
Setelah acara hari ini selesai, kini tinggal persiapan untuk menuju hari H saja, terhitung tinggal 3 hari lagi setelah pemberitahuan di Mahakarya beberapa minggu lalu. Disaat para anggota lain sibuk mempersiapkan segala peralatan juga perlengkapan, berbanding terbalik dengan Dimas yang masih sibuk dengan berkas Perusahaan.
Andre : "Maaf Tuan Muda, beberapa hari yang lalu pihak Yosuung Grub sudah datang ke Indonesia. Menurut Shekar kedua putri dari Tuan Lee ikut datang kemari."
Mendengar kabar itu membuat Dimas hanya berdiam diri dengan tenang, bahkan tidak ada tanda-tanda tegang dari raut wajahnya. Semua nampak normal seperti biasa, hanya saja satu yang berbeda, mata elang Dimas kini semakin tajam bahkan siapapun juga melihat hal itu.
Dimas : "Apakah Arya sudah mengurus semuanya?" Andre mengangguk. "Baiklah, biarkan dia mengurus PPA terlebih dahulu." Yaa saat ini sekretaris Dimas itu tidak berada di Kantor karena harus mengurus perlengkapan dari Humas selama di Puncak.
TOK...
TOOK...
Pintu terbuka, seorang lelaki bertubuh atletis berwajah tak kalah tampan dengan Dimas masuk ke ruang Dimas sebelum mendapat izin terlebih dahulu. Lelaki itu langsung duduk di sofa yang berada disana, dengan wajahnya yang serius membuat Dimas mengerti apa yang sedang difikirkan oleh orang tersebut.
Andre : "Apa yang Anda lakukan disini Tuan Firman Rangga Wijaya? Ada keperluan apa? Bukankah seharusnya Anda mempersiapkan perjalanan ke Puncak? Saya dengar Anda akan melakukan perjalanan kesana." Tanyanya dingin.
Orang itu tak lain adalah Firman, dia menatap Andre tajam, namun yang ditatap hanya bersikap acuh tidak ada rasa takut diwajahnya. Sedangkan Dimas masih diam, menunggu kedua orang didepannya berhenti berbicara.
Firman : "Jaga ucapan loe Ndre. Gue masih ingin main kesini, lagipula untuk urusan konsumsi sudah selesai tinggal membeli saja, dan biarkan mereka yang menyiapkan karena semua sudah terdaftar. Toh bukan hanya gue, kalian berdua juga akan kesana." Jawabnya. "Lagipula kenapa loe bersikap dingin seperti itu ke gue? Memangnua ada masalah apa loe sama gue?" Ucapnya tak kalah dingin.
Andre : "Kenapa? Bukankah seharusnya Anda tetap dengan mereka, dan bukankah seharusnya ini masih jam Kantor Anda? Untuk apa Anda pergi dari Kantor jika kemari hanya ingin bermain. Pekerjaan saya masih banyak, kami akan berangkat setelah semua selesai." Jawab Andre yang masih dingin.
Firman : "Terserah gue donk, hidup juga hidup gue. Gue punya kaki, jadi gue berhak untuk bermain kemanapun dan dengan siapapun gue mau, itu tidak ada urusannya sama loe ya." Jawabnya lagi.
Dimas yang sejak tadi hanya diam kini mulai geram melihat adik dan sahabatnya berdebat seperti itu. Mending debat yang berfaedah, lah ini tidak ada artinya sedikitpun. Disaat Andre akan menjawab, suara Dimas sudah menahannya..
__ADS_1
Dimas : "Apa kalian masih ingin ribut disini? Jika memang iya lebih baik kalian cari tempat yang lain dan jangan disini Masih ada ruangan yang kosong." Ucapnya yang tak kalah dingin. Kedua lelaki tampan didepannya itu langsung terdiam dan tidak berani menjawab. "Ada hal apa hingga Anda datang kemari Tuan Rangga?" Ucapnya formal. Firman yang mendengar langsung berubah serius.
Firman : "Apakah pihak Yosuung sudah tiba di Indonesia?" Tanyanya langsung pada intinya. Andre menjawab dengan anggukkan. "Apakah mereka tidak memberitahu sebelumnya?" Andre kembali menggeleng. "Bersuaralah Tuan Andre, saya tidak butuh anggukkan ataupun gelengan darimu itu."
Andre : "Maaf, tapi memang begitulah jawabannya. Pihak Yosuung tidak memberitahukan kedatangan mereka, menurut sumber terpercaya mereka telah tiba sejak dua hari yang lalu. Selama itu pula mereka belum menghubungi kami." Jelasnya.
Dimas : "Apa terjadi sesuatu yang lain, atau Anda hanya ingin menanyakan perihal itu?"
Firman : "Saya hanya ingin memastikan bahwa mereka belum melancarkan rencananya yang sudah jadi rahasia umum itu."
Dimas : "Anda tidak perlu khawatir dengan semuanya, kita ikuti saja apa yang akan mereka lakukan. Karena sebenarnya mereka belum mengetahui siapa yang mereka hadapi." Ucapnya dingin dengan mata elang yang siap mencabik mangsanya.
Terdengar suara ponsel dibalik jas yang dikenakan oleh Andre. Andre langsung mengambil dan melihat siapa si penelepon, setelah mengetahui namanya ia langsung menggeser tanda hijau disana.
Andre : "Halo dengan Andre disini?" Ucapnya.
Andre : "Sementara ini pihak mereka belum datang kesini, tapi salah seorang bodyguard yang kita kirim kesana mengabarkan mereka akan menjalankan rencananya dua hari lagi dan target utamanya adalah mengetahui identitas Tuan Muda yang sebenarnya, baik itu kehidupan sosial maupun pribadinya." Jelasnya.
Penjelasan itu membuat Firman terkejut dan langsung menatap Dimas, sedangkan yang ditatap hanya berwajah datar. Itu menunjukkan apa yang dikatakan Andre adalah benar.
? ? ? : "Ya dengan begitu mereka akan dengan mudah mengenali dan menggoda Dimas. Baiklah, sebentar lagi saya ada meeting dan besok saya akan langsung cek in menuju Jakarta. Sampaikan salamku padanya." Orang itu langsung mengakhiri panggilan itu.
Andre langsung memasukan benda pipih itu kembali kebalik jasnya.
Dimas : "Siapa yang baru saja menghubungimu Andre? Apakah Direktur Pangestu?"
__ADS_1
Andre : "Ya benar, barusan adalah Direktur Pangestu. Beliau menitipkan salam dan juga berpesan, dikegiatan nanti Anda harus datang karena Beliau akan hadir juga dikegiatan tersebut. Dan yaa, besok Beliau akan cek in bersama Shekar." Dimas mengernyit.
Dimas : "Apakah ini sudah waktunya Shekar kembali kesini? Bukankah jadwal mereka masih minggu depan."
Andre : "Sepertinya itu karena pihak Yosuung yang sudah datang kesini Tuan." Dimas hanya mengangguk dengan tenang.
Firman : "Tunggu!" Ucapnya tegas. "Ndre, yang loe bilang tadi benar? Mereka saat ini. . ." Andre mengangguk. "Dasar! Gue kutuk juga mereka jadi batu! Biar sekalian gue buang ke Sumatera biar si Malin Kundang* punya teman baru. Biar dia enggak sendirian, gedek banget gue sama mereka." Umpatnya.
*Malin Kundang seorang anak durhaka yang dikutuk oleh Ibunya menjadi batu, sebuah cerita rakyat yang terkenal dari Sumatera Barat.
Andre : "Anda benar bisa mengutuk mereka menjadi batu?" Pertanyaan konyol nan menggelitik itu keluar dari mulut Andre yang memasang wajah polos, Firman langsung memutar matanya jengah.
Firman : "Loe enggak salah punya adik seperti dia kan Dim?" Dimas mengernyit. "Badan saja yang tinggi, tegap, wajah tampan juga dingin terlihat begitu pintar, tapi ternyata semuanya hanya pajangan saja, ckck."
Andre : "Apa maksud Anda?" Tanya Andre yang menajamkan matanya.
Firman : "Ya loe bayangin aja, sejak kapan gue bisa ngutuk orang jadi batu?! Loe fikir gue bisa? Ya jelaslah. ENGGAK!!" Jawabnya dengan lantang. Namun kemudian ia lansung tertawa.
Andre yang sudah begitu geram dengan tingkah sahabatnya itu langsung mengambil bantal sofa, lalu kemudian terdengar suara. BUAKK!!! Bantal itu langsung melayang kewajah Firman. Setelah melakukan itu Andre langsung lari terbirit bersembunyi dibalik tubuh tegap Dimas yang duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Firman langsung mencari tersangka yang telah melempar benda itu sampai rambutnya berantakan tidak seperti semula.
Firman : "Andreeeeeeee!!" Teriaknya, suara itu bahkan menggelegar diseluruh ruangan. Untung saja ruangan itu kedap suara, jika tidak maka bisa dipastikan seluruh karyawan akan datang kesana. "Dimas, minggir loe dari situ!" Ucapnya memberi perintah. "Bahkan Dimas kini tidak bisa lindungi loe dari gue Ndre, enggak peduli gue jika harus mukul loe didepan Dimas apalagi CEO Adhitama Grub."
Dengan langkah lebarnya, Firman beranjak dari sofa dan langsung menghampiri seseorang yang berada dibelakang Dimas. Namun dengan sekali hentakan Andre segera memutari meja Dimas ketika Firman sudah mendekat. Bisa dibayangkan saat ini mereka berdua bahkan sudah berlarian memutari meja besar milik Dimas. Dimas yang melihat mereka hanya memutar matanya dengan jengah, bahkan suara keduanya sungguh memekikan telinga miliknya.
Beberapa saat kemudian akhirnya keduanya berhenti berkejaran. Mereka lansung tergeletak di sofa dengan peluh yang sudah banyak.
__ADS_1
Dimas : "Apakah kalian sudah selesai bermainnya?" Tanya Dimas yang sejak tadi hanya diam saja. Keduanya menoleh.
"Ya kami sudah selesai." Jawab keduanya bersamaan dengan suara yang terengah-engah. Dengan wajah penuh peluh, rambut yang semula rapi kini jadi berantakan. Mereka hanya nyengir kuda saja. Dimas hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bocah dihadapannya, ya mereka memang seperti bocah baru masuk TK.