, bukannya mereka tinggal bersama, bukannya mereka saling mencintai, bahkan mereka akan menikah kan? Harusnya putrinya itu sudah tahu seluk beluk kekasihnya. Mengingat Daniel tahu betul kalau putrinya itu kalau sudah mencintai orang akan bersikap posesif dan mudah cemburu. Seperti dulu saat bersama Gilang, Daniel sering jadi tempat curhat Kimy, bagaimana ia sering bertengkar sama Gilang karena cemburu butanya pada lelaki itu. Bagaimana sekarang bisa Kimy bersikap sebaliknya, seakan tak peduli dengan calon Suaminya. Naluri seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya memang tidak pernah salah.
" eghm.. Kimy boleh papi tanya sesuatu?.." Kimy mengangguk tanda setuju.
" Di mana keluarga Tristan? Apa kamu sudah mengenalnya?.."
Kimy segera menghentikan acara mengunyahnya, gadis itu sedikit bingung mau jawab apa. Tapi sekilas dia mengingat Nek Inah, kemudian muncullah ide untuk mengarang cerita.
__ADS_1
" Tristan anak yatim piatu pi, dia hanya punya seorang nenek saja. Dia tinggal bersama neneknya.." jawab Kimy setenang mungkin agar Daniel tak curiga. Daniel hanya manggut-manggut tanda mengerti.
" Papi akan tanyakan kapan dia akan datang melamarmu kesini, kalian tidak akan skip lamaran kan? Karena itu tradisi, kamu masih punya orang tua.."
Mendengar itu Kimy melebarkan matanya, bagaimana ini? Batinnya.
" Mm.. Pi, ada yang harus papi tau. Sebenarnya Tristan punya trauma masa lalu tentang orang tuanya. Tolong papi jangan singgung atau tanya tentang orang tua nya ya.." Kata Kimy sedikit ragu.
" Trauma?.." jawab Daniel, Kimy hanya mengangguk dengan pertanyaan itu.
" Pi, apa papi baik-baik saja bekerja di kantor itu. Apa Tristan menekan papi karena perusahaan itu sekarang miliknya?.." Kimy mencoba mengalihkan pembicaraan tentang keluarga Tristan agar tak menjadi panjang.
" Tidak, Tristan tidak mengganggu papi sayang. Cuma ada beberapa pemegang saham yang merasa itu sudah bukan perusahaan papi, keputusan papi masih harus minta persetujuan dari Tristan. Tapi itu tidak masalah, toh selama ini Tristan tak mempersulitnya.."
Pasti berat bagi papi melewati ini semua. Batin Kimy menatap Daniel iba.
Ting tong
Terdengar bel rumah daniel menyala, bi asih segera berlari ke depan untuk melihat siapa yang datang. Beberapa saat kemudian bi asih kembali dengan di ikuti Mario di belakangnya.
Kimy menoleh ke arah Mario datang, Mario melambaikan tangan kepada Kimy. Gadis itu sedikit malas melihat kedatangan lelaki itu " Hay.. Aku datang menjemputmu.." Kata Mario tanpa basa-basi. Daniel yang melihat dan mendengarnya sedikit bertanya-tanya dalam hati, apa benar lelaki itu yang bernama Mario.
Daniel berdiri dan berjalan menghampiri Mario
" Anda yang bernama Mario kan? Oh saya pernah melihat anda beberapa kali. Tapi baru tahu nama anda sekarang, mari duduklah kita sarapan dulu.." ajak Daniel.
" Tidak perlu pak Daniel, saya masih banyak urusan. Tristan menyuruh saya segera membawa Kimy.." Jawabnya sedikit tegang, Mario melihat sekeliling rumah Daniel, dia melihat foto pernikahan Daniel dan sarah istrinya terpampang besar di tembok rumah itu. Mario sedikit berdehem " Saya akan tunggu di mobil, cepatlah.." Kata Mario lalu meninggalkan tempat itu. Daniel menatap Kimy bingung, lelaki aneh menurutnya, tapi Kimy hanya menaikkan bahunya kasih tanda untuk mengabaikan lelaki itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1