Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 105 Kecoa Korea dan Vila Keluarga


__ADS_3

Setelah mengatakan itu Shekar langsung mematikan panggilannya. Sedangkan Septian terdiam dengan memejamkan matanya mencoba untuk mengatur nafasnya agar kembali normal.


Arya : "Apa terjadi masalah?" Tanya Arya dengan tidak sabar. Semua menatap Arya.


Septian : "Semua baik Ar. Oh iya Firman dan yang lain akan menyusul besok, kecoa itu sepertinya belum ingin pergi dan masih mencari cara untuk tetap tinggal disini."


Arya : "Apa Bu Maya masih berada disana?" Gumamnya pelan. "Coba nanti gue hubungi Bu Maya, semoga bisa dapat informasi dengan lengkap." Mereka mengangguk.


Ilham : "Sepertinya kita memang harus ikut menyingkirkan kecoa itu." Amar mengangguk setuju.


Amar : "Yaa gue setuju dengan ide loe itu Ham, kita harus ikut bertindak agar hama itu benar-benar segera pergi."


Arya : "Kan gue sudah bilang, nanti gue hubungi Bu Maya untuk tahu kondisi disana." Sergah Arya.


Ilham : "Yaa, tapi sampai kapan kita akan diam seperti ini dan biarin mereka menghadapi semua itu sendiri."


Septian : "Dia tidak sendiri kalau loe lupa." Ucap Septian dengan wajah datar. "Bukan hanya loe yang khawatir tapi gue juga, kalian pasti tahu bagaimana sifat dia yang sebenarnya sekali tidak maka tetap tidak. Dengan terpaksa kita harus tetap diam seperti ini." Ucapnya dengan pelan.


Yayak : "Lagipula disana ada Andre juga Direktur baru Sanjaya dan ditambah Shekar maka semuanya pasti akan baik-baik saja. Gue yakin kecoa itu tidak akan bertahan lama."


Amar : "Apa menurut kalian para kecoa itu akan melihat Abang secara lansung? Atau hanya akan berakhir sama dengan yang sebelumnya?" Mereka mengedikan bahunya.


Disaat mereka membahas kecoa Korea yang tidak kunjung pergi, berbeda dengan anggota lain yang kini saling berbisik saling bertanya apa yang terjadi.


Yayak seketika memperhatikan para anggotanya ada rasa tidak enak karena mereka malah membahas masalah Kantor disaat akan diadakannya kegiatan.


Yayak : "Oke, kita kembali keawal ya semua. Semoga perjalanan kita lancar, dan kegiatan kita juga lancar serta dipermudah." Ucapnya mengalihkan fikiran mereka.


Septian : "Ohiya, untuk informasi saja bahwa nanti ketika kita sudah sampai. Kita akan disambut oleh Pembina kita, ya Pembina utama kita yang memang baru bisa hadir dikegiatan kita ini. Jadi tolong kalian bisa menjaga etika kalian karena Beliau ini, ehmm terkenal dingin dan perfectionis."


Amar : "Busettdah ini anak, bikin yang lain takut aja." Gumam Amar pelan.


Ilham : "Dasar enggak ada akhlak ini orang ngatain Om nya sendiri dingin. Coba aja Bang Pastu dengar, bisa berabe urusan." Lanjut Ilham menambahi ucapan Amar yang memang ia dengar.

__ADS_1


Sedangkan Yayak hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sahabatnya.


Yayak : "Sudah lebih baik kita istirahat dulu, karena setelah sampai disana kita masih harus mengurus hal yang lainnya."


Mereka mengangguk, ada yang langsung istirahat karena memang mengantuk. Ada pula yang masih bersantai dan memainkan games diponselnya terutama Azriel dan Geraldi serta yang lainnya.


Arya : "Kalian tidak ingin istirahat dulu?" Tanya Arya memandang Geraldi dan lainnya.


Adit : "Kita belum ingin Bang, nanti klx memang sudah lelah kami akan istirahat." Jawabnya.


Ilham : "Tidak apa sih, tapi jangan istirahat saat sudah dilokasi." Sindirnya. Sedangkan mereka hanya terkekeh mendengar itu. Tepat sasaran, fikir mereka.


Amar : "Jangan bilang kalian memiliki fikiran untuk melakukan itu." Tanyanya penuh selidik.


Restu : "Yaaa gimana ya Bang, hehe. Hanya mampir aja kok fikiran itu." Jawabnya.


Septian : "Jangan sampai kalian melakukan itu, jika itu terjadi habis kalian sama itu orang." Ucap Septian.


"Memang kenapa?" Tanya mereka hampir bersamaan.


Alvin : "Serem amat Bang, lah kalau kita nanti diculik gimana donk?"


"Itu sih derita loe!" Jawab Amar dan Ilham dengan kompak yang langsung disambut tawa oleh yang lainnya.


Nauval : "Lah nanti Abang bingung lagi kalau kita enggak ada, nanti kangen lagi sama kita." Ledeknya.


"Enggak akan!" Kini bukan hanya Amar dan Ilham namun Septian juga ikut menjawab.


Septian : "Ogah bener gue nyari kalian mah, apalagi sampai kangen mending gue tidur." Lanjut Septian.


Restu : "Tega banget Bang sama kita, kita semua ini masih dibawah umur."


Amar : "Enggak sadar diri amat loe nih, udah tua juga masih berharap dibawah umur."

__ADS_1


Amel : "Tapi lebih tuaan loe tahu Bang." Celetuk Amel yang sejak tadi belum memejamkan mata.


Sedangkan Amar langsung mendelik menatap Amel dengan tajam.


Yayak : "Sudah-sudah kalian hentikan, Ketua sudah konfirmasi untuk istirahat. Ah iya, diantara kalian ada yang sakit atau enggak?" Mereka menggeleng. "Bagus kalau begitu, lebih baik sekarang kita istirahat dulu, Amar dan juga Amel kalian lanjutkan nanti saja debatny." Perintahnya.


Kemudian mereka istirahat, kecuali Yayak juga Arya. Keduanya fokus dengan benda pipih mereka masing-masing. Yayak fokus menghubungi sang kekasih sedangkan Arya fokus tentang masalah Kantor dimana ia saat ini masih menghubungi Bu Maya, Sekretaris Dimas yang pertama.


*


*


Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, akhirnya ke empat Bus itu tiba ditempat tujuan. Sebuah Vila yang memang besar karena gedung itu sebenarnya terdiri dari dua Vila hanya saja digabung menjadi satu dengan jalan penghubung yang berada dilantai dua. Vila itu juga memiliki satu ruang seperti Aula yang bisa digunakan untuk acara apapun.


Vila itu sengaja dipilih karena yang ikut dalam kegiatan ini tidak sedikit dan hal ini untuk pembeda antara laki-laki dan perempuan, meski pada waktu makan mereka menjadi satu tapi untuk istirahat tetap harus dipisah. Dimas yang telah memilih Vila itu karena dia yang bertanggung jawan dalam bidang humas, bahkan tidak banyak yang tahu jika Vila itu sebenarnya adalah salah satu milik keluarganya yang hingga kini masih tetap terjaga.


Septian : "Huaaaaa akhirnya kita sampai juga di puncak. Brrr dingin banget ah, padahal sudah siang tapi masih saja dingin." Ucapnya ketika Bus sudah mulai dekat dengan Vila yang dituju.


Yayak : "Waah sudah bangun semua ya, bagus deh jadi gue enggak perlu bangunin." Ucapnya ketika sudah melihat anggotanya membuka mata. "Ingat pesan dari Bang Sep tadi, karena para Pembina sudah ada disana." Mereka mengangguk.


Tak berselang lama, mobilpun berhenti didepan gedung yang begitu besar dengan halaman yang sangat luas. Para anggota langsung berhambur turun dari Bus dan berkumpul dihalaman.


Indra : "Perhatian untuk semuanya!" Ucap Indra yang melihat anggotanya sudah berkumpul. "Baiklah, akhirnya kita sudah sampai disini ditempat kegiatan kita dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Sebelumnya perkenalkan disebelah saya ini adalah Pembina utama dari PPA, Beliau bernama Pangestu Ramadhan dan kalian bisa memanggilnya dengan sebutan Bang Pastu. Beliau menyempatkan hadir karena ingin mengetahui wajah baru dari anggota junior dan sekaligus ingin reoni dengan para Pembina yang lainnya juga."


Pastu : "Ketua kalian sudah memperkenalkan diri saya jadi saya tidak perlu memperkenalkan diri saya lagi. Tetapi saya harap pada kalian, agar kalian bisa menjaga lingkungan kita yang ada disini, jangan merusak apapun yang bersangkutan dengan alam. Karena kita ada untuk menjaga bukan merusak." Mereka mengangguk paham.


Indra : "Baiklah kalian segeralah masuk kedalam Vila, untuk yang disebelah kanan itu tempat istirahat bagi yang laki-laki sedangkan yang sebelah kiri untuk perempuan." Jelasnya. "Tetapi sebelum masuk kalian harus membawa perlengkapan yang sebelumnya sudah dipersiapkan di Kampus termasuk buku-buku yang akan dibagi untuk anak-anak disini." Mereka langsung mengangguk paham.


Para anggota langsung membawa barang bawaan mereka masuk Vila termasuk buku-buku yang akan didonasikan. Banyak dari mereka yang sudah masuk, kini tinggal para senior yang masih diluar Vila termasuk Septian.


Septian masih fokus menatap sosok orang yang sudah lama tidak ia lihat selama beberapa bulan, orang itu terlalu fokus dengan Perusahaan yang berada di Luar Negeri. Kemudian ia menatap Vila yang ada didepannya, halaman yang luas dengan ditumbuhi rumput hijau terlihat asri. Taman bunga yang sejak lama masih tetap terawat, kolam ikan yang masih ada disudut, lapangan badminton yang masih terlihat bagus. Semua masih sama tidak ada yang berubah sedikitpun.


Septian : "Ma, Pah hari ini Septian datang kesini, lagi. Setelah sekian lama Septian tidak berani datang karena takut Dimas trauma, tapi sekarang dia sendiri yang merekomendasikan unuk menggunakan Vila ini. Saat ini dia masih sibuk dengan Perusahaan, sungguh Septian rindu dengan suasana kita yang dulu. Semoga Dimas tidak trauma setelah datang kemari." Gumamnya dalam hati.

__ADS_1


"Apa kau sedang mengingat mereka?" Tanya seseorang yang tidak jauh darinya.


__ADS_2