
Mungkin benar kalau cinta di uji saat kita kehilangan seseorang. Orang yang tadinya kita pikir biasa saja, setelah pergi ternyata meninggalkan luka. Hanya penyesalan dan penyesalan yang tersisa. Sebelum semua itu Kimy rasakan, dia berlari dan memeluk lelaki yang di pastikan telah dia cintai dengan sepenuh hati. Kimy tak berfikir apapun saat ini, dihatinya hanya takut kehilangan lelaki itu. Entah, saat Tristan berkata tak mau menikahi wanita yang tak mencintainya, Kimy merasa takut. Dia takut kehilangan lagi. Dengan erat kedua tangannya melingkar di perut rata Tristan. Tristan pun hanya diam mematung, melihat tangan kekasihnya melingkari perutnya.
"Beraninya kamu mau meninggalkan ku setelah semua yang terjadi.." isak Kimy pelan.
Hati Tristan pedih mendengar suara wanitanya yang begitu sedih dalam tangisnya. Tristan mengutuk dirinya sendiri karena sudah membuat wanitanya menangis. "Aku mencintaimu, bahkan setelah apa yang sudah terjadi aku masih tetap mencintaimu Tristan. Aku berusaha melupakan mu selama setahun terakhir ini tapi tidak bisa. Berjauhan darimu hanya membuatku tersiksa dan sekarang kamu mau meninggalkan ku.."
Tristan meraih tangan Kimy yang melingkar di perutnya itu. Merabanya pelan, dan terakhir tangan itu bertumpuk diatas tangan Kimy. "Dengarkan aku, dalam hidupku hanya ada dua pilihan. Hidup bersamamu atau mati. Kalau aku tidak bersamaku berarti aku mati. Selama aku masih hidup tidak ada sejarah Tristan meninggalkan Kimy.." ucap Tristan dengan tenang.
Tristan kemudian berbalik, dia menatap mata kimy yang sudah basah dengan air mata itu. Perlahan Tristan menghapus jejak air mata itu dengan ibu jarinya."Jangan menangis, aku benci melihatmu menangis. Maafkan aku sayang, karena sudah meragukanmu.."
Kimy tak kuat lagi menahan, air matanya keluar lagi dan lagi, dengan cepat dia memeluk lelaki itu dengan erat. "Jangan tinggalin aku.."
"Hanya kematian yang memisahkan kita.." jawab Tristan.
"Tidak. Aku tidak mau berpisah walau salah satu dari kita mati. Kalau kamu mati, aku pasti akan ikut bersamamu.." Kata Kimy masih dengan memeluk lelaki itu dan masih dengan air mata yang telus mengalir di pipinya.
"Hey.." Tristan memberi jarak tubuhnya yang merapat sempurna dengan tubuh Kimy itu, dia menangkup kedua pipi Kimy dengan kedua tangannya, mengarahkan wajah Kimy ke atas untuk di lihat lebih dekat. "Kamu harus tetap hidup apapun yang terjadi. Kamu akan tetap bersinar sperti bulan dimalam hari dan seperti matahari di siang hari. Kamu harus berjanji padaku, Kimy tidak boleh menyerah pada kehidupan. Ada ataupun tidak ada aku di dunia ini.."
"Apa yang kamu katakan?.." heran Kimy dengan ucapan Tristan. "Tristan kenapa kamu bicara seperti itu, kamu berjanji tidak akan meninggalkanku kan?.." Tristan mengangguk "Lalu kenapa kamu bicara seperti itu.."
"Aku hanya ingin memastikan kalau kamu akan baik-baik saja tanpa aku di dunia ini sayang.."
"Cukup, aku tidak mau mendengarnya.." Kimy berniat pergi, namun Tristan merengkuh pinggang wanita itu.
"Kita tidak mungkin akan selamanya hidup kan sayang. Setelah menikah, kita akan punya anak, lalu punya cucu dan cicit. Salah satu dari kita pasti akan mati kan.."
"Aku tahu, tapi aku tidak mau membayangkan hal itu terjadi.." Tristan menatap lekat wanitanya itu "Berjanjilah apapun yang terjadi kita tidak boleh berpisah lagi.." ucap Kimy, dibalas anggukan lalu kecupan dikening wanita itu. Mereka berdua saling berpelukan setelahnya.
**
"Kau tahu dia sudah kembali?.." Tanya Nadine pada lelaki tampan yang sedang fokus dengan kanvasnya itu. Tak ada jawaban dari lelaki itu, dia terus saja menggoreskan kuasnya pada kanvas itu. Nadine terus menatap lelaki tampan yang tak berkurang sedikitpun tingkat karisma dan ketampananya, walaupun dia bukan lagi seorang aktor ternama.
"Kau selalu saja mengacuhkan ku, apa aku bukan sahabatmu lagi?.." Tanya Nadine pada Gilang. Gilang meletakkan kuasnya, lalu mengambil kain lap untuk membersihkan tangannya dari noda cat lukis. Ya, sejak memutuskan berhenti dari dunia keartisan, kehidupan Gilang hanya berkutat di cafe dan juga studio lukisnya yang berada di lantai paling atas bangunan yang dia tinggali. Gilang membeli 4 ruko yang berdampingan, merombaknya menjadi sebuah cafe dan tempat tinggal. Dilantai satu dan dua bangunan itu di gunakan untuk cafe, sedangkan Gilang sendiri tinggal di lantai tiga, dilantai tiga ada 3 ruangan. Satu kamar Gilang, studio lukis dan kamar kosong yang digunakan jika ada teman Gilang menginap. Dilantai itu Gilang sudah mendesain seperti sebuah apartemen mewah.
__ADS_1
"Kalau kau kesini hanya untuk membahas masalah itu sebaiknya kau pergi.." jawab Gilang dengan expresi datar.
Nadine menghela nafas "Sampai kapan kau bersembunyi di sini?.."
Gilang menatap tajam Nadine "Aku tidak sembunyi. Siapa yang mencariku bisa datang langsung kesini.." Sanggahnya.
"Lalu apa namanya ini kalau tidak sembunyi. Bahkan kau tak mau menemui mamamu. Kasian mamamu sendirian mehadapi semua ini.."
"Mama sudah dewasa bisa menjaga diri.."
"Kau akan menyesal tidak menemuinya. Setidaknya katakan sesuatu sebelum dia menikah.."
Gilang tak menjawab, dia lebih memilih berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan nadine sendirian di sana. Gilang langsung masuk ke kamarnya menuju kamar mandi. Dia berdiri dibawa shower, lalu memutar shower itu hingga mengeluarkan air, air itu perlahan membasahi tubuh dan badannya.
Dalam pancuran air itu, bayangan Kimy muncul lagi di otaknya. "Sayang aku kangen, sayang jemput aku, sayang cium aku, sayang, sayang, sayang,.."
Suara-suara manja Kimy yang dulu terus saja berputar di otaknya. Lelaki itu memejamkan mata dalam pancuran air itu. "Aku merindukanmu sayang.." ucapnya lirih sangat lirih.
**
"Kenapa, hm?.." Tristan masih bisa menjawab di saat seperti itu.
"Kita belum Men.. Menikah.." Jawab Kimy dengan terengah.
"Lalu?.."Tanya Tristan lebih santai daripada Kimy.
"Aku takut hamil sayang.." jawab Kimy dengan mata terbuka dan tertutup menikmati kegiatan mereka itu.
"Itu lebih baik sayang.." jawab tristan dengan terus memompa Kimy.
"Sayang, aku tidak kuat lagi.."
"Bersiaplah sayang, kita sama-sama.."
__ADS_1
Dan seketika tubuh Kimy menegang begitu juga dengan Tristan, keduanya sama-sama meluapkan rasa cintanya saat itu. Tristan terus saja mengisi tubuh Kimy, lagi dan lagi tanpa tersisa. Lelaki itu berharap benihnya akan tertanam di perut wanita yang di cintainya itu lagi.
Pasangan itu kini sedang bergulung dengan selimut tebal. Di yakini kalau keduanya sedang tak memakai apa-apa saat ini. Disaksikan bulan, bintang dan deburan ombak pantai malam itu. Pintu kaca itu mereka biarkan terbuka. Tentu saja angin laut membuat keduanya merasa dingin hingga keduanya tak bisa melepaskan satu sama lain. Kimy menyandarkan dan memeluk dada bidang kekasihnya itu. Dia sedikit bermain dengan bulu halus yang ada didada lelaki itu. Tristan sesekali menangkap tangan Kimy dan menciumnya. "Kamu lapar?.." Tanya Tristan begitu sadar kalau mereka tengah melewatkan makan malamnya karena terlalu asyik berduaan dari sore sampai jam 22.30 malam ketika lelaki itu melirik jam.
"Tidak.." jawab Kimy malah menutup mata dan memeluknya.
"Kamu belum makan, mana mungkin tidak lapar.." bujuk Tristan.
"Diamlah, aku mau tidur.."
Dddrrrrrtttt
Ponsel Tristan bergetar dinakas sampingnya. Lelaki itu meraih dengan tangan kirinya sedangkan tangan yang lain masih tetap memeluk pinggang wanitanya. Terlihat Dony memanggilnya "Katakan.." jawab Tristan.
"Jangan lakukan apapun, tunggu aku datang.." Jawabnya lagi lalu menutup telepon itu.
Kimy membuka mata dan mendongak melihat lelaki itu "Siapa?.."
"Dony, sayang kamu tidak apa-apa aku tinggal sendiri di sini. Ada urusan yang perlu ku selesaikan.." Tristan berusaha bangun, begitu juga Kimy dia duduk dengan memegangi selimut untuk menutupi dadanya.
"Malam-malam begini?.." Tanya Kimy sambil melihat jam dinding.
"Iya.." Tristan sudah bangkit, lelaki itu dengan tak tahu malu beranjak dari duduknya dengan kondisi polos mengambil bajunya yang berserakan di lantai. Kimy melongo melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya tanpa berkedip. Ketika sadar Kimy langsung menggeleng-gelengkan kapalanya supaya tidak berfikir macam-macam. Sedangkan Tristan masih dengan cueknya memakai celana dan kemejanya begitu saja.
"Aku ikut.." Kata Kimy cepat.
"Tidak Kimy, ini bukan main-main.." cegah Tristan yang langsung menghentikan aktivitas memakai bajunya. Dia membiarkan kemejanya begitu saja tanpa dikancingkan.
"Aku ikut atau kamu tidak boleh pergi.." ancam Kimy. Tristan hanya putus asa dengan permintaan wanitanya itu. Dia yakin akan menjadi masalah kalau Kimy benar-benar ikut.
Tristan mengendarai mobil sport membelah kota bali malam itu. Dia mengendarainya cukup kencang. Ditambah iringan omelan Kimy semakin memacu andrenalinya saat itu. Bagaimana tidak, Kimy terus saja mengomel saat tahu kalau yang akan di temuinnya adalah Alana. Ya, memang Tristan menjelaskan masalahnya sebelum mengajak Kimy, daripada terjadi pertumpahan darah di sana, pikir Tristan.
"Aku tidak percaya kamu baru saja bilang tidak bisa hidup tanpaku. Tapi ternyata.." kimy memilih tak melanjutkan ucapannya. Tristan tak menjawab apapun dia hanya mendengarkan wanitanya itu mengomel sepanjang jalan.
__ADS_1