
"Apa yang terjadi dengan mami?.." teriak Kimy saat sudah sampai di rumah mewah Tristan. Gadis itu terus menangis saat Tristan membawanya pergi. Kata-kata Mita terus terngiang-ngiang di fikiran nya.
"Tenanglah Kimy.." jawab Tristan mencoba meraih lengan Kimy namun di tepis oleh gadis itu.
"Katakan apa yang terjadi pada mami.." teriak Kimy penuh dengan penekanan. Mario dan Dony yang masih di ruang keluarga pun hanya diam melihat gadis itu histeris.
"Baiklah akan aku katakan tapi kau harus tenang dulu.."
"Cepat katakan.."
"Sarah mengalami kecelakaan, sampai sekarang jasadnya belum di temukan.."
Bagaikan di sambar petir, tubuh Kimy seperti di tikam oleh ribuan benda tajam, sakit.
"Tidak mungkin.." tubuh Kimy lemas, ia hampir saja jatuh, namun tangannya dengan cepat memegang tembok di sampingnya.
"Mami.. Mi.. Tidak, tidak mungkin mami tega ninggalin Kimy dan papi.." Kimy seperti orang bingung yang kehilangan arah. Sejenak ia berdiam dan berfikir, Teddy kecelakaan dan Tristan yang melakukan nya. Tidak menutup kemungkinan kalau dia bisa juga menghabisi maminya.
Tristan mendekat ke arah Kimy mencoba untuk menenangkan, ia mencoba meraih tubuh Kimy untuk memeluknya.
Plak
Tristan mematung, Mario dan Dony pun terkejut dengan perlakuan Kimy yang tiba-tiba menampar bos nya itu. Berani sekali gadis itu, Batin mereka.
"Jangan pernah sentuh aku Bajingan. Aku tahu kau yang melakukan itu pada mami.."
Deg
Tristan, Dony dan Mario benar-benar terkejut, bagaimana bisa gadis itu tahu apa yang terjadi.
"Aku bersumpah akan membunuhmu kalau terjadi sesuatu pada mami.." Kata Kimy penuh dengan kebencian pada lelaki itu lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
"Sebuah kesalahan membawanya ke acara itu.." Kata Mario sambil merebahkan tubuhnya pada sofa.
"Aku hanya mau dia kembali hidup normal.." jawab Tristan dengan pandangan masih ke lantai 2 dimana Kimy berada.
"ck.. Kalau kau mau dia hidup normal, lepaskan dia.." sanggah Mario lagi, Mario memang suka ceplas-ceplos kalau bicara. Dia lebih santai dari pada Dony yang terlihat bersikap kaku pada bos nya.
"Dia akan semakin membencimu.."
Tristan tak menjawab perkataan Mario , tapi hati kecilnya membenarkan apa yang dikatakan Mario, memang pandangan Kimy terhadapnya sudah berbeda. Tristan bisa merasakan lewat sorot mata Kimy saat melihatnya. Tidak ada lagi sorot mata lembut penuh kasih sayang. Sorot mata Kimy hanya terlihat kebencian. Tapi persetan dengan pandangan Kimy terhadapnya, peduli apa. Toh Tristan juga tak punya hati nurani. Hatinya sudah mati, belas kasihnya susah hilang dari dirinya.
"Tristan.." Suara renta yang bergetar membuyarkan lamunan lelaki itu. Dia menoleh ke asal suara. Terlihat nek Inah dengan tongkatnya muncul dari halaman belakang. Wanita tua itu sudah lama tak menampak kan diri karena sakit, dia lebih suka berbaring di kamarnya. Dokter juga melarangnya untuk banyak bergerak.
__ADS_1
"Kau sudah sembuh?.." jawab Tristan dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Hmm.. Seperti yang kamu lihat. Apa kamu mengharapkan kematianku?.." jawab Nek Inah dengan terus berjalan mendekati lelaki itu. Nek Inah tertatih menuju sofa yang di duduki Mario. Dengan cekatan Mario menjulurkan tangannya untuk menyambut wanita tua itu.
Nek Inah memegang tangan Mario dan duduk di sebelahnya." Tidak perlu khawatir padaku, yang harus kau jaga adalah dia.." Kata Nek Inah pada Mario. Mario hanya tersenyum mendengar perkataan wanita itu.
"ku kira gadis itu sudah kau lepaskan. Tapi ternyata kau semakin menjadi Tristan. Sudah ku bilang jangan libatkan orang yang tak berdosa, kau akan menyesalinya nanti.."
"Jangan ikut campur urusanku, sudah ku bilang kalau kau masih ikut campur kau akan meninggalkan rumah ini.."
"Baiklah.. Aku akan diam, anggap saja tidak ada aku di rumah ini.." jawab Nek Inah lagi.
Mendengar itu Tristan meninggalkan tempat itu menuju ruang kerjanya di ikuti oleh Dony. Sedangkan Mario masih setia di samping Nek Inah.
"Kau keren Nek, aku suka.." Kata Mario sambil mengedipkan satu matanya pada Nek Inah.
"Diam kau. Dimana Laura? Aku dengar dia membantu gadis itu melarikan diri. Apa Tristan menghukum nya?.."
"Sssttt.. Tenanglah Nek kalau Tristan dengar dia bisa mengusir mu dari sini. Aku benar-benar tak tega melihatmu.." goda Mario.
"Aku tidak peduli, jangan sampai kau menyakiti Laura. Anak nakal itu banyak berhutang budi pada Laura. Mungkin dia lupa karena sekarang dia bisa mendapatkan segalanya tanpa bantuan siapapun. Tapi ingat, Laura lah yang berjasa dalam hidupnya. Jangan berani-berani nya kau menyekitinya.."
"Sesuai perintah mu Nek, mana berani aku melanggar nya.." Jawab mario dengan menggoda wanita tua itu.
Di kamarnya Kimy terus menerus menangis tanpa henti. Harusnya dia tadi kabur, harusnya tadi dia minta tolong pada setiap orang di sana. Banyak sekali yang di pikirkan gadis itu. Tubuhnya terisak di atas kasur, gadis itu sekarang begitu lemah tak berdaya. Tak ada lagi Kimy yang penuh semangat, Kimy yang cantik, Kimy yang percaya diri dan sedikit sombong.
"Papi.. Bagaimana papi bisa hidup tanpa mami. Maafkan Kimy pi, harusnya Kimy berterus terang pada papi. Kimy bodoh terlalu meremehkan lelaki gila itu.." katanya pelan masih sambil menangis.
"Aku harus bagaimana?.."
Ke esok kan hari Tristan terlihat sibuk di kantornya. Setumpuk berkas berada di meja nya. Lelaki gila itu terlihat sangat serius dan itu menambah ketampanan dan keseksian nya.
Tok.. Tok..
Dony masuk ke ruangan itu "Bos ada tuan Gilang ingin bertemu.." Tristan terlihat terkejut.
Mau apa lagi dia?
Tristan berfikir sebentar "Suruh dia masuk.." Jawabnya.
Beberapa saat kemudian Gilang masuk ke ruang kerja Tristan bersama Dony . Tristan beranjak dari kursi kebesaran nya dan duduk di sofa.
"Ada apa lagi?.." Tanya lelaki itu to the point tidak mau basa-basi.
__ADS_1
Gilang yang masih di posisi berdirinya enggan untuk bergabung duduk di sofa bersama kakaknya itu.
"Silahkan duduk tuan?.." Dony bersuara.
"Tidak terima kasih, bisa saya bicara berdua dengannya.." Kata Gilang pada Dony. Dony mengangguk lalu meninggal mereka berdua.
"Cepat katakan ada apa?.." Tristan bersuara setelah kepergian Dony.
"Aku ingin kau menemui papa, keadaannya sedikit membaik beberapa hari ini.."
"Ck.. Aku tidak ada urusan dengan tua Bangka itu.." jawab Tristan dingin.
Gilang tersenyum "Aku tau kau peduli, setelah kedatanganmu tempo hari keadaan langsung membaik.."
Bedebah sialan, dia mengetahuinya. Batin Tristan.
"Aku tidak ada waktu bermain-main bung, kau lihat pekerjaan ku banyak sekali.."
"Aku mohon.." Suara Gilang terlihat rapuh.
Tristan menyeringai, lelaki ini memohon padanya, ia tersenyum penuh kemenangan "Kalau aku datang ke sana dan tua Bangka itu sembuh imbalan apa yang aku dapatkan? Bukankah kau tahu kematiannya adalah harapan terbesar ku.."
"Aku akan merelakan Kimy untukmu.." jawab Gilang lemah.
"Ha ha ha.." Suara tawa Tristan memenuhi ruangan itu. " itu tidak sebanding bung, kau tahu Kimy sudah jadi milikku seutuhnya sekarang. Kau bukan apa-apa lagi untuknya.."
Hati Gilang begitu sesak mendengar perkataan Tristan.
Memiliki seutuhnya? Apa mereka sudah. Bayangan kekasihnya bermesraan dengan lelaki di depannya itu semakin membuatnya hancur.
" Tristan.. aku tahu saat ini Kimy bersamamu, tapi hatinya ada di sini?.." Gilang menunjuk dadanya.
Tristan tak menjawab, ia hanya mengeratkan rahang nya. Sedikit banyak hatinya terusik dan ia mengakui itu, ia belum bisa mendapatkan hati gadis itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hallo temen-temen di manapun berada, terima kasih buat semuanya yang masih setia membaca karya author BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU.
Author mau sedikit curhat nih, sebenarnya tadinya author gak akan lanjut cerita ini, bukan karena kehabisan ide atau apa tapi krn kesibukan author di dunia nyata yang super padat.
Melihat komentar temen-temen yang mengharapkan cerita di lanjut membuatku semangat nulis lagi wlopun gak sesuai jadwal terbitnya/gak tiap hari.
Terima kasih buat semuanya, komentar dan dukungan kalian yang membuatku semangat nulis.
__ADS_1
Oh ya kalian lebih ngeship Kimy bersama Tristan atau Gilang nih? Jawab di kolom komentar ya teman-teman❤️
Love buat semuanya di manapun kalian berada❤️💋😍