Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 139 Kabar Burung..


__ADS_3

Selama berada di Korea, Septian, Andre maupun yang lainnya melakukan pencarian terhadap Dimas. Tak ada satu haripun mereka lewati untuk bersantai atau berjalan-jalan ke berbagai pusat perbelanjaan maupun wisata yang lainnya.


Saat ini Septian sedang berada di Apartemen, bersandar pada jendela yang terbuka. Matanya memandang menara-menara yang tinggi menjulang disana, menara tempat para manusia mencari nafkah untuk keluarganya.


Kini pandangannya berpindah pada bangunan kecil disebelah para bangunan besar. Bagaimana kehidupan rakyat yang hidup dibangunan kecil itu? Apakah mereka dapat hidup dengan nyaman dibawah gedung yang bahkan hampir tidak layak untuk dihuni?


Kemudian matanya beralih pada pemandangan yang jauh disana. Dimana tempat itu terlihat begitu jauh jika dilihat dari jarak puluhan kilometer dari tempatnya berada.


Apakah mungkin, Dimas ada disana? Apakah mungkin lelaki dingin itu benar-benar hidup ditempat terpencil itu?


Seakan mendapat angin segar, Septian langsung beranjak dari jendela itu. Kini matanya sedang mengelilingi setiap sudut ruangan dihadapannya.


Septian : "Kenapa terasa sepi? Kemana Andre dan yang lainnya? Ruangan ini begitu sepi." Gumamnya pelan. "Andreeeee?! Om Pastuuuuu?!" Teriaknya yang tak menemukan seorang pun.


"Kemana sih? Masa iya gue ditinggal sendiri disini? Gue kan mau kasih ide, siapa tahu feeling gue bener." Umpatnya.


Septian langsung duduk di sofa ruang tamu, tangannya merogoh ponsel dibalik saku celanya. Dengan wajah kesal ia berniat menghubungi Andre, namun sebelum itu terjadi, ia dikejutkan dengan suara seseorang dibelakangnya.


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa kau berteriak seperti itu?" Tanya orang itu, lalu Septian membalikkan badannya dan menatap orang tersebut.


Septian : "Loe darimana saja sih Ndre? Gue enggak mau yaa ditinggal seperti ini lagi." Ucapnya kesal. Andre menghela nafas pelan.


Andre : "Ada apa? Apa kau membutuhkan sesuatu, hem?"


Septian : "Apa loe pernah berfikir jika bisa saja Dimas berada di Desa terpencil atau ditempat yang tidak diketahui oleh orang lain? Di tempat yang tidak terjamah, mungkin." Andre mengangguk. "Kalau begitu kenapa kita enggak cari saja dia ditempat itu?"


Andre : "Saya sudah mengerahkan orang suruhan Opa untuk menyusuri tempat itu. Sementara itu kita bisa mencari dilain tempat, Angga dan Shekar sudah mengirim titik lokasi dimana lelaki itu sering melakukan perjalanan. Termasuk tempat dimana dia melakukan kegiatan sosial atas nama bisnis pribadinya."


Septian : "Kalau begitu tunggu apalagi, ayo kita cari ditempat itu. Kita harus segera menemukannya, gue sudah enggak bisa menunggu lebih lama lagi Ndre. Gue rindu dia, meski dia sering dingin ke gue."


Andre : "Kita akan jalan sepuluh menit lagi, biarkan mereka melaporkan apa yang sudah mereka dapatkan. Tenangkan dirimu Septian." Septian menghela nafas dengan kasar.

__ADS_1


Septian : "Bagaimana gue bisa tenang jika Dimas belum ditemukan?" Gerutunya pelan.


Disaat mereka tengah sibuk dengan fikiran mereka sendiri, tiba-tiba kedua lelaki itu dikejutkan dengan kedatangan Pastu.


Wajah lelaki itu terlihat cemas khawatir, sedih semua bercampur menjadi satu. Tidak ada wajah cerah seperti hari sebelumnya.


Andre : "Om, apa terjadi sesuatu? Kenapa wajah Anda terlihat cemas seperti itu."


Pastu langsung menatap Andre dan Septian bergantian. Bibirnya sungguh kelu untuk dibuka, serasa ia tidak dapat membuka bibirnya dengan lebar seperti biasa.


Septian : "Om, kenapa Om diam saja? Jawab, apa sesuatu terjadi? Atau Dimas sudah ditemukan? Dia berada dimana? Gue udah rindu dengannya."


Namun Pastu tetap diam, dia masih setia dengan tutup mulutnya.


Tak lama kemudian, masuklah tiga lelaki beda generasi, baik itu usia, wajah maupun tahta. Hanya satu yang sama, ketampanan mereka. Dua diantaranya duduk di sofa dengan wajah sendu, sedangkan satunya lagi tetap berdiri.


Septian : "Opa?! Ini beneran Opa? Waaah, Tian eggak percaya bisa lihat Opa pagi. Tian kira Opa beneran sudah meninggal." Ucapnya bahagia.


PUK!


Shekar mendongak, menatap manik mata tajam milik Andre. Mata tajam itu hampir sama dengan Dimas, kemudian ia menunduk.


Andre : "Jangan katakan apa yang tidak ingin saya dengar Shekar." Ancamnya.


Shekar masih diam. Bahkan Pastu yang masuk lebih dulu masih terdiam, diatas meja ponsel milik Pastu terus berbunyi namun sang empunya tidak merespon sedikitpun.


Septian yang tidak sabar langsung mengambil benda itu lalu menggeser tanda hijau disana.


Septian : "Oma?" Gumamnya pelan. "Halo Oma, Assalamu'alaikum. Oma gimana kabarnya, sehat?"


Oma : "Hikss, wa'alaikumussalam. Tian, apa benar Dimas sudah meninggal? Hiks.. hikss... Pasti Opa dan Pastu salah bukan, mana mungkin cucu kesayangan Oma pergi."

__ADS_1


Septian : "Ma.maksud Oma apa? Tian enggak ngerti Oma." Jawabnya lalu menatap Shekar dan Pastu bergantian.


Oma : "Tian katakan pada Opa, Oma tidak mau tahu mereka harus membawa kembali cucu Oma! Jika kalian tidak membawa Dimas, kalian akan tahu akibatnya!"


TUT!


Ponsel itu langsung dimatikan oleh wanita diseberang sana.


Septian : "Maksud dari pertanyaan Oma tadi, apa? Apa kalian bisa menjelaskan?" Hening, tidak ada yang bersuara. "Katakan!" Teriaknya.


Andre beralih menatap Shekar, setelah ia melihat wajah marah Septian.


Andre : "Shekar? Bisa kamu jelaskan pada saya apa yanh terjadi, apa yang kamu temukan?" Shekar menatap Andre dengan deraian airmata.


Kemudian lelaki itu menggelengkan kepalanya, masih dengan airmata yang basah. Bahkan tak terbendung lagi.


Septian langsung ambruk melihat jawaban dari Shekar. Seakan dunianya runtuh saat itu juga, ia hidup karena Dimas. Dia tetap tinggal karena Dimas, semuanya karena lelaki dingin itu. Jika lelaki itu tidak ada lagi, lalu ia harus hidup untuk siapa? Jika dia pergi, lalu dia harus bagaimana?


Andre : "Opaa, katakan dengan jujur. Apa benar Abang sudah tidak ada lagi? Apa kalian benar-benar sudah memastikan semuanya? Dimana kalian mendapat informasi itu? Opaa, tolong jawab pertanyaan Andre. Andre mohon." Ucapnya dengan suara lirih, tubuhnya sudah lemas melihat semua ini.


Opa : "Andre. please jangan memohon ke Opa. Jika Tama Junior tahu, dia akan marah sama Opa. Apa kau tega melihat Opa dimarahi lelaki dingin itu, hem?"


Andre langsung merengkuh tubuh tua itu, dipeluknya lelaki itu dengan erat. Mata biru hazel itu sudah menjawab semuanya, wajah sendunya sudah membuktikan apa yang terjadi.


Septian : "Tidaaaaaaak!! Itu tidak mungkin terjadi, kalian tidak bisa begitu?! Apa buktinya jika Dimas meninggal!" Teriak Septian tak terima. "Kembalikan Abang gue, kembalikan!!"


Pastu langsung beranjak lalu menunduk merengkuh tubuh Septian. Lelaki itu tahu kelemahan Septian adalah Dimas, dia tidak akan terima jika sesuatu terjadi dengan Abangnya itu. Inilah sisi lain dari Septian, dia akan manja, menjengkelkan juga urak-urakan terhadap Dimas tapi dia juga akan lemah karenanya.


Pastu : "Tenanglah Septian, kamu harus tenang. Oke? Jangan seperti ini, jangan membuat kami lebih sedih lagi. Kamu harus menerima semua ini, ini sudah takdir yang harus kita jalani."


Septian : "Tidaaak!! Aku sama sekali tidak percaya dia meninggal. Bagaimana mungkin dia pergi tanpa pamitan terlebih dulu padaku?"

__ADS_1


"Dia bilang, dia menganggap aku sebagai adiknya. Berarti dia Abang ku kan Om, lalu kenapa dia pergi tanpa mengatakan apapun pada kami. Itu tandanya, lelaki dingin itu belum pergi Om. Aku tidak percaya dengan semua ini, aku tidak percaya! Dimas, Dimas... dia pasti masih hidup. Semua itu hanya kabar burung saja." Pastu semakin merasa kacau melihat sikap Septian seperti ini.


__ADS_2