
"Dasar gadis ceroboh." Gumamnya pelan dengan senyumnya yang mengembang.
Lelaki itu merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Dia mengetikkan sesuatu disana lalu mengirim pesan itu. Tak lama wajah gadis itu berubah setelah melihat layar ponselnya, matanya mencari ke setiap sudut dengan harapan dapat melihat orang yang telah mengirim pesan itu.
Ponselnya berbunyi kembali. Gadis kecil itu kembali mencari sosok yang ia cari, dan hasilnya tetap sama. Nihil.
Entah pesan apa yang ia kirim untuk sang pujaan, karena setelah membaca pesan untuk yang ketiga kalinya, ketiga gadis itu langsung beranjak dari taman dan memasuki Villa khusus perempuan.
TINK!!! Sebuah pesan masuk.
Lelaki itu melihat layar ponselnya.
"Apa Kakak masih mengawasiku? Yaa saat ini aku, Amel dan Vania sudah masuk ke Villa. Kami akan segera istirahat."
Bukannya menjawab, tetapi ia malah tersenyum membaca pesan itu. Seakan ia tahu jika gadis cerobohnya saat ini tengah kesal karena mendapat larangan untuk berada di taman terlalu lama karena hal itu tidak baik untuk kesehatan.
Ketiga gadis itu sudah memasuki Villa, kini bergantian dengan Arul dan kedua sahabatnya karena mereka memang masuk dalam bidang keamanan. Sedangkan Azriel yang memang masuk bidang kesehatan ia saat ini berada di Villa karena khusus yang lelaki akan diadakn rapat kilat.
Dimas yang memang sejak tadi ada di taman keluarga kini fokusnya tertuju pada tiga lelaki SMP yang baru masuk di taman umum. Taman di Villa itu terdapat dua lokasi, dimana satu taman memang milik keluarga dan satunya lagi taman umum yang siapapun bisa masuk kesana.
Alvin : "Ini benar yah kita mulai bertugas malam ini?" Nauval dan Arul mengangguk. "Heuuft lelah gue ini, enggak kasihan banget sama kita yang masih junior."
Nauval : "Jangan banyak ngeluh loe Vin, bukannya loe senang kita datang kesini?"
Alvin : "Iya sih fine gue seneng banget liburan kesini, tapi ini hari pertama dan kita langsung berjaga."
Nauval : "Yaah nikmati saja, lagipula kita tidak sendiri masih banyak teman dan senior yang lain. Kita saja yang keluar duluan."
Arul : "Sudah kalian jangan berdebat seperti itu. Nikmati saja semuanya jangan berdebat tentang tugas yang sudah kita setujui sejak awal." Ucapnya menengahi Alvin dan Nauval.
Amar : "Woi kalian sudah disini saja. Sibuk cari apa kalian?" Teriak Amar yang keluar dari Villa diikuti Ilham juga Septian sedangkan Yayak masih berada didalam.
"Cari bintang!!" Jawab Alvin dan Nauval dengan kompak. Amar yang mendengar hanya mendelik.
Ilham : "Kalian cari bintang, gue cari bulan adja deh. Besok Amar cari Matahari."
Septian : "Kalian ini terlalu absurd membahas semua ini. Hentikan celotehan kalian ini." Setelah mengatakan itu Septian pergi dari mereka dan melangkah menuju taman keluarga.
__ADS_1
Dimas yang memang masih disana hanya diam melihat tingkah adik dan juga para saabatnya. Matanya kini beralih menatap langit malam, pandangan matanya seakan melayang ke masa lalu dimana keluarganya masih utuh.
Flashback On. . .
Mama Ivanka : "Sayang sudah mainnya, sekarang waktunya makan siang. Papa sudah menunggu didalam." Panggil Ivanka pada ketiga putranya yang masih berada di ayunan taman.
Septian : "Bang, ayo kita balapan lari siapa yang duluan dia yang dapat jatah makan paling banyak." Ajaknya pada Andre dan Dimas.
Andre : "Oke, siapa takut. Awas kalau sampai gue yang menang loe enggak boleh nangis."
Septian dan Andre berlari cepat, kecuali Dimas yang hanya memperhatikan tingkah keduanya tanpa ikut bermain.
Andre : "Huraaaaa!! Gue yang duluan sampai, loe yang kalah. Jadi sesuai kesepakatan diawal, loe hanya boleh makan sedikit." Ucapnya tajam.
Septian : "Curang loe mah, gue tadi belum siap loe malah lari duluan." Ucapnya tak terima.
Andre : "Enggak sadar diri banget loe, loe sendiri yang duluan lari. Pokoknya harus sesuai kesepakatan diawal." Ucapnya dengan tegas.
Keduanya langsung masuk. Andre melangkah dengan semangat namun Septian melangkah dengan wajah melasnya, sedangkan Dimas hanya menggelengkan kepala saja.
Papa Surya : "Kenapa wajah kamu ditekuk seperti baju yang baru dikeringkan seperti itu?" Septian diam. "Andre?"
Septian : "Tapi dia curang Pa." Rengeknya yang membuat Andre mendelik. "Masa dia lari duluan, jadi aku kalah."
Andre : "Eeh bontot kalau ngomong enggak bisa dijaga. Loe sendiri yang lari duluin gue."
Papa Surya : "Apa Abangmu itu juga ikut bermain?" Andre dan Septian hanya menggeleng.
Septian : "Jika sampai dia ikut, maka kami berdua sangat dipastikan akan kalah ditempat Pa. Untung saja dia tidak ikut."
Mama Ivanka : "Kalian ini selalu saja ribut kalau soal makanan, yang taruhan, yang lari cepat, yang yang yang pokoknya mah. Mama itu sampai bosan lihatnya." Ucap Ivanka yang baru keluar dari arah dapur.
"Itulah cara kami bahagia." Jawab mereka kompak kecuali Dimas.
Dimas : "Bisakah kita makan sekarang?" Tanyanya datar yang langsung membuat hening disana.
Mama Ivanka : "Baiklah kita akan mulai makan siang, setelah itu kalian langsung shalat dan istirahat." Perintahnya sambil mengambilkan nasi kepiring para lelaki tersayangnya.
__ADS_1
Septian : "Aku dan Andre masih ingin di taman keluarga Ma."
Papa Surya : "Sudah, lebih baik makan dulu sekarang."
Mereka langsung makan dengan tenang dan hanya suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Namun itu hanya sesaat karena suara Septian yang membuat kegaduhan.
Septian : "Huaaaa! Mama makananku diambil Andre." Tuduhnya dan suaranya itu langsung menjadi pusat perhatian keluarga Adhitama.
Andre : "Apa yang kau katakan, sejak tadi aku hanya diam dan makan dengan tenang." Belanya.
Septian : "Apanya yang tenang? Bahkan kau mengambil jatah makanku."
Andre : "Bukankah kau sendiri yang bilang, siapa yang menang dia yang makan banyak. Jadi loe hanya boleh makan sedikit."
Septian : "Tetap saja, loe ambil makanan dari piring gue kalau loe lupa."
Ivanka yang sejak tadi diam langsung beranjak dan mendekati keduanya yang duduk bersebelahan, kemudian.
"Aa.aaaawww! sakiiiit." Teriak keduanya dengan cepat ketika merasakan telinganya ditarik seseorang.
Mama Ivanka : "Kalian ini nakal sekali yaa, selalu saja ribut disaat makan seperti ini. Kamu juga Sep, sudah tahu tidak jago lari tapi malah menantang Andre, sekarang malah mengadu." Ivanka masih saja mengomeli kedua putranya yang selalu membuat dirinya spot jantung.
Sebenarnya Papa Surya kasihan dengan kedua putra angkatnya itu, tapi ia tidak berani melawan sang istri. Sedangkan Dimas hanya melihat dengan wajah datar namun juga ikut meringis melihat wajah kedua adiknya yang sudah memerah.
Dimas : "Maa sudah, kasihan mereka. Lihatlah wajah mereka sudah tidak beraturan lagi." Ivanka melihat putra sulungnya.
Mama Ivanka : "Kau membela kedua adikmu sayang? Sejak kapan seorang Dimas Adhitama membela kedua adiknya, hem?"
"Kita sayang loe Bang." Jawab Andre dan juga Septian. "Kita terharu." Lanjut keduanya.
Dimas : "Dimas tidak membela mereka, tapi saat ini kita sedang makan Ma. Lagipula tidak mungkin Papa akan menghentikan Mama." Sambil melirik sang Papa.
Papa Surya hanya diam saja, sedangkan Andre dan Septian yang semula senang karena dibela kini langsung menatap Dimas kesal.
Mama Ivanka : "Oke. Baiklah Mama berhenti, tapi awas sekali lagi kalian berulah. Kalian tidak boleh makan selama satu minggu, uang tabungan kalian Mama potong 80%" Ancamnya yang membuat Andre dan Septian menatap wanita cantik itu dengan cepat. "Kenapa, apa masih kurang hukuman Mama?"
Andre dan Septian hanya menggeleng pasrah. Sedangkan Dimas dan Papanya hanya menggelengkan kepala melihat ketiga orang didepannya melakukan drama keluarga.
__ADS_1
Flashback End. . .
"Apa kau sedang memikirkan mereka Bang?" Dimas yang memejamkan mata kini membuka matanya dan beralih menatap kesumber suara.