
Masih Flashback . . .
Saat sampai dilantai dua, Yayak langsung melangkah keruangan yang letaknya berada disudut lantai dua itu, yang tepatnya bersebelahan dengan kamar Dimas.
Krieeett. Pintu terbuka...
Yayak : "Hai Dim, lagi sibuk Loe?"
Dimas : "Hemm enggak, hanya periksa kerjaan yang dikirim Om Pastu. Ada apa?"
Yayak : "Haah! sibuk bener Loe, santailah sebentar Dim, kan udah ada Om Pastu yang pimpin Perusahaan." Dimas hanya diam tidak menanggapi ocehan dari sahabatnya itu.
Yayak yang hanya didiamkan mendengus kesal, pasalnya jika Dimas sudah didepan laptop dan memegang pekerjaan yang dikirim dari Om nya, maka dia tidak akan menanggapi perkataan siapapun termasuk Yayak ataupun yang lainnya.
Yayak : "Loe dengerin gue kan Dim?" Hening . . . "Huuch! Susah kalau udah berhadapan dengan Raja es kaya Loe yang gila kerja." Dimas hanya tersenyum mendengar ocehan sahabatnya, karena dia tahu saat ini Yayak sedang dalam mode melow.
Dimas segera menyelesaikan pekerjaannya, setelah sepuluh menit ia berkutat dengan laptopnya dan memastikan semua pekerjaannya selesai ia segera berpindah tempat duduk menuju sofa, duduk berhadapan dengan Yayak yang sedang fokus bermain game di Hpnya. Tiba-tiba Bi Arum masuk membawa minuman yang ia buat tadi...
Bi Arum : "Ini Den minumnya, maaf lama tadi bibi petik buah dulu ditaman belakang." Hanya dibalas anggukkan dengan senyuman oleh Dimas. Kemudian Bi Arum keluar.
__ADS_1
Dimas : "Ada apa loe kesini?!" Tanya Dimas to the point.
Yayak : "Kyaaa! Kenapa loe selalu seperti ini sih, hilangkan sikap dinginmu itu jika kita hanya berdua." Sarkas Yayak pada Dimas. "Nih! Daftar nama yang hari ini ikut daftar jadi anggota, Septian izin enggak bisa anter." Yayak menyerahkan beberapa lembar kertas pada Dimas yang kemudian ia letakkan diatas meja.
Dimas : "Kenapa loe yang bawa, dimana dia?"
Yayak : "Loe kaya enggak tau Septian, dia jelas kabur karena takut Loe terkam. Lagipula seharusnya Loe jangan terlalu keras sama dia Dim, jadi gini dia sering kabur-kaburan kan."
Dimas : "Heuh!" Dimas menghela nafasnya dengan kasar. "Meskipun dia bukan saudara kandung gue, dan hanya anak angkat di rumah ini tetep dia itu tanggungjawab gue Yak. Bagaimanapun Septian adik gue."
Yayak : "Iya gue tahu itu, tapi cobalah biarkan dia jalani dulu hidup dia Dim. Apalagi sekarang dia hanya sering kabur dari loe, kasih dia kebebasan meski sedikit, percaya padanya."
Yayak : "Betul sekali, hanya karena berkas itu. Tapi yaah kenapa kita malah bahas si bontot loe itu sih." Dimas hanya diam dengan mengangkat kedua bahunya.
Yaa, Septian memang anak angkat dikeluarga Dimas, dia diangkat sebagai anak oleh kedua orangtuany saat Septian masih SMP, kedua orangtua Septian telah meninggal karena kecelakaan setelah pulang dari dinasnya diluar Kota. Sejak saat itulah kedua orangtua Dimas memutuskan untuk mengangkat Septian sebagai anak kedua mereka sampai saat ini, karena memang mereka berdua adalah teman sejak kecil.
Sedangkan kedua orangtua Dimas juga sudah meninggal, tepatnya dua tahun lalu saat mereka pulang dari Luar Negeri. Karena adanya masalah dalam mesin saat menerbangkannya mengakibatkan pesawat yang mereka tumpangi hilang kendali dan menabrak pegunungan di Negara tersebut. Kabar itu sukses membuat Dimas terguncang, pasalnya saat itu Dimas ingin memberikan hadiah pernikahan kepada orangtuanya, namun semua itu hancur dengan datangnya kabar tersebut.
Ketika mereka sedang asik berbicara, suara adzan berkumandang menandakan sudah memasuki waktu isya. Mendengar itu, Dimas dan Yayak langsung mengambil air wudhu dan melaksanakan kawajibannya sebagai umat Muslim. Setelah selesai, mereka duduk santai disofa ruang keluarga.
__ADS_1
Yayak : "Dim, menurut loe bagaimana dengan gadis cantik itu?"
Dimas : "Maksud loe, siapa? Jangan macem-macem, inget loe punya Angel!"
Yayak : "Hah kenapa loe bahas ninik cantik gue sih Dim, gue kan jadi keinget dia terus. Mana bisa gue deketin cewek kalau keinget dia." Dimas yang mendengar hanya tersenyum dan melempar bantal sofa pada sahabatnya itu. "Adinda. . . Amaralia . . . bener kan nama cewek itu?" Dimas langsung terdiam dan bermuka dingin.
Dimas : "Maksud loe apa?!"
Yayak : "Kyaaa! Itu muka loe kenapa berubah dingin lagi sih Dim, kebiasaan deh loe setiap ngobrolin cewek langsung mode dingin. Bikin gue kesel adja loe, bosen gue liatnya" Dimas hanya diam. "Gue perhatiin loe deket sama dia, loe punya rasa ke dia?" Selidik Yayak.
Dimas : "Apa maksud loe?! Jangan sembarangan."
Yayak : "Hah! Kalian cocok kok." Mendengar itu, Dimas langsung memberikan tatapan tajam pada Yayak, sedangkan yang ditatap hanya cengengesan. "Lagian suka juga kan gak salah Dim, gue suka dia, lembut tutur kata baik meski gue enggak ngobrol langsung, cantik, terlihat penyayang, yaa gue suka!" Dimas tetap diam. "Gue harap kalian bisa deket dan dia bisa ngrubah loe Dim." Gumam Yayak dalam hati. "Sudah malam, gue pamit deh. Besok ketemu di BC adja. Ohya, ada nomor Dek Dinda jika loe butuh." Yayak pun pergi.
Setelah kepergian Yayak, Dimas kembali keruang kerjanya dan melihat berkas yang diberikan oleh Yayak. Adinda Amaralia, lahir di Bandung 18 tahun yang lalu, disana juga tertulis alamat rumah serta nomor Hp. Melihat itu Dimas langsung mengetikkan Nomor Hp Adinda di Hpnya.
"Aku akan simpan nomor ini, karena aku butuh untuk mengembalikan kue itu dan mobilnya." Gumamnya dalam hati. Namun ia kemudian ingat apa yang dikatakan oleh Yayak, "Apa aku mulai menyukai gadis ceroboh itu? secepat itukah?" Dia tidak yakin karena dia menganggap wanita sama saja, dia hanya berharap akan jatuh cinta pada wanita yang penyayang seperti Almarhumah Mamanya.
Flashback End . . .
__ADS_1