
Aku menuruni tangga menuju meja makan, di belakangku ada Tristan yang mengikutiku. Sudah seperti pengantin baru bukan. Ku lihat papi sudah berada di meja makan sedang membaca majalah bisnis sambil menungguku.
Mendengar langkahku membuat papi menoleh ke arah kami. Papi tersenyum bahagia melihat kami bersama.
"Pagi pi.."
"Pagi sayang.. Pagi nak Tristan.."
"Eehmm. Pagi.." jawab Tristan dengan sedikit berdehem.
"Kapan kau datang, kenapa aku tidak tahu?.."
"Saya datang tengah malam. Maaf saya langsung kesini tanpa pemberitahuan.." jawab lelaki itu terlihat canggung.
Ku lihat papi terkekeh "Tolonglah nak Tristan jangan bersikap formal seperti ini. Saya juga jadi canggung. Sebentar lagi kita akan jadi keluarga. Panggil saya papi seperti Kimy memanggilku.."
Tristan sedikit terkejut "Maaf saya belum terbiasa.."
"Atau bisa panggil saya om, biar lebih akrab. Mungkin panggilan papi membuatmu canggung.." Tristan tak menjawab dia hanya mengangguk.
"Kau tidak bawa baju ganti? Kau bisa memakai pakaianku kalau mau. Kimy harusnya kamu lebih memperhatikan calon suamimu.." Aku tak menjawab, aku hanya memutar bola mataku malas.
"Tidak, terima kasih. Dony akan datang membawakan baju untukku. Hari ini saya tidak akan ke kantor.." Papi mengangguk tanda mengerti dan Kami bertiga sarapan dengan tenang tanpa obrolan berarti. Namun tiba-tiba papi mengatakan hal yang membuatku dan Tristan sama-sama terkejut. "Kapan kau akan melamar Kimy?.."
Aku dan Tristan seketika menghentikan aktifitas mengunyah kami. "Pi.."
"Kenapa sayang, apa ada yang salah? Bukankah sebelum pernikahan pihak lelaki harus datang kesini untuk melamarmu. Benarkan Tristan, apa aku salah?.."
"Pi, Kimy kan sudah bilang.."
"Secepatnya.." jawab Tristan singkat, seketika aku menoleh pada lelaki itu.
"Baiklah. Aku akan menunggu hari itu. Baiklah kalian lanjutkan sarapannya. Papi harus berangkat ke kantor.." Papi bersiap untuk berangkat, sebelum pergi ia mencium keningku dan menepuk pundak Tristan.
Setelah papi menghilang, aku menatap Tristan dengan tatapan membunuhku. Tristan tak memperdulikanku, ia malah melanjutkan sarapannya dengan santai.
"Kenapa kau bilang begitu sama papi?.."
Tristan tak menjawab dan itu membuatku semakin kesal "Heyy.."
Tristan menoleh padaku "Bilang apa maksudmu?.."
"Kenapa bilang kau akan datang melamarku?.."
"Bukankah seharusnya begitu.."
Aku menelan ludahku "Kau tahu datang melamar berarti kau tidak datang sendiri. Kau harus datang bersama keluargamu. Kau mengerti?.."
__ADS_1
"Ya.." jawabnya santai.
"Memangnya kau punya kluarga?.."
Tristan menoleh ke arahku. "Tentu aku punya. Memangnya aku keluar dari batu.."
Aku benar-benar tak mengerti jalan pikiran lelaki ini. Keluarga mana yang dia maksud. Apa Nek Inah? Atau Dony dan Mario? Atau mungkin... Aku menggelengkan kepalaku menolak kemungkinan itu.
"Jangan berpikir macam-macam. Semua sudah di atur. Kau tenang saja sayang.." katanya sambil menatap mataku.
Aku mengalihkan pandanganku "Lalu kenapa kau tidak pergi ke kantor sekarang. Kau tidak berniat di rumah ini seharian kan?.."
"Aku bahkan berniat pindah kesini.."
"What!!! Jangan gila. Kita belum menikah, apa kata orang.."
"peduli apa sama orang, bukankah sebelumnya kita sudah tinggal bersama.."
"itu beda Tristan, itu beda. Saat itu kau menyekapku dirumahmu. Tapi ini di rumah ku dan ada papi.."
"Berarti anggap saja sekarang gantian kau yang menyekapku.."
"Gilaaa.." teriakku, ku lihat bi Inah yang di dapur sampai melirikku karena suaraku yang tinggi.
Aku berdiri dan menarik tangan Tristan, kubawa lelaki itu ke kamar. Hanya di sanalah tempat yang paling aman untuk bicara dengan makhluk satu ini.
"Kenapa kau menbawaku ke kamar?.."
"Aku tidak mau pembicaraan kita di dengar orang lain.."
"Baiklah apa yang ingin kau bicarakan?.." Tristan berjalan pelan ke arahku. Tatapan matanya begitu dalam. Rasanya aku ingin berlari. Aku tak sanggup melihat mata itu. Aku takut akan terjerat lagi akan pesonanya.
"Stop di situ..."
Tristan berhenti. Dia bersedekap tangan dengan masih terus menatapku.
"Aku tidak mau kau tinggal disini sebelum pernikahan. Aku ingin menghabiskan waktu bersama papi sebelum aku jadi istrimu. Ku mohon.."
"Baiklah.." Jawabnya cepat.
"Berarti cepatlah pergi dari sini.."
"Siapa bilang aku akan pergi hari ini. Aku kan sudah bilang kalau hari ini aku tidak ke kantor. Aku mau menghabiskan hari ini bersamamu. Aku merindukanmu.." entah bagaimana bisa, saat ini tangan Tristan sudah berada di pinggangku. Semua terjadi begitu cepat. Tubuh kami saling menempel. Kurasakan hembusan nafasnya menerpa wajahku.
Aku hanya diam, tak berani mendongakkan wajahku untuk menatapnya. Namun tangannya menarik daguku untuk menatapnya. Perlahan tangan itu membelai bibir ku dengan gerakan pelan seperti slowmotion. Dan sialnya aku menutup mataku, menikmati sentuhan lelaki gila itu.
Perlahan bibirnya mengecup bibir ku lembut dan aku merasa seperti melayang. Kenapa bisa aku menikmati ini? Entahlah.
__ADS_1
Tristan terus menciumi bibir ku, membelitkan lidahnya pada lidahku dan dengan perlahan langkahnya menuntunku keranjang. Lelaki itu membaringkanku dan mengungkungku.
"Mphhmmm.." Aku melenguh saat Tristan menyedot bibirku. Ku buka mataku dan aku baru menyadari kalau posisi kami sudah sangat intim saat ini. Tristan melepas ciumannya, namun seketika dia mau menciumku lagi.
"Jangan.." bisik ku pelan.
"Kenapa?.."
"Kita belum menikah.." Jawab ku asal, yang penting aku ada alasan menolaknya.
Tristan terkekeh "Bukankah kita sudah sering melakukannya.."
"Aku takut.."
"Ssstt... Pejamkan matamu.."
Ku turuti laki-laki itu, ku Pejamkan mataku. Kunikmati lagi ciuman Tristan kali ini. Saat dia terus mencumbuiku, tiba-tiba bayangan saat dia memukulku muncul di ingatanku. Tendangan ditubuh ku, di perutku, bahkan aku masih bisa merasakan seperti apa rasa sakitnya. Nafasku terasa sesak, air mataku membasahi pipi, dan aku merasakan takut yang luar biasa, aku sendiri bingung kenapa dengan diriku. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya.
"Tolong, jangan, aku takut, jangan pukul aku.." Tristan berhenti, dia menatapku yang sedang menangis dengan mata terpejam.
"Kimy, buka matamu. Aku tidak akan menyakitimu. Kimy.." Aku membuka mata, seketika aku mendorong nya. Aku memeluk tubuhku sendiri. Aku takut. Tubuhku gemetar. Keringat dingin membasahi tubuhku. "sayang kau baik-baik saja.."
"Tolong jangan memukulku.."
"Tidak kimy, aku tidak akan.."
Aku semakin memundurkan tubuhku. Tubuhku begitu lemas, rasanya tak bisa bergerak. Dadaku begitu sesak. Pandanganku begitu kabur dan setelahnya, hanya gelap dan gelap, aku tak melihat apapun.
Tristan pov
Aku begitu ketakutan melihat gadisku menutup mata dan tak sadarkan diri. Tidak ini saalah. Apa yang terjadi, apa yang terjadi. Kenapa saat dia mau menerima sentuhan ku, reakasinya malah seperti itu. Kenapa dia takut padaku, kenapa dia mengira aku akan menyakitinya. Seketika aku memeluk tubuh lemas tak berdaya itu.
Aku merogoh kantong celanaku dan kutelpon dokter pribadi ku. Dokter itu pula yang dulu merawat kimy saat dirumah sakit. Beberapa saat sebelum dokter tiba, dony sudah lebih dulu datang. Aku menceritakan semuanya dan dia pun terlihat bingung dan cemas.
Dua jam setelah Kimy pingsan. Aku masih duduk disebelah Kimy. Menatap gadis yang masih menutup mata itu. Hatiku begitu hancur. Aku hanya menutup mataku sekilas, ikut merasakan apa yang Kimy rasakan.
Satu jam lalu dokter datang. Dia memeriksa keadaan Kimy. Gadis itu mengalami traumatik akibat penyiksaan yang aku lakukan padanya. Dokter juga menunjukkan bekas luka di pinggang bagian belakang Kimy akibat perbuatanku. Dokter bilang kalau traumatik hanya bisa di sembuhkan dengan perasaan pasien.
Jangan sampai dia mengalami luka lagi. akan butuh waktu menghilangkan trauma itu. Tergantung dari kondisi pasien. Kau harus terus menghiburnya. Selama dia masih ketakutan saat kau menyentuhnya berarti traumanya belum hilang.
Kata-kata dokter itu terus ternginag di otak ku. Bekas luka Kimy dan segalanya tentang gadis itu semakin membuatku merasakan sakit yang teramat dalam.
"Maafkan aku.." Aku terus menggenggam tangan gadis ku. Wanitaku, aku tak akan melepasmu. Bahkan aku berjanji akan selalu menjaga, mencintaimu. Nyawaku yang akan jadi taruhannya.
"Bos.."
"Aku akan menemani kimy sampai sembuh. Kau atur segalanya di kantor.." jawab ku dibalas anggukan oleh Dony. Saat ini memang aku tak peduli dengan apapun. Hanya gadis lemah di depanku ini yang ada di pikiran ku. Kalau sebelumnya, pekerjaan adalah duniaku. Sekarang aku tidak peduli. Duniaku ada didepan mataku ini. Aku tak akan sanggup kalau harus kehilangan dia akibat perbuatan kejiku. Tuhan hukum aku saat ini, aku rela.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=