Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)

Cerita A'D (Adinda Dn Dimas)
A'd 124 Back to Jakarta


__ADS_3

Andre : "Silahkan membubarkan diri." Ucap Andre sekali lagi.


Ketiga jumpling itu langsung mengambil langkah seribu. Ketiganya berlari sekencang mungkin untuk menghindari mata tajam Dimas, yang mereka tahu pasti dibalik mata tajam itu ada pisau tajam yang siap menghunus kedalam ditambah lagi dengan kejadian kemarin malam pasti membuat lelaki dingin itu semakin tajam.


Sedangkan, Indra, Yayak juga Firman masih berada disana. Ketiganya seakan tahu apa yang akan mereka lakukan setelahnya, bukan karena tidak menghargai tapi rasa khawatir mereka kini lebih tinggi untuk CEO Adhitama itu.


Andre : "Saya pamit terlebih dahulu, sebaiknya kalian bertiga juga kembali ke Villa. Jika masih ada hal lain, kerjakan didalam saja." Ucapnya kemudian ia berbalik untuk melangkah, namun hal itu ia urungkan setelah mendengar suara dari sahabatnya itu.


Yayak : "Apa, keadaannya sudah baik-baik saja Andre?"


Firman : "Tidak ada hal yang lebih dari kemarin kan Ndre? Karena sejak kejadian itu, kami belum bertemu dengannya." Indra mengangguk.


Andre : "Bukankah kau juga tahu jika dia sibuk dengan berkasnya? Pasti Shekar sudah bicara padamu tentang ini."


Yayak : "Berhentilah bersikap dingin dan datar seperti itu, gue tahu loe duplikat dia tapi paling tidak jangan dengan kami." Andre mengangkat salah satu alisnya.


Indra : "Bagaimana dengan Dimas?" Tanya Indra melerai.


Andre : "Dia baik-baik saja, tapi gue harap kalian tidak terkejut jika mengetahui sikapnya saat ini." Ucapnya sedikit tidak formal.


Firman : "Maksud loe apa? Apa sikapnya menjadi bar bar atauu. . ."


Andre : "Gue sama Septian hanya merasa jika sekarang dia lebih dingin dari sebelumnya."


Yayak : "Jangan bilang semua ini karena gadis itu." Firman langsung menatap Yayak, sedangkan Andre mengedikan bahunya. "Jangan ngelihatin gue seperti itu Firman." Firman menghela nafasnya kasar.


Firman : "Heuuft, sudah bisa gue tebak kalau ini pasti akan berpengaruh ke Dimas."


Indra : "Kita belum bisa menyimpulkan hal ini Fir, Yak. Karena kita belum bertemu langsung dengan dia."


Yayak : "Yaa, besok setelah acara ini selesai kita bisa langsung menemuinya."


Andre : "Untuk satu minggu kedepan, kalian tidak bisa bertemu dengannya." Ketiganya menatap dengan wajah terkejut.


Indra : "Maksud kamu apa Ndre? Kenapa kita tidak bisa menemuinya? Bukankah dia besok akan kembali ke Jakarta?" Andre mengangguk.


Firman : "Lalu, apa masalahnya?"


Andre : "Apa kau lupa jika saat ini dia masih fokus dengan Yoosung?"


Yayak : "Maksud loe dia akan dinas keluar?" Andre mengangguk tanda membenarkan.


Andre : "Dimas dan Shekar akan perjalanan dinas, dan disini Om Pastu yang handle selama Dimas tidak ada."


Firman : "Apa masalahnya serius sampai dia harus turun tangan sendiri?"


Andre : "Sebagai Investor misterius, dia pasti sudah mempersiapkan semuanya. Kalian tidak perlu khawatir dengannya, karena saat ini dia pasti lebih murka dari sebelumnya." Firman juga Yayak meneguk salivanya dengan susah.

__ADS_1


Yayak : "Udah deh loe, jangan nakutin kita kaya gitu. Balik loe sana, kita bertiga juga akan masuk ke Villa."


Indra : "Kita bisa berjalan bersama, ayo masuk kedalam. Perjalanan kita masih panjang." Ajaknya dan langsung melangkah diikuti Andre, Yayak dan Firman dibelakangnya.


Keempat laki-laki itu kini sudah kembali kedalam Villa. Memasukki kamar mereka untuk menunaikan istirahat karena waktu yang sudah lewat dari jam malam.


* * *


Keesokkan harinya, seluruh anggota sudah bersiap untuk meninggalkan Villa dan mengakhiri kegiatan.


Semua barang sudah mereka masukkan kedalam mobil Bus yang memang sudah datang sejak acara makan-makan kemarin. Hanya tinggal tas yang ada dipunggung mereka saja yang belum masuk karena itu barang pribadi mereka sendiri.


Indra : "Baiklah, apa kalian sudah siap untuk perjalanan pulang kita?"


"Siaaaaapp!" Jawab mereka dengan kompak bahkan yak terlihat letih sedikitpun.


Pak Septa : "Waaah senang sekali kalian, apa kalian sudah rindu dengan bantal, guling dan kasur di rumah?"


Azriel : "Sumpah, aku kangen baget sama kasurku Bang!" Jawab Azriel yang paling kencang.


"Huuuuuuu!" Seru mereka.


Azriel : "Apa, apaa?? Ini nyata donk, emang kalian enggak rindu kasur rumah apa? Nyamuk-nyamuk sudah rindu ngisep darah kalian."


Amel : "Eeeh, si borokokok enggak bisa diam. Loe diam aja deh." Sungutnya kesal. Sedangkan Azriel hanya menjulurkan lidahnya.


MBA : "Untuk bangku, sesuai dengan keberangkatan kita sebelumnya. Jadi jangan ada yang memilih atau berebut, karena semua sesuai dengan jadwal dan arahan yang diberikan."


Yayak : "Wahaiii trio jumpling, ayoooo kita masuk ke markas kita. Mereka yang sudah disana pasti sudah menunggu kita." Ajaknya pada sahabatnya.


Septian : "Kalian jalan duluan, gue nemuin Abang sebentar." Yayak, Amar, Ilham juga Firman berbalik menghadap Septian yang sudah berjalan menjauhi mereka. Mereka memutuskan untuk melihatnya saja tanpa ingin mendekat.


Terlihat Dimas, Andre, Pastu juga Shekar sedang berbicara. Sepetinya itu hal serius karena terlihat wajah mereka yang sedikitpun tidak santai.


Septian : "Abbbang?!" Keempat lelaki beda tingkat itu menoleh.


Shekar : "Ada apa? Bukankah seharusnya kamu masuk Bus?"


Pastu : "Apa ada yang tertinggal disini Sep?" Septian menggelengkan kepalanya. "Lalu, ada apa kesini?"


Septian : "Kenapa? Apa Om melarangku dekat dengan Abangku?" Tanyanya kesal.


Dimas : "Seppp.." Ucapnya sedikit geram.


Septian : "Kau selalu seperti itu pada yang lain, kenapa denganku kau dingin." Dengusnya kesal. Dimas menghela nafasnya kasar.


Dimas : "Katakan ada apa?" Septian mengulas senyum mendengar itu.

__ADS_1


Septian : "Apa hari ini kau akan pulang ke Rumah? Gimana kalau kita makan malam sama yang lain?" Ucapnya penuh harap.


Pastu : "Tidak bisa, nanti malam kau bisa makan denganku juga Andre dan yang lain, tidak dengan Shekar ataupun Dimas."


Septian : "Kenapa? bukankah kau akan pulang ke Rumah?"


Dimas : "Saya akan langsung landing hari ini. Kamu di Rumah dengan Om Pastu juga Andre, kau juga boleh mengajak mereka." Jawabnya.


Septian : "Kau bisa meminta Shekar saja, biasanya juga begitu. Kenapa sekarang harus loe sendiri yang kesana. Gue juga pengen punya waktu sama loe, apa loe mau gue balas kelakuan bocah itu ke loe, biar loe enggak pergi?"


Septian yang memang masih mengingat kejadian itu langsung mengancam Dimas.


Dimas : "Jangan pernah kamu menyentuh Arul, Septian. Saya tidak suka itu." Ucapnya penuh penekanan. "Jangan membawa dia dalam hal ini, cobalah mengerti, ini untuk Perusahaan."


Septian : "Cih! Loe bahkan membela bocah tidak tahu diri itu. Oke, fine! Gue yang ngalah." Septian langsung pergi dengan menhentakkan kakinya dengan kesal.


Pastu : "Sepertinya bocah itu kembali dalam mode manjanya."


Andre : "Bahkan akhir-akhir ini dia bersikap seperti itu. Sesuatu yang sangat jarang ia lakukan." Celetuk Andre yang sejak tadi diam.


Shekar : "Apa kau akan berubah fikiran dan menunda jadwal kita Dim? Nona Wang sudah mengurus jadwal kita disana.


Hening, ketiga lelaki itu diam menunggu jawaban dari Dimas.


Dimas : "Tunda penerbangan dua hari kedepan Andre." Shekar dan Pastu langsung menatap Dimas.


Sedangkan Andre hanya mengangguk, ia sangat tahu bagaimana Dimas ketika menghadapi sikap Septian. Sedingin apapun dia, jika menyangkut adiknya ia akan menunda hal apapun selama kesibukkannya masih bisa diatasi. Namun jika memang adiknya itu sudah susah untuk bersikap, maka sebaliknya ia akan berubah dingin tanpa mempedulikan keinginan Septian.


Pastu : "Apa kau serius Dimas?" Dimas mengangguk.


Shekar : "Sekarang kau mulai lemah karena bocah bontot itu. Jika loe nunda, gue bisa apa? Aku ikuti keinginan kamu."


Bagaimanapun Shekar dan Pastu akan memaksa, Dimas pasti tetap memilih adiknya. Karena bagimanapun juga Septian dan Andre adalah adiknya, sekalipun tidak sedarah.


Kembali ke sisi Bus. . .


Firman : "Loe sudah dapat jawaban dari Abang loe itu?" Firman terkekeh melihat wajah lesu Septian.


Septian : "Terserah! Gue mau masuk, loe, loe dan loe, gue enggak peduli." Wajahnya memberengut kesal.


Yayak : "Bahkan dia belum berubah, meski sikap absurdnya sedikit berkurang."


Ilham : "Sudah, lebih baik kita segera masuk. Karena sudah melebihi jadwal ini."


Amar : "Yaa, gue juga sudah sangat rindu sama kasur gue."


Mereka langsung bergegas masuk dalam Bus, menempati bangku mereka masing-masing. Tak berselang lama, Bus berjalan meninggalkan Villa besar itu dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2