BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU

BUKAN SALAHKU MENCINTAIMU
Bonchap 4


__ADS_3

Sore itu zane, Sabrina, Eve dan Jeff berada di halaman belakang rumah mewah milik keluarga abraham, mereka sedang BBQ an, berbeda dengan Zane dan Sabrina yang bertingkah sangat random khas anak muda, Jeff malah menekuk mukanya sedari tadi, di temani Eve yang sedari tadi duduk di sebelah Jeff, mencoba untuk mengajaknya bercanda, namun Jeff tetap saja mukanya datar.


“Jeff aku mau pergi ke puncak sama temenku” Eve memulai pembicaraan.


Jeff menoleh cepat “ Teman siapa?”


“Kamu tahu kan Amel, dia ngajakin aku ke bandung trus nanti mampir ke puncak” jawab Eve dengan semangat.


“Nggak boleh!”


Eve cemberut “Jeff, sekali ini aja”


Jeff memandang mata Eve dengan tajam “Terserah kamu, tapi kalau ada apa-apa jangan telepon aku” Jeff lalu berdiri meninggalkan Eve yang mukanya sudah tambah cemberut. Lelaki itu meninggalkan tempat itu, melintasi si kembar Sabrina dan Zane yang sedang asyik memanggang daging. Sabrina menoleh sekilas ketika Jeff melintas tadi, namun Jeff malah sekalipun tak menoleh padanya.


“Sebel!!” Suara Eve tiba-tiba terdengar, ternyata Eve sudah bergabung bersama Zane dan Sabrina.


“Kenapa kak Sab, bertengkar sama abang?” Tanya Zane ketika melihat muka Eve yang di tekuk.


Eve menggedikan bahunya “Abang kalian tu ya, nggak ngerti lagi aku tuh. Kakak mau main sama temen aja nggak di bolehin” jawab Eve.


Sabrina hanya mendengar saja tanpa menimpali sambil terus memanggang daging.


“Wahh itu berarti kakak spesial buat abang”


Eve mencibir ucapan Zane itu.


“Sab dan kakak itu adalah orang spesial” tambah Zane.


“Aku???” Sab menyela ucapan kembaranya.


Sedangkan si Eve menatap Sab dengan tatapan yang sulit di artikan.


“Iyalah kamu, udah segede gini mana ada cowok yang berani deketin kamu. Kamu kira karena apa?”


Ucapan Zane menarik perhatian Sabrina dan Eve.


“Emang karena apa?” Tanya Sabrina.


Sedangkan Eve menyimak dengan seksama.


“Karena cowok-cowok di luar sana pada takut sama abang” jawab Zane sambil tertawa lebar.


“Ehem” Eve berdehem “Kalau Sabrina kan jelas adik kandungnya Zane, sedangkan aku?! Kenapa Jeff perlakukan aku juga kayak gitu?” Ucap si Eve.


“Karena kakak juga spesial buat abang”


“Sebagai apa?” Tanya Eve, ia ingin menggali sebanyak-banyaknya info dari adiknya si Jeff itu.


“Pacar mungkin” jawab Zane lagi.


“Abangmu nggak pernah ngajak kakak pacaran Zane”


Sabrina tetap tak bereaksi, ia hanya mendengarnya saja, tapi satu hal yang akhirnya Sabrina tahu dari pembicaraan Zane dan Eve itu, kalau ternyata abangnya tidak pacaran dengan Eve. Tidak tahu kenapa sudut hati Sab malah senang.


“Cinta nggak harus di ungkapkan dengan kata-kata Kan Eve”


“Lalu dengan apa Zane, cewek itu perlu sebuah ungkapan perasaan” Eve semakin menggebu-gebu menanggapi ucapan Zane, jarang-jarang mereka membahas masalah begini.

__ADS_1


“Cukup dengan love language kak” jawab Zane dengan cengiran.


Ucapan Zane itu sedikit menyentil hati Sabrina. Love language, apa tindakan Jeff padanya tadi pagi termasuk love language pikirnya.


Sabrina menggeleng-geleng, apa ia sudah gila bisa berfikir kalau kakanya menyukainya. Kenapa dari tadi seakan perkataan Zane selalu ia kaitkan dengan Jeff, Otaknya mungkin sudah sedikit tidak waras bisa berfikir begitu.


“Kenapa Sab?” Tanya Eve karena melihat Sabrina menggelengkan kepalanya beberapa kali.


“Hehehe nggak kak” jawab Sab dengan cengiran.


“Apa kamu yakin Zane kalau abangmu suka sama aku?” Tanya Eve kali ini dengan terang-terangan.


“Yakin 1000% kak, Kak Eve tenang aja. Cewek mana yang berani deketin abang, cowok kaku, dingin kayak kutub gitu”


Eve mangangguk mengiyakan ucapan Zane yang memang Jeff kayak kutub sifatnya.


**


Selesai mandi, Sabrina langsung berdandan di depan cermin, ia sedikit mengcurly rambut bawahnya. Soal dandan jangan ragukan kemampuan gadis itu, Sabrina lihai dalam hal itu. Tidak menor dan tidak berlebihan, pas sekali dengan wajah Sab yang aslinya sudah sangat cantik bak barby hidup itu.


Ceklek


Pintu terbuka dan Jeff masuk begitu saja tanpa permisi membuat Sabrina sedikit kaget.


“Abang kebiasaan masuk tanpa ketuk pintu”


“Sejak kapan aku harus mengetuk pintu kalau masuk ke kamarmu?” Tanya Jeff dengan tatapan mengimintidasi, Jeff berjalan ke arah Sab dengan kedua tangan berada di saku celananya. Melihat itu Sab langsung beringsut berdiri dari kursi riasnya.


“Sejak sekarang bang, aku bukan anak kecil lagi. Aku juga punya privasi—“ namun perkataanya terasa teronggok di tenggorokan ketika di lihatnya Jeff semakin mendekat padanya.


“Stop, abang stop!!” Sabrina menjulurkan kedua tanganya untuk menahan tubuh Jeff yang sudah tinggal selangkah lagi berada di hadapanya.


Jeff tak bersuara, ia seakan bicara dengan Sab lewat tatapan tajamnya.


“Abang ngapain kesini?” Tanya Sab untuk menghilangkan ketakutanya.


Jeff melihat Sab dari ujung kaki sampai ujung rambut “Mau kemana?” Tanyanya ketika melihat Sab sudah berdandan sangat cantik.


“Abang lupa Mommy dan papa ajakin aku ke rumah teman mereka?”


Tatapan Jeff menajam dan ia melangkah lagi lebih mendekat pada tubuh adiknya itu.


“Abang!” Teriak Sab melihat Jeff yang akan mendekat lagi.


Jeff mana peduli, ia seakan tuli. Tubuh tegap itu menghimpit Sab hingga menabrak tembok dibelakang gadis itu.


“Abang mau apa?” Sabrina hampir saja menangis melihat tingkah abangnya yang menurutnya sudah tak wajar itu.


“Kamu nggak boleh pergi” suara berat itu terdengar lirih tepat di depan wajah Sab, bahkan hembusan nafas hangat Jeff bisa Sabrina rasakan.


Sabrina memberanikan diri melihat atas, melihat ke wajah Jeff yang memang jauh lebih tinggi darinya. Tatapan tajam itu jujur membuat Sab takut, itu bukan tatapan yang Jeff berikan selama ini untuknya.


“Kenapa bang?” Sabrina memberanikan diri bertanya.


“Karena abang nggak ngizinin”


Sabrina menggeleng pelan dengan tatapan masih terus menatap Jeff.

__ADS_1


“Kenapa abang nggak ngizinin, aku perginya sama papa dan Mommy, nggak ada alasan buat abang nglarang aku pergi”


“Sabrina”


“Ya, bang. Kenapa, kasih aku penjelasan yang masuk akal” tantang Sab, rasanya kesabaranya sudah habis. Pokoknya Sab harus bisa pergi malam ini, titik.


“Karena Papa akan mengenalkanmu sama lelaki lain”


Deg


Sabrina kaget, jadi apa yang di katakan kembaranya tadi pagi itu beneran, pikirnya.


Sabrina bingung harus berkata apa, ia pun hanya memandang wajah Jeff dengan cengo.


“Sabrina denger baik-baik” Jeff lebih mendekatkan lagi wajahnya pada Sabrina, satu tanganya merapikan anak rambut Sab, menyelipakanya pada daun telinga. Kegiatan itu tak luput dari pandangan Sabrina, bahkan ia menahan nafas saat Jeff melakukan itu.


“Kamu milik abang, jangan coba-coba berfikir kamu bisa lari dari abang”


Jeduk jeduk jeduk


“Mak—maksud abang?”


“Kamu nggak akan bisa lari dari abang Sabrina!!” Ucap Jeff pelan namun penuh penekanan, penuh makna dan arti.


“Ganti bajumu, abang yang akan bicara sama papa dan Mommy” Jeff berniat meninggalkan Sab, namun dengan lancang Sab menahan lengan Jeff.


“Abang nggak berhak bertindak sejauh itu, ini hidupku bang, aku yang menentukan, aku yang memutuskan apa yang bisa atau nggak bisa aku lakukan—“ ucap Sab dengan kencang, setengah teriak.


Kalau pada akhirnya, Sabrina harus menyesali perkataanya sendiri adalah ucapan yang baru saja ia katakan pada Jeff, karena di detik selanjutnya tubuh Sabrina seperti di hantam benda yang sangat berat, kepalanya juga seperti terbentur benda tajam. Otak Sabrina terasa susah mencerna apa yang terjadi, pandanganya tiba-tiba saja menggelap oleh bayangan Jeff yang tinggi dan besar, sesuatu yang basah dan kenyal tiba-tiba saja mendarat di bibir indahnya.


Sabrina baru sadar kalau Jeff tengah mencuri ciuman pertamanya saat bibir abangnya itu bergerak bebas di atas bibirnya.


“Emmm—ab—-leepppp” suara Sab tertahan akibat bungkaman Jeff.


Sabrina memukul-mukul dada kekar Jeff dengan kedua tangan mungilnya, tapi dengan mudahnya Jeff menangkap dan memegang kedua pergelangan tangan Sab dengan hanya menggunakan satu tangan Jeff saja.


Beberapa saat Sabrina berontak namun nihil hasil, akhirnya gadis itu lelah dan menurut saja. Jeff masih belum melepaskan bibir Sabrina, ia nikmati bibir ranum itu dengan rakus. Jeff akhirnya melepaskan ciumannya saat Sabrina susah nafas. Keduanya terengah dengan nafas saling menyahut, Jeff menempelkan hidungnya pada hidung Sab, bersamaan dengan itu air mata Sabrina leleh juga.


Jeff mengusap basah pipi Sabrina “Maafin abang” ucap Jeff dengan suara parau.


Sabrina justru semakin menangis mendengar kata maaf dari abangnya itu, kenapa ia tidak marah saja sama Jeff. Sabrina sendiri heran dengan dirinya.


“Sabrina, maaf sayang” ucap Jeff ketika melihat adik kesayanganya itu semakin menangis.


“Ab—abang jahat” jawab Sab di tengah air matanya.


“Abang sudah menahanya sayang, kamu kelewat batas menguji kesabaran abang, hanya dengan cara ini kamu akan ngerti”


Sabrina mendongak menatap Jeff “Aku nggak ngerti bang, kenapa abang nglakuin ini sama Sab. Aku ini adik kandung abang, kenapa abang cium Sabrina?”


“Sabrina kamu nggak paham sama perasaan abang?” Jawab Jeff cepat tanpa berfikir.


Sabrina menggeleng.


“Abang mencintaimu”


Sabrina mematung dan menajamkan matanya, apa ia tak salah dengar.

__ADS_1


“Abang mencintai Sabrina sebagai wanita, bukan sebagai adik” ucap Jeff sekali lagi.


Bersambung….


__ADS_2